SI Qur'an

Indikator 33: Pemberitahuan

Ditemukan 11 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 33 Rujukan #1
قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
qāla yā ādamu ambi`hum bi`asmā`ihim, fa lammā amba`ahum bi`asmā`ihim qāla a lam aqul lakum innī a’lamu gaibas-samāwāti wal-arḍi wa a’lamu mā tubdụna wa mā kuntum taktumụn
"Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”"

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Kemudian Allah memberikan kesempatan kepada nabi adam untuk menyebutkan nama benda-benda yang telah Allah ajarkan kepadanya. Dia berfirman, wahai adam! beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu! lalu nabi adam pun menyebutkan nama benda-benda itu dengan segala macam kegunaan dan manfaatnya. Pada saat itulah malaikat memahami bahwa manusialah yang pantas untuk menjadi khalifah di bumi ini. Setelah dia, nabi adam, menyebutkan nama-nama benda-benda tersebut dan apa manfaat dan kegunaan-Nya, Allah berkata secara lebih tegas lagi tentang kebenaran rencana besar-Nya dan berfirman dengan nada pertanyaan, bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan' Allah memberi dua alasan tentang penunjukan nabi adam menjadi khalifah. Pertama, bahwa dia mengetahui rahasia di jagat raya yaitu semua yang ada di langit dan bumi. Kedua, bahwa Allah mengetahui apa yang dipendam dalam diri malaikat dan juga hati manusia. Jika demikian, maka gagasan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah pasti mempunyai banyak hikmah. Sebagai bentuk pengakuan malaikat akan keunggulan manusia atas mereka yang dinyatakan Allah pada ayat sebelumnya, pada ayat ini Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud hormat kepada nabi adam. Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu, yakni hormatlah, kepada adam dengan menundukkan kepala atau badan, bukan sujud ibadah! mendengar perintah Allah ini, maka mereka, para malaikat, pun sujud, kecuali iblis. Iblis adalah makhluk dari jenis jin yang terbuat dari api. Iblis merasa dirinya lebih terhormat daripada nabi adam karena dia diciptakan dari api yang salah satu sifatnya adalah panas, membakar, dan membara. Sementara, nabi adam diciptakan dari tanah liat, yang kelihatan diam dan tidak bergerak. Ia, iblis, menolak bersujud kepada nabi adam dan menyombongkan diri karena merasa dirinya lebih terhormat, dan, atas tindakannya ini, ia termasuk golongan yang kafir, yaitu makhluk yang menutup diri dari menerima kebenaran, ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya, dan ingkar terhadap hikmah yang terkandung di balik titah Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ini adalah bagian ayat di mana Allah SWT menyebutkan kelebihan nabi Adam AS atas para malaikat, keistimewaan ilmu tentang nama-nama dari segala sesuatu yang tidak diberikan kepada mereka. Hal ini terjadi setelah mereka melakukan sujud kepadanya. Sebenarnya penjelasan tentang hal ini telah disebutkan karena adanya keterkaitan antara bagian ini dengan ketidaktahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah ketika mereka bertanya tentang hal itu. Lalu Allah memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu, Allah menyebutkan ayat ini untuk menjelaskan kelebihanan nabi Adam AS atas mereka dalam hal keilmuan. Allah SWT berfirman, " Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya" Mujahid berkata,(Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya ) maknanya adalah ilmunya tentang nama setiap binatang melata, burung, dan segala sesuatu Hal yang juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan beberapa ulama’ teradahulu lainnya bahwa nabi Adam AS diajarkan nama-nama segala sesuatu. Ar-Rabi' dalam satu riwayat dia mengatakan bahwa itu adalah nama para malaikat. Hamid Asy-Syami berkata bahwa itu adalah nama-nama bintang. Abdullah bin Zaid berkata bahwa dia diajarkan nama-nama seluruh keturunannya. Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa dia diajarkan nama para malaikat dan keturunannya, karena Allah SWT berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat). Ini adalah ungkapan yang masuk akal Ini adalah pendapat yang dia kuatkan, karena tidak menafikan kemungkinan ada makhluk lain yang ikut bersama mereka (para malaikat). Mengungkapkan sesuatu secara keseluruhan menggunakan pola berpikir orang yang berakal itu untuk menunjukkan dominasi, sebagaimana Allah berfirman, (Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) (Surah An-Nur:45) Ibnu Mas'ud membaca, (Tsumma ‘aradhahun) dan Abu Ka’b membaca (Tsumma ‘aradhaha), maknanya yaitu nama-nama (makhluk-makhluk tersebut). Yang benar adalah bahwa Allah mengajari nabi Adam AS nama-nama segala sesuatu; baik esensi, sifat, maupun perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas. yaitu nama sesuatu dan perbuatannya baik yang besar dan yang kecil, Oleh karena itu Qatadah meriwayatkan dari Anas dari nabi Muhammad SAW, bersabda, "Pada hari kiamat orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata; 'Sebaiknya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita sehingga kita dapat pindah dari tempat kita sekarang juga.' Lalu mereka mendatangi Adam AS seraya mengatakan; 'Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tanganNya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu, serta diajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu" Hal ini menunjukkan bahwa Allah mengajarinya, nama-nama semua makhlukNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat) maknanya, yaitu nama-nama itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar dan dari Qatadah, bahwa maknanya adalah Dia menunjukkan nama-nama itu kepada para malaikat dengan berkata, (lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!") Ibnu Jarir berkata,”Pendapat yang paling kuat mengenai hal itu adalah tafsir Ibnu Abbas dan orang yang menyampaikan pendapatnya, yaitu "Beritahukanlah kepadaKu nama-nama yang telah Aku tunjukkan kepada kalian, wahai para malaikat yang berkata (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah)

Tafsir As-Sa'di
Buka

33. Saat itulah Allah berfirman, ” Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini, ” yakni nama-nama benda yang di kemukakan oleh Allah kepada para malaikat yang tidak mampu mereka ketahui, “maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu, ” jelaslah bagi mereka keutamaan Adam atas mereka, dan hikmah Allah yang Maha pencipta dan ilmuNya dalam menetapkannya sebagai khalifah, “Allah berfirman, ’bukankah sudah ku katakana kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, ” yakni apa yang tersembunyi darinya dan tidak kita lihat, sehingga apabila Dia mengetahui yang ghaib, maka alam nyata tentu lebih utama, ” dan aku juga mengetahui apa yang kamu lahirkan, ” maksudnya, apa yang kamu nampakkan, “dan apa yang kamu sembunyikan.”

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Allah memerintahkan Adam untuk mengabarkan kepada para malaikat tentang nama-nama yang telah disampaikan kepada mereka. Allah berfirman kepada para malaikat: “Bukankah Aku telah mengabarkan kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang ghaib di langit dan bumi daripada kalian dan hal itu juga kalian saksikan. Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dari ucapan kalian dan apa yang kalian sembunyikan dalam diri kalian”

