SI Qur'an

Indikator 37: Anggaran, Estimasi, Perincian, Rekapitulasi, Pencatatan

Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-An'am (6): Ayat 96 Rujukan #1
فَالِقُ ٱلْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ ٱلَّيْلَ سَكَنًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ
fāliqul-iṣbāḥ, wa ja’alal-laila sakanaw wasy-syamsa wal-qamara ḥusbānā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm
"Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya terhadap sesuatu yang bersifat material dan berada di bumi, kini dijelaskan tentang benda-benda langit. Dia menyingsingkan pagi agar aneka makhluk dapat melakukan berbagai aktivitas, dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan beredar dengan ketelitian yang amat mengagumkan yang berguna sebagai dasar untuk perhitungan bulan dan tahun. Itulah ketetapan Allah yang mahaperkasa, maha mengetah fungsi matahari dan bulan telah diuraikan pada ayat di atas, selanjutnya fungsi bintang diuraikan pada ayat ini. Dan dialah Allah yang menjadikan bintang-bintang yang memancarkan cahaya bagimu, dengan tujuan antara lain agar kamu menjadikannya petunjuk arah dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan secara rinci tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan kami kepada orang-orang yang mengetahui.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 95-97 Allah SWT memberitahukan bahwa Dia adalah Dzat membelah biji-bijian dan bibit, yakni Dia membelahnya di dalam tanah, lalu tumbuhlah dari biji-bijian itu bermacam-macam tanaman, berupa biji-bijian dan buah-buahan yang beragam warna, bentuk, dan rasanya. Oleh karena itu Allah berfirman: (menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan) dijelaskan dengan firmanNya (Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati) yaitu Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang hidup dari biji dan bibit yang seakan-akan hal itu adalah benda mati. Sebagaimana firmanNya: (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan (33)) sampai dengan firmanNya: (dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui) (Surah Yasin: 33-36) Firman Allah: (Dan Dia mengeluarkan yang mati dari yang hidup) ma’thuf kepada (menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan) Kemudian menjelaskannya, lalu ma’thuf kepadanya firmanNya (Dan Dia mengeluarkan yang mati dari yang hidup) Mereka memberikan ungkapan tentang hal ini dan itu, dengan ungkapan-ungkapan yang semuanya saling berdekatan maknanya. Di antara mereka ada yang berkata,”Ayam dikeluarkan dari telur, dan sebaliknya” ada pula yang berkata,”Anak yang shaleh dilahirkan dari orang yang durhaka dan sebaliknya” dan hal lainnya dari ungkapan-ungkapan yang terkandung dalam ayat ini. Kemudian Allah berfirman: ((Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah) yaitu Dzat yang melakukan ini hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya (maka mengapa kalian masih berpaling?) yaitu Bagaimana bisa kalian berpaling dan menyimpang dari kebenaran darinya menuju kebathilan, lalu kalian menyembah Dia bersama yang lain? Firman Allah: (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat) Dia adalah Dzat yang menciptakan cahaya dan kegelapan, sebagaimana Dia berfirman di awal surah: (dan mengadakan gelap dan terang) (Surah Al-An'am: 1) Dialah Dzat Yang Maha Suci menyingsingkan kegelapan malam di permulaan pagi, sehingga alam menjadi terang, dan cakrawala menjadi terang. Kegelapan malam hilang berangsur-angsur, lalu datanglah siang dengan sinarnya yang terang. Sebagaimana firmanNya: (Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat) (Surah Al-A'raf: 54) Allah SWT menjelaskan kekuasaanNya dalam menciptakan segala sesuatu yang saling bertentangan dan berbeda-beda, yang menunjukkan kesempurnaan dari keagunganNya dan kebesaran kekuasaanNya. Lalu Allah menyebutkan bahwa Dia adalah Dzat yang menyingsingkan pagi dan hal yang bertentangan dengan itu, dalam firmanNya (dan menjadikan malam untuk beristirahat) yaitu sunyi dan gelap agar segala sesuatu beristirahat ketika itu, sebagaimana Allah berfirman: (Demi waktu matahari sepenggalan naik (1) dan demi malam apabila telah sunyi (2)) (Surah Adh-Dhuha) dan (Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang-benderang (2)) (Surah Al-Lail) serta (dan siang apabila menampakkannya (3) dan malam apabila menutupinya (4)) (Surah Asy-Syams) Firman Allah SWT: (dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan) yaitu keduanya beredar sesuai perhitungan yang pasti, stabil, tidak berubah, dan tidak kacau, melainkan masing-masing dari keduanya mempunyai garis edar yang dilewati oleh keduanya di musim panas dan musim dingin. Berdasarkan hal itu, maka berbedalah panjang dan pendek dari malam dan siang hari. Sebagaimana Allah berfirman: (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya garis-garis edar bagi perjalanan bulan itu) (Surah Yunus: 5) dan (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) serta (dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang; (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya) (Surah Al-A'raf: 54) Firman Allah: (Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui) yaitu semuanya beredar sesuai pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa yang tidak ada yang bisa menghalangi dan menentangNya. Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuanNya bahkan sebesar dzarrah, baik di bumi dan di langit. Seringkali ketika Allah menyebutkan tentang penciptaan malam, siang, matahari, dan bulan, Dia mengakhiri firmanNya dengan menyebut sifat keagungan dan kemahatahuan, sebagaimana Allah menyebutkan di dalam ayat ini, dan sebagaimana Dia menyebutkan dalam firmanNya: (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu. maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui (38)) (Surah Yasin) ketika Allah menyebutkan penciptaan langit dan bumi serta sesuatu yang ada pada keduanya, yaitu pada permulaan surah As-Sajdah: (Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) (Surah Fushshilat: 12) Firman Allah SWT: (Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagi kalian, agar kalian menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut) Sebagian ulama salaf berkata,"Siapa saja yang mempunyai keyakinan terhadap bintang-bintang ini selain dari tiga hal, maka dia keliru dan mendustakan Allah SWT yaitu bahwa Allah menjadikannya sebagai hiasan bagi langit dan sebagai sesuatu untuk merajam setan-setan serta petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut" Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran) yaitu Kami menjelaskan dan menerangkan hal itu (kepada orang-orang yang mengetahui) yaitu orang-orang yang berpikir dan mengetahui kebenaran serta menjauhi kebathilan

