Indikator 51: Sistem
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Pada ayat yang lalu diterangkan tentang keadaan penghuni surga, neraka, dan a'ra'f, dan juga dialog antara mereka yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan agar manusia terhindar dari penyesalan dan mendapat petunjuk kepada jalan yang benar. Pada ayat-ayat ini diterangkan tentang kitab Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan diterangkan pula bagaimana akibat orang-orang yang menentang dan mendustakannya pada hari kiamat. Sungguh, kami telah mendatangkan kitab yang agung, yaitu Al-Qur'an, kepada mereka yang kami jelaskan beragam bukti yang mudah dipahami, dan penjelasan itu atas dasar pengetahuan kami yang sangat luas, mantap, dan menyeluruh sehingga tidak ada kekurangan dan kelemahannya. Kitab itu benar-benar sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang kafir tidaklah beriman kepada berita-berita dalam alqur'an, walaupun sudah sedemikian jelas bukti-bukti kebenarannya. Tidakkah mereka hanya menanti-nanti melainkan setelah nyata bagi mereka bukti kebenaran Al-Qur'an itu. Pada hari kiamat ketika bukti kebenaran pemberitaan Al-Qur'an itu tiba, seperti berita tentang hari kebangkitan, surga, dan neraka, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya, yakni meninggalkan tuntunannya, berkata, sungguh ketika di dunia, rasul-rasul tuhan kami telah datang membawa kebenaran, antara lain tentang hari kebangkitan, namun kami kafir dan ingkar padanya. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami, agar kami terhindar dari siksa yang pedih ini atau agar kami dikembalikan ke dunia sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu' mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka enggan beriman ketika di dunia dan apa yang mereka ada-adakan dahulu, yakni tuhan-tuhan yang mereka sembah telah hilang dan lenyap dari mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 52-53 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang alasan mengapa Dia mengutus para rasul kepada mereka dalam Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan itu merupakan kitab yang memberi penjelasan secara terperinci dan jelas. Sebagaimana firmanNya (Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) (Surah Hud: 1) dan (yang Kami telah menjelaskannya atas pengetahuan Kami) yaitu berdasarkan pengetahuan Kami dengan apa yang Kami jelaskan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya) (Surah An-Nisa: 166) Ketika Dia menjelaskan apa yang mereka alami berupa kerugian di akhirat, lalu Allah menyebutkan bahwa Dia menyingkirkan alasan mereka di dunia dengan mengutus para rasul dan telah menurunkan kitab. Sebagaimana firmanNya: (Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul) (Surah Al-Isra: 15) Oleh karena itu Allah berfirman: (Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu) yaitu apa yang dijanjikan kepada mereka berupa azab, siksaan, surga, dan neraka. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lainnya. Firman Allah SWT: (Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu) yaitu pada hari kiamat, Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas. (berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu) yaitu mereka enggan beramal dan melupakannya di dunia (Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa perkara yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami) yaitu menyelamatkan kami dari sesuatu yang menimpa kami. (atau dapatkah kami dikembalikan) ke dunia (sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”) Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman" (27) Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka (28)) (Surah Al-An'am) Sebagaimana Allah berfirman di sini: (Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu mereka merugikan diri sendiri dengan dimasukkan ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya (dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu apa yang mereka sembah selain Allah itu pergi dari mereka, sehingga tidak memberikan syafaat, menolong, dan tidak menyelamatkan mereka dari sesuatu yang mereka alami.
