Indikator 35: Pengambilan Keputusan, Penunjang, Decision Support System
Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Setelah pada ayat-ayat terdahulu Allah menjelaskan adanya kelompok manusia yang ingkar atau kafir kepada-Nya, maka pada ayat ini Allah menjelaskan asal muasal manusia sehingga menjadi kafir, yaitu kejadian pada masa nabi adam. Dan ingatlah, wahai rasul, satu kisah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat, aku hendak menjadikan khalifah, yakni manusia yang akan menjadi pemimpin dan penguasa, di bumi. Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi sampai hari kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah atau tugas-tugas keagamaan. Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud Allah. Mereka berkata, apakah engkau hendak menjadikan orang yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di sana dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu' malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman, sungguh, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah di dunia ini. Allah mahatahu bahwa pada diri manusia terdapat hal-hal negatif sebagaimana yang dikhawatirkan oleh malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak. Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa sebuah rencana besar yang mempunyai kemaslahatan yang besar jangan sam-pai gagal hanya karena kekhawatiran adanya unsur negatif yang lebih kecil pada rencana besar tersebut. Salah satu sisi keutamaan manusia dijelaskan pada ayat ini. Dan dia ajarkan kepada adam nama-nama semuanya, yaitu nama bendabenda dan kegunaannya yang akan bisa membuat bumi ini menjadi layak huni bagi penghuninya dan akan menjadi ramai. Benda-benda tersebut seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda lainnya. Kemudian dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada para malaikat dan meminta mereka untuk menyebutkan namanya seraya berfirman, sebutkan kepada-ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar! Allah ingin menampakkan kepada malaikat akan kepatutan nabi adam untuk menjadi khalifah di bumi ini. [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal anugrah-Nya yang diberikan kepada Bani Adam, yaitu sebagai makhluk yang mulia, mereka disebutkan dikalangan makhluk yang mempunyai kedudukan tertinggi -yaitu para malaikat- sebelum mereka diciptakan. Untuk itu Allah berfirman: ( ) Makna yang dimaksud adalah “dan ingatlah Muhammad, ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak seorang kholifah dimuka bumi ini, yaitu suatu kaum yang sebahagiannya akan menggantikan sebahagian yang lain dan saling berganti, abad demi abad dan generasi demi generasi. Dan ceritakanlah hal ini kepad umatmu hai Muhammad” Al Qurtubi menukil dari zaid bin ali, yang dimaksud kholifah dalam ayat ini bukan Adam AS saja, sebagaimana yang dikatakan sejumlah ahli tafsir. Alqurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu A’bas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Walaupun dalam masalah ini terjadi perselisihan pendapat diantara beberapa ahli tafsir. Akan tetapi yang dzohir dalam makna ayat tersebut memang bukanlah Nabi Adam As sebagai kholifah, akan tetapi bani adam secara umum. Hal itu bias disimpulkan dari ucapan para malaikat ketika mendengar berita kekhilafan ini dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka berkata : “Mengapa engkau hendak menjadikan (khilafah) di bumi ini orang yang akan berbuat keruksakan padanya dan akan menumpahkan darah?” Maka maksud dari ucapan mereka (malaikat) ini adalah diantara jenis makhluk ini (manusia) akan ada yang melakukan perbuatan tersebut, dan bukan Nabi Adam yang melakukannya. Timbul pertanyaan besar dalam memahami ucapan malaikat tersebut, dari mana malaikat mengetahui bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi dan akan menumpahkan darah sedangkan Nabi Adam sendiri belum Allah ciptakan?. Menurut imam Alqurtubi ada beberapa kemungkinan malaikat mengucapkan pertanyan tersebut : Pertama bisa jadi para malaikat mengetahui nya dengan ilmu yang khusus dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedua, mereka