Tafsir As-Sa'di
Buka

96. dan ketika Allah menyebutkan bahan penciptaan makanan pokok, mana dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menyediakan tempat tinggal, dan dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang di butuhkan oleh hamba dan manfaat serta maslahatnya. Dia berfirman, “dia menyisingkan pagi,” sebagiamana dia menumbuhkan biji-bijian, maka dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahay pagi yang melenyapkanNya sedikit demi sedikit cahaya yang menyebar. Dengan pengganti masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentraman, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali adanya siang dan cahaya, maka “Dia menjadikan” malam untuk beristirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kangdangnya, burung ke sarangNya, maka masing-masing mengambil istirahatnya. Kemudian Allah menggangtikan dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. “Dan Allah” meenjadikan “matarhari dan bulan untuk perhitungan.” Dengan keduanya di ketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalah dipatok, lalu yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan pergantian kepada perintahkeduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidak mengetahuinya hanyalah beberapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada kemaslahatan yang tidak tercapai. “Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.” Yang mana diantara keperkasaanNya tunduknya mahkluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak lemapui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian mahkluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencenggangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaian dengan kemaslahatan dan hikmah.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

96. Allah jugalah Dzat yang menyingsingkan kegelapan pagidengan cahaya siang, dan membuat malam sebagai tempat untuk beristirahat, dimana manusia berhenti dari aktifitas dan hal yang melelahkan. Dia juga membuat matahari dan bulan sebagai tempat (atau media) untuk menghitung waktu, yang mana hal itu sangat berhubungan dengan kebaikan para hamba. Sistem yang telah disebutkan itu adalah kekuasaan Dzat yang Maha Kuat di kerajanNya, dan Dzat yang Maha Mengetahui ciptaanNya, sehingga Dia membuat aturan yang penuh hikmah ini

