SI Qur'an

Indikator 15: Sistem Informasi Geografis

Ditemukan 15 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 30 Rujukan #1
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
wa iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī jā’ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj’alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā`, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a’lamu mā lā ta’lamụn
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah pada ayat-ayat terdahulu Allah menjelaskan adanya kelompok manusia yang ingkar atau kafir kepada-Nya, maka pada ayat ini Allah menjelaskan asal muasal manusia sehingga menjadi kafir, yaitu kejadian pada masa nabi adam. Dan ingatlah, wahai rasul, satu kisah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, aku hendak menjadikan khalifah, yakni manusia yang akan menjadi pemimpin dan penguasa, di bumi. Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi sampai hari kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah atau tugas-tugas keagamaan. Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud Allah. Mereka berkata, apakah engkau hendak menjadikan orang yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di sana dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu' malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman, sungguh, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah di dunia ini. Allah mahatahu bahwa pada diri manusia terdapat hal-hal negatif sebagaimana yang dikhawatirkan oleh malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak. Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa sebuah rencana besar yang mempunyai kemaslahatan yang besar jangan sam-pai gagal hanya karena kekhawatiran adanya unsur negatif yang lebih kecil pada rencana besar tersebut. Salah satu sisi keutamaan manusia dijelaskan pada ayat ini. Dan dia ajarkan kepada adam nama-nama semuanya, yaitu nama bendabenda dan kegunaannya yang akan bisa membuat bumi ini menjadi layak huni bagi penghuninya dan akan menjadi ramai. Benda-benda tersebut seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda lainnya. Kemudian dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada para malaikat dan meminta mereka untuk menyebutkan namanya seraya berfirman, sebutkan kepada-ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar! Allah ingin menampakkan kepada malaikat akan kepatutan nabi adam untuk menjadi khalifah di bumi ini. [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal anugrah-Nya yang diberikan kepada Bani Adam, yaitu sebagai makhluk yang mulia, mereka disebutkan dikalangan makhluk yang mempunyai kedudukan tertinggi -yaitu para malaikat- sebelum mereka diciptakan. Untuk itu Allah berfirman: ( ) Makna yang dimaksud adalah “dan ingatlah Muhammad, ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak seorang kholifah dimuka bumi ini, yaitu suatu kaum yang sebahagiannya akan menggantikan sebahagian yang lain dan saling berganti, abad demi abad dan generasi demi generasi. Dan ceritakanlah hal ini kepad umatmu hai Muhammad” Al Qurtubi menukil dari zaid bin ali, yang dimaksud kholifah dalam ayat ini bukan Adam AS saja, sebagaimana yang dikatakan sejumlah ahli tafsir. Alqurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu A’bas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Walaupun dalam masalah ini terjadi perselisihan pendapat diantara beberapa ahli tafsir. Akan tetapi yang dzohir dalam makna ayat tersebut memang bukanlah Nabi Adam As sebagai kholifah, akan tetapi bani adam secara umum. Hal itu bias disimpulkan dari ucapan para malaikat ketika mendengar berita kekhilafan ini dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka berkata : “Mengapa engkau hendak menjadikan (khilafah) di bumi ini orang yang akan berbuat keruksakan padanya dan akan menumpahkan darah?” Maka maksud dari ucapan mereka (malaikat) ini adalah diantara jenis makhluk ini (manusia) akan ada yang melakukan perbuatan tersebut, dan bukan Nabi Adam yang melakukannya. Timbul pertanyaan besar dalam memahami ucapan malaikat tersebut, dari mana malaikat mengetahui bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi dan akan menumpahkan darah sedangkan Nabi Adam sendiri belum Allah ciptakan?. Menurut imam Alqurtubi ada beberapa kemungkinan malaikat mengucapkan pertanyan tersebut : Pertama bisa jadi para malaikat mengetahui nya dengan ilmu yang khusus dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedua, mereka pahami dari watak manusia yang akan Allah ciptakan, karena sebelumnya Allah telah memberi tahu malaikat bahwa Dia akan mencipatakan makhluk ini (manusia) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam, sebagaimana firman-Nya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (QS Al-Hijr :28) Ketiga, para malaikat memahami bahwa yang dimaksud dengan kholifah adalah mereka yang akan melerai pertengkaran diantara manusia, yaitu yang memutuskan hukum terhada apa yang terjadi dikalangan mereka yang bersangkutan dengan masalah penganiayaan dan melarang mereka dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan ataupun perbuatan dosa. Keempat, para Malaikat mengqiyaskan manusia kepada makhluk sebelumnya yang menghuni bumi sebelum mereka yaitu bangsa Jin, sebagaimana penuturan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami abu kurai telah menceritakan kepada kami Usman Ibnu Said, telah menceritakan kepada kami Bisyr Ibnu Imaroh, dari Abu rauq, dari Ad-dahak dari Ibnu ‘Abbas mengatakan “sesungguhnya yang pertama menghuni bumi ini adalah bangsa jin. Lalu mereka berbuat kerusakan di bumi ini dan banyak menumpahkan darah serta sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain.” Ibnu abbas melanjutkan “lalu Allah mengirim Iblis untuk memerangi mereka. Akhirnya iblis dan para Malaikat memerangi mereka hingga mengejar mereka sampai ke pulau-pulau yang ada diberbagai laut dan sampai ke puncak-puncak gunun. Setelah itu Allah menciptakan Adam lalu menempatkannya di bumi. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang kholifah di muka bumi” Ucapan para malaikat ini bukan untuk menentang atau memprotes keputusan Allah, dan bukan pula karena rasa iri dengki kepada manusia, kerna hakikatnya malaikat adalah makhlik yang selalu taat kepada Allah, tidak pernah menduhului Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala hal, mereka akan tunduk terhadap segala perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi maksud dari ucapan ini adalah meminta informasi kepada Allah tentang hikmah yang terkandung dari penciptaan manusia sebagai kholifah dimuka bumi ini. Mereka mengatakan “wahai tuhan kami,apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang yang akan berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah? Jika yang dimaksudkan agar engkau disembah, maka kami selau bertasbih memujimu dan mensucikanmu dengan ibadah”. Dengan kata lain seolah malaikat ingin mengatakan “dan kami tidak pernah berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, kenapa tidak kami saja yang engkau jadikan kholifah?”. Maka Allah berfirman untuk menjawab pertanyaan tersebut : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut mashlahat yang jauh lebih kuat dalam penciptaan manusia sebagai khalifah daripada mafsadat yang kalin sebutkan. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rosul-rosul, diantara mereka akan ada para siddiqin, para syuhada, orang-orang sholeh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang yang bertaqwa, para muqorrobin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyuk, orang-orang yang cinta kepad Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti jejak Rosul-Nya. Imam Al-Qurthubi dan yang lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya mengangkat seorang kholifah untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan diantara manusia, menyelesaikan persengketaan mereka, menolong orang yang teraniaya dari tindakan sewenang-wenang orang dzolim kepada mereka, menegakan hokum-hukum had, dan memperingatkan mereka dari perbuatan keji serta hal-hal penting lainnya yang tidak bisa dilaksankan keculai denga adanya seorang imam, mengingat suatu hal yang merupakan kesempurnaan sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib. Pengangkatan imam bias dilakukan dengan metode nash seperti yang terjadi pada pengangkatan Abu Bakar ash-shidiq ra, atau dengan cara ditunjuk, atau dengan cara diangkat oleh imam sebelumnya seperti proses pengangkatan sahabat Umar bin khotob ra yang ditujuk oleh kholifah Abu bakar ra, atau dengan metode musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang sholeh seperti yang dilakukan Umar bin Khottob saat menentukan imam pengganti dirinya yaitu kholifah terpilih sahabat Utsman bin affan ra atau dengan kesepakatan ahlul hilli wal ‘aqdi yang membaiatnya. Seorang kholifah wajib laki-laki, merdeka, balig, berakal, muslim, adil, mujtahid dan bias melihat, semua anggota tubuhnya sehat dan berpengalaman dan masalah petempuran dan memiliki pandangan yang tajam serta akurat. Dan disyaratkan dari kalangan bangsa Quraisy menurut pendapat yang shohih. Tidak disyaratkan harus terbebas dari kesalahan dan kefasiqan, sehingga walaupun sang imam berbuat fasiq, maka tetap wajib berimamah kepadanya dan tidak boleh memberontak selama tidak berbuat kekafiran. Tidak diperbolehkan ada dua imam dalam satu negeri,demikian pendapat jumhur ulama, sebagaimana sabda Nabi : “Barang siapa yang datang kepada kalian, sedangkan perkara kalian sudah bersatu, dan dia bermaksud memecah belah diantara kalian, maka bunuhlah oleh kalian dimana saja dia berada”

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT menyampaikan pujianNya kepada anak cucu Adam dengan menyebutkan mereka di hadapan para malaikat sebelum penciptaan mereka. Allah SWT berfirman, (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat) maknanya yaitu Ingatlah wahai Muhammad, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat dan ceritakanlah kepada kaummu tentang hal itu. Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ahli bahasa Arab (yaitu Abu 'Ubaidah) dia berpendapat bahwa kata (idz) di sini adalah suatu tambahan. Bentuk ungkapannya yaitu (Wa qaala rabbuka). Namun pendapat ini ditolak oleh Ibnu Jarir. Al-Qurtubi mengatakan bahwa semua mufasir telah menolak pandangan ini, bahkan Az-Zajjaj berkata: "Ini merupakan anggapan yang keliru dari Abu 'Ubaidah" (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi) maknanya kaum yang saling memimpin satu sama lain, masa demi masa, dan dari generasi ke generasi, sebagaimana firmanNya (Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi) (surah Al-An'am: 165), (dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi) (surah An-Naml: 62), dan (Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun(60)) (surah Az-Zukhruf) serta (Maka datanglah sesudah mereka) (surah Al-A'raf: 169) dan (surah Maryam: 59). Yang dimaksud dengan “khalifah” di sini bukan hanya nabi Adam AS saja, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mufasir. Al-Qurtubi menghubungkan pendapat itu kepada Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud, dan seluruh ahli tafsir. Terkait hal ini terdapat perbedaan pendapat, bahkan perbedaan itu banyak. Fakhrudin Ar-Razi telah menyebutkan hal itu dalam tafsirnya, begitu juga yang lainnya. Yang jelas bahwa yang dimaksud bukan hanya nabi Adam AS saja, karena jika begitu, tentu malaikat tidak mengatakan, (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah) Mereka beranggapan bahwa makhluk jenis ini melakukan hal tersebut, dan seolah-olah mereka mengetahui hal tersebut melalui pengetahuan khusus atau memahami watak manusia. Allah memberitahu mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk ini dari tanah liat dari jenis tanah liat hitam yang bisa dibentuk, atau mereka memahami bahwa khalifah yang dimaksud adalah yang memutuskan perselisihan di antara manusia dan mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang dilarang dan perbuatan dosa. Pendapat ini dikatakan oleh Al-Qurtubi, atau mungkin mereka mengetahuinya dari orang-orang ebelumnya. Ucapan para malaikat ini bukanlah bentuk bantahan terhadap Allah, juga bukan bentuk rasa iri terhadap anak cucu Adam AS, sebagaimana yang dianggap beberapa mufasir. Allah telah menggambarkan para malaikat bahwa mereka (mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan) maknanya yaitu mereka tidak bertanya tentang sesuatu yang tidak diizinkan bagi mereka. Di sini Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk di bumi. Qatadah berkata,”Sungguh telah lewat pengetahuan bagi mereka bahwa manusia itu akan berbuat kerusakan di bumi” Lalu mereka berkata (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah). Ini adalah permohonan penjelasan mengenai dari hal itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, apa hikmah dari penciptaan makhluk ini, padahal di antara mereka ada yang berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Jika maksudnya adalah untuk beribadah kepadaMu, maka kami senantiasa bertasbih memujiMu dan menyucikanMu. yaitu kami akan senantiasa menyembahMu sampai waktu mendatang, maknanya hal itu tidak bisa kami pahami, Tidakkah hal itu membatasi kami?” Allah SWT berfirman menjawab mereka terkait pertanyaan ini (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui) maknanya, Sesungguhnya Aku lebih mengetahui kebaikan yang melimpah dalam penciptaan makhluk ini daripada kerusakan yang kalian sebutkan, yaaitu sesuatu yang tidak kalian ketahui. Sesungguhnya Aku akan menjadikan para nabi dan mengutus para rasul di antara mereka, dan akan ada di antara mereka orang-orang yang shiddiq, syahid, shalih, hamba-hamba yang zahid, wali-wali, orang-orang yang berbuat kebaikan, orang-orang yang didekatkan, para ulama, orang-orang yang khusu’, dan orang-orang yang mencintai Allah SWT yang mengikuti para rasulNya, semoga rahmat dan salam tercurahkan kepada mereka. Telah diterangkan dalam hadits yang sahih, bahwa ketika para malaikat menghadap ke hadapan Allah SWT dengan (membawa) amal perbuatan hamba-hambaNya, Allah bertanya kepada mereka (Hanya Allah yang lebih mengetahui) (Bagaimana (keadaan) hamba-hambaKu ketika kalian meninggalkan?) mereka menjawab (Kami mendatangi mereka dan mereka sedang melakukan shalat, lalu kami meninggalkan mereka dan mereka masih melakukan shalat). Hal itu karena mereka saling menjaga kami dan berkumpul pada saat shalat Subuh dan Ashar. Mereka menunggu sementara yang lain sedang naik. Seperti sabda Rasulullah SAW, "Amal perbuatan pada malam hari dinaikkan ke langit sebelum siang hari, dan amal perbuatan pada siang hari dinaikkan ke langit sebelum malam hari" Mereka berkata, "Kami datang kepada mereka sementara mereka sedang shalat dan kami meninggalkan mereka juga sedang shalat." Ini ditafsirkan oleh firman-Nya kepada mereka, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Ucapan mereka,” Kami mendatangi mereka dan mereka sedang melakukan shalat, lalu kami meninggalkan mereka dan mereka masih melakukan shalat” adalah penafsiran dari firmanNya (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui) Abdullah bin Razzaq dari Ma'mar, dari Qatadah tentang firman Allah SWT " padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau) bahwa makna “Tasbih” adalah “bertasbih dan “taqdis” adalah shalat" Mujahid berkata,”Taqdis adalah Kami mengagungkan dan membesarkanMu." Ibnu Jarir berkata,"Taqdis adalah mengagungkan dan mensucikan. Di antaranya adalah ucapan mereka berkata, “Subbuhun Quddusn”, makna “Subbuhun” adalah, kami mensucikan Allah dan “Quddusun”adalah kami mensucikan dan mengagungkan Allah. Oleh karena itu, dikatakan untuk bumi sebagai tanah yang suci. Yaitu yang disucikan. Jadi makna dari ungkapan malaikat (padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau) yaitu Kami mensucikanmu dari penambahan apapun yang dikaitkan oleh orang-orang musyrik kepadaMu, dan (dan mensucikan Engkau) maknanya adalah kami mengaitkanMu dengan hal-hal yang merupakan sifat-sifatMu berupa kesucian dari kotoran dan penambahan yang dikaitkan kepadamu oleh orang kafir Dalam kitab “Sahih Muslim” (diriwayatkan) dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwa Rasulullah SAW ditanya, "Ucapan apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Kalimat yang dipilihkan Allah untuk para malaikat, yaitu Subhanallah wa bi hamdihi"