Tafsir As-Sa'di
Buka
50-52 Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surge ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang menkik dan menerka mereka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surge. ”limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu” lalu penduduk surga menjawab “ sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya” yakni air dan makanan surga “atas orang-orang kafir” dan hal itu adalah sebagai balasan kepada mereka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintah agar teguh diatasnya dan dijanjikan balasan yang besar atasnya, ”sebagai main-main dan senda gurau” yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan , atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main atau senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu.” dan kehidupan dunia telah menipu mereka” dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propagandanya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya, dan mereka lupa dan berpaling dari akhirat. ”maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka” yakni kami membiarkan mereka di dalam azab, “sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini” seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ”dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami” padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keterbatasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru “kami telah mendatangkan sebuh kitab (al-qur’an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya” yakni kami jelaskan padanya seluruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia “atas dasar pengetahuan kami” yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terhadap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap perkara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia meneluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan tetapi ini adalah perincian Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu “yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” yakni dengan kitab ini orang-orang mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaran.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
52. Dan sungguh telah datang kepada penduduk Mekah dan lainnya itu Al-Qur’an yang telah Kami jelaskan dengan sempurna supaya mereka mengetahui apa yang Kami jelaskan di dalamnya, petunjuk kepada manusia menuju kebenaran, penyelamat dari kesesatan, dan rahmat bagi orang yang yeng mengimani dan mengikuti aturan-aturannya.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa orang-orang yang durhaka pasti akan diazab, lau pada ayat ini digambarkan penyesalan mereka ketika di akhirat. Dan kalau seandainya setiap orang yang zalim itu, yakni orang yang mempersekutukan Allah itu mempunyai segala harta benda berharga yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu agar terlepas dari siksa, tetapi hal itu tidak mungkin, dan mereka menyembunyikan penyesalannya yang sangat besar dan tersembunyi dalam hati, ketika mereka telah menyaksikan, merasakan azab yang sangat pedih itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, karena dia tidak memerlukan apapun dari siapapun. Ayat ini menegaskan, ketahuilah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi, dia yang menciptakan dan dia atur sesuai kehendak-Nya. Ketahuilah, bukankah janji Allah itu benar' hari pembalasan pasti akan datang. Orang yang taat pasti akan diberi pahala dan yang durhaka akan disiksa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui dan tidak mempercayainya.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 53-54 Allah SWT berfirman bahwa mereka akan mengujimu: (Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?) yaitu kiamat dan hari bangkit dari kubur itu, setelah tubuh-tubuh ini telah menjadi tanah (Katakanlah, "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar; dan kalian sekali-kali tidak dapat luput (darinya)) yaitu kalian yang telah menjadi tanah tidak bisa melemahkan Allah untuk mengembalikan kalian sebagaimana Dia menciptakan kalian dari ketiadaan. (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata padanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (82)) (Surah Yasin) Ayat ini tidak ada yang menyamainya dalam Al-Qur’an kecuali dua ayat lain, dimana Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk bersumpah dengan namaNya terhadap orang-orang yang mengingkari hari kiamat, dalam surah As-Saba’: (Dan orang-orang yang kafir berkata, "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, "Pasti datang, demi Tuhanku" (3)) dan surah A-Taghabun: (Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ”Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (7)) Kemudian Allah memberitahukanbahwa ketika hari kiamat terjadi, orang kafir ingin seandainya dia bisa menebus dirinya dari siksa Allah dengan emas seisi bumi. (dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil) yaitu dengan kebenaran (dan mereka tidak dianiaya)
Tafsir As-Sa'di
Buka
54. “Dan” pada Hari Kiamat kalau “setiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki”, dengan kekufuran dan kemaksiatan “segala sesuatu yang ada di bumi ini”, dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, “tentu dia menebus dirinya dengan itu.” Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. “Dan mereka menyembunyikan” yakni mereka orang-orang yang zhalim, “penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu.” Mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. “Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil.” Keadilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