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 5 Rujukan #2
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءً وَٱلْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
huwallażī ja’alasy-syamsa ḍiyā`aw wal-qamara nụraw wa qaddarahụ manāzila lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, mā khalaqallāhu żālika illā bil-ḥaqq, yufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Selain menciptakan langit dan bumi sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya, dialah yang menjadikan matahari bersinar sangat terang yang menghasilkan kehangatan untuk alam raya dengan energi dari dirinya sendiri dan bulan bercahaya karena pantulan energi dari matahari, dan dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, yakni tempat peredaran perjalanan bumi mengitari matahari dan bulan mengitari bumi agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan hal yang demikian sempurna itu melainkan dengan benar, yakni dengan hikmah yang besar. Melalui penciptaan tersebut, dia menjelaskan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui, yakni yang mau mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah di alam raya ini. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada benda apa saja yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, yakni benda cair maupun padat, semilirnya angin maupun dahsyatnya petir dan halilintar, pasti terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni orang yang berha-ti-hati agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan supaya terhindar dari siksa Allah akibat kesesatan tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 5-6 Allah SWT memberitahukan tentang apa yang telah Dia ciptakan itu merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya dan kebesaran kuasaNya. Dia menjadikan sinar yang timbul dari matahari sebagai penerangan dan menjadikan bulan bercahaya. Ini adalah sebuah bentuk kesenian dan itu adalah kesenian lainnya, agar keduanya saling berbeda, agar tidak serupa. Dia menjadikan peran matahari di siang hari dan peran bulan di malam hari. Dia menetapkan tempat-tempat edar untuk bulan. Pada mulanya bulan itu tampak kecil, lalu bertambah besar cahaya dan bentuknya hingga menjadi bulan penuh pada malam purnama. Kemudian berkurang sedikit hingga kembali kepada keadaan semula pada akhir bulan. sebagaimana firmanNya: (Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) dan (dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan) (Surah Al-An'am: 96) Allah SWT berfirman dalam ayat yang mulia ini (dan Dia telah menetapkan baginya) yaitu bulan (manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)) Dengan matahari diketahui hari-hari, dan dengan perjalanan bulan dapat diketahui bulan-bulan dan tahun. (Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak) yaitu Allah tidak menciptakan hal itu dengan sia-sia melainkan Dia mempunyai kebijaksanaan yang agung dalam penciptaanNya, dan hujjah yang jelas, sebagaimana firman Allah SWT: (Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka (27)) (Surah Shad) Firman Allah: (Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)) yaitu Dia menjelaskan hujjah dan dalil-dalil: (kepada orang-orang yang mengetahui) Firman Allah: (Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu) yaitu saling bergantian antara keduanya. Jika yang satu datang, maka yang lainnya pergi; dan sebaliknya, dan tidak telat sedikit pun, sebagaimana firman Allah SWT: (Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat) (Surah Al-A'raf: 54) dan (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan) (Surah Yasin: 40). Firman Allah: (dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi) yaitu ayat-ayat yang menunjukkan keagungan Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi) (Surah Yusuf: 105). dan (Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (101)) (Surah Yunus) serta (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190)) (Surah Ali Imran) yaitu berakal. Di sini Allah berfirman: (benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa) yaitu hukuman, kemurkaan dan siksa Allah.

Tafsir As-Sa'di
Buka

5-6. ketika Allah menetapkan rububiyah dan uluhiyahNya,maka Dia menjelaskan dalil-dalil aqli dan ufuki yang menunjukkan hal itu, dan menunjukkan kesempurnaanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, berupa matahari, rembulan, langit dan bumi serta segala sesuatu yang Dia ciptakan padanya dalam bentuk berbagai macam makhluk, lalu Dia menyatakan bahwa itu adalah tanda-tanda kebesaranNya “bagi kaum yang mengetahui”, dan “bagi kaum yang bertakwa.” Sesungguhnya ilmu membimbing kepada pengetahuan tentang indikasi padanya dan bagaimana mengambil kesimpulan dari indikasi tersebut dengan jalan yang paling mudah. Takwa memunculkan keinginan di dalam hati kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan yang muncul dari dalil-dalil dan bukti-bukti, serta dari ilmu dan keyakinan. Hasil dari itu adalah bahwa hanya dengan pencipta makhluk-makhluk dengan kriteria seperti ini saja telah menunjukkan kesempurnaan kodrat Allah, ilmuNya, kehidupanNya, dan kemandirianNya, sedangkan sesuatu yang dikandungnya berupa kebaikan, ketepatan, kecanggihan dan kerapian adalah menunjukkan kesempurnaan hikmah Alllah, kebaikan penciptaanNya dan keluasan ilmuNya, sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa berbagai macam manfaat dan kemaslahatan- seperti menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya yang dengannya terwujud kegunaan mendasar seperti yang telah terwujud, itu menunjukkan rahmat Allah, perhatianNya kepada hamba-hambaNya, keluasan kebaikanNya. Sedangkan sesuatu yang dikandung di meremehkan apadalamnya berupa kekhususan-kekhususan yang menunjukkan bahwa hanya Dia yang disembah yang dicintaiyang dipuji, pemilik keagungan, kemuliaan dan sifat-sifat agung yang mana tidak sepatutnya ada cinta dan takut kecuali kepadaNya. Doa murni tidak diberikan secara tulus kecuali kepadaNya bukan kepada makhluk yang dipelihara yang memerlukan Allah dalam seluruh urusannya. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan ajakan untuk merenungkan makhluk-makhluk Allah, melihatnya untuk mengambil pelajaran, karena dengan itu bashirah bisa meluas, iman dan akal bertambah dan daya pikir menguat. Tidak melakukan itu berarti meremehkan apa yang diperintahkan oleh Allah, menutup pintu bertambahnya iman, menyebabkan kebekuan akal dan pikiran.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