Tafsir As-Sa'di
Buka

30. Ini adalah permulaan penciptaan nabi Adam alaihissalam, bapak moyang manusia dan keutamaan beliau, dan bahwasanya Allah ta’ala ketika ingin menciptakannya, Allah mengabarkan kepada para malaikat tentang hal tersebut, dan bahwasanya Allah ta’ala menjadikannya sebagai khlifah di bumi, lalu para malaikat berkata, ”mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dengan kemaksiatan-kemaksiatan dan menumpahkan darah?” hal ini merupakan uraian secara khusus setelah disebutkan secara umum demi menjelaskan besarnya kerusakan akibat pembunuhan itu. Dan hal itu adalah sebatas dugaan para malaikat, bahwasanya khalifah yang akan di ciptakan di bumi itu akan melakukan hal-hal yang mereka sebutkan, lalu mereka menyucikan Sang Pencipta dari hal itu semua dan mengagungkanNya, kemudian mereka mengungkapakan bahwasanya mereka dalam setiap kondisi selalu beribadah kepadaNya tanpa berbuat kerusakan, maka mereka berkata, ”padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiMu, ” maksudnya, kami menyucikanMu dengan segala kesucian yang sesuai dengan segala pujian dan keagunganMu, ”dan menyucikanMu, ” kemungkinan artinya adalah menyucikanMu, jadi huruf lam mengandung maksud pengkhususan dan keikhlasan, atau mungkin juga dapat berarti kami menyucikan diri kami karenaMu yaitu membersihkannya dengan cara menghiasinya dengan akhlak-akhlak yang mulia, seperti mencintai Allah, takut kepadaNya, dan mengagungkanNya, dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang hina. Selanjutnya, ”Dia berkata, ” yakni, Allah berkata kepada malaikat, ”sesungguhnya Aku mengetahui, ” dari khalifah ini, ”apa yang kamu tidak ketahui, ” karena perkataan kamu adalah menurut apa yang kamu sangkakan, sedangkan Aku mengetahui yang Nampak maupun yang tersembunyi, dan Aku mengetahui bahwasanya kebaikan yang di peroleh dari penciptaan khalifah ini adalah lebih besar berlipat ganda sekalipun termasuk di dalamnya ada pula keburukan-keburukan. Dan sekiranya saja dalam hal itu tidak ada kebaikan kecuali bahwa Allah hendak memilih di antara mereka para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang yang shalih, juga agar ayat-ayat Allah Nampak jelas bagi makhluk, lalu penyembahan kepada Allah menjadi ada yang tidak mungkin ada tanpa penciptaan khalifah tersebut seperti berjihad atau lain-lainnya, dan agar Nampak sesuatu yang di rahasiakan oleh insting orang-orang yang mukallaf, berupa kebaikan maupun kejahatan dengan ujian, dan agar jelas antara musuhNya dari waliNyadan golonganNya dari yang memerangiNya, dan agar Nampak pula apa yang tersirat oleh jiwa iblis dari kejahatan yang terpatri padanya dan menjadi karakternya, niscaya itu semua sudah cukup sebagai hikmah-hikmah yang agung yang tidak perlu mencari hikmah selainnya. Kemudian ketika perkataan para malaikat menunjukkan keutamaan mereka atas khalifah yang akan di ciptakan oleh Allah di muka bumi, maka Allah hendak menjelaskan kepada mereka tentang keutamaan nabi Adam yang membuat mereka mengetahui keutamaan Allah, kesempurnaan hikmah, dan ilmuNya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Dan ingatkanlah kaummu wahai Muhammad ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, yaitu Adam. Aku mewakilkan kepadanya urusan pemakmuran bumi dan pelaksanaan hukum-hukumKu”. Lalu para malaikat berkata dalam diri mereka sendiri: “Bukankah Engkau akan menciptakan di dalamnya seseorang yang kelak akan melakukan kerusakan dengan berbuat kemusyrikan dan kemaksiatan?”. Sungguh mereka telah mengetahui hal itu karena telah diajarkan oleh Allah dengan suatu cara tertentu. Maksud ucapan mereka adalah “Apakah Engkau hendak menciptakan di dalamnya orang yang mengalirkan darah yang haram dengan saling membunuh, menyakiti dan bertikai, sedangkan kami adalah ciptaan-ciptaan yang selalu bersyukur, memujiMu dan mensucikanMu dari hal-hal yang tidak sesuai denganMu?”. Kemudian Allah berfirman: “Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui, yaitu akan ada di antara para khalifah itu, para nabi dan orang-orang shalih

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 45 Rujukan #2
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ
wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,"

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan penuh sabar, dengan memelihara keteguhan hati dan menjaga ketabahan, serta menahan diri dari godaan dalam menghadapi hal-hal yang berat, dan juga dengan melaksanakan salat. Dan salat itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk dan tunduk hatinya kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Melalui firman-Nya ini, Allah ta’ala menyuruh hamba-Nya untuk meraih kebiakan dunia dan akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan sholat sebagai penolong. Sebagaimana yang dikatakan Muqotil Bin Hayyan dalam tafsirnya mengenai ayat ini : “Hendaklah kalian mengejar kehidupan dunia dan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajiban dan shalat sebagai penolong”. Menurut Mujahid yang dimaksud dengan sabar dalam ayat ini adalah shiyam (puasa). Al-Qurtubi dan ulama lainnya mengatakan, “oleh karena itu bulan Ramadhan disebut sebagai bulan kesabaran”. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabar pada ayat tersebut adalah menahan diri dari perbuatan maksiat, karena disebutkan bersama dengan pelaksanaan berbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah sholat. Ibnu Abi Hatim telah berkata, bahwa Umar Bin Khottob pernah berkata : “Sabar itu ada dua; sabar ketika mendapatkan musibah adalah baik, dan lebih baik lagi bersabar dalam menahan diri dari mengerjakan apa yang Allah haramkan”. Hal yang semakna juga telah diriwayatkan oleh Hasan Al-Bashri. Ibnul Mubarok meriwayatkan dari Said bin Jubair, katanya, “kesabaran itu adalah pengaduan hamba kepada Allah ta’ala atas apa yang menimpa dan mengharap keridhoan di sisi-Nya menghendaki pahala-Nya. Terkadang seseorang merasa cemas tetapi ia tetap tegar, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran”. Adapun sholat, ia merupakan pertolongan yang paling besar untuk bias tetap dan yakin dalam suatu urusan, sebagaimana firman Allah ta’ala : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut : 45) Imam Ahmad telah meriwayatkan dari hudaifah Ibnu Yaman bahwasanya ia berkata; “Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam jika ditimpa satu masalah, maka segera mengerjakan sholat” (HR. Abu Daud) Adapun firman-Nya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” Sunaid meriwayatkan dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, Ia mengatakan bahwa sabar dan sholat merupakan penolong untuk mendapatkan rahmat Allah ta’ala. Adapun dhomir yang digunakan dalam firman-Nya : Kembali kepada kalimat sholat. Demikian dinyatakan oleh Mujahid dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan bisa juga kembali pada kandungan ayat itu sendiri, yaitu perintah untuk melakukan sabar dan sholat sebagai cara meminta pertolongan. Artinya, bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup dan melaksanakan sholat itu adalah sesuatu yang berat, kecuali untuk orang-orang yang khusyu’. Mujahid mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar keimanan”. Ad-Dhohak mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang tunduk dalam ketaatan kepada-Nya, yang takut akan kekuasaan-Nya, serta yang yakin dengan janji dan ancaman-Nya. Ibnu jarir mengatakan, makna ayat ini adalah “wahai sekalian orang ‘alim dari kalangan ahlu kitab, mohonlah pertolongan dengan menahan diri kalian dalam ketaatan kepada Allah dan mendirikan sholat yang dapat mencegah kalian dari kekejian dan kemungkaran serta dapat mendekatkan diri kalian kepada keridhoan Allah. Hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu mereka yang patuh dan tunduk dalam ketaatan kepada-Nya serta merendahkan diri karena takut kepada-Nya”. Secara kontekstual, ayat ini ditujukan kepada Bani Isroil, namun yang dimaksud tentu bukanlah hanya mereka semata, akan tetapi ditunjukan secara umum baik kepada mereka maupun selain mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman (dengan memberikan perintah) kepada hamba-hambaNya tentang apa yang mereka harapkan berupa kebaikan di dunia dan akhirat, dengan memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat. Seperti yang diungkapkan oleh Muqatil bin Hayyan tentang tafsir ayat ini: “Mintalah pertolongan untuk mencari akhirat dengan kesabaran dalam menjalankan kewajiban dan shalat." Terkait kesabaran, dikatakan bahwa itu adalah puasa, Hal itu dikatakan oleh Mujahid. Abu Al-'Aliyah berkata tentang firman Allah SWT: (Dan memohon pertolonganlah dengan kesabaran dan shalat), bahwa itu adalah untuk meraih keridhaan Allah, dan ketahuilah bahwa shalat adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Adapun firmanNya: (Dan shalat), maka sesungguhnya shalat adalah salah satu bentuk pertolongan terbesar untuk meneguhkan diri dalam segala urusan, sebagaimana Allah berfirman: (Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar)." (Surah Al-'Ankabut: 45) Imam Ahmad berkata bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,”Rasulullah SAW ketika ditimpa suatu masalah, beliau shalat" Kata ganti dalam firmanNya (Wa Innaha) merujuk kepada shalat, Hal ini diungkapkan oleh Mujahid. Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Hal ini kemungkinan merujuk kepada apa yang diindikasikan oleh kalam tersebut, yaitu nasehat untuk melaksanakan hal tersebut, sebagaimana firman Allah dalam kisah Qarun: (Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".(80)) (Surah Al-Qashas), dan Allah SWT berfirman, (Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (35)) (Surah Fushilat), yaitu bahwa nasehat yang disampaikan ayat ini kecuali orang-orang yang bersabar. Dan apa yang dianugerahkan (sesuatu yang diberikan dan diilhamkan) kecuali kepada orang yang memiliki keuntungan yang besar Pada setiap penafsiran, firman Allah SWT (Wa Innaha la labiiratun) yaitu penderitaan yang sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.' Ibnu Abi Thalhah mengutip dari Ibnu Abbas, maksudnya adalah orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah. Mujahid berkata orang-orang mukmin yang sesungguhnya. Abu Al-'Aliyah berkata,( kecuali bagi orang-orang yang khusyu') maknanya yaitu orang-orang yang takut (azab Allah). Ibnu Jarir berkata tentang makna ayat ini, “Memohonlah pertolongan “Wahai para pendeta Ahlul Kitab” dengan mendedikasikan diri kalian untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dan mendirikan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan mendekatkan kepada keridhaan Allah, dan yang sangat sangat besar (manfaatnya) bagi mereka yang merendahkan diri untuk melakukan ketaatan kepadaNya, yang tunduk karena takut kepadaNya.' Demikianlah pendapat yang disampaikan. Yang jelas bahwa ayat ini (jika berbicara dalam konteks peringatan kepada Bani Israil) menjelaskan bahwa ini dimaksudkan khusus hanya untuk mereka, melainkan bersifat umum yaitu untuk mereka dan selain mereka. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Terkait firman Allah SWT,((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya (46)) yaitu bahwa firmanNya ini adalah untuk melengkapi firman sebelumnya, yaitu bahwa shalat atau nasehat itu adalah sesuatu yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yang merakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, artinya mereka tahu bahwa mereka akan dikumpulkan untuk menghadap kepadaNya pada hari kiamat (bahwa mereka akan kembali kepadaNya) artinya segala urusan mereka kembali kepada kehendakNya, Dia akan menghakimi hal itu sesuai dengan keadilanNya. Oleh karena itu ketika mereka meyakini adanya hari kebangkitan dan pembalasan sehingga menjadi mudah bagi mereka untuk melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar. Adapun terkait firmanNya, "((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Ibnu Jarir berkata bahwa bangsa Arab terkadang menggunakan “zhanna”untuk menyebut “yakin” dan “ragu”, melihat mereka menyebut “sudfah” (kegelapan) untuk “kegelapan” dan “cahaya”, serta menyebut “Sharih” untuk “orang yang menolong“ dan untuk “orang yang meminta pertolongan”, dan 'orang yang meminta pertolongan' untuk 'penolong'. Dan berbagai kata-kata yang dipakai untuk menyebut sesuatu dan lawan katanya. Seperti yang dikatakan oleh Duraid bin As-Shimmah: 'Aku berkata kepada mereka, "Yakinlah pada ribuan hal yang terselubung" “yang meliputi mereka dengan kuda yang diselubungi baju besi” Maknanya yaitu Yakinlah kepada ribuan hal yang terselubung yang datang kepada kalian. Di antara penjelasan tentang hal itu adalah firman Allah SWT,(Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya) (Surah Al-Kahfi: 53). Mujahid berkata,"Setiap keyakinan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah ilmu" Terkait firman Allah SWT, ((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Abu Al-'Aliyah berkata bahwa (zhannu) di sini adalah keyakinan.