pahami dari watak manusia yang akan Allah ciptakan, karena sebelumnya Allah telah memberi tahu malaikat bahwa Dia akan mencipatakan makhluk ini (manusia) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam, sebagaimana firman-Nya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (QS Al-Hijr :28) Ketiga, para malaikat memahami bahwa yang dimaksud dengan kholifah adalah mereka yang akan melerai pertengkaran diantara manusia, yaitu yang memutuskan hukum terhada apa yang terjadi dikalangan mereka yang bersangkutan dengan masalah penganiayaan dan melarang mereka dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan ataupun perbuatan dosa. Keempat, para Malaikat mengqiyaskan manusia kepada makhluk sebelumnya yang menghuni bumi sebelum mereka yaitu bangsa Jin, sebagaimana penuturan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami abu kurai telah menceritakan kepada kami Usman Ibnu Said, telah menceritakan kepada kami Bisyr Ibnu Imaroh, dari Abu rauq, dari Ad-dahak dari Ibnu ‘Abbas mengatakan “sesungguhnya yang pertama menghuni bumi ini adalah bangsa jin. Lalu mereka berbuat kerusakan di bumi ini dan banyak menumpahkan darah serta sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain.” Ibnu abbas melanjutkan “lalu Allah mengirim Iblis untuk memerangi mereka. Akhirnya iblis dan para Malaikat memerangi mereka hingga mengejar mereka sampai ke pulau-pulau yang ada diberbagai laut dan sampai ke puncak-puncak gunun. Setelah itu Allah menciptakan Adam lalu menempatkannya di bumi. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang kholifah di muka bumi” Ucapan para malaikat ini bukan untuk menentang atau memprotes keputusan Allah, dan bukan pula karena rasa iri dengki kepada manusia, kerna hakikatnya malaikat adalah makhlik yang selalu taat kepada Allah, tidak pernah menduhului Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala hal, mereka akan tunduk terhadap segala perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi maksud dari ucapan ini adalah meminta informasi kepada Allah tentang hikmah yang terkandung dari penciptaan manusia sebagai kholifah dimuka bumi ini. Mereka mengatakan “wahai tuhan kami,apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang yang akan berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah? Jika yang dimaksudkan agar engkau disembah, maka kami selau bertasbih memujimu dan mensucikanmu dengan ibadah”. Dengan kata lain seolah malaikat ingin mengatakan “dan kami tidak pernah berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, kenapa tidak kami saja yang engkau jadikan kholifah?”. Maka Allah berfirman untuk menjawab pertanyaan tersebut : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut mashlahat yang jauh lebih kuat dalam penciptaan manusia sebagai khalifah daripada mafsadat yang kalin sebutkan. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rosul-rosul, diantara mereka akan ada para siddiqin, para syuhada, orang-orang sholeh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang yang bertaqwa, para muqorrobin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyuk, orang-orang yang cinta kepad Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti jejak Rosul-Nya. Imam Al-Qurthubi dan yang lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya mengangkat seorang kholifah untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan diantara manusia, menyelesaikan persengketaan mereka, menolong orang yang teraniaya dari tindakan sewenang-wenang orang dzolim kepada mereka, menegakan hokum-hukum had, dan memperingatkan mereka dari perbuatan keji serta hal-hal penting lainnya yang tidak bisa dilaksankan keculai denga adanya seorang imam, mengingat suatu hal yang merupakan kesempurnaan sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib. Pengangkatan imam bias dilakukan dengan metode nash seperti yang terjadi pada pengangkatan Abu Bakar ash-shidiq ra, atau dengan cara ditunjuk, atau dengan cara diangkat oleh imam sebelumnya seperti proses pengangkatan sahabat Umar bin khotob ra yang ditujuk oleh kholifah Abu bakar ra, atau dengan metode musyawarah yang dilakukan oleh