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 97 Rujukan #2
قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
qul mang kāna ‘aduwwal lijibrīla fa innahụ nazzalahụ ‘alā qalbika bi`iżnillāhi muṣaddiqal limā baina yadaihi wa hudaw wa busyrā lil-mu`minīn
"Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa orang-orang yahudi berkata, kami benci jibril karena ia membawa bencana dengan menyampaikan wahyu bukan kepada golongan kami. Ia juga membongkar rahasia kami. Menjawab pernyataan itu, katakanlah, wahai nabi Muhammad, barang siapa menjadi musuh jibril maka ketahuilah bahwa dia hanya akan mendapatkan keburukan, karena sesungguhnya dialah, jibril, yang telah menurunkan Al-Qur'an ke dalam hatimu dengan izin Allah, bukan atas kehendaknya sendiri dan bukan pula atas kehendakmu. Dengan demikian, memusuhi jibril sama dengan memusuhi Allah. Sungguh aneh kalau kamu memusuhinya padahal wahyu-wahyu yang disampaikannya membenarkan apa yang terdahulu, yakni kitab-kitab suci termasuk taurat, dan wahyu-wahyu itu juga menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman. Memusuhi jibril berarti memusuhi Allah, dan memusuhi Allah berarti memusuhi semua makhluk-Nya yang taat. Bila seseorang memusuhi Allah, maka Allah pun akan memusuhi nya dan menjauhkan rahmat darinya. Barang siapa menjadi musuh Allah dengan memusuhi salah satu makhluk-Nya yang taat, atau memusuhi salah satu dari malaikatmalaikat-Nya, atau salah seorang dari rasul-rasul-Nya, atau jibril yang membawa wahyu dan mikail yang pembawa rezeki, maka sesungguhnya dia telah kafir dan mengantar dirinya menuju kebinasaan. Sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir. Dua ayat di atas menegaskan dua hal. Pertama, Allah tidak membedabedakan para rasul dan malaikat-Nya. Kepercayaan, ketaatan, dan kecintaan kepada mereka adalah satu paket. Siapa pun yang memusuhi mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia akan menjadi musuh Allah. Kedua, sanksi kepada pelanggar tidak hanya diterapkan kepada orang yahudi, tetapi kepada siapa saja yang kafir dan memusuhi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Imam Abu Ja'far bin Jarir Ath-Thabari berkata: Para ulama yang ahli dalam tafsir secara sepakat menyatakan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban kepada orang-orang Yahudi dari Bani Israil ketika mereka berpendapat bahwa Jibril adalah musuh mereka, sementara Mikail adalah pelindung mereka. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang alasan di balik pandangan ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa penyebab pandangan ini muncul karena perdebatan yang terjadi antara mereka dan Rasulullah SAW mengenai kenabian beliau. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: "Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lalu dia mendatangi nabi Muhammad SAW dan bertanya,”Aku bertanya kepadamu tentang tiga hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi: “Apa pertanda pertama kiamat? Apa makanan pertama penduduk surga? Dan apa yang membuat anak mirip dengan ayahnya atau ibunya?' Beliau menjawab, “Jibril baru saja memberitahuku”. Abdullah bin Salam berkata, “Jibril?” Beliau menjawab, “Iya” da berkata, “Jibril adalah musuh Yahudi di antara para malaikat” Maka nabi Muhammad SAW membacakan ayat ini (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu) Adapun pertanda pertama kiamat adalah api yang akan mengumpulkan manusia dari timur hingga barat. Makanan pertama yang akan dimakan oleh penduduk surga adalah hati ikan paus yang lebih besar. Ketika air laki-laki mendahului air perempuan, anak akan mirip dengan ayahnya, dan jika air perempuan mendahului, anak akan mirip dengan ibunya. Lalu dia berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selainAllah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, wahai Rasulallah. Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang cenderung mencela. Jika mereka mengetahui tentang keislamanku sebelum aku bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan mencela aku" Kemudian orang-orang Yahudi datang, lalu Rasulullah SAW bertanya kepada mereka,"Apakah di antara kalian ada seorang yang bernama Abdullah bin Salam?" Mereka menjawab,"Dia adalah orang baik dan putra seorang yang baik di antara kami, dia adalah pemimpin dan putra seorang pemimpin di antara kami" Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana pendapat kalian jika dia masuk Islam?" Mereka menjawab,"Semoga Allah melindunginya dari hal itu" Kemudian Abdullah bin Salam keluar dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mereka berkata: Dia adalah orang yang buruk dan anak dari orang yang buruk dari kami, dan kucilkanlah dia. Abdullah bin Salam berkata: Inilah yang aku takutkan, wahai Rasulullah. Adapun penafsiran ayat tersebut adalah firman Allah: (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah) artinya yaitu siapa saja yang memusuhi Jibril, maka hendaklah dia mengetahui bahwa Jibril adalah Ruhul Amin yang menurunkan Al-Quran ke dalam hatimu dari Allah dengan izinNya. Jibril adalah utusan Allah dari golongan malaikat di antara seluruh malaikat, dan siapa saja yang memusuhi seorang rasul, maka dia telah memusuhi semua rasul, sebagaimana siapa saja yang beriman kepada seorang rasul, maka dia wajib beriman kepada semua rasul. Dan sebagaimana siapa saja yang mengingkari seorang rasul, maka sungguh dia telah mengingkari semua rasul, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) (150) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan (151)) (Surah An-Nisa’), maka ketentuan bagi mereka adalah kafir yang sesungguhnya, karena mereka beriman kepada beberapa rasul dan mengingkari sebagian lainnya. Demikian juga siapa saja yang memusuhi Jibril, maka dia adalah musuh Allah, karena Jibril tidak menurunkan wahyu dari dirinya sendiri, tetapi dia menurunkannya atas perintah Tuhannya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (63)) (Surah Maryam) dan firmanNya (Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (194)) (Surah Asy-Syu’ara’) Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab hadits shahihnya dari Abu Hurairah berkata,” Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya” Oleh karena itu, Allah murka kepada siapa saja yang memusuhi Jibril, lalu Allah SWT berfirman: (Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya) yaitu kitab-kitab yang terdahulu (dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman) yaitu sebagai petunjuk bagi hati mereka dan kabar gembira tentang surga. Hal itu hanya untuk orang-orang mukmin, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh") (Surah Fushilat: 44) Allah SWT berfirman: (Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (82)) (Surah Al-Isra’). Kemudian Allah SWT berfirman: (Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir (98)) Allah berfirman: “Siapa saja yang memusuhi Aku dan malaikat-malaikatKu, serta rasul-rasulKu termasuk rasul dari kalangan malaikat dan manusia, sebagaimana firman Allah: (Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (75)) (Surah Al-Hajj). (Jibril dan Mikail): Ini merupakan ‘athf khas ‘alal ‘am (menghubungkan sesuatu yang khusus kepada yang lebih umum). Keduanya termasuk dalam golongan malaikat, kemudian termasuk dalam golongan para rasul secara umum, kemudian keduanya disebutkan secara khusus. Hal ini karena konteksnya menunjukkan dukungan kepada Jibril, yang merupakan duta antara Allah dan para nabiNya. Dia dikaitkan dengan Mikail dalam penyebutan ini, karena Yahudi mengklaim bahwa Jibril adalah musuh mereka dan Mikail adalah wali mereka. Lalu Allah memberitahu bahwa siapa saja yang memusuhi salah satu dari keduanya, maka dia telah memusuhi yang lainnya, serta memusuhi Allah, karena terkadang dia (Mikail) juga menurunkan wahyu kepada para nabi sebagaimana dia dikaitkan dengan Rasulullah SAW pada awal kenabian. Akan tetapi Jibril lebih sering, karena itu tugas utamanya, sedangkan Mikail bertanggung jawab atas hujan dan tanaman. Yang itu (Jibril) berhubungan dengan petunjuk, dan yang ini (Mikail) berhubungan dengan rezeki. Demikian pula Israfil yang bertanggung jawab meniup sangkakala untuk kebangkitan di Hari Kiamat. Allah SWT berfirman: (sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir) dalam ayat ini kata yang zhahir menempati tempatnya kata dhamir, dimana tidak dikatakan “fa innahu ‘aduwwun” tetapi Allah berfirman: (Fa innallaha ‘aduwwul lil kafirin) sebagaimana yang dikatakan oleh penyair: Tidak kulihat kematian yang bisa dilewati oleh sesuatu kematian itu melewati yang kaya dan miskin Allah menampakkan kata iniuntuk menegaskan makna tersebut dan menampakkannya, serta memberitahu mereka bahwa siapa pun yang memusuhi para wali Allah, maka dia telah memusuhi Allah, dan siapa saja yang memusuhi Allah, maka Allah adalah musuhnya, dan siapa saja yang menjadikan Allah musuhnya, maka dia akan merugi di dunia dan akhirat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya”

Tafsir As-Sa'di
Buka

97-98. Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yahudi yang mengklaim bahwasanya hal yang menghalangi mereka dari beriman adalah bahwa jibril, walimu (Muhammad), seandainya dia adalah berupa malaikat-malaikat Allah yang lain selain jibril, niscaya mereka beriman kepadamu dan mempercayaimu. Sesungguhnya klaim seperti ini saling bertentangan dan merupakan kesombongan terhadap Allah, karena jibril itu adalah malaikat yang turun dengan membawa al-Qur’an dari Allah kepada hatimu, dan dialah yang turun juga kepada para Nabi sebelummu, dan Allah-lah yang memerintahkan dengan tugas seperti itu, maka dia sebatas malaikat yang diutus, padahal kitab yang diturunkan oleh jibril itu telah membenarkan apa yang telah lewat dari kitab-kitab sebelumnya dan tidak menyelisihi dan bertentangan dengannya. Kitab ini berisi petunjuk yang sempurna dari segala bentuk kesesatan, juga berisi kabar gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang beriman kepadanya, maka permusuhan terhadap jibril yang dijelaskan sifat-sifatnya diatas adalah sebuah pengingkaran terhadap allah dan ayat-ayatNya serta permusuhan kepada Allah, kepada Rosul-rosulnya dan malaikat-malaikatNya. Sesungguhnya permusuhan mereka terhadap jibril bukanlah kepada jibril pribadi, namun juga terhadap al-Qur’an yang dibawa olehnya dari sisi Allah berupa kebenaran (yang di turunkan) kepada Rosul-rosul Allah, maka permusuhan dan pengingkaran itu mencakup kepada Dzat yang menyuruhnya turun dan kepada al-Qur’an yang diturunkan olehNya serta kepada Rosul yang diturunkan kitab itu kepadanya, inilah maksud dari hal itu.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Wahai Rosul, katakanlah kepada kaum Yahudi yang memusuhi Jibril, bahwa mereka akan ditimpa azab dan Baitul Muqoddas akan dihancurkan oleh Bahtanshor atau lainnya: Barang siapa memusuhi Jibril, maka ketahuilah bahwa atas kehendak dan izin Allah Jibril telah menurunkan Alquran ke dalam hatimu, bukan atas kehendak Jibril sendiri. Alquran diturunkan sebagai pembenaran dari kitab-kitab Allah yang terdahulu seperti Taurat dan Injil. Kemudian juga sebagai petunjuk agar manusia tidak tersesat, dan memberi kabar gembira tentang balasan yang baik. Imam Ath Thabari berkata bahwa ijma’ ulama’ men-ta’wili ayat ini sebagai jawaban kepada Yahudi Bani Israil, karena mereka menganggap Jibril sebagai musuh dan Mikail sebagai wali/kekasih mereka