Tafsir As-Sa'di
Buka

45. Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi taqdir-taqdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada, dan barangsiapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyu’an, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisiNya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyu’ adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Saling tolong-menolonglah kalian dengan bersabar dalam ketaatan dan menahan nafsu syahwat; dan melakukan shalat pada waktunya dengan khusyu’ karena dalam keduanya ada sesuatu yang dapat mengendalikan diri kalian, menahan ketidaknyamanan kalian, menghentikan kalian untuk berbuat buruk dan (mendorong) melakukan kebaikan. Shalat itu amat sangat berat kecuali bagi mereka yang menundukkan diri untuk mengagungkan Allah dan takut dengan siksaNya

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Ali Imran (3): Ayat 159 Rujukan #3
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah memberi kaum mukmin tuntunan secara umum, Allah lalu memberi tuntunan secara khusus dengan menyebutkan karunianya kepada nabi Muhammad. Maka berkat rahmat yang besar dari Allah, engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka yang melakukan pelanggaran dalam perang uhud. Sekiranya engkau bersikap keras, buruk perangai, dan berhati kasar, tidak toleran dan tidak peka terhadap kondisi dan situasi orang lain, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah, hapuslah kesalahan-kesalahan mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, yakni urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah, maka bertawakAllah kepada Allah, dan akuilah kelemahan dirimu di hadapan Allah setelah melakukan usaha secara maksimal. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal ayat sebelumnya diakhiri dengan perintah bertawakal kepada Allah, satu-satunya penentu keberhasilan dan kegagalan. Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada siapa pun dan apa pun yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu, tidak memberi pertolongan, maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu' pasti tidak ada. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal, mengakui kelemahan diri di hadapan Allah setelah melakukan usaha secara maksimal.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 159-164 Allah SWT berfirman seraya berbicara kepada RasulNya dan menambahkan atas dirinya dan orang-orang yang mukmin dalam apa yang telah mengendap dalam hatinya terhadap umatnya yang mengikuti perintahnya, yang meninggalkan larangannya, dan Dia memberikan kata-kata yang lembut kepada mereka: (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu hal apa yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka, kalau bukan karena rahmat Allah terhadapmu dan mereka. Qatadah berkata terkait firmanNya (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu bahwa karena rahmat Allahlah yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka. Huruf “maa” adalah “shilah”. Bangsa Arab menghubungkannya dengan isim ma’rifah, sebagaimana firman Allah: (Fa bimaa naqdhihim miitsaaqahum) (Surah An-Nisa, 155), dan dengan isim nakirah sebagaimana dalam firmanNya (‘amma qaliil) Demikian juga Allah berfirman di sini (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu disebabkan rahmat dari Allah Hasan Al-Bashri berkata: “Ini adalah akhlak nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Allah dengan hal itu” Kemudian Allah SWT berfirman: (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu) Maksud dari kata bersikap keras di sini adalah kata-kata yang kasar, sesuai dengan firmaan setelahNya (lagi berhati kasar) yaitu jika ucapanmu kasar, maka hatimu akan keras keras terhadap mereka dan mereka akan menjauh darimu dan meninggalkanmu. Akan tetapi Allah telah mengumpulkan mereka di sekitarmu, dan menjadikanmu lembut terhadap mereka untuk meneguhkan hati mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Amr bahwa dia melihat sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu: bahwa dia bukanlah orang yang kasar, keras, berbuat gaduh di pasar-pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dia akan memaafkan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu) Demikian juga Rasulallah SAW biasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam suatu urusan, ketika beliau berbicara dengan lembut untuk memberi ketenangan hati mereka, sehingga mereka lebih tekun dalam melakukan apa yang akan mereka lakukan. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW bermusyawarah dengan mereka terkait pergi ke suatu tempat Mereka berkata, “Ya Rasulullah, Seandainya engkau menghadapkan kami ke lautan ini, kami akan mengikutimu. Jika engkau berjalan dengan kami menuju telaga yang dalam, maka kami akan mengikutimu, Kami tidak akan mengatakan sesuatu yang dikatakan oleh kaum nabi Musa kepadanya: “Pergilah kamu dan Tuhanmu, lalu berperanglah. Kami akan menunggu di sini.” Tetapi kami akan berkata, “Pergilah, kami akan bersamamu, dan berada di sebelah depan, kanan, dan kirimu”. Rasulullah SAW juga bermusyawarah dengan mereka terkait tempat untuk tinggal, sehingga dia menyarankan kepada Mundzir bin Amr Al-Mu’taq untuk mati dengan maju menghadang musuh. Rasulullah SAW juga bermusyawarah dengan mereka terkait perang Uhud apakah mereka akan menunggu di Madinah atau keluar melawan musuh. Mayoritas mereka menyarankan untuk keluar menghadapi musuh, dan Rasulullah SAW bermusyawarah dengan mereka terkait peperangan dan urusan lainnya. Firman Allah SWT: (Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah) yaitu ketika kamu bermusyawarah dalam suatu perkara dan membulatkan tekad atas perkara itu, maka bertawakallah kepada Allah dalam hal itu. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya) Firman Allah (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (160)) Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dari firmanNya: (Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) (Surah Ali Imran: 126). Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk bertawakkal kepadaNya, lalu Dia berfirman: (hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal) Firman Allah SWT: (Tidak mungkin seorang nabi berkhianat) Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, dan yang lainnya berkata: “Tidak patut bagi seorang nabi berkhianat” Ini adalah pembebasan bagi beliau SAW dari segala bentuk khianat dalam menjalankan amanah, pembagian harta rampasan, dan lain sebagainya. Kemudian Allah SWT berfirman: (Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya) Ini adalah ancaman yang sangat keras dan peringatan yang tegas, dan telah disebutkan dalam hadits yang tentang larangan melakukan hal tersebut. Dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Sa'id bin Zaid, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berbuat zalim (dengan mengambil) sejengkal tanah, maka Allah akan mengalungkan di lehernya tujuh lapis bumi pada hari kiamat” Firman Allah: (Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (162)) yaitu tidaklah sama orang yang mengikuti keridhaan Allah dalam apa yang telah Dia syariatkan, maka dia pantas mendapatkan keridhaanNya yang agung dan pahala yang melimpah, serta dijauhkan dari siksaanNya yang berat. Adapun orang yang pantas mendapat murka Allah dan dihukum olehNya, maka tidak ada tempat menghindar dariNya, dan tempat kembali baginya pada hari kiamat adalah neraka Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali. Terkait hal ini terdapat dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an, sebagaimana firmanNya: (Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?) (Surah Ar-Ra'd: 19), dan (Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (61)) (Surah Al-Qashash). Kemudian Allah SWT berfirman: ((Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah) Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq berkata,”Maknanya adalah beberapa derajat bagi orang yang melakukan kebaikan dan orang yang melakukan keburukan. Abu 'Ubaidah dan Al-Kisa'i berkata bahwa maknanya adalah beberapa tempat, yaitu mereka dipisah-pisah dalam tingkatan dan kedudukan (tinggi) di surga dan kedudukan (rendah) di neraka, sebagaimana firman Allah SWT: (Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya…) (Surah Al-An’am: 132). Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan) yaitu Dia akan membalas mereka dengan adil, sehingga Dia tidak akan menganiaya mereka dengan kebaikan dan tidak menambahkan kepada mereka dengan kejahatan, melainkan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya. Firman Allah SWT (Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri) yaitu dari kalangan mereka sendiri agar mereka dapat berbicara dengannya, duduk dengannya, dan mengambul manfaat darinya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri) (Surah Ar-Rum: 21) yaitu dari kalangan kalian, dan Allah SWT berfirman: (Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa") (Surah Al-Kahfi: 110). Ini adalah bukti yang jelas atas pemberian Allah bahwa RasulNya yang diutus untuk mereka berasal dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka bisa berbicara dengannya, merenungkan ajaran-ajarannya, Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah) yaitu Al-Qur’an (membersihkan (jiwa) mereka) yaitu memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan yang munkar. untuk membersihkan jiwa mereka dan membersihkan mereka dari kotoran yang mereka lakukan ketika mereka masih dalam keadaan musyrik dan jahiliyyah. (dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah) yaitu AL-Qur’an dan Sunnah (Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu) yaitu sebelum adanya rasul ini (mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) yaitu dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata dan jelas bagi setiap orang

Tafsir As-Sa'di
Buka

159. Maksudnya, disebabkan rahmat Allah kepadamu dan kepada para saahabatmu, maka Allah telah memberikan karuniaNya atasmu agar engkau berlaku lemah lembut dan bersikap sopan santun kepada mereka, mengasihi mereka, berakhlak baik pada mereka, hingga mereka berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu. “Sekiranya kamu bersikap keras, ” maksudnya, berahklak buruk, ”lagi berhati keras, ”tentulah mereka menjauh dari diri dari sekelilingmu, ” karena sikap seperti ini membuat mereka lari dan benci kepada orang orang yang memiliki akhlak yang jelek. Ahklak yang baik merupakan pokok ajaran dalam agama yang akan menarik menusia kepada agama Allah dan membuat mereka senang kepadanya, disamping ada yang diadapatkan oleh pelakunya berupa pujian dan pahala yang khusus. Dan sebaliknya, akhlak yang bruk merupakan masalah yang pokok dalam agama yang menjauh kan manusia dalam agama dan membuat mereka benci kepadanya di samping oleh apa yang di peroleh para pelakuanya celaan dan hukuman yang khusus. Maka Rasul yang ma'sum ini Allah telah firmankan kepadanya seperti itu lalu bagaimana dengan selainya? Bukankah menjadi sesuatu yang wajib dan paling penting dalan mencontoh akhlak-akhlak beliau yang mulia, dan bermuamalah dengan menusia sebagaimana Rasululloh bermuamalah dengan mereka dengan cara yang lembut, dengan akhlak yang yang baik dan penyatuan hati, sebagai suatu sikap taat kepada perintah Allah dan daya tarik bagi hamba-hamba Allah kepada agama Allah? Kemudian Allah memerintahkan NabiNya untuk memaafkan mereka dari kelalaian yang terjadi pada mereka terhadap hak-hak beliau dan agar beliau memohonkan ampunan bagi mereka atas kelalaian merreka kepada hak-hak Allah, hingga Nabi menyatukan para pemberi maaf dan berbuat baik. “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, ” yaitu perkara-perkara yang membutukan bermusayawarah, tukar pikiran dan pendapat. Karena di dalam musyawarah itu terdapat faidah yang banyak dalam maslahat agama maupun dunia yang tidak mungkin di batasi, di antaranya; 1. Bahwasanya musyawarah itu termasuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. 2. Bahwasanya di dalam permusyawarahan itu terdapat toleransi untuk mencurahkan ide mereka dan menghilangkan ketidak enakan yang ada dalam hati mereka terjadi berbagai peristiwa. orang-orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain apabila mengumpulkan para cendikiawan dan tokoh masyarakat, niscaya hati mereka akan tenang dan mereka akan mencintainya dan kemudian mereka mengetahui bahwa dia tidak berbuat sewenang-wenang kepada mereka, akan tetapi dia memandang kepada kemaslahatan umum bagi seluruh masyarakat. 3. Dalam bermusyawarah terdapat pencerahan pikiran, di sebabkan pengaktipan akal pada objek peruntukannya hingga menjadi suatu tambahan bagi objek akal. 4. Apa yang diahasilkan dari musyawarah adalah dari pikiran yang matang, karena seorang yang bermusyawarah hampir-hampir tidak membuat salah dalam pelaksanaanya, dan apabila terjadi kesalahan atau tidak sempurna sebagaimana yang di inginkan, maka ia tidak akan dicela. Maka apabila Allah memerintahkan kepada rosul (padahal rosul adalah orang yang paling sempurna akalanya) dengan perintah "dan bermusyawarahla dalam segala urusan", maka bagaimana dengan selain rosul? Kemudian Allah berfirman, ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, ” yaitu suatu perkara atas bermusyawarah padanya, apabila di butuhkan, ”maka bertakwalah kepada Allah, ” maksudnya bersandar kepada upaya Allah dan keutamaanya, dan berlepas dirilah dari memampuan dan kekuatan dirimu.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