5. Allah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Adh-dhiya’ adalah sesuatu yang berasal dari inti sesuatu, dan An-Nur adalah sesuatu yang terjadi bukan dari inti sesuatu. Cahaya bulan itu diperoleh dari sinar matahari. Kira-kira perputaran bulan ada pada 28 tempat. Dan melalui bulan bisa diketahui perhitungan bulan dan tahun. Allah tidak menciptakan langit, bumi dan seisinya kecuali sebagai ciptaan yang dipenuhi dengan kebenaran dan hikmah bukan kesia-siaan. Dia menjelaskan ayat-ayat yang menunjukkan pada keesaan dan kuasaNya bagi kaum yang mau merenung dan bertadabbur

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Isra (17): Ayat 12 Rujukan #3
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ ٱلَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ فَصَّلْنَٰهُ تَفْصِيلًا
wa ja’alnal-laila wan-nahāra āyataini fa maḥaunā āyatal-laili wa ja’alnā āyatan-nahāri mubṣiratal litabtagụ faḍlam mir rabbikum wa lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, wa kulla syai`in faṣṣalnāhu tafṣīlā
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan kami jadikan malam dan siang dan silih bergantinya keduanya itu sebagai dua tanda untuk menunjukkan kekuasaan kami, lalu kami hapuskan tanda malam, kami hapus cahayanya sehingga terjadilah kegelapan dan engkau tidak dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu, dan kami jadikan tanda siang itu terang, yakni kami jadikan siang dapat menerangi, sehingga kamu dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu. Demikian itu agar kamu dapat mencari kurnia dari tuhanmu dengan melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi kehidupanmu. Dan agar dengan kehadiran malam dan siang itu kamu mengetahui bilangan tahuntahun dan perhitungan waktu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sebagai penutup, ayat ini menyatakan, dan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupanmu telah kami terangkan dengan jelas, tidak ada sesuatu yang terlewati agar menjadi pelajaran bagimu. Ayat yang lalu ditutup dengan pernyataan bahwa segala sesuatu telah kami rinci dan jelaskan. Salah satu yang dirinci dan dijelaskannya berupa amal-amal perbuatannya. Ayat ini menyatakan, dan setiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya, tidak dapat terpisah satu dengan lainnya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang mencatat semua amalnya di dunia yang dijumpainya kitab itu terbuka, tidak ada sesuatu yang ditutupi atau tersembunyi.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah menganugerahkan kepada makhlukNya tanda-tanda kekuasaanNya yang Maha Agung antara malam dan siang, sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang di malam hari, dan mereka bertebaran di siang hari untuk mencari penghidupan, bekerja, berkarya dan melakukan perjalanan, yaitu agar mereka mengetahui jumlah hari, minggu, bulan, dan tahun. Dan agar mereka mengetahui berlalunya masa yang telah ditetapkan untuk pembayaran utang, waktu ibadah, muamalah, sewa dan lainnya. Oleh karena itu Allah berfirman: (agar kalian mencari karunia dari Tuhan kalian) yaitu dalam pekerjaan dan perjalanan kalian serta hal lainnya yang serupa (dan supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan) Sesungguhnya jika semua waktu sama saja, maka tidak ada perbeda­annya, maka tentu hal itu tidak dapat diketahui. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian?" Maka apakah kalian tidak mendengar?” (71) Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepada kalian yang kalian beristirahat padanya? Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (72) Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya (73) (Surah Al-Qashash), (Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya (61) Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (62) (Surah Al-Furqan), (dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang) (Surah Al-Mu’minun: 80) dan (Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun) (Surah Az-Zumar: 5) dan (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (96)) (Surah Al-An'am) serta (Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka ada­lah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (38)) (Surah Yasin) Sesungguhnya Allah menjadikan tanda pada malam hari, yaitu kegelapan dan munculnya bulan di dalamnya. dan tanda pada siang hari, yaitu munculnya cahaya dengan terbitnya matahari yang meneranginya. Allah membedakan antara sinar matahari dan cahaya bulan agar yang ini dapat dibedakan dengan yang itu, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan ber­cahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak) sampai firmanNya: (benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa) (Surah Yunus: 5-6) Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”) (Surah Al-Baqarah: 189). Abu Ja'far bin Jarir meriwayatkan melalui berbagai jalur yang baik, bahwa Ibnu Al-Kawa bertanya kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib, dia berkata,"Wahai Amirul Mu’minin, apakah bercak hitam yang ada pada rembulan itu?" Ali menjawab, "Celakalah kamu, tidakkah kamu pernah membaca Al-Qur’an, dimana Allah berfirman (lalu Kami hapuskan tanda malam) Maka ini adalah yang dihapus. Qatadah berkata tentang firmanNya: (lalu Kami hapuskan tanda malam hari) Kami sebelumnya berbicara bahwa penghapusan tanda malam hari adalah bercak hitam pada bulan. (dan Kami jadikan tanda siang itu terang) yaitu terang benderang. Lalu Allah menciptakan matahari yang lebih terang dan lebih besar daripada bulan.