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 119 Rujukan #3
إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ بِٱلْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْـَٔلُ عَنْ أَصْحَٰبِ ٱلْجَحِيمِ
innā arsalnāka bil-ḥaqqi basyīraw wa nażīraw wa lā tus`alu ‘an aṣ-ḥābil-jaḥīm
"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Sungguh, kami telah mengutusmu, wahai nabi Muhammad, dengan kebenaran syariat yang terang dan agama yang lurus, sebagai pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman tentang surga yang penuh kenikmatan, dan pemberi peringatan kepada orang-orang kafir tentang siksaan api neraka. Dan engkau tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang kaum kafir yang menjadi penghuni-penghuni neraka sesudah engkau dengan sungguh-sungguh mengajak mere ka beriman. Dalam pernyataan Allah ini terkandung hiburan bagi rasulullah agar tidak kecewa dan berkecil hati terhadap apa yang telah dilakukannya. Dan janganlah engkau, wahai nabi Muhammad, bersusah payah mencari kerelaan orang-orang yang ingkar. Hal itu tidak mungkin, sebab orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu, nabi Muhammad, sebelum engkau meninggalkan agamamu dan berpaling mengikuti agama mereka yang mereka anggap paling benar. Karena itu, engkau tidak perlu melakukan apa yang mereka minta demi memperoleh kerelaan mereka, tetapi tetaplah engkau meng hadapkan dirimu untuk mendapatkan kerelaan Allah. Tetaplah mengajak mereka kepada kebenaran dan katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah, yakni agama islam, itulah petunjuk, yakni agama yang sebenarnya. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu, yakni kebenaran wahyu, sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. Meski khitab ayat ini ditujukan kepada nabi Muhammad, pada hakikatnya pesan ini berlaku umum bagi seluruh umat islam.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Terkait firman Allah: (dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka). Bacaan yang lebih banyak digunakan adalah “Wa laa tus’al” (dengan di dhammah huruf “ta’”nya memberikan penjelasan) dan bacaan Ubay bin Ka’b “Wa maa tus’al”, sedangkan bacaan Ibnu Mas’ud “Wa lan tus’al ‘an ashabil jahim”. Bacaan ini dinuqil oleh Ibnu Jarir, maknanya yaitu, Kami tidak meminta pertanggungjawaban kepadamu atas kekufuran orang yang mengingkarimu, sebagaimana firman Allah SWT (karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.) (Surah Ar-Ra’d: 40) (Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21) Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (22)) (Surah Al-Ghasyiyah) Ulama’ lain membaca “Wa laa tus’al ‘an ashabil jahim” dengan difathah huruf “ta’”nya untuk memberi larangan, yaitu janganlah bertanya tentang keadaan mereka

Tafsir As-Sa'di
Buka

119. “Sesungguhya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” Ayat ini meliputi semua ayat yang dia bawa, yang berporos pada tiga perkara, Pertama, berkaitan dengan kerasulannya itu sendiri, dan yang kedua pada kehidupan, petunjuk, dan bimbingannya, dan yang ketiga pada pengetahuan tentang apa yang dibawa olehnya berupa al-Qur’an dan as-Sunnah. Perkara pertama dan kedua masuk dalam firman Allah, “Sesungguhnya kami telah mengutusmu (Muhammad), ” sedang perkara ketiga masuk dalam firmanNya, “dengan kebenaran” Penjelasan tentang perkara pertama, yaitu kerasulannya itu sendiri, bahwasanya telah diketahui tentang kondisi penduduk bumi sebelum diutusnya beliau, yang mana mereka menyembah berhala, api dan salib serta merubah-rubah agama, hingga mereka berada dalam gelapnya kekafiran yang telah menguasai dan merasuki mereka semua, kecuali segelintir dari ahli kitab yang telah punah sesaat sebelum kerasulan tiba. Sungguh telah diketahui bahwasanya Allah tidaklah menciptakan makhluk-makhlukNya dengan sia-sia dan Dia tidak membiarkan mereka berjalan sendiri, karena Allah itu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, Mahamampu lagi Maha pengasih, maka di antara hikmah dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambanya adalah bahwa Dia mengutus kepada mereka Rosul yang mulia tersebut yang mengajak mereka kepada kepada penyembahan hanya semata kepada Dzat yang Mahakasih, yang tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya sebatas kerasulannya, seorang yang berakal akan mengetahui kebenarannya, dan itulah tanda yang paling besar yang menunjukkan bahwasanya beliau itu adalah Rosulullah Sholallohu 'alaihi wasallam Penjelasan perkara yang kedua adalah barangsiapa yang mengenal Nabi secara baik dan sempurna, dan dia mengetahui sejarah hidupnya dan kehidupannya sebelum diutus serta perkembangan hidupnya dengan berpedoman kepada sifat-sifat yang mulia, kemudian setelah itu bertambah mulia dan luhur akhlak dan sifat-sifatnya yang agung dan indah bagi orang yang memandangnya, maka barangsiapa yang mengetahuinya dan menapaki kondisi-kondisinya, niscaya dia akan mengetahui bahwasanya semua itu tidaklah mungkin kecuali merupakan akhlak-akhlak para Nabi yang sempurna, karena Allah telah menjadikan sifat-sifat sebagai tanda terbesar untuk mengetahui pemiliknya dari sisi kebenaran ddan kebohongannya. Sedangkan perkara yang ketiga adalah mengetahui apa yang dibawa oleh Rosululloh berupa syari’at yang agung dan al-Quran yang mulia yang mengandung segala kabar yang shahih, perintah-perintah kepada hal yang baik, larangan-larangan dari hal-hal yang buruk, dan mukjizat-mukjizat yang besar, maka seluruh tanda-tanda itu masuk ke dalam ketiga perkara tersebut. FirmanNya, “Sebagai pembawa berita gembira, ” yaitu bagi orang yang menaatimu dengan kebahagiaan dunia maupun akhirat, “dan pemberi peringatan, ” yaitu bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan kesengsaraan dan kehancuran dunia maupun akhirat. “Dan kamu tidak akan diminta (pertanggung jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka, ” maksudnya kamu tidaklah bertanggungjawab terhadap mereka, karena kamu hanya menyampaikan dan Kami-lah yang akan membalasnya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang Allah untuk menyampaikan agama yang benar. Juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman tentang adanya balasan surga bagi mereka. Kemudian memberi peringatan kepada orang kafir tentang azab neraka. Engkau wahai Muhammad tidak dimintai tanggung jawab tentang siapa yang mati kafir atau siapa yang mati dalam mengimani kerasulanmu. Imam As Suyuti berkata:Yang dimaksud pada ayat ini, ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, adalah kafir Yahudi dan Nasrani bukan kedua orang tua Nabi SAW

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 254 Rujukan #4
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَٰعَةٌ ۗ وَٱلْكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
yā ayyuhallażīna āmanū anfiqụ mimmā razaqnākum ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai’un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā’ah, wal-kāfirụna humuẓ-ẓālimụn
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan rasul-Nya serta mengikuti petunjuknya! infakkanlah dengan mengeluarkan sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu, baik dalam bentuk yang wajib seperti zakat maupun infak yang bersifat sunah. Bersegeralah sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli yang mendatangkan keuntungan, atau seseorang dapat membeli dirinya dengan sejumlah harta yang ia bayarkan sebagai tebusan agar dirinya tidak mendapat siksa tuhan pada hari kiamat, ketika tidak ada lagi persahabatan yang memungkinkan seseorang membantu walau persahabatan itu sangat dekat yang dapat menyelamatkan dari azab Allah. Kalau sahabat yang sangat akrab saja tidak bisa, apalagi sahabat biasa. Dan pada hari itu tidak ada lagi syafaat pertolongan dari seseorang yang dapat meringankan azab kecuali dari orang-orang yang mendapat izin dan rida dari Allah. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah, sebab mereka tidak menyambut baik seruan kebenaran. Allah; tidak ada tuhan yang pantas disembah dan dipertuhan selain dia. Yang mahahidup, kekal, dan memiliki semua makna kehidupan yang sempurna, yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak seperti manusia, dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur, sebab keduanya adalah sifat kekurangan yang membuat-Nya tidak mampu mengurus makhluk-Nya. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia yang menciptakan, memelihara, memiliki, dan bertindak terhadap semua itu. Tidak ada yang dapat memberi syafaat pertolongan di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia demikian perkasa dan kuasa sehingga berbicara di hadapan-Nya pun harus setelah memperolah restu-Nya, bahkan apa yang disampaikan itu harus sesuatu yang benar. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka, yakni apa saja yang sedang dan akan terjadi, dan apa yang di belakang mereka, yakni sesuatu yang telah berlalu. Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan rencanakan, baik yang berkaitan dengan masa kini, masa lampau, atau masa depan. Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang dia kehendaki untuk mereka ketahui dengan memperlihatkan dan memberitahukannya. Kursi-Nya, yaitu kekuasaan, ilmu, atau kursi tempat kedua kaki tuhan (yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah) berpijak, sangat luas, meliputi langit dan bumi. Dan jangan menduga karena kursi-Nya terlalu luas, dia letih mengurus itu semua. Tidak! dia tidak merasa berat maupun kesulitan memelihara keduanya, dan dia mahatinggi zat dan sifat-sifat-Nya jika dibanding makhluk-makhluknya, mahabesar dengan segala keagungan dan kekuasaan-Nya. Inilah ayat kursi, ayat teragung dalam Al-Qur'an karena mencakup namanama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan kesempurnaan zat, ilmu, kekuasaan, dan keagungan-Nya. Ayat ini dinamakan ayat kursi. Siapa yang membacanya akan memperoleh perlindungan Allah dan tidak akan diganggu setan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT memerintahkan hamba-hambaNya untuk menginfakkan dari rezeki yang telah Dia berikan kepada mereka di jalanNya, yaitu jalan kebaikan, agar mereka menyimpan pahala dari itu di sisi Tuhan dan Raja mereka, agar mereka bergegas menuju hal itu dalam kehidupan dunia, (sebelum datang hari yang pada hari itu) yaitu hari kiamat (tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at) yaitu, tidak ada yang dapat dijual dari dirinya atau tidak mendapatkan manfaat dengan harta yang dikeluarkan, meskipun dia membawa emas sebanyak isi bumi, dan tidak akan bermanfaat baginya persahabatan seseorang, yaitu sedekahnya, bukan hubungan keluarganya. Sebagaimana Allah berfirman: (Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya (101)) (Surah Al-Mu'minun) dan tidak ada pula syafa'at, yaitu yang akan bermanfaat baginya, syafa'at dari para pemberi syafa'at. Firman Allah : (Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim) dalam ayat ini mubtada’nya dikhususkan pada khabarnya, yakni bahwa tidak ada orang yang lebih zalim daripada mereka yang ingkar kepada Allah pada hari itu. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari ‘Atha' bin Dinar, dia berkata: “Segala puji bagi Allah yang berfirman: (Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim) Dia tidak berfirman: “Orang-orang yang zalim itu adalah orang-orang kafir”