159 Wahai rasul, sesungguhnya kemudahan dan kelapangan dada dalam berinteraksi dengan kaummu tidak lain disebabkan rahmat dari Allah yang ditanamkan dalam hatimu. Agar kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka dalam menyebarkan agama. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar atau buruk perangai, keras hati, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan agama dan dunia tentang segala yang tidak bertentangan dengan syariat atau yang belum diturunkan dalam wahyu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad setelah bermusyawarah, maka bertawakkallah dengan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal dan menyerahkan urusannya kepada-Nya. Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Maidah (5): Ayat 8 Rujukan #4
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadā`a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Ayat selanjutnya memberikan tuntunan agar umat islam berlaku adil, tidak hanya kepada sesama umat islam, tetapi juga kepada siapa saja walaupun kepada orang-orang yang tidak disukai. Wahai orangorang yang beriman! jadilah kamu sebagai penegak keadilan, yakni orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran, karena Allah, ketika kalian menjadi saksi maka bersaksilah dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, yakni kepada orang-orang kafir dan kepada siapa pun, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil terhadap mereka. Berlaku adillah kepada siapa pun, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, sungguh, Allah mahateliti, maha mengetahui apa yang kamu kerjakan, baik yang kamu lahirkan maupun yang kamu sembunyikan pada ayat ini Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang sesuai dengan isi hati mereka dan membuktikannya dengan beramal saleh bahwa mereka akan mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala yang besar berupa surga.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 7-11 Allah SWT berfirman seraya mengingatkan hamba-hambaNya yang mukmin akan nikmatNya atas mereka dalam apa yang disyariatkan olehNya kepada mereka dalam agama yang agung ini, serta mengutus kepada mereka, rasul yang mulia ini, dan perjanjian yang diambil atas mereka lakukan dalam melakukan bai’at dengan beliau untuk mengikuti, mendukung, dan membelanya, serta melaksanakan agamanya, menyampaikan ajaran darinya, dan menerima ketentuan-ketentuannya. Lalu Allah berfirman, (Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami patuh") Inilah bai'at yang mereka lakukan kepada Rasulallah SAW ketika mereka masuk Islam, sebagaimana mereka berkataa,"Kami berbai'at kepada Rasulallah untuk mendengar dan patuh, baik dalam keadaan senang, terpaksa, dan keadaan egois kami. dan kami tidak akan memperdebatkan perkara itu" Allah berfirman, (Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman (8)) (Surah Al-Hadid). Dikatakan bahwa ini adalah pengingat bagi orang-orang Yahudi tentang perjanjian dan kesepakatan yang di ambil dari mereka untuk mengikuti nabi Muhammad SAW dan mengikuti hukum-hukumnya. Hal ini dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Dikatakan juga bahwa itu adalah peringatan terhadap perjanjian yang diambil oleh Allah SWT atas anak cucu nabi Adam ketika Dia mengeluarkan mereka dari tulang sulbinya dan membuat meraka bersaksi atas diri mereka ("Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi") (Surah Al-A’raf: 172) Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan Muqatil bin Hayyan. Pendapat pertamalah yang lebih jelas dan pendapat itu diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan As-Suddi, dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Kemudian Allah berfirman, (Dan bertakwalah kepada Allah) sebagai penegasan dan dorongan untuk bertakwa kepadaNya dalam segala keadaan. Kemudian Dia memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka, berupa rahasia dan pikiran-pikiran, Allah berfirman, (sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)) Firman Allah, (Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah) yaitu Tegakkanlah kebenaran karena Allah SWT, bukan karena manusia atau ingin pamer, dan jadilah (menjadi saksi dengan adil), dengan adil bukan dengan kezaliman. Telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim tentang Nu’man bin Basyir, dia berkata,"Ayahku memberikan sebuah pemberian kepadaku, lalu Ibuku, Amrah binti Rawaqah berkata, “Tidak ada tanah kecuali disaksikan oleh Rasulullah SAW” Lalu, dia pergi kepada Rasulullah untuk meminta kesaksian beliau tentang kebenaranku, dan beliau bertanya, “Apakah setiap anakmu telah kamu beri juga?” Ayahku menjawab, “Tidak” Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan berlakulah adil kepada setiap anakmu” beliau bersabda lagi,”Aku tidak mau menjadi saksi atas pemberian yang kurang adil” Kemudian ayahku kemudian kembali dan membatalkan pemberian itu. Firman Allah,( Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil) yaitu janganlah perasaan benci kalian pada suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil terhadap mereka. Sebaliknya, terapkanlah keadilan untuk setiap orang, baik dia teman atau musuh. Oleh karena itu, Allah berfirman, (Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa) yaitu keadilan kalian itu lebih mendekatkan kalian kepada takwa daripada meninggalkannya. Kata kerja "berlaku adil" di sini menunjukkan pada bentuk mashdarnya yang dhamirnya kembali kepada mashdar tersebut, sebagaimana yang sering digunakan dalam Al-Quran dan lainnya, sebagaimana dalam firman Allah, (Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu) (Surah An-Nur: 28). Firman Allah: (karena adil itu lebih dekat kepada takwa) ini merupakan penggunaan af’al at-tafdhil yang tidak memiliki kata berlawanan di sisi lainnya, sebagaimaana dalam firmanNya: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24))

Tafsir As-Sa'di
Buka

8. “Hai orang-orang yang beriman,” yaitu kepada apa yang mereka diperintahkan untuk beriman kepadanya. Tegakkan konsekuensi imanmu dengan “menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil.” Hendaknya gerak-gerikmu, lahir dan batin, terus bersemangat dalam penegakkan keadilan dan hendaknya pelaksanaannya itu hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan dunia. Dan hendaknya sasaranmu tegak dan seimbang (qisth) yaitu adil, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan; dalam ucapan dan perbuatanmu. Tegakkan itu kepada kerabat, orang jauh, kawan maupun musuh. “Dan janganlah sekali-kali kamu terdorong oleh kebencian kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil,” seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki rasa kedailan. Akan tetapi sebagaimana kamu bersaksi untuk membela temanmu maka kamu pun harus mau bersaksi untuk melawannya, sebagaimana kamu bersaksi melawan musuhmu, maka kamu pun harus bersaksi membelanya walaupun dia adalah orang kafir atau pelaku bid’ah. Dalam hal ini wajib berlaku adil dan menerima kebenaran yang dibawanya (karena ia adalah kebenaran), bukan karena dia yang mengucapkannya, dan kebenaran tidak ditolak hanya karena dia yang mengucapkannya, karena itu kezhaliman terhadap kebenaran. “Berlaku adillah, karena berlaku adil itu lebih dengan takwa,” yakni semakin kamu berusaha untuk bersikap adil dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, maka hal itu lebih dekat kepada ketakwaan hatimu. Jika keadilannya sempurna, maka takwanya juga sempurna. “SEsungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” maka Dia akan membalasmu sesuai dengan amal perbuatanmu, yang baik, yang buruk, yang kecil, dan yang besar; dengan balasan di dunia dan akhirat.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

8 Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran sebagaimana yang kalian janjikan kepada Allah. Seraya mengagungkan dan ikhlas hanya karena Allah. Dan jadilah saksi dengan penuh kadilan tanpa bermaksud menguntungkan seseorang. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil dan menyembunyikan persaksian yang bermanfaat untuk mereka. Berlaku adillah kepada siapapun, karena adil itu lebih dekat kepada takwa Allah, atau karena takut kepada neraka. Dan bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan syariat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan dan Maha memberi balasan atas itu.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-A'raf (7): Ayat 52 Rujukan #5
وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
wa laqad ji`nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā ‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat yang lalu diterangkan tentang keadaan penghuni surga, neraka, dan a'ra'f, dan juga dialog antara mereka yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan agar manusia terhindar dari penyesalan dan mendapat petunjuk kepada jalan yang benar. Pada ayat-ayat ini diterangkan tentang kitab Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan diterangkan pula bagaimana akibat orang-orang yang menentang dan mendustakannya pada hari kiamat. Sungguh, kami telah mendatangkan kitab yang agung, yaitu Al-Qur'an, kepada mereka yang kami jelaskan beragam bukti yang mudah dipahami, dan penjelasan itu atas dasar pengetahuan kami yang sangat luas, mantap, dan menyeluruh sehingga tidak ada kekurangan dan kelemahannya. Kitab itu benar-benar sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang kafir tidaklah beriman kepada berita-berita dalam alqur'an, walaupun sudah sedemikian jelas bukti-bukti kebenarannya. Tidakkah mereka hanya menanti-nanti melainkan setelah nyata bagi mereka bukti kebenaran Al-Qur'an itu. Pada hari kiamat ketika bukti kebenaran pemberitaan Al-Qur'an itu tiba, seperti berita tentang hari kebangkitan, surga, dan neraka, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya, yakni meninggalkan tuntunannya, berkata, sungguh ketika di dunia, rasul-rasul tuhan kami telah datang membawa kebenaran, antara lain tentang hari kebangkitan, namun kami kafir dan ingkar padanya. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami, agar kami terhindar dari siksa yang pedih ini atau agar kami dikembalikan ke dunia sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu' mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka enggan beriman ketika di dunia dan apa yang mereka ada-adakan dahulu, yakni tuhan-tuhan yang mereka sembah telah hilang dan lenyap dari mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 52-53 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang alasan mengapa Dia mengutus para rasul kepada mereka dalam Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan itu merupakan kitab yang memberi penjelasan secara terperinci dan jelas. Sebagaimana firmanNya (Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) (Surah Hud: 1) dan (yang Kami telah menjelaskannya atas pengetahuan Kami) yaitu berdasarkan pengetahuan Kami dengan apa yang Kami jelaskan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya) (Surah An-Nisa: 166) Ketika Dia menjelaskan apa yang mereka alami berupa kerugian di akhirat, lalu Allah menyebutkan bahwa Dia menyingkirkan alasan mereka di dunia dengan mengutus para rasul dan telah menurunkan kitab. Sebagaimana firmanNya: (Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul) (Surah Al-Isra: 15) Oleh karena itu Allah berfirman: (Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu) yaitu apa yang dijanjikan kepada mereka berupa azab, siksaan, surga, dan neraka. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lainnya. Firman Allah SWT: (Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu) yaitu pada hari kiamat, Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas. (berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu) yaitu mereka enggan beramal dan melupakannya di dunia (Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa perkara yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami) yaitu menyelamatkan kami dari sesuatu yang menimpa kami. (atau dapatkah kami dikembalikan) ke dunia (sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”) Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman" (27) Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka (28)) (Surah Al-An'am) Sebagaimana Allah berfirman di sini: (Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu mereka merugikan diri sendiri dengan dimasukkan ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya (dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu apa yang mereka sembah selain Allah itu pergi dari mereka, sehingga tidak memberikan syafaat, menolong, dan tidak menyelamatkan mereka dari sesuatu yang mereka alami.