Tafsir As-Sa'di
Buka

12. Allah berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda,” maksudnya keduanya merupakan bukti yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan keluasan rahmatNya. Dia-lah Dzat yang tidak selayaknya peribadahan ditujukan kecuali untukNYa. “Lalu Kami hapuskan tanda malam,” maksudnya bercahaya, “agar kamu mencari karunia dari Rabbmu,” melalui mata pencaharian, proses pruduksi, perdagangan dan perjalanan kalian, “dan supaya kamu mmengetahui,” dengan beriringannya siang malam dan pergantian bulan “bilangan tahun-tahun dan perhitungan,” maka kalian (bisa merencanakan) segala kemaslahatan yang kalian kehendaki berdasarkan itu, “dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas,” maksudnya Kami sudah menerangkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Kami) dan menguraikannya sehingga jelaslah perbedaan segala sesuatu, dan kebenaran pun menjadi terang di antara kebatilan. Sebagaimana Firman Allah, "Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab" (Al-An’Am:38).

Tafsir Al-Wajiz
Buka

12. Dan Kami telah menjadikan malam dan siang sebagai dua tanda yang menunjukkan kepada kesempurnaan kekuasaan, hikmah dan keesaan (Kami). Lalu Kami menjadikan tanda-tanda langit itu tertutup kegelapan, tidak ada cahaya di dalamnya supaya dapat digunakan untuk istirahat dan berdiam diri. Dan Kami jadikan tanda-tanda siang itu terang benderang agar bisa melihat segala sesuatu di dalamnya, supaya kalian bisa bias mencari rejeki dan penghidupan dari keutamaan Allah di siang hari, dan dengan mengetahui perputaran keduanya kalian dapat mengtahui jumlah tahun, menghitung bulan, hari dan setiap sesuatu dari urusan dunia dan agama yang telah Kami jelaskan dengan sangat jelas