Tafsir As-Sa'di
Buka

254. Allah menganjurkan kepada kaum Mukminin untuk berinfak pada segala macam bentuk kebaikan, karena tidak disebutkannya obyek dalam kalimat menunjukkan pada keumuman. Dan Allah juga mengingatkan tentang nikmatNya atas mereka, bahwa Allah-lah yang telah memberi rizki kepada mereka dan memberikan berbagai macam nikmat atas mereka, dan Allah tidak memerintahkan kepada mereka untuk mengeluarkan seluruh harta yang ada pada mereka, akan tetapi ayat ini hadir dengan kata ‘min’ (dari) yang menunjukkan arti sebagian, maka hal ini di antara perkara yang mengajak mereka untuk berinfak, dan juga di antara hal yang mengajak mereka untuk berinfak adalah kabar Allah kepada mereka bahwa infak-infak tersebut akan tersimpan rapi di sisi Allah pada suatu hari yang tidak ada gunanya lagi saling tawar menawar untuk berjual beli dan semacamnya, tidak pula bantuan-bantuan sosial maupun syafa’at. Setiap orang akan berkata apa yang telah saya persembahkan untuk kehidupan saya, maka seluruh sebab-sebab akan lenyap, kecuali sebab-sebab yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah dan keimanan kepadaNya, "(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" -Asy-Syu’ara:88-89- "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." Saba:37 "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." Al-Muzzammil:20- Kemudian Allah berfirman, “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” Hal itu karena Allah menciptakan mereka hanya untuk beribadah kepadaNya, Dia memberi rizki dan menyehatkan mereka agar mereka mampu mengerjakan ketaatan dengannya, namun mereka berpaling dari tujuan Allah menciptakan mereka, mereka menyekutukan Allah dengan apa yang tidak Allah turunkan keterangan tentangnya. Mereka melakukan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dengan kenikmatan itu, mereka tidak meletakkan keadilan pada tempatnya, oleh karena itulah kezhaliman yang mutlak meliputi mereka.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

254. Wahai orang-orang yang beriman berinfaklah di jalan Allah dari rejeki yang diberikan Allah kepada kalian sesuai kemampuan, supaya kalian menerima pahala di akhirat sebelum datangnya hari kiamat yang mana tidak ada jual-beli di dalamnya sehingga kalian bisa menebus diri kalian dari azab, dan hari dimana di dalamnya tidak ada pertolongan dan belas kasihan. Orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan mendustakan para rasul dan mengingkari perintah Allah.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Nisa (4): Ayat 83 Rujukan #5
وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ ٱلْأَمْنِ أَوِ ٱلْخَوْفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسْتَنۢبِطُونَهُۥ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ لَٱتَّبَعْتُمُ ٱلشَّيْطَٰنَ إِلَّا قَلِيلًا
wa iżā jā`ahum amrum minal-amni awil-khaufi ażā’ụ bih, walau raddụhu ilar-rasụli wa ilā ulil-amri min-hum la’alimahullażīna yastambiṭụnahụ min-hum, walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ lattaba’tumusy-syaiṭāna illā qalīlā
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan apabila sampai kepada mereka, orang-orang munafik itu, suatu berita yang belum dapat dibuktikan kebenarannya, baik tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya dengan tujuan untuk menimbulkan kerancuan dan kekacauan. Padahal, apabila sebelum menyebarkan berita itu mereka menyerahkannya terlebih dahulu kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya secara resmi dari mereka, yakni rasul dan ulil amri. Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu berupa ajaran dan tuntunan hidup, tentulah kamu mengikuti langkah-langkah setan, kecuali sebagian kecil saja di antara kamu yang mengikuti petunjuk rasulmaka berperanglah engkau, nabi Muhammad dan kaum muslim, di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan ingatlah bahwa engkau tidaklah dibebani melainkan atas kewajiban yang diletakkan pada dirimu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang di jalan Allah. Mudah-Mudahan Allah menolak dengan cara mematahkan serangan orang-orang yang kafir itu. Allah sangat besar kekuatan-Nya untuk mengalahkan para penentang agama Allah itu dan sangat keras siksaan-Nya bagi kedurhakaan orang-orang munafik itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 82-83 Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada mereka untuk merenungkan Al-Quran, melarang mereka untuk berpaling darinya dan dari memahami maknanya yang jelas dan lafazh-lafzhnya yang sangat jelas. Serta memberitahukan kepada mereka bahwa tidak ada, perbedaan, permusuhan, dan pertentangan di dalamnya. Karena Al-Qur’an itu diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, jadi itu adalah kebenaran yang pasti. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman, (Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (24)) (Surah Muhammad) Kemudian Allah berfirman (Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah) tyaitu jika itu dibuat-buat dan diciptakan (oleh manusia) sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu orang musyrik dan munafik karena ketidaktahuan mereka dalam hati mereka, maka pasti akan ada banyak pertentangan di dalamnya, yaitu pertentangan dan sesuatu yang berlawanan yang sangat banyak. Maknanya yaitu bahwa Al-Qur’an ini terbebas dari pertentangan, dan itu dari sisi Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT seraya memberitahukan tentang orang-orang yang kokoh pengetahuannya dimana mereka berkata (Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami) (Surah Ali-Imran: 7), yaitu, baik ayat muhkamat maupun mutasyabihat, itu adalah kebenaran. Oleh karena itu, mereka mengembalikan ayat mutasyabihat kepada ayat muhkamat dan mereka mendapat petunjuk. Sedangkan orang-orang yang hati mereka dalam kesesatan, mereka mengembalikan ayat muhkamat kepada ayat mutasyabihat dan mereka tersesat. Oleh karena itu, Allah memuji mereka yang kokoh pengetahuannya dan mencela orang yang tersesat. Firman Allah: (Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya) untuk menolak orang yang tergesa-gesa terhadap sesuatu sebelum memastikannya, sehingga mereka memberitahukan dan menyebarluaskannya, padahal berita tersebut mungkin tidak benar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan” Firman Allah (tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yaitu orang-orang mukmin. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah tentang firman Allah (tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja) yaitu kalian semua Untuk mendukung pendapat ini, dikutip pernyataan dari Ath-Thirmah bin Hakim dalam memuji Yazid bin Al-Muhallab: “Aku mencium banyak tangan yang memberi karunia, sedikit yang mengkritik dan mencela"