54 Kalaupun pada hari kiamat nanti setiap diri yang zalim dengan kemusyrikan dan kesesatan itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia akan menebus dirinya dengan itu agar selamat dari azab. Mereka akan membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Di antara mereka orang kafir dan mukmin telah diberi keputusan dengan adil, dan mereka tidak dizalimi sama sekali
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Tidak saja mengetahui sesuatu yang tersembunyi di malam hari dan yang tampak di siang hari, Allah, melalui malaikat-Nya, juga mengawasinya dengan cermat dan teliti. Baginya, yakni bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu menjaga dan mengawasi-Nya secara bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaga dan mengawasinya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah yang mahakuasa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, sebelum mereka mengubah keadaan diri menyangkut sikap mental dan pemikiranmereka sendiri. Dan apabila, yakni andaikata, Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum'dan ini adalah hal yang mustahil bagi Allah'maka tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolaknya dan tidak ada yang dapat menjadi pelindung bagi mereka selain dia. Melanjutkan penyebutan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ayatayat yang lalu, beberapa ayat berikut Allah berbicara tentang kilat, halilintar, mendung, dan air hujan. Allah berfirman, dialah Allah, tuhan yang mahakuasa, yang memperlihatkan kilat kepadamu, yakni seberkas cahaya yang memancar dan menghilang secara cepat, yang kadangkala menimbulkan ketakutan pada diri kamu, dan kadangkala menimbulkan harapan yang menggembirakan'yakni pertanda segera turun hujan. Dan dia pula yang menjadikan mendung yang akan menurunkan hujan.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 10-11 Allah SWT memberitahukan tentang ilmuNya atas semua makhlukNya. Sama saja bagi Allah apakah sebagian dari mereka merahasiakan atau menampakkan ucapannya, sesungguhnya Dia mendengarnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (7)) (Surah Thaha) dan (dan Yang mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyalakan) (Surah An-Naml: 25) Firman Allah: (dan siapa yang bersembunyi di malam hari) yaitu bersembunyi dalam rumahnya di kegelapan malam (dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari) yaitu menampakkan diri berjalan di cahaya siang hari. Keduanya sama saja bagi ilmu Allah, sebagaimana firmanNya: (Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan) (Hud: 5) Firman Allah SWT (Kalian tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (61)) (Surah Yunus) Firman Allah: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu malaikat-malaikat yang selalu menjaga hamba Allah secara bergantian, ada yang menjaga di malam hari dan ada di siang hari. Mereka menjaganya dari hal-hal buruk dan kemalangan. Sebagaimana para malaikat lain yang bergiliran mencatat semua amal baik dan buruk; ada malaikat yang di malam hari dan ada yang di siang hari. Dua malaikat itu di sebelah kanan dan kiri mencatat amal itu. Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat amal baik, dan yang di sebelah kiri mencatat amal buruk. dan dua malaikat lain yang menjaga dan memeliharanya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu bergiliran dari Allah adalah para malaikat. Firman Allah: (mereka menjaganya atas perintah Allah) Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka menjaganya atas perintah Allah. Hal ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dan lainnya dari Ibnu Abbas. Pendapat ini dipegang oleh Mujahid, Sa'id bin Jubair, Ibrahim An-Nakha'i, dan lainnya.
Tafsir As-Sa'di
Buka
11. “Baginya,” yaitu bagi manusia “ada yang selalu mengikutinya bergiliran,” dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari “di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah,” maksudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalannya, selalu menyertainya terus menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-konsdisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum,” berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, “sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibtah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,” berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti terlaksana pada mereka. Karena “tidak ada yang dapat menolaknya,” tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. “Dan sekali-kali taka da pelindung bagi mereka selain Dia,” yang menangani urusan-urusan mereka, mendatangkan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