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Nur (24): Ayat 39 Rujukan #4
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَعْمَٰلُهُمْ كَسَرَابٍۭ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ ٱلظَّمْـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ
wallażīna kafarū a’māluhum kasarābim biqī’atiy yaḥsabuhuẓ-ẓam`ānu mā`ā, ḥattā iżā jā`ahụ lam yajid-hu syai`aw wa wajadallāha ‘indahụ fa waffāhu ḥisābah, wallāhu sarī’ul ḥisāb
"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Usai menjelaskan sifat orang-orang yang mendapat pancaran cahaya ilahi, pada ayat berikut Allah beralih menguraikan sifat-sifat orang kafir. Dan orang-orang yang kafir yang menutup mata hati mereka sehingga tidak memperoleh cahaya ilahi, sesungguhnya amal perbuatan mereka, yang secara lahir tampak baik dan mereka harapkan untuk dibalas dengan ganjaran, kelak di hari kiamat seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila itu didatangi, yakni ketika dia sampai di tempat fatamorgana itu tampak, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya ketetapan Allah baginya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan sempurna; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya karena dia maha me-ngetahui segala sesuatu. 40. Allah menyajikan perumpamaan lain terkait betapa sia-sianya amal orang kafir itu. Atau keadaan orang-orang kafir itu seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang tidak dapat dijangkau kedalamannya, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya yaitu di atas gelom-bang yang bertumpuk dan bergulung-gulung itu ada lagi awan gelap yang menutupi sinar matahari. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis; perpaduan antara laut yang begitu dalam, ombak yang bergulung-gulung, dan awan yang kelam. Begitu pekat kegelapan itu hingga apabila dia mengeluarkan tangannya untuk didekatkannya ke mata, hampir saja dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya petunjuk oleh Allah maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 39-40 Kedua ayat ini merupakan dua buah perumpamaan yang dibuat Allah SWT untuk menggambarkan dua macam orang kafir. Sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam permulaan surah Al-Baqarah dua perumpamaan, yaitu api dan air. Dan sebagaimana Allah membuat perumpamaan tentang apa yang yang ditetapkan dalam hati berupa petunjuk dan ilmu dalam surah Ar-Ra'd sebanyak dua perumpamaan, yaitu air dan api. Kami membicarakan keterangan masing-masing di tempatnya sehingga tidak perlu diulangi lagi. Segala puji bagi Allah. Adapun perumpamaan pertama dari keduanya, dimana hal itu tentang keadaan orang-orang kafir yang menyeru orang lain kepada kekafiran mereka yang menduga bahwa mereka berada dalam jalan dan keyakinan yang benar, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak seperti itu. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan fatamorgana yang terlihat di tanah datar yang luas dari kejauhan. seakan-akan seperti lautan yang berombak. “Al-qai'ah” adalah bentuk jamak dari “qa'un”, seperti “jarun” yang bentuk jamaknya adalah “jairah”. “Al-qa'u” juga bisa menjadi bentuk tunggal dari “al-qai'an”, sebagaimana dikatakan “jarun”, bentuk jamaknya “Al-jiran”, yaitu tanah datar yang luas dan membentang serta di dalamnya ada fatamorgana, dan hal itu terjadi setelah lewat tengah hari. Sedangkan “Al-’al” terjadi pada permulaan siang hari, yang dilihat seakan-akan ada air antara langit dan bumi. Ketika fatamorgana terlihat oleh orang yang membutuhkan air, maka dia akan menduganya sebagai air yang dia inginkan untuk minum. Tetapi setelah dekat dengannya (dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) Demikian juga keadaan orang kafir, dia menduga bahwa dirinya mengerjakan suatu amal dan bahwa dirinya pasti mendapat sesuatu. Tetapi apabila dia menghadap kepada Allah pada hari kiamat dan Allah menghisabnya dan menanyai semua amal perbuatannya, maka dia tidak mendapati sesuatu pun dari apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Terkadang karena tidak ikhlas, atau karena tidak sesuai dengan tuntunan syariat, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (23)) (Surah Al-Furqan) dan di sini Allah berfirman: (Dan dida dapati (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya) Demikianlah yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'b, Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan lainnya. Perumpamaan ini merupakan gambaran tentang keadaan orang-orang yang bodoh berlipat-lipat. Adapun orang-orang bodoh yang biasa adalah sejumlah besar manusia yang mengikuti para pemimpin kafir yang bisu dan tuli yang tidak berakal. Perumpamaan mereka sebagaimana Allah SWT berfirman: (atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam) Qatadah berkata bahwa (lujiyyin) adalah dalam. (Yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), di­atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya) yaitu hampir saja tidak dapat melihatnya karena sangat gelap. Hal ini merupakan perumpamaan hati orang kafir yang kebodohannya sederhana yanghanya bertaklid, yang tidak mengetahui keadaan orang yang memimpinnya dan tidak mengetahui kemanakah dia pergi. Bahkan sebagaimana dalam perumpamaan dimana ditanya kepada orang bodok,"Kamu hendak pergi kemana?" dia menjawab,"bersama mereka" Dikatakan, "Kemana mereka pergi?" dia menjawab, "Aku tidak tahu" Ubay bin Ka'b berkata tentang firmanNya: (gelap gulita yang saling bertindih) Dia berada dalam lima kegelapan. Perkataannya kegelapan, amalnya kegelapan, tempat masuknya kegelapan, tempat keluarnya kegelapan, dan tempat kembalinya kepada kegelapan pada hari kiamat menuju neraka. As-Suddi dan Ar-Rabi' bin Anas berkata tentang itu juga. Firman Allah SWT: (dan barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun) yaitu barangsiapa yang tidak mendapat petunjuk dari Allah, maka dia binasa, bodoh, terhalang, hancur, dan kafir. Sebagaimana firmanNya: (Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya) (Surah Al-A'raf: 186) Ini merupakan kebalikan dari apa yang disebutkan Allah tentang perumpamaan orang-orang mukmin: (Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki) (Surah An-Nur: 35) Kita memohon kepada Allah yang Maha Agung, semoga Dia memberikan cahaya dalam hati kita semua; dan cahaya di sebelah kanan, dan sebelah kiri kita, dan semoga Dia membesarkan cahayaNya bagi kita