Tafsir As-Sa'di
Buka

83. Ini merupakan pengajaran dari Allah bagi hamba-hambanya tentang perbuatan mereka yang tidak patut tersebut, dan bahwa seyogyanya apabila datang kepada mereka suatu perkara penting dari perkara umum yang berkaitan dengan kebahagiaan kaum Mukminin atau dengan kekhawatiran yang mengakibatkan suatu musibah atas mereka, agar mereka memastikan terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa untuk menyebarkan kabar tersebut, dan sebaiknya mereka menyerahkanya kepada Rasul atau Ulil Amri diantara mereka yaitu yang memilki pandangan luas, ilmu ,nasihat, kecerdasan, dan keteguhan, dimana mereka mengetahui urusan-urusan dan mengetahui kemaslahatan dan kemudharatan, dan bila mereka memandang bahwa menyebarkannya mengandung kemaslahatan dan semangat bagi kaum Muslimin, bahkan kebahagiaan untuk mereka serta tindakan kewaspadaan terhadap musuh-musuh mereka, maka mereka bileh melakukan hal tersebut, dan bila mereka memandang apabila hal tersebut mengandung kemaslahatan, atau ada kemaslahatan padanya akan tetapi kemudhratanya lebih bersar daripada kemaslahatannya, maka janganlah meeka menyebarkannya, karena itu Allah berfirman, “tentulah orang-orang yang ingin tahu kebenarannya (akan dapat mengetahui) dari mereka Rasul dan Ulil Amri,” maksudnya, mereka dapat menyimpulkan suatu kebenaran dengan pemikiran dan pendapat-pendapat mereka yang lurus serta ilmu-ilmu yang matang. Ayat ini merupakan sebuah dalil bagi sebuah kaidah moral yaitu apabila terjadi suatu pembahasan dalam suatu perkara, seyogyanya perkara tersebut di serahkan kepada orang yang berhak atas perkara tersebut, dan tidak ada seorang pun yang didahulukan sebelumnya, karena sesungguhnya ia lebih dekat dengan kebenaran dan lebih dapat selamat dari kesalahan. Ayat ini juga mengisyaratkan tentang larangan dari sikap tergesa-gesaan dan terburu-buru dalam menyampaikan inpormasi setelah mendenganrkannya, dan seharusnya dalam perkara seperti itu perlu berpikir sebelum membicarakandan membahasnya, apakah hal ini menyimpan kemaslahatan hingga ia melakukannya ataukah hingga ia menahannya. Kemudian Allah berfirman, “kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu,”yaitu dalam membimbing, mengajarkan, dan mendidik kalian dengan apa yang belum kalian ketahui, “tentulah kamu mengikuti setan, kacuali sebagian kecil saja di antaramu,” karena manusia dengan tabiatnya adalahzhalim lagi bodoh, dan nafsunya tidaklah menyuruhnya kecuali kepada kejahatan, namun bila ia bersandar kepada Rabbnya dan berpengan teguh denganNya dan ia berjuan dalam hal tersebut, niscaya Rabbnya akan mengasihi dan membimbingnya kepada kebaikandan menjaganya dari setan yang terkutuk.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

83. Dan ketika telah datang kepada orang-orang muslim yang lemah suatu perkara, maka mereka akan mendengarkan berita keamanan seperti kemenangan atau ketakutan seperti kekalahan dan peperangan dari perkara itu, lalu mereka akan menyiarkannya kepada orang-orang dan menyebarkan rumor palsu yang bisa membahayakan para pasukan. Dan jika mereka menyampaikan kabar tersebut kepada rasulullah, dan orang yang berilmu, para pemimpin, maka sungguh orang-orang yang ingin mengetahui rahasia perkara itu akan mengetahui hakikat berita tersebut dari para pemimpin, sehingga mereka bisa memastikan kebenarannya dan mengerti tentang sesuatu yang sebaiknya diumumkan atau disembunyikan, yaitu jika mereka menyerahkan kabar itu kepada rasulullah atau ulil amri, maka sungguh mereka telah melakukan sesuatu yang bisa memberi kemaslahatan, yaitu mengumumkan berita itu atau menyembunyikannya. Kalau tidak karena taufik, keutamaan, dan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian untuk beriman, maka sungguh kalian akan mengikuti jalan setan sebagaimana orang-orang munafik itu mengikutinya. Dan firman Allah {Illa Qaliila} adalah pengecualian dari tindakan menyiarkan berita dan mencari tahu, diluar itu termasuk tindakan patuh, yaitu sungguh kalian telah mengikuti setan kecuali hanya sedikit dari kalian seperti orang-orang yang mendapatkan petunjuk yang tetap berada dalam kebenaran, ketika Allah memberi mereka akal sehat dan keinginan yang kuat yang tidak memungkinkan mereka untuk tunduk kepada setan

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-A'raf (7): Ayat 52 Rujukan #6
وَلَقَدْ جِئْنَٰهُم بِكِتَٰبٍ فَصَّلْنَٰهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
wa laqad ji`nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā ‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat yang lalu diterangkan tentang keadaan penghuni surga, neraka, dan a'ra'f, dan juga dialog antara mereka yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan agar manusia terhindar dari penyesalan dan mendapat petunjuk kepada jalan yang benar. Pada ayat-ayat ini diterangkan tentang kitab Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan diterangkan pula bagaimana akibat orang-orang yang menentang dan mendustakannya pada hari kiamat. Sungguh, kami telah mendatangkan kitab yang agung, yaitu Al-Qur'an, kepada mereka yang kami jelaskan beragam bukti yang mudah dipahami, dan penjelasan itu atas dasar pengetahuan kami yang sangat luas, mantap, dan menyeluruh sehingga tidak ada kekurangan dan kelemahannya. Kitab itu benar-benar sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang kafir tidaklah beriman kepada berita-berita dalam alqur'an, walaupun sudah sedemikian jelas bukti-bukti kebenarannya. Tidakkah mereka hanya menanti-nanti melainkan setelah nyata bagi mereka bukti kebenaran Al-Qur'an itu. Pada hari kiamat ketika bukti kebenaran pemberitaan Al-Qur'an itu tiba, seperti berita tentang hari kebangkitan, surga, dan neraka, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya, yakni meninggalkan tuntunannya, berkata, sungguh ketika di dunia, rasul-rasul tuhan kami telah datang membawa kebenaran, antara lain tentang hari kebangkitan, namun kami kafir dan ingkar padanya. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami, agar kami terhindar dari siksa yang pedih ini atau agar kami dikembalikan ke dunia sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu' mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka enggan beriman ketika di dunia dan apa yang mereka ada-adakan dahulu, yakni tuhan-tuhan yang mereka sembah telah hilang dan lenyap dari mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 52-53 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang alasan mengapa Dia mengutus para rasul kepada mereka dalam Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan itu merupakan kitab yang memberi penjelasan secara terperinci dan jelas. Sebagaimana firmanNya (Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) (Surah Hud: 1) dan (yang Kami telah menjelaskannya atas pengetahuan Kami) yaitu berdasarkan pengetahuan Kami dengan apa yang Kami jelaskan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Allah menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya) (Surah An-Nisa: 166) Ketika Dia menjelaskan apa yang mereka alami berupa kerugian di akhirat, lalu Allah menyebutkan bahwa Dia menyingkirkan alasan mereka di dunia dengan mengutus para rasul dan telah menurunkan kitab. Sebagaimana firmanNya: (Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul) (Surah Al-Isra: 15) Oleh karena itu Allah berfirman: (Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu) yaitu apa yang dijanjikan kepada mereka berupa azab, siksaan, surga, dan neraka. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lainnya. Firman Allah SWT: (Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu) yaitu pada hari kiamat, Pendapat ini dikatakan Ibnu Abbas. (berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu) yaitu mereka enggan beramal dan melupakannya di dunia (Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa perkara yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami) yaitu menyelamatkan kami dari sesuatu yang menimpa kami. (atau dapatkah kami dikembalikan) ke dunia (sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”) Sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman" (27) Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka (28)) (Surah Al-An'am) Sebagaimana Allah berfirman di sini: (Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu mereka merugikan diri sendiri dengan dimasukkan ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya (dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan) yaitu apa yang mereka sembah selain Allah itu pergi dari mereka, sehingga tidak memberikan syafaat, menolong, dan tidak menyelamatkan mereka dari sesuatu yang mereka alami.

Tafsir As-Sa'di
Buka

50-52 Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surge ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang menkik dan menerka mereka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surge. ”limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu” lalu penduduk surga menjawab “ sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya” yakni air dan makanan surga “atas orang-orang kafir” dan hal itu adalah sebagai balasan kepada mereka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintah agar teguh diatasnya dan dijanjikan balasan yang besar atasnya, ”sebagai main-main dan senda gurau” yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan , atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main atau senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu.” dan kehidupan dunia telah menipu mereka” dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propagandanya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya, dan mereka lupa dan berpaling dari akhirat. ”maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka” yakni kami membiarkan mereka di dalam azab, “sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini” seolah-olah mereka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ”dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami” padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keterbatasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru “kami telah mendatangkan sebuh kitab (al-qur’an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya” yakni kami jelaskan padanya seluruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia “atas dasar pengetahuan kami” yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terhadap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap perkara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia meneluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan tetapi ini adalah perincian Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu “yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” yakni dengan kitab ini orang-orang mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaran.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