11. Bagi setiap manusia itu ada malaikat-malaikat yang mengikutinya untuk menjaga dan memeliharanya. Mereka adalah para malaikat penjaga yang menjaga manusia dengan perintah dan pertolongan Allah, bukan untuk menolak perintahNya. Dan jika berlaku suatu takdir, maka mereka akan berlepas darinya. Mereka menghitung amal perbuatannya yang baik dan buruk. Sesungguhnya Allah tidak mengubah nikmat atau kesehatan suatu kaum, sampai mereka mengubah ketaatan dan kebaikannya sendiri menjadi kemaksiatan dan keburukan. Jika Allah menghendaki suatu azab dan kehancuran bagi suatu kaum, maka itu tidak akan bisa ditolak. Dan tidak ada bagi mereka selain Allah seorang penolong yang membantu urusan mereka, yang membimbing mereka menuju kebaikan dan melindungi mereka dari keburukan.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan ingatlah pada hari ketika kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka, yaitu seorang nabi atau tokoh yang diakui kesalehan dan ketakwaannya, dari golongan mereka sendiri, yang memberi kesaksian dengan jujur; dan kami datangkan pula engkau, wahai nabi Muhammad, menjadi saksi atas mereka semua. Dan kami turunkan kitab Al-Qur'an kepadamu secara berangsur untuk menjelaskan kepada manusia prinsip-prinsip umum segala sesuatu, sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran dan kedamaian, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri sepenuh hati kepada Allah. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penjelasan, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri kepada Allah. Ayat ini kemudian mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur'an bagi mereka. Petunjuk pertama adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah menyatakan, sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun nonmateri secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun. Dan selain itu, dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan. Melalui perintah dan larangan ini dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman kepada hamba dan rasulNya, nabi Muhammad SAW: (Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas mereka) yaitu umatmu. yaitu, ingatlah kamu tentang hari itu dan kengeriannya serta kemuliaan yang agung dan kedudukan yang tinggi yang diberikan Allah kepadamu pada hari itu. Ayat ini mempunyai makna yang mirip dengan ayat yang mana Abdullah bin Mas'ud menghentikan bacaannya ketika membacakan ayat itu untuk Rasulallah SAW. Itu adalah ayat surah An-Nisa, ketika sampai pada firmanNya: (Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (41)) (Surah An-Nisa) Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, "Cukup,". Lalu Ibnu Mas'ud berkata bahwa dia berpaling melihat Rasulullah SAW, tiba-tiba dia melihat kedua mata beliau mencucurkan air matanya. Firman Allah SWT: (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu) Ibnu Mas'ud berkata bahwa telah dijelaskan kepada kami dalam Al-Qur'an ini semua ilmu dan segala sesuatu. Mujahid berkata bahwa setiap perkara halal dan haram. Pendapat Ibnu Mas'ud lebih umum dan lebih menyeluruh, karena sesungguhnya Al-Qur'an itu mencakup setiap ilmu yang bermanfaat dari berita yang terdahulu dan pengetahuan tentang masa mendatang. Setiap perkara halal dan haram, dan sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan, dan hari kiamat mereka (dan sebagai petunjuk) yaitu bagi hati (serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
Tafsir As-Sa'di
Buka
89. setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelumnya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muhammad) Allah berfirman “dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia” maksudnya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan keburukan. Ini termasuk kesempuraan sifat keadilan Allah, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti firman Allah “dan demikian (pula) kami telah mejadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Dan Allah berfirman "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun." (QS. An-Nisa : 41-42) FirmanNya ”dan kami turunkan kepadamu al-kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu" dalam perkara pokok ataupun cabang, dalam hokum-hukum di dua tempat (dunia dan akhirat) dan segala seuatu yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar benar telah di jelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang ngulang persoalan persoalan besar yang di butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (dia) menyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh lafazh yang berbeda beda dan bukti bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan konsistensinya di dalam hati. bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tudak terhitung banyaknya. Ketika Alqur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya, akibatnya hujjah hujjah orang orang yang berbuat aniaya terlumpuhkan. Sementara kaum muslimin mereguk kemanfaatan drainya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka. menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. sedangkan bentuk rahmatnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperi keshalihan, kebaikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai nilainya yang merupakan nilai nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan perbuatan yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Rabb yang maha penyayang.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