Tafsir As-Sa'di
Buka

50-52 Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surge ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang menkik dan menerka mereka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surge. ”limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu” lalu penduduk surga menjawab “ sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya” yakni air dan makanan surga “atas orang-orang kafir” dan hal itu adalah sebagai balasan kepada mereka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintah agar teguh diatasnya dan dijanjikan balasan yang besar atasnya, ”sebagai main-main dan senda gurau” yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan , atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main atau senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu.” dan kehidupan dunia telah menipu mereka” dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propagandanya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya, dan mereka lupa dan berpaling dari akhirat. ”maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka” yakni kami membiarkan mereka di dalam azab, “sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini” seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ”dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami” padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keterbatasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru “kami telah mendatangkan sebuh kitab (al-qur’an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya” yakni kami jelaskan padanya seluruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia “atas dasar pengetahuan kami” yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terhadap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap perkara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia meneluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan tetapi ini adalah perincian Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu “yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” yakni dengan kitab ini orang-orang mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaran.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

52. Dan sungguh telah datang kepada penduduk Mekah dan lainnya itu Al-Qur’an yang telah Kami jelaskan dengan sempurna supaya mereka mengetahui apa yang Kami jelaskan di dalamnya, petunjuk kepada manusia menuju kebenaran, penyelamat dari kesesatan, dan rahmat bagi orang yang yeng mengimani dan mengikuti aturan-aturannya.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 54 Rujukan #6
وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِى ٱلْأَرْضِ لَٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
walau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn
"Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa orang-orang yang durhaka pasti akan diazab, lau pada ayat ini digambarkan penyesalan mereka ketika di akhirat. Dan kalau seandainya setiap orang yang zalim itu, yakni orang yang mempersekutukan Allah itu mempunyai segala harta benda berharga yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu agar terlepas dari siksa, tetapi hal itu tidak mungkin, dan mereka menyembunyikan penyesalannya yang sangat besar dan tersembunyi dalam hati, ketika mereka telah menyaksikan, merasakan azab yang sangat pedih itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, karena dia tidak memerlukan apapun dari siapapun. Ayat ini menegaskan, ketahuilah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi, dia yang menciptakan dan dia atur sesuai kehendak-Nya. Ketahuilah, bukankah janji Allah itu benar' hari pembalasan pasti akan datang. Orang yang taat pasti akan diberi pahala dan yang durhaka akan disiksa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui dan tidak mempercayainya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 53-54 Allah SWT berfirman bahwa mereka akan mengujimu: (Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?) yaitu kiamat dan hari bangkit dari kubur itu, setelah tubuh-tubuh ini telah menjadi tanah (Katakanlah, "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah be­nar; dan kalian sekali-kali tidak dapat luput (darinya)) yaitu kalian yang telah menjadi tanah tidak bisa melemahkan Allah untuk mengembalikan kalian sebagaimana Dia menciptakan kalian dari ketiadaan. (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu ha­nyalah berkata padanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (82)) (Surah Yasin) Ayat ini tidak ada yang menyamainya dalam Al-Qur’an kecuali dua ayat lain, dimana Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk bersumpah dengan namaNya terhadap orang-orang yang mengingkari hari kiamat, dalam surah As-Saba’: (Dan orang-orang yang kafir berkata, "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, "Pasti datang, demi Tuhanku" (3)) dan surah A-Taghabun: (Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ”Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (7)) Kemudian Allah memberitahukanbahwa ketika hari kiamat terjadi, orang kafir ingin seandainya dia bisa menebus dirinya dari siksa Allah dengan emas seisi bumi. (dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil) yaitu dengan kebenaran (dan mereka tidak dianiaya)

Tafsir As-Sa'di
Buka

54. “Dan” pada Hari Kiamat kalau “setiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki”, dengan kekufuran dan kemaksiatan “segala sesuatu yang ada di bumi ini”, dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, “tentu dia menebus dirinya dengan itu.” Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. “Dan mereka menyembunyikan” yakni mereka orang-orang yang zhalim, “penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu.” Mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. “Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil.” Keadilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

54 Kalaupun pada hari kiamat nanti setiap diri yang zalim dengan kemusyrikan dan kesesatan itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia akan menebus dirinya dengan itu agar selamat dari azab. Mereka akan membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Di antara mereka orang kafir dan mukmin telah diberi keputusan dengan adil, dan mereka tidak dizalimi sama sekali

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 101 Rujukan #7
قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ
qulinẓurụ māżā fis-samāwāti wal-arḍ, wa mā tugnil-āyātu wan-nużuru ‘ang qaumil lā yu`minụn
"Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa Allah akan menimpakan azab kepada orang yang tidak mau mempergunakan akalnya, lalu pada ayat ini Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, perhatikanlah ciptaan Allah, yaitu apa saja yang ada di langit dan di bumi! jika mereka mau menggunakan akal mereka untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, tentu mereka sudah beriman. Namun mereka enggan melakukannya, sehingga tidaklah bermanfaat tanda-tanda kebesaran Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman, karena mereka menutup hati mereka untuk menerima kebenaran. Kalau keberadaan tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi serta diutusnya para rasul tidak juga menjadikan mereka beriman, maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali kejadian-kejadian yang sama dengan kejadian-kejadian masa lalu, yakni azab yang menimpa orangorang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, wahai nabi Muhammad maka tunggulah kedatangan azab itu, sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu untuk menyaksikan ketetapan Allah itu menimpa kamu.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 101-103 Allah memberi petunjuk kepada para hambaNya untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaanNya dan apa yang Dia ciptakan di langit dan bumi, berupa tanda-tanda yang jelasbagi orang-orang yang berakal. berupa sesuatu yang ada di langit yaitu bintang-bintang yang bersinar, sesuatu ada yang pada garis edarnya, matahari, bulan, malang dan siang yang silih berganti, salah satu dari keduanya masuk kepada lainnya hingga yang ini menjadi pendek dan yang itu menjadi panjang, serta ketinggian, keluasan, keindahan dan perhiasan langit. Allah menurunkan hujan dari langit, dengan hujan itu Dia menghidupkan bumi setelah mati; dan mengeluarkan dari bumi berbagai macam buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, bunga, dan tanaman sesuatu yang tersebar di dalamnya berupa hewan yang beragam bentuk, warna dan kegunaannya, serta yang ada di dalamnya terdapat gunung-gunung, dataran-dataran, padang pasir, daerah yang banyak penduduknya, dan daerah reruntuhan, juga di laut berupa sesuatu yang menakjubkan dan ombak. Di samping itu, laut itu ditundukkan bagi orang yang menyeberanginya yang membawa bahtera mereka dan berlayar di atasnya dengan tenang karena kekuasaanNya.Tidak ada Tuhan dan Rabb selain Allah. Firman Allah: (Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang mem­beri peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman) yaitu manakah sesuatu yang memberikan manfaat tanda-tanda langit dan bumi, para rasul yang datang membawa ayat-ayat itu, hujjah, dan bukti-bukti ayat itu yang menunjukkan kepada kebenaran yang dibawa para rasul kepada kaum yang tidak beriman? Sebagaimana Allah berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman (96) meskipun mereka mendapat tanda-tanda (kebesaran Allah), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih (97)) (Surah Yunus) Firman Allah : (Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka) yaitu wahai Muhammad, bagaimana orang yang mendustakanmu itu me­nunggu pembalasan dan azab, melainkan seperti apa yang telah diberlakukan Allah terhadap umat-umat sebelum mereka yang mendustakan para rasul. (Katakanlah, "Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kalian." Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman) yaitu Kami membinasakan orang-orang yang mendustakan para rasul (demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman) yaitu kebenaran yang ditetapkan Allah atas DzatNya Yang Maha Mulia. sebagaimana firmanNya: (Tuhan kalian telah menetapkan atas diriNya kasih sayang) (Surah Al-An'am: 54) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim tentang Rasulullah SAW, yaitu beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menulis suatu kitab yang ada di sisiNya di atas 'Arsy, bahwa sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka­Ku”

Tafsir As-Sa'di
Buka

101. Allah mengajak hamba-hambaNya agar melihat sesuatu yang ada di langit dan di bumi, maksudnya adalah melihat dengan merenungkan, memikirkan dan mengambil pelajaran terhadap apa yang ada padanya dana pa yang dikandungnya, karena di dalamnya terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman dan pelajaran bagi kaum yang meyakini. Ia menunjukkan bahwa hanyalah Allah semata yang disembah, yang dipuji, Pemilik keagungan dan kebesaran, dan Pemilik Asma’ dan Shifat yang agung. “Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” Mereka tidak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah karena mereka berpaling dan menyombongkan diri.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

101 Wahai Rasul, katakanlah kepada orang-orang kafir: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi berupa keajaiban makhluk yang menunjukkan pada keberadan, keesaan dan kekuasaan Allah.Tidaklah bermanfaat tanda-tanda, bukti, dan rasul-rasul yang memberi peringatan itu mencegah azab bagi kaum yang teguh atas kekufuran dan iman mereka juga tidak bisa diharapkan dalam ilmu Allah SWT”.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Ar-Ra'd (13): Ayat 3 Rujukan #8
وَهُوَ ٱلَّذِى مَدَّ ٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنْهَٰرًا ۖ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِ ۖ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
wa huwallażī maddal-arḍa wa ja’ala fīhā rawāsiya wa an-hārā, wa ming kulliṡ-ṡamarāti ja’ala fīhā zaujainiṡnaini yugsyil-lailan-nahār, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Usai berbicara tentang matahari dan bulan, Allah melalui ayat ini menjelaskan perihal bumi dan isinya. Dan dia yang maha pencipta adalah tuhan yang juga menghamparkan bumi untuk tempat kamu berdiam, dan menjadikan gunung-gunung yang beragam tingginya, dan sungai-sungai yang mengalir di atas permukaan-Nya. Dan padanya dia menjadikan semua buah-buahan dari bermacam jenisnya secara berpasang-pasangan sehingga dapat berkembang biak. Dia pula yang menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Dan di bumi yang terhampar dengan gunung-gunung yang tegak berdiri dan sungai-sungai yang berkelok-kelok dan bermuara ke laut, terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan dengan jarak yang berbeda serta kualitas kesuburan yang berbeda pula. Ada bagian tanah yang baik menjadi kebun-kebun anggur, ada yang cocok ditanami tanaman-tanaman tertentu, dan ada pula yang cocok ditanami pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. Bagian-bagian tanah yang ditanami itu disirami dengan air yang sama. Tanaman-tanaman itu tumbuh, berkembang, lalu mengeluarkan bunga dan buah yang jenisnya beragam. Meski demikian, kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya, baik dalam hal rasa, warna, ukuran, maupun bobot-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau mengerti.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 3-4 Setelah Allah SWT menyebutkan tentang alam yang tinggi, Allah menyebutkan kekuasaan, kebijaksanaan, dan hukumNya di alam bawah. Allah berfirman: (Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi) yaitu menjadikannya luas membentang dan melebar, lalu Allah memancangnya dengan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi, dan mengalirkan padanya sungai-sungai, dan mata air, untuk mengairi apa yang Dia ciptakan padanya, berupa buah-buahan yang berbeda-beda warna, bentuk, rasa, dan aromanya. (sepasang-sepasang dari setiap jenis) (Surah Al-Mu’minun: 27) yaitu, dari setiap jenis dua pasang (Allah menutupkan malam kepada siang) yaitu, Dia menjadikan masing-masing dari keduanya menyusul yang lain dengan cepat. Jika yang ini pergi, maka yang itu menutupinya. Ketika yang ini pergi, maka yang itu datang. Dia juga mengatur waktu, sebagaimana Dia mengatur tempat dan penduduknya (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan) yaitu kebesaran, kebijaksanaan, dan bukti-bukti tentangNya. Firman Allah: (Dan di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan) yaitu tanah-tanah yang saling berdampingan satu sama lain, dengan itu yang ini tanah subur yang dapat menumbuhkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dan yang itu tandus yang tidak dapat menumbuhkan sesuatu apapun. Dan termasuk ke dalam ayat ini perbedaan warna tanah masing-masing kawasan, ada yang berwarna merah, putih, kuning, hitam, berbatu, mudah ditanami, berpasir, keras, dan yang gembur. Masing-masing berdampingan, sehingga tanah ini memiliki sifatnya dan yang itu juga memliki sifatnya yang lain. Semua itu menunjukkan keberadaan Dzat yang menciptakannya sesuai kehendakNya,”Tidak ada Tuhan dan Rabb selain Dia” Firman Allah: (dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman, dan pohon kurma) Hal ini bisa menjadi ‘athaf kepada kata “jannat” dan (wa zar’un wa nakhiilun) dibaca rafa'. dan bisa juga di’athafkan atas (a’naab) sehingga menjadi majrur. Oleh karena itu, ada para imam yang masing-masing membacanya demikian. Firman Allah: (yang bercabang dan yang tidak bercabang) kata Ash-shinwan adalah pohon yang bercabang, seperti delima, pohon tin, dan sebagian pohon kurma serta tanaman sejenisnya. dan kata “ghairu shinwan” yaitu tidak bercabang, melainkan satu pokok seperti semua pohon. Termasuk dalam hal ini dikatakan bahwa paman seseorang setara dengan ayahnya; sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Umar,”Tidakkah kamu ketahui bahwa paman seseorang itu setara dengan ayahnya” Diriwayatkan dari Al-Barra bahwa “Ash-Shinwan” yaitu beberapa pohon kurma yang tumbuh dari satu pokok. Dan “ghairu shinwan” adalah yang terpisah-pisah Firman Allah: (disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya) yaitu, perbedaan jenis buah-buahan dan tanam-tanaman ini dalam hal bentuk, warna, rasa, aroma, daun-daun, dan bunga-bunganya. Maka ada yang sangat manis, sangat masam, sangat pahit, hambar, dan ini menyatukan rasa ini dan itu. kemudian berubah pada rasa yang lain dengan izin Allah SWT. Ada yang berwarna kuning, merah, putih, hitam dan biru. Demikian pula dengan bunga-bunganya, padahal semuanya menyandarkan kehidupannya dari satu sumber, yaitu air. tetapi dengan perbedaan yang banyak yang tidak terhitung . Dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang sadar. Hal ini termasuk bukti yang paling agung atas sang Pencipta, yang dengan kekuasaanNya Dia menjadikan segala sesuatu berbeda, Dia menciptakannya sesuai dengan kehendakNya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir)