52. Dan sungguh telah datang kepada penduduk Mekah dan lainnya itu Al-Qur’an yang telah Kami jelaskan dengan sempurna supaya mereka mengetahui apa yang Kami jelaskan di dalamnya, petunjuk kepada manusia menuju kebenaran, penyelamat dari kesesatan, dan rahmat bagi orang yang yeng mengimani dan mengikuti aturan-aturannya.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Yunus (10): Ayat 54 Rujukan #7
وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِى ٱلْأَرْضِ لَٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
walau anna likulli nafsin ẓalamat mā fil-arḍi laftadat bih, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa quḍiya bainahum bil-qisṭi wa hum lā yuẓlamụn
"Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa orang-orang yang durhaka pasti akan diazab, lau pada ayat ini digambarkan penyesalan mereka ketika di akhirat. Dan kalau seandainya setiap orang yang zalim itu, yakni orang yang mempersekutukan Allah itu mempunyai segala harta benda berharga yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu agar terlepas dari siksa, tetapi hal itu tidak mungkin, dan mereka menyembunyikan penyesalannya yang sangat besar dan tersembunyi dalam hati, ketika mereka telah menyaksikan, merasakan azab yang sangat pedih itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, karena dia tidak memerlukan apapun dari siapapun. Ayat ini menegaskan, ketahuilah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi, dia yang menciptakan dan dia atur sesuai kehendak-Nya. Ketahuilah, bukankah janji Allah itu benar' hari pembalasan pasti akan datang. Orang yang taat pasti akan diberi pahala dan yang durhaka akan disiksa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui dan tidak mempercayainya.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 53-54 Allah SWT berfirman bahwa mereka akan mengujimu: (Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?) yaitu kiamat dan hari bangkit dari kubur itu, setelah tubuh-tubuh ini telah menjadi tanah (Katakanlah, "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah be­nar; dan kalian sekali-kali tidak dapat luput (darinya)) yaitu kalian yang telah menjadi tanah tidak bisa melemahkan Allah untuk mengembalikan kalian sebagaimana Dia menciptakan kalian dari ketiadaan. (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu ha­nyalah berkata padanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (82)) (Surah Yasin) Ayat ini tidak ada yang menyamainya dalam Al-Qur’an kecuali dua ayat lain, dimana Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk bersumpah dengan namaNya terhadap orang-orang yang mengingkari hari kiamat, dalam surah As-Saba’: (Dan orang-orang yang kafir berkata, "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, "Pasti datang, demi Tuhanku" (3)) dan surah A-Taghabun: (Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ”Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (7)) Kemudian Allah memberitahukanbahwa ketika hari kiamat terjadi, orang kafir ingin seandainya dia bisa menebus dirinya dari siksa Allah dengan emas seisi bumi. (dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil) yaitu dengan kebenaran (dan mereka tidak dianiaya)

Tafsir As-Sa'di
Buka

54. “Dan” pada Hari Kiamat kalau “setiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki”, dengan kekufuran dan kemaksiatan “segala sesuatu yang ada di bumi ini”, dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, “tentu dia menebus dirinya dengan itu.” Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. “Dan mereka menyembunyikan” yakni mereka orang-orang yang zhalim, “penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu.” Mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. “Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil.” Keadilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

54 Kalaupun pada hari kiamat nanti setiap diri yang zalim dengan kemusyrikan dan kesesatan itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia akan menebus dirinya dengan itu agar selamat dari azab. Mereka akan membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Di antara mereka orang kafir dan mukmin telah diberi keputusan dengan adil, dan mereka tidak dizalimi sama sekali

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Nahl (16): Ayat 89 Rujukan #8
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
wa yauma nab’aṡu fī kulli ummatin syahīdan ‘alaihim min anfusihim wa ji`nā bika syahīdan ‘alā hā`ulā`, wa nazzalnā ‘alaikal-kitāba tibyānal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmataw wa busyrā lil-muslimīn
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan ingatlah pada hari ketika kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka, yaitu seorang nabi atau tokoh yang diakui kesalehan dan ketakwaannya, dari golongan mereka sendiri, yang memberi kesaksian dengan jujur; dan kami datangkan pula engkau, wahai nabi Muhammad, menjadi saksi atas mereka semua. Dan kami turunkan kitab Al-Qur'an kepadamu secara berangsur untuk menjelaskan kepada manusia prinsip-prinsip umum segala sesuatu, sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran dan kedamaian, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri sepenuh hati kepada Allah. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penjelasan, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri kepada Allah. Ayat ini kemudian mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur'an bagi mereka. Petunjuk pertama adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah menyatakan, sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun nonmateri secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun. Dan selain itu, dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan. Melalui perintah dan larangan ini dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman kepada hamba dan rasulNya, nabi Muhammad SAW: (Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas mereka) yaitu umatmu. yaitu, ingatlah kamu tentang hari itu dan kengeriannya serta kemuliaan yang agung dan kedudukan yang tinggi yang diberikan Allah kepadamu pada hari itu. Ayat ini mempunyai makna yang mirip dengan ayat yang mana Abdullah bin Mas'ud meng­hentikan bacaannya ketika membacakan ayat itu untuk Rasulallah SAW. Itu adalah ayat surah An-Nisa, ketika sampai pada firmanNya: (Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (41)) (Surah An-Nisa) Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, "Cukup,". Lalu Ibnu Mas'ud berkata bahwa dia berpaling melihat Rasulullah SAW, tiba-tiba dia melihat kedua mata beliau mencucurkan air matanya. Firman Allah SWT: (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk men­jelaskan segala sesuatu) Ibnu Mas'ud berkata bahwa telah dijelaskan kepada kami dalam Al-Qur'an ini semua ilmu dan segala sesuatu. Mujahid berkata bahwa setiap perkara halal dan haram. Pendapat Ibnu Mas'ud lebih umum dan lebih menyeluruh, karena sesungguhnya Al-Qur'an itu mencakup setiap ilmu yang bermanfaat dari berita yang terdahulu dan pengetahuan tentang masa mendatang. Setiap perkara halal dan haram, dan sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan, dan hari kiamat mereka (dan sebagai petunjuk) yaitu bagi hati (serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri

Tafsir As-Sa'di
Buka

89. setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelumnya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muhammad) Allah berfirman “dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia” maksudnya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan keburukan. Ini termasuk kesempuraan sifat keadilan Allah, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti firman Allah “dan demikian (pula) kami telah mejadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Dan Allah berfirman "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun." (QS. An-Nisa : 41-42) FirmanNya ”dan kami turunkan kepadamu al-kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu" dalam perkara pokok ataupun cabang, dalam hokum-hukum di dua tempat (dunia dan akhirat) dan segala seuatu yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar benar telah di jelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang ngulang persoalan persoalan besar yang di butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (dia) menyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh lafazh yang berbeda beda dan bukti bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan konsistensinya di dalam hati. bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tudak terhitung banyaknya. Ketika Alqur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya, akibatnya hujjah hujjah orang orang yang berbuat aniaya terlumpuhkan. Sementara kaum muslimin mereguk kemanfaatan drainya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka. menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. sedangkan bentuk rahmatnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperi keshalihan, kebaikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai nilainya yang merupakan nilai nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan perbuatan yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Rabb yang maha penyayang.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