orang-orang sholeh seperti yang dilakukan Umar bin Khottob saat menentukan imam pengganti dirinya yaitu kholifah terpilih sahabat Utsman bin affan ra atau dengan kesepakatan ahlul hilli wal ‘aqdi yang membaiatnya. Seorang kholifah wajib laki-laki, merdeka, balig, berakal, muslim, adil, mujtahid dan bias melihat, semua anggota tubuhnya sehat dan berpengalaman dan masalah petempuran dan memiliki pandangan yang tajam serta akurat. Dan disyaratkan dari kalangan bangsa Quraisy menurut pendapat yang shohih. Tidak disyaratkan harus terbebas dari kesalahan dan kefasiqan, sehingga walaupun sang imam berbuat fasiq, maka tetap wajib berimamah kepadanya dan tidak boleh memberontak selama tidak berbuat kekafiran. Tidak diperbolehkan ada dua imam dalam satu negeri,demikian pendapat jumhur ulama, sebagaimana sabda Nabi : “Barang siapa yang datang kepada kalian, sedangkan perkara kalian sudah bersatu, dan dia bermaksud memecah belah diantara kalian, maka bunuhlah oleh kalian dimana saja dia berada”
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT menyampaikan pujianNya kepada anak cucu Adam dengan menyebutkan mereka di hadapan para malaikat sebelum penciptaan mereka. Allah SWT berfirman, (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat) maknanya yaitu Ingatlah wahai Muhammad, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat dan ceritakanlah kepada kaummu tentang hal itu. Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ahli bahasa Arab (yaitu Abu 'Ubaidah) dia berpendapat bahwa kata (idz) di sini adalah suatu tambahan. Bentuk ungkapannya yaitu (Wa qaala rabbuka). Namun pendapat ini ditolak oleh Ibnu Jarir. Al-Qurtubi mengatakan bahwa semua mufasir telah menolak pandangan ini, bahkan Az-Zajjaj berkata: "Ini merupakan anggapan yang keliru dari Abu 'Ubaidah" (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi) maknanya kaum yang saling memimpin satu sama lain, masa demi masa, dan dari generasi ke generasi, sebagaimana firmanNya (Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi) (surah Al-An'am: 165), (dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi) (surah An-Naml: 62), dan (Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun(60)) (surah Az-Zukhruf) serta (Maka datanglah sesudah mereka) (surah Al-A'raf: 169) dan (surah Maryam: 59). Yang dimaksud dengan “khalifah” di sini bukan hanya nabi Adam AS saja, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mufasir. Al-Qurtubi menghubungkan pendapat itu kepada Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud, dan seluruh ahli tafsir. Terkait hal ini terdapat perbedaan pendapat, bahkan perbedaan itu banyak. Fakhrudin Ar-Razi telah menyebutkan hal itu dalam tafsirnya, begitu juga yang lainnya. Yang jelas bahwa yang dimaksud bukan hanya nabi Adam AS saja, karena jika begitu, tentu malaikat tidak mengatakan, (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah) Mereka beranggapan bahwa makhluk jenis ini melakukan hal tersebut, dan seolah-olah mereka mengetahui hal tersebut melalui pengetahuan khusus atau memahami watak manusia. Allah memberitahu mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk ini dari tanah liat dari jenis tanah liat hitam yang bisa dibentuk, atau mereka memahami bahwa khalifah yang dimaksud adalah yang memutuskan perselisihan di antara manusia dan mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang dilarang dan perbuatan dosa. Pendapat ini dikatakan oleh Al-Qurtubi, atau mungkin mereka mengetahuinya dari orang-orang ebelumnya. Ucapan para malaikat ini bukanlah bentuk bantahan terhadap Allah, juga bukan bentuk rasa iri terhadap anak cucu Adam AS, sebagaimana yang dianggap beberapa mufasir. Allah telah menggambarkan para malaikat bahwa mereka (mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan) maknanya yaitu mereka tidak bertanya tentang sesuatu yang tidak diizinkan bagi mereka. Di sini Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk di bumi. Qatadah berkata,”Sungguh telah lewat pengetahuan bagi mereka bahwa manusia itu akan berbuat kerusakan di bumi” Lalu mereka berkata (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah). Ini