Tafsir As-Sa'di
Buka

3. “Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi,” Dia menciptakannya bagi manusia dan melebarkannya serta mencurahkan berkah padanya. Dia mempersiapkannya sebagai pijakan bagi manusia serta memasukkan ke dalamnya segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi mereka. “Dan menjadikan gunung-gunung padanya,” yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergoncang disebabkan penghuninya. Bila wujud gunung-gunung tidak ada, sudah tentu bumi akan bergoncang beserta isinya. Sebab, bumi berada di atas aliran air, sehingga tidak ada kekokohan dan tidak ada kestabilan kecuali dengan sebab keberadaan gunung-gunung yang besar yang Allah jadikan sebagai pasak-pasaknya. “dan” menjadikan di dalamnya “sungai-sungai,” yang menyediakan air minum bagi manusia dan hewan-hewan ternak serta tanaman pertanian mereka. Dengan air itu, Dia mengeluarkan berbagai kebaikan yang banyak dalam bentuk pepohonan, tanaman, buah-buahan. Oleh karenanya, DIa berfirman, “dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan,” dua jenis yang dibutuhkan manusia. “Dia menutupkan malam kepada siang,” sehingga cakrawala menjadi gelap dan setiap binatang berteduh kepada tempat bermalamnya. Manusia beristirahat dari rasa capek dan kelelahan di siang hari. Lantas, bila mereka telah menuntaskan kebutuhan-kebutuhan mereka berupa tidur, maka siang akan menutupi malam. Kemudian mereka akan berada di pagi hari untuk (bertebaran) kembali memenuhi kepentingan-kepentingan dan pekerjaan-pekerjaan mereka di siang hari. "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Al-Qashash:73). “SEsungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah),” yang menunjukkan orientasi-orientasi ilahiyah “bagi kaum yang memikirkan,” tentangnya, dan mencermatinya dengan pandangan kognitif yang menunjukkan bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur, dan mengendalikannya adalah Allah, tidak ada sesembahan selainNya. Dia mengetahui alam ghaib dana lam nyata, ar-Rahman ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha bijaksana) dalam segala urusan, al-Mahmud (Yang Maha Terpuji) atas seluruh yang diciptakan dan diperintahkanNya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

3. Allah adalah Dzat yang membentangkan bumi dengan luas dan terpampang untuk memudahkan kehidupan di dalamnya dan bisa dengan mudah diambil manfaatnya. Hal tersebut tidak menafikan bentuk bulat bumi karena sisinya yang saling berjauhan. Dia menciptakan di dalamnya gunung-gunung yang kokoh, dan sungai-sungai yang mengalirkan air. Dia juga menciptakan setiap buah-buahan itu berpasang-pasangan, jenis laki-laki dan perempuan untuk berkembang biak, dan dua kategori yang saling berlawanan seperti manis dan asam, hitam dan putih, serta kecil dan besar. Dia membuat malam menutupi cahaya siang, sehingga menghilang. Sesungguh dalam sesuatu yang disebutkan itu terdapat dalil-dalil atas keesaan Allah SWT bagi kaum yang mau merenung, sehingga mereka menyadari keberadaan dan keesaan Allah

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Ar-Ra'd (13): Ayat 11 Rujukan #9
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
lahụ mu’aqqibātum mim baini yadaihi wa min khalfihī yaḥfaẓụnahụ min amrillāh, innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Tidak saja mengetahui sesuatu yang tersembunyi di malam hari dan yang tampak di siang hari, Allah, melalui malaikat-Nya, juga mengawasinya dengan cermat dan teliti. Baginya, yakni bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu menjaga dan mengawasi-Nya secara bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaga dan mengawasinya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah yang mahakuasa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, sebelum mereka mengubah keadaan diri menyangkut sikap mental dan pemikiranmereka sendiri. Dan apabila, yakni andaikata, Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum'dan ini adalah hal yang mustahil bagi Allah'maka tak ada kekuatan apa pun yang dapat menolaknya dan tidak ada yang dapat menjadi pelindung bagi mereka selain dia. Melanjutkan penyebutan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada ayatayat yang lalu, beberapa ayat berikut Allah berbicara tentang kilat, halilintar, mendung, dan air hujan. Allah berfirman, dialah Allah, tuhan yang mahakuasa, yang memperlihatkan kilat kepadamu, yakni seberkas cahaya yang memancar dan menghilang secara cepat, yang kadangkala menimbulkan ketakutan pada diri kamu, dan kadangkala menimbulkan harapan yang menggembirakan'yakni pertanda segera turun hujan. Dan dia pula yang menjadikan mendung yang akan menurunkan hujan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 10-11 Allah SWT memberitahukan tentang ilmuNya atas semua makhlukNya. Sama saja bagi Allah apakah sebagian dari mereka merahasiakan atau menampakkan ucapannya, sesungguhnya Dia mendengarnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (7)) (Surah Thaha) dan (dan Yang mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyalakan) (Surah An-Naml: 25) Firman Allah: (dan siapa yang bersembunyi di malam hari) yaitu bersembunyi dalam rumahnya di kegelapan malam (dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari) yaitu menampakkan diri berjalan di cahaya siang hari. Keduanya sama saja bagi ilmu Allah, sebagaimana firmanNya: (Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan) (Hud: 5) Firman Allah SWT (Kalian tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (61)) (Surah Yunus) Firman Allah: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu malaikat-malaikat yang selalu menjaga hamba Allah secara bergantian, ada yang menjaga di malam hari dan ada di siang hari. Mereka menjaganya dari hal-hal buruk dan kemalangan. Sebagaimana para malaikat lain yang bergiliran mencatat semua amal baik dan buruk; ada malaikat yang di malam hari dan ada yang di siang hari. Dua malaikat itu di sebelah kanan dan kiri mencatat amal itu. Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat amal baik, dan yang di sebelah kiri mencatat amal buruk. dan dua malaikat lain yang menjaga dan memeliharanya. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah) yaitu bergiliran dari Allah adalah para malaikat. Firman Allah: (mereka menjaganya atas perintah Allah) Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka menjaganya atas perintah Allah. Hal ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dan lainnya dari Ibnu Abbas. Pendapat ini dipegang oleh Mujahid, Sa'id bin Jubair, Ibrahim An-Nakha'i, dan lainnya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

11. “Baginya,” yaitu bagi manusia “ada yang selalu mengikutinya bergiliran,” dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari “di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah,” maksudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalannya, selalu menyertainya terus menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-konsdisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum,” berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, “sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibtah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,” berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti terlaksana pada mereka. Karena “tidak ada yang dapat menolaknya,” tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. “Dan sekali-kali taka da pelindung bagi mereka selain Dia,” yang menangani urusan-urusan mereka, mendatangkan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

11. Bagi setiap manusia itu ada malaikat-malaikat yang mengikutinya untuk menjaga dan memeliharanya. Mereka adalah para malaikat penjaga yang menjaga manusia dengan perintah dan pertolongan Allah, bukan untuk menolak perintahNya. Dan jika berlaku suatu takdir, maka mereka akan berlepas darinya. Mereka menghitung amal perbuatannya yang baik dan buruk. Sesungguhnya Allah tidak mengubah nikmat atau kesehatan suatu kaum, sampai mereka mengubah ketaatan dan kebaikannya sendiri menjadi kemaksiatan dan keburukan. Jika Allah menghendaki suatu azab dan kehancuran bagi suatu kaum, maka itu tidak akan bisa ditolak. Dan tidak ada bagi mereka selain Allah seorang penolong yang membantu urusan mereka, yang membimbing mereka menuju kebaikan dan melindungi mereka dari keburukan.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Nahl (16): Ayat 89 Rujukan #10
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
wa yauma nab’aṡu fī kulli ummatin syahīdan ‘alaihim min anfusihim wa ji`nā bika syahīdan ‘alā hā`ulā`, wa nazzalnā ‘alaikal-kitāba tibyānal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmataw wa busyrā lil-muslimīn
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan ingatlah pada hari ketika kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka, yaitu seorang nabi atau tokoh yang diakui kesalehan dan ketakwaannya, dari golongan mereka sendiri, yang memberi kesaksian dengan jujur; dan kami datangkan pula engkau, wahai nabi Muhammad, menjadi saksi atas mereka semua. Dan kami turunkan kitab Al-Qur'an kepadamu secara berangsur untuk menjelaskan kepada manusia prinsip-prinsip umum segala sesuatu, sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran dan kedamaian, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri sepenuh hati kepada Allah. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penjelasan, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri kepada Allah. Ayat ini kemudian mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur'an bagi mereka. Petunjuk pertama adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah menyatakan, sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun nonmateri secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun. Dan selain itu, dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan. Melalui perintah dan larangan ini dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman kepada hamba dan rasulNya, nabi Muhammad SAW: (Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas mereka) yaitu umatmu. yaitu, ingatlah kamu tentang hari itu dan kengeriannya serta kemuliaan yang agung dan kedudukan yang tinggi yang diberikan Allah kepadamu pada hari itu. Ayat ini mempunyai makna yang mirip dengan ayat yang mana Abdullah bin Mas'ud meng­hentikan bacaannya ketika membacakan ayat itu untuk Rasulallah SAW. Itu adalah ayat surah An-Nisa, ketika sampai pada firmanNya: (Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (41)) (Surah An-Nisa) Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, "Cukup,". Lalu Ibnu Mas'ud berkata bahwa dia berpaling melihat Rasulullah SAW, tiba-tiba dia melihat kedua mata beliau mencucurkan air matanya. Firman Allah SWT: (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk men­jelaskan segala sesuatu) Ibnu Mas'ud berkata bahwa telah dijelaskan kepada kami dalam Al-Qur'an ini semua ilmu dan segala sesuatu. Mujahid berkata bahwa setiap perkara halal dan haram. Pendapat Ibnu Mas'ud lebih umum dan lebih menyeluruh, karena sesungguhnya Al-Qur'an itu mencakup setiap ilmu yang bermanfaat dari berita yang terdahulu dan pengetahuan tentang masa mendatang. Setiap perkara halal dan haram, dan sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan, dan hari kiamat mereka (dan sebagai petunjuk) yaitu bagi hati (serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri

Tafsir As-Sa'di
Buka

89. setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelumnya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muhammad) Allah berfirman “dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia” maksudnya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan keburukan. Ini termasuk kesempuraan sifat keadilan Allah, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti firman Allah “dan demikian (pula) kami telah mejadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Dan Allah berfirman "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun." (QS. An-Nisa : 41-42) FirmanNya ”dan kami turunkan kepadamu al-kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu" dalam perkara pokok ataupun cabang, dalam hokum-hukum di dua tempat (dunia dan akhirat) dan segala seuatu yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar benar telah di jelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang ngulang persoalan persoalan besar yang di butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (dia) menyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh lafazh yang berbeda beda dan bukti bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan konsistensinya di dalam hati. bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tudak terhitung banyaknya. Ketika Alqur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya, akibatnya hujjah hujjah orang orang yang berbuat aniaya terlumpuhkan. Sementara kaum muslimin mereguk kemanfaatan drainya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka. menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. sedangkan bentuk rahmatnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperi keshalihan, kebaikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai nilainya yang merupakan nilai nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan perbuatan yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Rabb yang maha penyayang.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