89. Ingatlah wahai Nabi, ketika Kami mengutus dari setiap umat itu seorang saksi dari golongan mereka, yaitu nabi mereka. Dan Kami mendatangkanmu wahai Rasul sebagai seorang saksi atas kaummu dan umat-umat yang tersisa, bahwa kamu telah menyampaikan risalah. Aku mengulang hal itu untuk mengancam orang-orang kafir Quraisy bahwa kesaksian itu berlaku untuk mengadili mereka bukan membenarkan mereka, dan untuk mengina mereka atas pendustaan mereka terhadal rasulallah. Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang menjelaskan secara terperinci tentang setiap sesuatu yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum agama dan syariat, petunjuk dari kesesatan, penyebab rahmat dan keberhasilan bagi orang yang beriman, dan kabar gembira tentang surga bagi orang-orang muslim yang menunaikan syariat Allah SWT.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Naml (27): Ayat 7 Rujukan #9
إِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهْلِهِۦٓ إِنِّىٓ ءَانَسْتُ نَارًا سَـَٔاتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ ءَاتِيكُم بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
iż qāla mụsā li`ahlihī innī ānastu nārā, sa`ātīkum min-hā bikhabarin au ātīkum bisyihābing qabasil la’allakum taṣṭalụn
"(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: “Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang”."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Di antara isi kandungan Al-Qur'an adalah cerita tentang nabi-nabi masa lalu, antara lain adalah nabi musa. Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk menceritakan kepada kaumnya tentang nabi musa, yaitu ketika nabi musa sedang dalam perjalanan menuju ke mesir beserta istrinya untuk menemui ibundanya. Keduanya tersesat di jalan, di malam yang gelap dan dingin. Ceritakan kepada mereka, wahai nabi Muhammad, ketika musa berkata kepada keluarganya, 'sungguh, aku melihat api. Diamlah kamu di sini, aku akan membawa kabar dari arah api itu tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api atau obor kepadamu agar kamu dapat berdiang menghangatkan badan dekat api. '8. Maka tidak berapa lama ketika dia, yakni musa, tiba di sana yaitu tempat api itu, dia diseru oleh satu suara yang tidak ada rupanya, 'telah diberkahi, diberikan kebaikan yang sangat banyak orang yang berada di dekat api, yaitu nabi musa sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya yaitu penduduk negeri syam, tempat diutusnya para nabi. Mahasuci Allah, tuhan pemelihara seluruh alam dari segala sesuatu yang yang tak layak bagi-Nya. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 7-14 Allah SWT berfirman kepada RasulNya nabi Muhammad SAW seraya mengingatkan kepada beliau tentang perkara nabi Musa saat Allah memilihnya, mengajaknya bicara langsung, dan membuatnya bermunajat, dan memberinya mukjizat-mukjizat yang agung dan jelas serta dalil-dalil yang dapat mengalahkan musuh. Allah mengutusnya kepada Fir'aun dan para pembesar kaumnya, lalu mereka membangkang, dan mengingkarinya serta enggan mengikuti dan taat kepada petunjuknya. Jadi Allah SWT berfirman: ((Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu ingatlah ketika nabi Musa berjalan di malam hari bersama keluarganya, saat itu malam sangat gelap. Lalu nabi Musa menemui nyala api di lereng Bukit Thur, yaitu melihat api yang menyala dan bergerak, lalu dia berkata: (Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepada kalian kabar darinya) yaitu tentang jalan (atau aku membawa kepada kalian suluh api supaya kalian dapat berdiang) yaitu untuk menghangatkan tubuh kalian. Dan sama dengan apa yang dia katakan, yaitu sesungguhnya dia kembali dari api itu dengan membawa berita yang sangat agung. Dia telah mengambil dari api itu cahaya yang agung, Oleh karena itu Allah berfirman: (Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yaitu setelah nabi Musa sampai ke tempat api itu, dia melihat pemandangan yang menakjubkan dan agung, dimana dia berhenti melihat api itu, dan api itu menyala di sebuah pohon yang hijau, tidak semakin besar melainkan semakin menyala-nyala. Lalu nabi Musa terhenti karena takjub melihat apa yang dia lihat (diserulah dia,"Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu”) Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah disucikan, dan (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) adalah para malaikat. Firman Allah SWT: (Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) yaitu Dzat yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu pun dari makhlukNya yang menyerupaiNya, dan tidak ada sesuatupun dari makhlukNya yang dapat meliputiNya. Dia Maha Tinggi, Maha Besar, dan Maha Membedakan semua makhluk. Bumi dan langit tidak dapat memuatNya, bahkan Dialah Dzat yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu dan Maha Suci dari kemiripan dengan makhlukNya. Firman Allah SWT: ((Allah berfirman), "Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (9)) Allah memberitahu kepadanya bahwa yang sedang berbicara kepadanya adalah Tuhannya, Allah yang Maha Perkasa, yang mengalahkan, dan yang menundukkan segala sesuatu, dan Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatanNya. Kemudian Allah memerintahkannya untuk melemparkan tongkat yang ada di tangannya untuk menunjukkan kepadanya bukti yang jelas bahwa Dialah Dzat yang berbuat, memilih, dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Setelah nabi Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar, dan gerakannya sangat cepat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit) Kata “Al-Jan” adalah ular yang cepat dan banyak gerakannya. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW melarang membunuh ular-ular yang ada di rumah-rumah. Setelah nabi Musa menyaksikan hal itu: (larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh) yaitu tidak menoleh ke belakang lagi karena sangat takut yang mencekam ((Allah berfirman), "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak akan takut di hadapanKu") yaitu, janganlah takut terhadap apa yang kamu lihat, sesungguhnya Aku hendak memilihmu sebagai seorang rasul dan Aku akan menjadikanmu sebagai seorang nabi yang terkemuka. Firman Allah SWT: (tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (11)) Ini adalah istisna’ munqati' yang di dalamnya terdapat kabar gembira yang besar bagi manusia, karena disebutkan bahwa barangsiapa yang mengerjakan suatu keburukan, lalu meninggalkannya, bertaubat dan kembali kepada Allah, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sebagaimana Allah SWT berfirman (Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (82)) (Surah Thaha) dan (Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (110)) (Surah An-Nisa’). Ayat-ayat yang menunjukkan hal ini cukup banyak. Firman Allah: (Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit) Ini adalah mukjizat lainnya yang jelas yang menunjukkan kekuasaan Allah, Dzat yang melakukan segala sesuatu, yang memilih, dan membuktikan kebenaran utusan yang diberikan kepadanya dengan mukjizat. Allah memerintahkan kepadanya untuk memasukkan tangannya ke saku bajunya, dan ketika dia memasukkan dan mengeluar­kannya, maka tangannya menjadi putih bersinar, seakan-akan kilat yang menyambar, sangat menyilaukan mata. Firman Allah SWT: ((Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat) yaitu, kedua mukjizat ini merupakan sebagian dari sembilan mukjizat yang Aku kuatkan kamu dengannya dan Aku menjadikannya sebagai bukti yang membenarkanmu kepada Fir'aun dan kaumnya (Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik) Inilah sembilan mukjizat itu yang disebutkan Allah SWT: (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata) (Surah Al-Isra': 101) sebagaimana penjelasan itu telah disebutkan di sana. Firman Allah SWT: (Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka) yaitu dengan jelas dan terang (berkatalah mereka, "Ini adalah sihir yang nyata") Mereka bermaksud menentangnya dengan sihir mereka, tetapi mereka dikalahkan dan kembali dalam keadaan hina (Dan mereka mengingkarinya) yaitu yang tampak pada urusan mereka (padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya) yaitu mereka mengetahui dalam diri mereka bahwa itu adalah kebenaran dari sisi Allah, tetapi mereka mengingkari, membangkang dan bersikap angkuh terhadapnya (Karena kezaliman dan kesombongan (mereka)) yaitu, dalam diri mereka telah tertanam watak zalim dan sombong, tidak mau mengikuti kebenaran. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan) yaitu perhatikanlah, wahai Muhammad, bagaimanakah akibat mereka itu karena Allah membinasakan mereka dengan menenggelamkan mereka semuanya dalam waktu yang singkat. Maksudnya adalah dikatakan,”Waspadalah, wahai orang-orang yang mendustakan Muhammad dan mengingkari Al-Qur,'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, bahwa kalian pasti akan tertimpa azab seperti yang telah menimpa mereka dengan azab yang lebih dahsyat dan lebih kuat, karena sesungguhnya nabi Muhammad SAW itu lebih mulia lagi lebih agung daripada nabi Musa, dan bukti beliau lebih jelas dan lebih kuat daripada bukti nabi Musa melalui apa yang dianugerahkan Allah kepada beliau, berupa dalil-dalil yang diiringi dengan apa yang ada pada diri dan kemuliaan akhlak beliau serta berita gembira yang disampaikan oleh para nabi terdahulu tentang beliau dan janji serta ikrar yang diambil Tuhannya darinya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

7 maksudnya, ingatlah kondisi yang utama lagi sangat mulia ini drai kondisi-kondisi Nabi Musa bin Imran, yaitu pada permulaan mendapat wahyu, dan terpilihnya dia menjadi RasulNya, serta pembicaraan Allah secara langsung kepadanya. Yaitu, setelah dia tinggal di negeri madyan dalam beberapa tahun lamanya, kemudian dia berjalan bersma keluarganya drai madyan menuju mesir. Ketika dia di tengah perjalanan, dia tersesat, dan pada saat itu dia berada dalam kegelapan malam yang sangat dingin. Maka dia berkata kepada mereka (keluarganya),” sesungguhnya aku melihat api,” aku melihat adanya api dari kejauhan. “aku nanti akan membawa kepadamu kabar drainya,” tentang jalan, “atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang,” maksudnya, kalian dapat menghangatkan badan. Ini menunjukan bahwa Musa tersesat dan sudah sangat kedinginan dan begitu pula keluarganya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

7. Ingatlah wahai Nabi, ketika Musa berkata kepada istrinya dalam perjalanan Madyan menuju Mesir: "Sesungguhnya aku melihat api dari kejauhan. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar dari api itu, agar dapat menunjukkan jalan untuk kita. Atau aku akan membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat menghangatkan diri dari dingin".

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Az-Zumar (39): Ayat 9 Rujukan #10
أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
am man huwa qānitun ānā`al-laili sājidaw wa qā`imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjụ raḥmata rabbih, qul hal yastawillażīna ya’lamụna wallażīna lā ya’lamụn, innamā yatażakkaru ulul-albāb
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur'an, salat, dan berzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya' wahai nabi Muhammad, katakanlah, 'apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berzikir, dan melaksanakan salat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya'' sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. 10. Sangatlah jauh perbedaan antara orang mukmin dengan orang kafir. Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada orang mukmin bahwa Allah berfirman, 'wahai hamba-hamba-ku yang beriman! bertakwalah kepada tuhanmu, taatilah perintah-Nya, dan ikutilah rasul-Nya. ' bagi orang-orang yang berbuat baik dan taat pada perintah Allah, di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan kehidupan di suatu tempat yang sejahtera. Dan bila kesejahteraan dan kebebasanmu beribadah terganggu, sungguh bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah ke tempat yang lebih baik (lihat pula: surah an-nis'/4: 97). Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya oleh Allah tanpa batas. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman bahwa apakah orang yang mempunyai sifat demikian itu seperti orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan bagiNya tandingan-tandingan? Tentu saja tidak sama di sisi Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Mereka itu tidak sama: di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (salat) (113)) (Surah Ali Imran) dan di sini Allah berfirman: ((Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri) yaitu dalam keadaan sujud dan berdirinya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dia berkata bahwa “al-qanit” adalah orang yang taat kepada Allah SWT dan RasulNya SAW. As-Suddi, dan Ibnu Zaid berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah tengah malam. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud “ana’al lail” adalah permulaan, pertengahan, dan akhirnya. Firman Allah SWT: (Sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) yaitu dalam ibadahnya dia takut dan berharap. Suatu keharusan dalam ibadah yaitu hal ini dan hal itu, dan hendaknya ketakutan kepada Allah lebih besar daripada masa hidupnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (sedangkan ia takut kepada (azab) hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya) dan apabila sedang menjelang ajal, hendaklah harapan itu lebih menguasai dirinya. Firman Allah SWT: (Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”) yaitu, apakah orang yang demikian itu sama dengan orang yang sebelumnya yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah? (Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran) yaitu sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara golongan ini dan itu hanyalah orang yang mempunyai akal.