adalah permohonan penjelasan mengenai dari hal itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, apa hikmah dari penciptaan makhluk ini, padahal di antara mereka ada yang berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Jika maksudnya adalah untuk beribadah kepadaMu, maka kami senantiasa bertasbih memujiMu dan menyucikanMu. yaitu kami akan senantiasa menyembahMu sampai waktu mendatang, maknanya hal itu tidak bisa kami pahami, Tidakkah hal itu membatasi kami?” Allah SWT berfirman menjawab mereka terkait pertanyaan ini (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui) maknanya, Sesungguhnya Aku lebih mengetahui kebaikan yang melimpah dalam penciptaan makhluk ini daripada kerusakan yang kalian sebutkan, yaaitu sesuatu yang tidak kalian ketahui. Sesungguhnya Aku akan menjadikan para nabi dan mengutus para rasul di antara mereka, dan akan ada di antara mereka orang-orang yang shiddiq, syahid, shalih, hamba-hamba yang zahid, wali-wali, orang-orang yang berbuat kebaikan, orang-orang yang didekatkan, para ulama, orang-orang yang khusu’, dan orang-orang yang mencintai Allah SWT yang mengikuti para rasulNya, semoga rahmat dan salam tercurahkan kepada mereka. Telah diterangkan dalam hadits yang sahih, bahwa ketika para malaikat menghadap ke hadapan Allah SWT dengan (membawa) amal perbuatan hamba-hambaNya, Allah bertanya kepada mereka (Hanya Allah yang lebih mengetahui) (Bagaimana (keadaan) hamba-hambaKu ketika kalian meninggalkan?) mereka menjawab (Kami mendatangi mereka dan mereka sedang melakukan shalat, lalu kami meninggalkan mereka dan mereka masih melakukan shalat). Hal itu karena mereka saling menjaga kami dan berkumpul pada saat shalat Subuh dan Ashar. Mereka menunggu sementara yang lain sedang naik. Seperti sabda Rasulullah SAW, "Amal perbuatan pada malam hari dinaikkan ke langit sebelum siang hari, dan amal perbuatan pada siang hari dinaikkan ke langit sebelum malam hari" Mereka berkata, "Kami datang kepada mereka sementara mereka sedang shalat dan kami meninggalkan mereka juga sedang shalat." Ini ditafsirkan oleh firman-Nya kepada mereka, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Ucapan mereka,” Kami mendatangi mereka dan mereka sedang melakukan shalat, lalu kami meninggalkan mereka dan mereka masih melakukan shalat” adalah penafsiran dari firmanNya (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui) Abdullah bin Razzaq dari Ma'mar, dari Qatadah tentang firman Allah SWT " padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau) bahwa makna “Tasbih” adalah “bertasbih dan “taqdis” adalah shalat" Mujahid berkata,”Taqdis adalah Kami mengagungkan dan membesarkanMu." Ibnu Jarir berkata,"Taqdis adalah mengagungkan dan mensucikan. Di antaranya adalah ucapan mereka berkata, “Subbuhun Quddusn”, makna “Subbuhun” adalah, kami mensucikan Allah dan “Quddusun”adalah kami mensucikan dan mengagungkan Allah. Oleh karena itu, dikatakan untuk bumi sebagai tanah yang suci. Yaitu yang disucikan. Jadi makna dari ungkapan malaikat (padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau) yaitu Kami mensucikanmu dari penambahan apapun yang dikaitkan oleh orang-orang musyrik kepadaMu, dan (dan mensucikan Engkau) maknanya adalah kami mengaitkanMu dengan hal-hal yang merupakan sifat-sifatMu berupa kesucian dari kotoran dan penambahan yang dikaitkan kepadamu oleh orang kafir Dalam kitab “Sahih Muslim” (diriwayatkan) dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwa Rasulullah SAW ditanya, "Ucapan apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Kalimat yang dipilihkan Allah untuk para malaikat, yaitu Subhanallah wa bi hamdihi"
Tafsir As-Sa'di
Buka