Tafsir As-Sa'di
Buka

39 “dan orang-orang kafir,” terhadap Rabb mereka dan mendustakan para RasulNya, ”amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,” yaitu tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya “yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,” yaitu orang yang sangat dahaga, yang menghalusinasikan sesuatu yang tidak dihalusinasikan oleh orang lain, disebabkan rasa dahaganya. Padahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu dia bermaksud untuk menghilangkan rasa dahaganya “hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun,” maka dia benar-benar menyesal. Kehausannya makin menjadi parah lantaran harapannya terputus. Begitu pula amalan orang-orang kafir, ia ibarat fatamorgana, masih bisa dilihat lalu orang yang bodoh, (yang tidak mengerti perkara-perkara) menyangkanya merupakan amalan-amalan yang bermanfaat. Kemasan amalan-amalan itu menipu dirinya, fantasinya mempermainkannya, dia pun mengira hal itu adalah amalan-amalan yang bermanfaat bagi hawa nafsunya. Dia juga merasa butuh bahkan sangat memerlukannya, sebagaimana kebutuhan orang yang dahaga terhadap air. Maka tatkala ia mendatangi amalannya pada Hari Pembalasan, dia merasa kehilangan dan tidak menemukan sesuatu apapun. Kondisi (sebenarnya) amalan-amalan itu tidak lenyap, tidak untuk kebaikannya atau mencelakainya. Bahkan “dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup,” yang tidak tersembunyi (walau) seringan partikel dan setipis kulit ari, tiada yang hilang dari amalan itu, sedikit ataupun banyak. “dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya,” maka janganlah orang-orang bodoh itu meminta tunda (waktu kedatangan) janji itu, karena ia pasti akan tiba. Allah mempermisalkan amalan-amalan orang-orang kafir layaknya fatamorgana, yang ada “ditanah datar,” yang tidak ada pep

Tafsir Al-Wajiz
Buka

39. Dan perbuatan orang-orang kafir itu berbanding terbalik dengan orang-orang mukmin, yaitu seperti fatamorgana: sesuatu yang dilihat di padang pasir akibat pantulan matahari saat tengah hari sehingga memunculkan asumsi bahwa itu adalah air yang ada di tengah qi’ah, yaitu tanah yang membentang dari bagian bumi yang diasumsikan oleh orang yang haus memiliki air, sampai ketika dia mencapai tempatnya di gurun pasir, dia tidak mendapati air disana sebagaimana yang diasumsikan.. Seperti itulah orang kafir yang menganggap bahwa amalnya bermanfaat pada hari kiamat, lalu ketika mati dia tidak mendapatkan manfaat apapun dari amalnya sebagaimana fatamorgana itu tidak memberi manfaat bagi orang yang haus dan dia mendapati Allah berada di sisi amalnya sedang menunggunya (Dia mendapati balasan atas amal perbuatannya). Lalu Allah membalasnya atas amal itu di dunia. Dan Allah itu Maha Cepat untuk membalas. Ayat ini diturunkan untuk Utbah bin Rabi’ah atau Syaibah bin Rabi’ah, keduanya mati dalam keadaan kafir.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Ar-Rahman (55): Ayat 5 Rujukan #5
ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān
"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

5-6. Di antara tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa matahari dan bulan beredar pada porosnya menurut perhitungan yang sangat teliti dan tepat tanpa cacat; dan tetumbuhan tak berbatang dan pepohonan berbatang pun keduanya tunduk kepada ketentuan-Nya