Tafsir As-Sa'di
Buka

9. Ini adalah kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya yang jauh. Maka tidaklah sama orang berpaling dari ketaatan kepada Rabbnya, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang gemar beribadah, yakni, taat kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang paling utama, yaitu seperti shalat; dan pada waktu-waktu yang paling utama, seperti waktu-waktu di malam hari. Allah menyifati orang yang gemar beribadah itu dengan “banyak beramal dan melakukan yang paling utama.” Kemudian Allah menyifatinya dengan “sifat takut dan harap,” dan Allah juga menyebutkan sebab yang menimbulkan rasa takutnya, yaitu takut akan azab di akhirat atas dosa-dosa yang telah lalu yang terlanjur ia lakukan, dan juga sebab yang menimbulkan sifat pengharapan yaitu adanya rahmat Allah. Dengan demikian Allah menyifatinya dengan amal lahiriyah dan amal batiniyah. “Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui” Rabb mereka dan juga mengetahui AgamaNya yang bersifat balasan di akhirat, dengan segala rahasia dan hikmah di balik itu, “dengan orang-orang yang tidak mengetahui” sesuatu pun dari semua itu? Mereka yang berilmu tidak sama dengan mereka yang bodoh; demikian pula tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dan kegelapan, dan air dengan api. “Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni, orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahiNya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

9. Apakah orang kafir yang demikian itu lebih baik keadaan dan hartanya? Ataukah orang mukmin yang taat dan takut kepada Tuhannya yang lebih baik? Yang sepanjang malam ia berdoa, yang menundukkan kepalanya di tanah dan bermunajah atas kebenaran dalam shalatnya, yang takut akan siksa akhirat, yang tercukupi bahagianya, katakanlah hai Muhammad: apakah orang yang alim (tahu) itu sama dengan orang yang bodoh: keduanya tidak sama, sesungguhnya itu adalah nasihat bagi mereka yang berikir. Kalimah (min) tersusun dari kata (am) dan (min), (am) disini berarti istifham inkari yang berfaidah nafi, dan makna (bal:tetapi), bermakna perpindahan dari satu kalam ke kalam lain, orang yang shalat: orang yang melanggengkan ketaatan. Ibnu Umar berkata: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Utsman bin Affan, kata Ibnu Abbas: (ayat tersebut) juga dikatakan pada Ibn Mas’ud, Umar bin Yasir dan Salim, Tuannya Abu Hanifah

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Az-Zariyat (51): Ayat 19 Rujukan #11
وَفِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā`ili wal-maḥrụm
"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Orang-orang yang bertakwa itu selalu taat dalam melaksanakan ajaran Allah, dan mereka juga menyadari bahwa pada harta benda yang mereka miliki sesungguhnya ada hak yang mesti dikeluarkan, baik berupa zakat maupun sedekah, untuk orang miskin yang meminta bantuan dan orang miskin yang tidak mengulurkan tangan untuk meminta kepada orang lain. 20-21. Allah adalah pencipta alam semesta. Tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya terdapat di seluruh penjuru langit, dan selain itu di bumi juga terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun semuanya itu hanya dapat dipahami bagi orang-orang yang yakin, dan di samping itu, sesungguhnya keagungan Allah juga banyak ditemukan pada dirimu sendiri. Sesudah dipahami semua tanda-tanda itu, maka apakah kamu tetap lalai dan tidak memperhatikan semua yang dapat disaksikan itu'.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 15-23 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT bahwa sesungguhnya mereka di hari mereka dikembalikan kepadaNya, mereka berada di taman-taman dan mata air-mata air. Berbeda dengan orang-orang yang celaka. Mereka mengalami azab, pem­balasan, dibakar, dan dirantai dengan belenggu-belenggu. Firman Allah SWT: (sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka) Ibnu Jarir berkata bahwa maknanya adalah mengamalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT atas mereka (Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik) yaitu sebelum diperintahkan untuk mengerjakan hal-hal fardhu, mereka adalah orang-orang yang berbuat baik dalam amal perbuatannya Tafsir yang dikemukakan Ibnu Jarir masih perlu ditinjau kembali, karena firman Allah SWT, (Akhidzina) merupakan “haal” dari firmanNya: (berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air) Maka orang-orang yang bertakwa, di dalam taman-taman dan mata air-mata air yang mereka terima dari pemberian Tuhan mereka berupa kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan. Firman Allah: (Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia) yaitu di dunia (adalah orang-orang yang berbuat baik) sebagaimana firmanNya: ((kepada mereka dikatakan), "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (24)) (Surah Al-Haqqah) Kemudian Allah SWT menjelaskan kebaikan amal perbuatan mereka, jadi Allah berfirman: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) Hasan Al-Bahsri berkata firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) Mereka menjalani shalat malam hari dengan keteguhan hati, sehingga mereka tidak tidur di malam hari kecuali hanya sedikit. Mereka mengerjakannya dengan semangat sehingga mereka memanjangkan waktunya sampai waktu sahur, sehingga bacaan istighfarnya di waktu sahur. Ma'mar berkata tentang firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam) (17)) Az-Zuhri dan Al-Hasan, keduanya berkata bahwa mereka banyak tidur di malam hari dan tidak shalat. Ibnu Abbas dan Ibrahim An-Nakha'i berkata tentang firmanNya: (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (17)) yaitu mereka tidak tidur. Firman Allah: (Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah) (18)) Mujahid dan lainnya berkata bahwa maknanya adalah mereka melakukan shalat. Ulama lainnya berkata bahwa mereka mendirikan shalat sunnah di malam hari, dan istighfarnya sampai waktu sahur. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan yang memohon ampun di waktu sahur) (Surah Ali Imran: 17) Dan ketika istighfar dilakukan dalam shalat, maka itu lebih baik. Firman Allah: (Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (19)) Setelah Allah SWT menyifati mereka sebagai orang-orang yang rajin shalat, lalu menyebutkan sifat terpuji mereka lainnya, dengan menunaikan zakat, berbuat baik, dan menyambung silaturahmi. Maka Allah SWT berfirman: (Dan pada harta mereka ada hak) yaitu bagian yang dpisahkan, sengaja disiapkan untuk diberikan kepada orang yang meminta dan yang tidak mendapat bagian. Adapun “As-sa’il” maka itu sudah diketahui, yaitu orang yang mulai meminta-minta dan dia berhak untuk itu, Adapun “Al-mahrum” maka Ibnu Abbas dan Mujahid berkata bahwa artinya orang yang beruntung karena tidak mempunyai jatah dari Baitul Mal, tidak mempunyai mata pencaharian, tidak mempunyai keahlian yang dapat dijadikan untuk memenuhi penghidupannya. Qatadah dan Az-Zuhri berkata bahwa (Al-mahrum) adalah orang yang tidak pernah meminta sesuatu pun dari orang lain. Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa “Al-mahrum” adalah orang yang tidak memiliki harta lagi karena suatu penyebab, semua hartanya telah lenyap. Baik hal itu karena dia tidak mampu mencari pencaharian atau karena hartanya habis karena musibah atau hal yang sejenis. Firman Allah: (Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin (20)) yaitu di bumi banyak terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran penciptaan dan kekuasaanNya yang mengagumkan, yaitu melalui apa yang Dia sebar di bumi ini berupa berbagai macam tumbuhan, hewan-hewan, dan bumi yang terhampar, gunung-gunung, hutan belukar, sungai-sungai, lautan, dan perbedaan lisan dan warna kulit manusia serta pembawaan yang telah diciptakan dalam mereka berupa berbagai kehendak dan kekuatan, serta perbedaan yang ada pada mereka dalam akal, pemahaman, gerakan, kebahagiaan, dan kecelakaan. Pada susunan tubuh mereka terdapat hikmah karena Allah telah meletakkan setiap anggota tubuh pada mereka di tempat-tempat yang tepat dan dibutuhkan. Oleh karena itu Allah berfirman: (dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (21)) Kemudian Allah berfirman: (Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu) yaitu hujan (dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu) yaitu surga. Pendapat ini dikatakan Mujahid dan lainnya. Firman Allah: (Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan (23)) Allah SWT bersumpah dengan menyebut DzatNya yang Maha Mulia, bahwa apa yang Dia janjikan kepada mereka terkait hari kiamat, hari kebangkitan, dan hari pembalasan bahwa itu pasti akan terjadi dan merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, janganlah ragu-ragu, sebagaimana kalian tidak ragu bahwa manusia itu dapat berbicara. Mu'adz bin Jabal apabila berbicara mengenai sesuatu, dia mengatakan kepada orang yang diajak bicara bahwa sesungguhnya ini merupakan kebenaran, sebagaimana kebenaran keberadaanmu di sini.

Tafsir As-Sa'di
Buka

Tafsir Al-Wajiz
Buka

19. Di dalam harta mereka ada bagian untuk orang fakir yang tidak memiliki apapun dan orang lemah yang tidak mampu melakukan usaha apapun atau orang fakir yang lemah.

Tafsir Al-Mishbah
Buka