89. Ingatlah wahai Nabi, ketika Kami mengutus dari setiap umat itu seorang saksi dari golongan mereka, yaitu nabi mereka. Dan Kami mendatangkanmu wahai Rasul sebagai seorang saksi atas kaummu dan umat-umat yang tersisa, bahwa kamu telah menyampaikan risalah. Aku mengulang hal itu untuk mengancam orang-orang kafir Quraisy bahwa kesaksian itu berlaku untuk mengadili mereka bukan membenarkan mereka, dan untuk mengina mereka atas pendustaan mereka terhadal rasulallah. Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang menjelaskan secara terperinci tentang setiap sesuatu yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum agama dan syariat, petunjuk dari kesesatan, penyebab rahmat dan keberhasilan bagi orang yang beriman, dan kabar gembira tentang surga bagi orang-orang muslim yang menunaikan syariat Allah SWT.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Isra (17): Ayat 36 Rujukan #11
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna ‘an-hu mas`ụlā
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Jangan mengatakan sesuatu yang engkau tidak ketahui, jangan mengaku melihat apa yang tidak engkau lihat, jangan pula mengaku mendengar apa yang tidak engkau dengar, atau mengalami apa yang tidak engkau alami. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, adalah amanah dari tuhanmu, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya, apakah pemiliknya menggunakan untuk kebaikan atau keburukan'dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu, karena sesungguhnya sekuat apa pun hentakan kakimu, kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan setinggi apa pun kepalamu, sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang lemah dan rendah di hadapan Allah, kamu tidak memiliki kekuatan dan kemuliaan, melainkan apa yang dianugerahkan oleh-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,”jangan mengatakan” Al-Aufi berkata,”jangan menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan bagimu tentangnya” Qatadah berkata,”Jangan mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu mendengarnya, padahal kamu tidak mendengarnya; kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu semua. Maksud dari apa yang mereka sebutkan ituMaksud bahwa Allah SWTSWT melarang mengatakan sesuatu tanpa mengetahuinya, bahkan berdasarkan dugaan yang bersumber dari sangkaan dan ilusi. Sebagaimana Allah berfirman Sebagaimana Allah berfirman : ( (jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa)) (Surah Surah Al-Hujurat: 12) Disebutkansebutkan dalam haditts,”,”Jauhilah oleh kalian prasangka. Karena sesungguhnya pra­sangka itu adalah pembicaraan yang paling dusta”” Firman Allah: ( (semuanya itu) yaitu yaitu yaitu semua penggambaran ini berupasifat-sifat ini yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati ( (akan dimintai pertanggungjawabannya) Seseorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya pada hari kiamat, dan anggota-anggota tubuhnya itu juga akan ditanyai tentang apa yang hamba itu lakukan. Pemakaian kata “ula’ika”“” pada hal itu benarpada hal itu adalah benar. Sebagaimana yang dikatakan olehSebagaimana yang dikatakan penyair: ““Tidak dak ada tempat tinggal yang enak sesudah tempat tinggal di Liwa” “dan tiada kehidupan yang enak sesudah hari-hari itu””

Tafsir As-Sa'di
Buka

36. Maksudnya, janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Namun, telitilah setiap apa yang hendak kamu katakan dan kerjakan. Janganlah pernah sekali-kali menyangka semua itu akan pergi tanpa memberi manfaat bagimu dan (bahkan) mencelakakanmu. “Sesungguhnya pendengaran,penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” Sudah sepantasnya seorang hamba yang mengetahui bahwasanya dia akan diminta pertanggung jawaban tentang segala yang telah dia katakan dan perbuat serta (cara) pemanfaatan anggota badan yang telah Allah ciptakan untuk beribadah kepadaNya, untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (yang akan diajukan). Hal itu tidak bisa terlaksana kecuali dengan menggunakannya (hanya) dalam rangka pengabdian diri (beribadah) kepada Allah, mengikhlaskan agama ini (hanya) untukNYa dan mengekangnya dari setiap yang dibenci Allah.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

36. Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, dan janganlah kamu ikut campur dalam hal yang tidak ada hubungannya denganmu. Sesungguhnya pada hari kiamat kamu bertanggungjawab di sisi Allah atas penglihatan, pendengaran dan hati yang kamu gunakan baik dalam kebaikan atau keburukan. Dan anggota-anggota tubuh ini adalah amanat yang dititipkan di sisimu.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Naml (27): Ayat 61 Rujukan #12
أَمَّن جَعَلَ ٱلْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَٰلَهَآ أَنْهَٰرًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِىَ وَجَعَلَ بَيْنَ ٱلْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
am man ja’alal-arḍa qarāraw wa ja’ala khilālahā an-hāraw wa ja’ala lahā rawāsiya wa ja’ala bainal-baḥraini ḥājizā, a ilāhum ma’allāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn
"Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Tanyakan kepada mereka, 'bukankah dia yang telah menjadikan bumi datar, mantap dan tidak bergoncang sehingga layak sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yaitu antara gunung-gunung yang tertancap di bumi, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkan nya, dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut, yaitu laut yang asin dan sungai air tawar yang bermuara di laut, sehingga masing-masing tidak bercampur aduk' apakah di samping Allah ada tuhan lain yang melakukan itu sehingga kamu persekutukan dia dengannya' sungguh tidak ada, bahkan sebenarnya kebanyakan mereka tidak mau memanfaatkan ilmu kebenaran yang sesungguhnya, seolah-olah mereka tidak mengetahui. 62. Tanyakan pula kepada mereka, 'bukankah dia Allah yang memperkenankan doa orang yang terpaksa, yakni berada dalam kesulitan yang mencekam apabila dia berdoa kepada-Nya' dan bukankah dia yang kuasa menghilangkan kesusahan yang menimpa siapa pun dan yang kuasa menjadikan kamu wahai manusia sebagai khalifah, penerus gene-rasi sebelum kamu di bumi' apakah ada yang mampu melakukan hal serupa itu' pasti tidak ada. Jika demikian, apakah di samping Allah ada tuhan yang lain' sedikit sekali nikmat Allah yang kamu ingat.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman: (Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam) yaitu tempat menetap yang tenang, kokoh, tidak bergerak dan tidak mengguncangkan penduduknya, serta tidak menggetarkan mereka, karena seandainya bumi seperti itu, maka tidak akan baik hidup di bumi, akan tetapi Allah menjadikannya sebagai karunia dan rahmatNya yang menghampar dan tetap, tidak bergetar dan tidak bergerak. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam ayat lain: (Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap) (Surah Ghafir: 64) (dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya) yaitu Dia menjadikan sungai-sungai yang airnya tawar dan baik yang menjadikannya membelah di celah-celahnya, lalu mengalirkannya di bumi ada yang besar, kecil dan di antara keduanya, Dia juga mengalirkannya ke timur, barat, ke selatan, dan ke utara sesuai dengan kebaikan hamba-hambaNya di berbagai penjuru bumi, karena Allah menyebarkan mereka di muka bumi dan memudahkan bagi mereka rezeki mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan (dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya) yaitu gunung-gunung yang tinggi-tinggi yang mengokohkan dan meneguhkan bumi agar tidak mengguncangkan mereka (dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut) yaitu, menjadikan pemisah antara air tawar dan air asin, yang mencegah keduanya untuk bercampur agar yang ini mencemari yang itu, dan yang itu tidak mencemari yang ini. Sesungguhnya hikmah Allah yang menetapkan agar masing-masing dari keduanya tetap pada sifatnya. sesungguhnya laut yang tawar adalah sungai-sungai yang mengalir di berbagai daerah manusia. Tujuannya adalah air tersebut berasa tawar agar dapat dijadikan sebagai air minum bagi makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan. Sedangkan laut yang asin adalah lautan yang mengelilingi berbagai benua dari segala penjuru. Tujuan airnya asin agar tidak mencemari udara dengan aromanya sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) yang ini tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi (53)) (Surah Al-Furqan) Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?) yaitu yang menjadikan hal itu, yaitu disembah berdasarkan pendapat pertama dan pendapat yang lain. Keduanya itu benar dan saling berkaitan (Bahkan (sebenarnya) sebagian besar dari mereka tidak mengetahui) yaitu dalam penyembahan mereka kepada selain Dia

Tafsir As-Sa'di
Buka

61. Maksudnya, apakah patung-patung dan berhala-berhala yang sangat lemah dari segala sisinya, yang tidak bisa berbuat apa pun, tidak bisa memberi rizki dan tidak bermanfaat itu lebih baik, atau Allah yang “telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam,” di diami oleh manusia, dan memungkinkan mereka untuk tinggal (menetap), bercocok tanam, membangun, pergi dan pulang, “dan yang menjadikan sungai-sungai dicelah-celahnya.” Maksudnya, menjadikan sungai-sungai di celah-celah bumi ini yang dapat digunakan oleh manusia untuk tanaman merekka, pohon-pohon mereka, minuman mereka dan hewan ternak mereka, “dan yang menjadikan pasak-pasak (gunung-gunung) untuknya.” Maksudnya, gunung-gunung yang menjadikan bumi jadi kokoh dan terpasak kuat, agar tidak binasa, dan gunung-gunung itu menjadi pasak baginya, agar tidak goncang, “dan menjadikan antara dua laut,” maksudnya, air asin dan air tawar “suatu pemisah,” yang mencegah keduanya bercampur, sehingga mengakibatkan hilangnya manfaat yang diinginkan dari keduanya. Akan tetapi Allah menjadikan di antara keduanya dinding pemisah dari tanah. Dia jadikan tempat mengalirnya sungai itu di bumi (darat), dijauhkan dari lautan, sehingga dengan begitu dapat dicapai maksud dan kemaslahatan keduanya. “Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain),” yang mampu melakukan itu semua sehingga laik kalau Allah dikesampingkan dan dipersekutukan dengannya? “Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui,” sehingga mereka mempersekutukan Allah karena bertaklid buta kepada para pembesar mereka. Dan apabila tidak demikian, kalau mereka mengetahui dengan sebenar-benarnya, tentu mereka tidak mempersekutukan sesuatu apa pun denganNya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

61. Apakah sesembahan kalian yang lebih baik, atau Dia Yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berpijak manusia? Yang menjadikan sungai-sungai mengalir di celah-celah hamparan bumi, juga Yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkan bumi. Dia Yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut, sehingga airnya tidak bercampur sama sekali? Apakah masih ada Tuhan selain Allah, atau ada tuhan yang lain lagi? Namun/bahkan sebenarnya, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui kebenaran, yaitu pengesaan Allah, mereka menyekutukan Allah dengan sesembahan lain

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Az-Zumar (39): Ayat 9 Rujukan #13
أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
am man huwa qānitun ānā`al-laili sājidaw wa qā`imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjụ raḥmata rabbih, qul hal yastawillażīna ya’lamụna wallażīna lā ya’lamụn, innamā yatażakkaru ulul-albāb
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur'an, salat, dan berzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya' wahai nabi Muhammad, katakanlah, 'apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berzikir, dan melaksanakan salat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya'' sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. 10. Sangatlah jauh perbedaan antara orang mukmin dengan orang kafir. Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada orang mukmin bahwa Allah berfirman, 'wahai hamba-hamba-ku yang beriman! bertakwalah kepada tuhanmu, taatilah perintah-Nya, dan ikutilah rasul-Nya. ' bagi orang-orang yang berbuat baik dan taat pada perintah Allah, di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan kehidupan di suatu tempat yang sejahtera. Dan bila kesejahteraan dan kebebasanmu beribadah terganggu, sungguh bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah ke tempat yang lebih baik (lihat pula: surah an-nis'/4: 97). Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya oleh Allah tanpa batas. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat demikian itu seperti orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan bagiNya tandingan-tandingan? Tentu saja tidak sama di sisi Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka itu tidak sama: di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (salat) (113)) (Surah Ali Imran) dan di sini Allah berfirman: ((Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri) yaitu dalam keadaan sujud dan berdirinya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dia berkata bahwa “al-qanit” adalah orang yang taat kepada Allah SWT dan RasulNya SAW. As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah tengah malam. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah permulaan, pertengahan, dan akhirnya. Firman Allah SWT: (Sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) yaitu dalam ibadahnya dia takut dan berharap. Suatu keharusan dalam ibadah yaitu hal ini dan hal itu, dan hendaknya ketakutan kepada Allah lebih besar daripada masa hidupnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (sedangkan ia takut kepada (azab) hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) dan apabila sedang menjelang ajal, hendaklah harapan itu lebih menguasai dirinya. Firman Allah SWT: (Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”) yaitu, apakah orang yang demikian itu sama dengan orang yang sebelumnya yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah? (Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran) yaitu sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara golongan ini dan itu hanyalah orang yang mempunyai akal.