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 1-13 Allah SWT memberitahukan tentang karunia dan rahmatNya kepada makhlukNya, bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-hambaNya, dan memudahkan untuk menghafalkan dan memahaminya bagi orang yang Dia rahmati. Jadi Allah SWT berfirman: ((Tuhan) Yang Maha Pengasih (1) Yang telah mengajarkan Al-Qur’an (2) Dia menciptakan manusia (3) Mengajarnya pandai berbicara. (4)) Al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud adalah berbicara. Qatadah dan selain keduanya berkata bahwa maknannya adalah kebaikan dan keburukan. Tetapi pendapat Al-Hasan di sini lebih baik dan lebih kuat karena konteks ayat membicarakan pengajaran Al-Qur'an, yaitu menunaikan bacaannya. Dan sesungguhnya hal itu dapat terwujud jika Allah memudahkan makhlukNya untuk berbicara, dan mengeluarkan bunyi huruf dari makhrajnya masing-masing, yaitu dari kerongkongan, lisan dan kedua bibir dengan berbagai macam makhrajnya. Firman Allah SWT (Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan (5)) yaitu keduanya berjalan beriringan sesuai perhitungan yang tepat, tidak menyimpang dan tidak berbenturan, sebagaimana firmanNya: (Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40)) (Surah Yasin) dan (Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui 96)) (Surah Al-An'am) Firman Allah SWT: (Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya (6)) Ibnu Jarir berkata bahwa para mufasir berbeda pendapat tentang makna (an-najm) setelah mereka sepakat bahwa yang dinamakan “Asy-Syajar” adalah tumbuhan yang tegak di atas batangnya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa an-najm adalah sesuatu yang digelar di atas permukaan bumi, berupa tumbuhan. Demikian juga dikatakan Sa'id bin Jubair, As-Suddi, dan Sufyan Ats-Tsauri. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah bintang-bintang yang ada di langit. Demikian juga yang dikatakan Al-Hasan dan Qatadah, dan pendapat inilah yang lebih jelas. Hanya Allah yang lebih Mengetahui, berdasarkan firman Allah SWT: (Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar dari manusia) (Surah Al-Hajj: 18). Firman Allah: (Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (7)) yaitu keadilan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan) (Surah Al-Hadid: 25) Demikian juga Allah berfirman di sini (Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)) yaitu Dia menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya dan adil agar segala sesuatu berjalan dengan sebenar-benarnya dan adil. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (9)) yaitu, janganlah mengurangi timbangan, tetapi timbanglah dengan benar dan adil. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan timbanglah dengan neraca yang benar) (Surah Al-Isra: 35) Firman Allah SWT: (Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya) (10)) yaitu sebagaimana Dia meninggikan langit, Dia telah menghamparkan bumi ini dan memancangkannya dengan gunung-gunung yang tinggi-tinggi agar stabil dan tidak mengguncangkan makhluk yang ada di atasnya yang beragam jenis, macam, warna, dan bahasa mereka di seluruh penjurunya. Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid berkata bahwa “al-anam” adalah makhluk. (di bumi itu ada buah-buahan) yaitu yang beragam warna, rasa, dan aromanya (dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang) disebutkan tersendiri karena manfaat yang ada padanya, baik dalam keadaan basah maupun kering. Dan “al-akmam” adalah kelopak mayang. Demikian juga dikatakan banyak mufasir; yaitu kelopak mayang yang terbelah mengeluarkan buah kurma, yang pada mulanya bernama “busr”, kemudian “ruthab”, kemudian menjadi masak dan sempurna kemasakannya. Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “al-akmam” adalah serabutnya yang berada di leher pohon kurma, ini adalah pendapat Al-Hasan dan Qatadah. (Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya (12)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, terkait firmanNya (Dan biji-bijian yang berkulit) bahwa maknannya adalah biji-bijian yang ada daunnya. Demikian juga dikatakan Qatadah Mujahid, dan lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan “raihan” adalah daunnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa “raihan” adalah tanaman yang hijau. Makna ini (hanya Allah yang lebih Mengetahui) adalah bahwa yang dimaksud dengan biji-bijian adalah seperti gandum, jawawut, dan yang serupa dengan keduanya yang mempunyai bulir dan daun-daunan yang melilit pada batangnya. Firman Allah: (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (13)) yaitu nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan, wahai dua makhluk yang dibebani yaitu jin dan manusia? Pendapat ini dikatakan Mujahid dan lainnya, yang hal ini ditunjukkan pada konteks setelahnya. yaitu, bahwa nikmat-nikmat tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya sehingga kalian tidak dapat mengingkarinya. Dan kami hanya dapat mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh jin yang beriman kepadaNya,"Ya Allah, tidakmada sesuatu pun dari nikmat-nikmatMu yang kami ingkari, maka segala puji bagiMu" Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut,"Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?" yaitu “Kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya”

Tafsir As-Sa'di
Buka

5. “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungannya,” yakni Allah menciptakan matahari dan bulan serta menundukkan keduanya untuk beredar sesuai dengan perhitungan yang cermat dan terencana sebagai bentuk rahmat dan perhatian Allah kepada para hamba, sebagai kemaslahatan bagi mereka, dan agar mereka mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).

Tafsir Al-Wajiz
Buka

5. Matahari dan Bulan beredar dengan perhitungan rinci yang teratur, sehingga keduanya menunjukkan perhitungan bulan dan tahun

Tafsir Al-Mishbah
Buka