89. Ingatlah wahai Nabi, ketika Kami mengutus dari setiap umat itu seorang saksi dari golongan mereka, yaitu nabi mereka. Dan Kami mendatangkanmu wahai Rasul sebagai seorang saksi atas kaummu dan umat-umat yang tersisa, bahwa kamu telah menyampaikan risalah. Aku mengulang hal itu untuk mengancam orang-orang kafir Quraisy bahwa kesaksian itu berlaku untuk mengadili mereka bukan membenarkan mereka, dan untuk mengina mereka atas pendustaan mereka terhadal rasulallah. Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang menjelaskan secara terperinci tentang setiap sesuatu yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum agama dan syariat, petunjuk dari kesesatan, penyebab rahmat dan keberhasilan bagi orang yang beriman, dan kabar gembira tentang surga bagi orang-orang muslim yang menunaikan syariat Allah SWT.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur'an, salat, dan berzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya' wahai nabi Muhammad, katakanlah, 'apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berzikir, dan melaksanakan salat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya'' sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. 10. Sangatlah jauh perbedaan antara orang mukmin dengan orang kafir. Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada orang mukmin bahwa Allah berfirman, 'wahai hamba-hamba-ku yang beriman! bertakwalah kepada tuhanmu, taatilah perintah-Nya, dan ikutilah rasul-Nya. ' bagi orang-orang yang berbuat baik dan taat pada perintah Allah, di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan kehidupan di suatu tempat yang sejahtera. Dan bila kesejahteraan dan kebebasanmu beribadah terganggu, sungguh bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah ke tempat yang lebih baik (lihat pula: surah an-nis'/4: 97). Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya oleh Allah tanpa batas. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat demikian itu seperti orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan bagiNya tandingan-tandingan? Tentu saja tidak sama di sisi Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka itu tidak sama: di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (salat) (113)) (Surah Ali Imran) dan di sini Allah berfirman: ((Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri) yaitu dalam keadaan sujud dan berdirinya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dia berkata bahwa “al-qanit” adalah orang yang taat kepada Allah SWT dan RasulNya SAW. As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah tengah malam. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah permulaan, pertengahan, dan akhirnya. Firman Allah SWT: (Sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) yaitu dalam ibadahnya dia takut dan berharap. Suatu keharusan dalam ibadah yaitu hal ini dan hal itu, dan hendaknya ketakutan kepada Allah lebih besar daripada masa hidupnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (sedangkan ia takut kepada (azab) hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) dan apabila sedang menjelang ajal, hendaklah harapan itu lebih menguasai dirinya. Firman Allah SWT: (Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”) yaitu, apakah orang yang demikian itu sama dengan orang yang sebelumnya yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah? (Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran) yaitu sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara golongan ini dan itu hanyalah orang yang mempunyai akal.
Tafsir As-Sa'di
Buka
9. Ini adalah kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya yang jauh. Maka tidaklah sama orang berpaling dari ketaatan kepada Rabbnya, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang gemar beribadah, yakni, taat kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang paling utama, yaitu seperti shalat; dan pada waktu-waktu yang paling utama, seperti waktu-waktu di malam hari. Allah menyifati orang yang gemar beribadah itu dengan “banyak beramal dan melakukan yang paling utama.” Kemudian Allah menyifatinya dengan “sifat takut dan harap,” dan Allah juga menyebutkan sebab yang menimbulkan rasa takutnya, yaitu takut akan azab di akhirat atas dosa-dosa yang telah lalu yang terlanjur ia lakukan, dan juga sebab yang menimbulkan sifat pengharapan yaitu adanya rahmat Allah. Dengan demikian Allah menyifatinya dengan amal lahiriyah dan amal batiniyah. “Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui” Rabb mereka dan juga mengetahui AgamaNya yang bersifat balasan di akhirat, dengan segala rahasia dan hikmah di balik itu, “dengan orang-orang yang tidak mengetahui” sesuatu pun dari semua itu? Mereka yang berilmu tidak sama dengan mereka yang bodoh; demikian pula tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dan kegelapan, dan air dengan api. “Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni, orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahiNya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
9. Apakah orang kafir yang demikian itu lebih baik keadaan dan hartanya? Ataukah orang mukmin yang taat dan takut kepada Tuhannya yang lebih baik? Yang sepanjang malam ia berdoa, yang menundukkan kepalanya di tanah dan bermunajah atas kebenaran dalam shalatnya, yang takut akan siksa akhirat, yang tercukupi bahagianya, katakanlah hai Muhammad: apakah orang yang alim (tahu) itu sama dengan orang yang bodoh: keduanya tidak sama, sesungguhnya itu adalah nasihat bagi mereka yang berikir. Kalimah (min) tersusun dari kata (am) dan (min), (am) disini berarti istifham inkari yang berfaidah nafi, dan makna (bal:tetapi), bermakna perpindahan dari satu kalam ke kalam lain, orang yang shalat: orang yang melanggengkan ketaatan. Ibnu Umar berkata: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Utsman bin Affan, kata Ibnu Abbas: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Ibn Mas’ud, Umar bin Yasir dan Salim, Tuannya Abu Hanifah
Tafsir Al-Mishbah
Buka