Tafsir As-Sa'di
Buka

9. Ini adalah kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya yang jauh. Maka tidaklah sama orang berpaling dari ketaatan kepada Rabbnya, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang gemar beribadah, yakni, taat kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang paling utama, yaitu seperti shalat; dan pada waktu-waktu yang paling utama, seperti waktu-waktu di malam hari. Allah menyifati orang yang gemar beribadah itu dengan “banyak beramal dan melakukan yang paling utama.” Kemudian Allah menyifatinya dengan “sifat takut dan harap,” dan Allah juga menyebutkan sebab yang menimbulkan rasa takutnya, yaitu takut akan azab di akhirat atas dosa-dosa yang telah lalu yang terlanjur ia lakukan, dan juga sebab yang menimbulkan sifat pengharapan yaitu adanya rahmat Allah. Dengan demikian Allah menyifatinya dengan amal lahiriyah dan amal batiniyah. “Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui” Rabb mereka dan juga mengetahui AgamaNya yang bersifat balasan di akhirat, dengan segala rahasia dan hikmah di balik itu, “dengan orang-orang yang tidak mengetahui” sesuatu pun dari semua itu? Mereka yang berilmu tidak sama dengan mereka yang bodoh; demikian pula tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dan kegelapan, dan air dengan api. “Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni, orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahiNya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

9. Apakah orang kafir yang demikian itu lebih baik keadaan dan hartanya? Ataukah orang mukmin yang taat dan takut kepada Tuhannya yang lebih baik? Yang sepanjang malam ia berdoa, yang menundukkan kepalanya di tanah dan bermunajah atas kebenaran dalam shalatnya, yang takut akan siksa akhirat, yang tercukupi bahagianya, katakanlah hai Muhammad: apakah orang yang alim (tahu) itu sama dengan orang yang bodoh: keduanya tidak sama, sesungguhnya itu adalah nasihat bagi mereka yang berikir. Kalimah (min) tersusun dari kata (am) dan (min), (am) disini berarti istifham inkari yang berfaidah nafi, dan makna (bal:tetapi), bermakna perpindahan dari satu kalam ke kalam lain, orang yang shalat: orang yang melanggengkan ketaatan. Ibnu Umar berkata: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Utsman bin Affan, kata Ibnu Abbas: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Ibn Mas’ud, Umar bin Yasir dan Salim, Tuannya Abu Hanifah

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Asy-Syura (42): Ayat 38 Rujukan #14
وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
wallażīnastajābụ lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syụrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Ayat yang lalu menjelaskan kenikmatan ukhrawi yang diperoleh oleh orang-orang yang menghindarkan diri dari perbuatan dosa besar. Ayat ini juga menerangkan bahwa kenikmatan ukhrawi yang lebih baik dan lebih kekal itu juga akan diperoleh oleh orang-orang yang menerima seruan tuhan mereka. Dan kenikmatan ukhrawi itu akan di anugerahkan pula kepada orang-orang yang menerima dan mematuhi seruan tuhan melalui para rasul dan wahyu-wahyu yang di sampaikan kepada mereka dan orang-orang yang melaksanakan salat, sebagai salah satu kewajiban yang diwajibkan kepada mereka, sedang urusan mereka yang berkaitan dengan persoalan dunia dan kemaslahatan kehidupan mereka, diputuskan dengan musyawarah antara mereka. Dan yang juga menerima kenikmatan ukhrawi itu adalah mereka yang menginfakkan di jalan Allah dengan tulus dan ikhlas sebagian dari rezeki mereka, baik dalam bentuk harta maupun lainnya yang kami berikan kepada mereka. 39. Ayat-ayat yang lalu menjelaskan beberapa golongan yang akan mendapatkan kenikmatan ukhrawi dari Allah. Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan untuk membela diri kepada orang-orang yang di zalimi. Dan orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim, yaitu tindakan yang melampaui batas oleh orang lain, mereka sendiri dengan segala kekuatan dan kemampuannya membela diri sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 36-39 Allah SWT berfirman seraya menggambarkan kecilnya perkara dunia, perhiasannya, dan segala sesuatu yang ada padanya berupa perhiasan dan kenikmatam yang fana, dengan firmanNya SWT: (Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kesenangan hidup di dunia) yaitu, bagaimanapun kalian menghasilkan dan mengumpulkan sesuatu, janganlah teperdaya olehnya, karena sesungguhnya itu adalah kesenangan hidup di dunia, sedangkan dunia adalah negeri yang fana dan pasti akan lenyap (dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal) yaitu pahala Allah SWT lebih baik daripada dunia, karena itu kekal. Maka janganlah mendahulukan yang fana atas sesuatu yang kekal. Oleh karena itu Allah berfirman: (bagi orang-orang yang beriman) yaitu bagi orang-orang yang bersabar dalam meninggalkan kesenangan dunia (dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal) yaitu untuk membantu mereka bersabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Kemudian Allah SWT berfirman (dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji) Pembahasan tentang dosa-dosa besar dan perbuatan keji telah dijelaskan di surah Al-A'raf. (dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf) yaitu watak mereka adalah pemaaf dan penyantun terhadap orang lain, dan bukan termasuk watak mereka adalah pendendam. Firman Allah: (Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya) yaitu mereka mengikuti para rasul Allah dan taat kepada perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya (dan mendirikan shalat) yaitu shalat itu ibadah yang paling agung (sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka) yaitu, mereka tidak pernah memutuskan sesuatu melainkan sampai mereka bermusywarah di antara mereka agar mereka mengemukakan pendapat mereka, seperti dalam menghadapi perang dan hal lainnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah) (Surah Ali Imran: 159). Oleh karena itu Rasulullah SAW selalu bermusyawarah dengan mereka dalam menghadapi peperangan dan perkara yang serupa, agar hati mereka senang dengan itu. Demikian juga ketika Umar bin Khattab menjelang wafatnya karena tertusuk, dia menjadikan urusan kekhalifahan setelahnya agar dimusyawarahkan di antara enam orang berikut, yaitu Usman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa'd, dan Abdurrahman bin Auf. Maka pendapat semua sahabat sepakat menunjuk Usman bin Affan sebagai khalifah mereka (dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka) demikian itu dengan berbuat kebaikan kepada makhluk Allah yang paling dekat dengan mereka dari kalangan kerabat. Firman Allah: (Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri (39)) yaitu mereka mempunyai kekuatan untuk membela diri dari orang-orang yang berbuat zalim dan memusuhi mereka. Mereka bukanlah orang-orang yang lemah, bukan pula orang-orang yang hina, melainkan mempunyai kemampuan untuk membalas perbuatan orang-orang yang berlaku melampaui batas terhadap mereka. Sekalipun sifat mereka demikian yaitu mampu untuk membalas, mereka selalu memberi maaf. Sebagaimana yang dikatakan nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya: (Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu)) (Surah Yusuf: 92) Padahal nabi Yusuf mampu menghukum mereka dan membalas perbuatan mereka terhadap dirinya. Sebagaimana Rasulullah SAW memaafkan delapan puluh orang yang berniat akan membunuhnya pada tahun perjanjian Hudaibiyyah. Mereka turun dari Bukit Tan'im; dan setelah mereka dapat dikuasai, maka ketika Rasulullah SAW menguasai mereka, beliau memaafkan mereka, meskipun beliau SAW mampu menghukum mereka.

Tafsir As-Sa'di
Buka

38 “dan orang-orang yang menerima seruan RRabbnya, ” maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNYa, memenuhi seruanNYa dan tujuan mereka pun adalah keridaanNYa dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNYa. termasuk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai athful am alal khash (pengikutan pada yang umum kepada yang khusus) yang menunjukan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman ”dan mendirikan shalat, ” yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ” dan mereka menginfakan sebagain dari izki yang kami berikan kepada mereka, ” infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang Sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ”sedang urusan mereka, ” yang bersikap religi dan yang besifat duniawi” adalah musyawarah antara mereka, ”maksudnya, tidak seorangpun dai mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama diantara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari kebesamaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang menyayangi diantara mereka, dan meupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengarahan pikian dan pendapat, maka mereka berkumpul, bemusyarah, serta melakukan pembahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera nmengambilnya. ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. melakukan pembahasan bersama. melakukan pembahasn terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

38. Dan bagi orang-orang yang menerima anjuran Tuhan untuk mereka berupa bertauhid, ibadah, dan menaati rasul. Mereka melaksanakan shalat hanya dengan sempurna dan mengkhususkannya untuk berdzikir, karena shalat adalah ibadah paling tinggi. Mereka bermusyawarah dalam urusan-urusan yang umum dan yang khusus tanpa mementingkan dan memaksakan pendapat individu, seperti urusan kepemimpinan, wilayah, masalah hukum, dan perkara-perkara yang khusus. Mereka menafkahkan rejeki yang diberikan oleh Allah dalam jalan yang baik. Maknanya adalah bahwa musyawarah adalah sesuatu yang sudah lazim dalam menyelesaikan masalah mereka. Ayat ini diturunkan untuk kaum Anshar yang diajak rasulallah SAW untuk beriman, kemudian mereka menerimanya dan mendirikan shalat

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Mulk (67): Ayat 15 Rujukan #15
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
huwallażī ja’ala lakumul-arḍa żalụlan famsyụ fī manākibihā wa kulụ mir rizqih, wa ilaihin-nusyụr
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah ditegaskan bahwa Allah adalah mahahalus dan maha luas pengetahuan-Nya, kini diuraikan kembali tentang kuasa-Nya. Dialah Allah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi untuk melakukan aneka aktifitas yang bermanfaat, maka jelajahilah di segala penjurunya, berkelanalah ke seluruh pelosoknya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya yang disediakan untuk kamu, serta bersyukurlah dengan segala karunia-Nya itu. Dan karena pada akhirnya, hanya kepada-Nyalah kamu kembali setelah dibangkitkan. 16-17. Bukti kekuasaan dan keluasan ilmu-Nya sudah dipaparkan, kalau manusia tetap durhaka maka Allah menegaskan dalam ayat ini: sudah merasa amankah kamu, bahwa dia Allah yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang'. Mestinya kamu tidak merasa aman dengan tetap durhaka. Karena orang sebelum kamu seperti karun karena kedurhakaannya dia ditelan bumi. Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa dia Allah yang di langit yang mengendalikan sepenuhya semua makhluk, tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu yang dapat membinasakan kamu' namun kalau kamu tetap durhaka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana akibat mendustakan peringatan-ku.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 12-15 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya terhadap apa yang ada antara dia dan Tuhannya; jika dia tidak diketahui orang lain, maka dia mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat, dan mengerjakan ketaatan, meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya kecuali Allah SWT. dan bahwa Allah akan memberinya ampunan dan pahala yang besar yaitu Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan membalasnya dengan pahala yang berlimpah. Kemudian Allah SWT berfirman seraya mengingatkan bahwa Dia Maha Melihat semua isi hati dan rahasia (Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati (13)) yaitu segala sesuatu yang terbesit dalam hati (Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui?) yaitu apakah Tuhan Yang Maha Pencipta itu tidak mengetahui? Dikatakan, “apakah Allah tidak mengetahui makhlukNya? Makna pertama adalah yang lebih utama, karena firmanNya: (dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui) Kemudian Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada makhlukNya, dengan menundukkan dan merendahkan bumi bagi mereka, dengan menjadikannya tenang dan stabil, tidak berguncang dan tidak miring, dengan gunung-gunung yang telah Dia pancangkan padanya. Allah mengalirkan dari dalamnya mata air-mata air, dan menyediakan padanya jalan-jalan, serta menyediakan padanya berbagai manfaat dan tempat-tempat untuk ditanami untuk keperluan tanaman. Maka Allah SWT berfirman: (Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya) yaitu, berjalanlah ke mana pun yang kalian kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi daerah dan kawasannya untuk berbagai mata pencaharian dan perniagaan. Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sedikit pun bagi kalian kecuali jika Allah memudahkannya bagi kalian. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya) Maka berupaya dengan menempuh sarananya tidaklah bertentangan dengan tawakal kepadaNya. Dialah yang Menundukkan, Memperjalankan, dan Menjadikan penyebabnya (Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan) yaitu dikembalikan di hari kiamat. Mujahid, As-Suddi, dan Qatadah berkata tentang firmanNya (manakibiha) yaitu daerah-daerah yang jauh, daerah-daerah pedalaman, dan seluruh kawasannya. Ibnu Abbas dan Qatadah juga berkata bahwa (manakibiha) yaitu gunung-gunung.

Tafsir As-Sa'di
Buka

15. Maksudnya, Dia-lah yang menundukkan bumi untuk kalian agar kalian bisa mendapatkan apa pun yang kalian perlukan, seperti bercocok tanam, mendirikan bangunan, membuat jalan yang menghubungkan ke tempat yang jauh dan berbagai negara. "Maka berjalanlah di segala penjurunya,” maksudnya, untuk mencari rizki dan penghasilan, “dan makanlah sebagian dari rizkinya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Maksudnya, setelah kalian berpindah dari dunia ini yang dijadikan Allah sebagai tempat ujian dan penghantar menuju akhirat. Setelah kalian meninggal dunia, kalian akan dibangkitkan dan dikumpulkan menuju Allah untuk membalas amal perbuatan kalian, baik dan buruknya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

15. Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan bumi agar mudah bagimu untuk hidup dan mengambil manfaat darinya. Maka berjalanlah di sisi-sisinya, di jalan-jalannya dan kunjungilah setiap penjurunya. Makanlah apa yang diberikan oleh Allah di bumi. Dan hanya kepadaNyalah (para mayat) yang dibangkitkan dari kubur itu dikembalikan untuk dihisab dan dibalas (amalnya)

Tafsir Al-Mishbah
Buka