30. Ini adalah permulaan penciptaan nabi Adam alaihissalam, bapak moyang manusia dan keutamaan beliau, dan bahwasanya Allah ta’ala ketika ingin menciptakannya, Allah mengabarkan kepada para malaikat tentang hal tersebut, dan bahwasanya Allah ta’ala menjadikannya sebagai khlifah di bumi, lalu para malaikat berkata, ”mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dengan kemaksiatan-kemaksiatan dan menumpahkan darah?” hal ini merupakan uraian secara khusus setelah disebutkan secara umum demi menjelaskan besarnya kerusakan akibat pembunuhan itu. Dan hal itu adalah sebatas dugaan para malaikat, bahwasanya khalifah yang akan di ciptakan di bumi itu akan melakukan hal-hal yang mereka sebutkan, lalu mereka menyucikan Sang Pencipta dari hal itu semua dan mengagungkanNya, kemudian mereka mengungkapakan bahwasanya mereka dalam setiap kondisi selalu beribadah kepadaNya tanpa berbuat kerusakan, maka mereka berkata, ”padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiMu, ” maksudnya, kami menyucikanMu dengan segala kesucian yang sesuai dengan segala pujian dan keagunganMu, ”dan menyucikanMu, ” kemungkinan artinya adalah menyucikanMu, jadi huruf lam mengandung maksud pengkhususan dan keikhlasan, atau mungkin juga dapat berarti kami menyucikan diri kami karenaMu yaitu membersihkannya dengan cara menghiasinya dengan akhlak-akhlak yang mulia, seperti mencintai Allah, takut kepadaNya, dan mengagungkanNya, dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang hina. Selanjutnya, ”Dia berkata, ” yakni, Allah berkata kepada malaikat, ”sesungguhnya Aku mengetahui, ” dari khalifah ini, ”apa yang kamu tidak ketahui, ” karena perkataan kamu adalah menurut apa yang kamu sangkakan, sedangkan Aku mengetahui yang Nampak maupun yang tersembunyi, dan Aku mengetahui bahwasanya kebaikan yang di peroleh dari penciptaan khalifah ini adalah lebih besar berlipat ganda sekalipun termasuk di dalamnya ada pula keburukan-keburukan. Dan sekiranya saja dalam hal itu tidak ada kebaikan kecuali bahwa Allah hendak memilih di antara mereka para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang yang shalih, juga agar ayat-ayat Allah Nampak jelas bagi makhluk, lalu penyembahan kepada Allah menjadi ada yang tidak mungkin ada tanpa penciptaan khalifah tersebut seperti berjihad atau lain-lainnya, dan agar Nampak sesuatu yang di rahasiakan oleh insting orang-orang yang mukallaf, berupa kebaikan maupun kejahatan dengan ujian, dan agar jelas antara musuhNya dari waliNyadan golonganNya dari yang memerangiNya, dan agar Nampak pula apa yang tersirat oleh jiwa iblis dari kejahatan yang terpatri padanya dan menjadi karakternya, niscaya itu semua sudah cukup sebagai hikmah-hikmah yang agung yang tidak perlu mencari hikmah selainnya. Kemudian ketika perkataan para malaikat menunjukkan keutamaan mereka atas khalifah yang akan di ciptakan oleh Allah di muka bumi, maka Allah hendak menjelaskan kepada mereka tentang keutamaan nabi Adam yang membuat mereka mengetahui keutamaan Allah, kesempurnaan hikmah, dan ilmuNya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Dan ingatkanlah kaummu wahai Muhammad ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, yaitu Adam. Aku mewakilkan kepadanya urusan pemakmuran bumi dan pelaksanaan hukum-hukumKu”. Lalu para malaikat berkata dalam diri mereka sendiri: “Bukankah Engkau akan menciptakan di dalamnya seseorang yang kelak akan melakukan kerusakan dengan berbuat kemusyrikan dan kemaksiatan?”. Sungguh mereka telah mengetahui hal itu karena telah diajarkan oleh Allah dengan suatu cara tertentu. Maksud ucapan mereka adalah “Apakah Engkau hendak menciptakan di dalamnya orang yang mengalirkan darah yang haram dengan saling membunuh, menyakiti dan bertikai, sedangkan kami adalah ciptaan-ciptaan yang selalu bersyukur, memujiMu dan mensucikanMu dari hal-hal yang tidak sesuai denganMu?”. Kemudian Allah berfirman: “Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui, yaitu akan ada di antara para khalifah itu, para nabi dan orang-orang shalih
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan penuh sabar, dengan memelihara keteguhan hati dan menjaga ketabahan, serta menahan diri dari godaan dalam menghadapi hal-hal yang berat, dan juga dengan melaksanakan salat. Dan salat itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk dan tunduk hatinya kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya [Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb] Melalui firman-Nya ini, Allah ta’ala menyuruh hamba-Nya untuk meraih kebiakan dunia dan akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan sholat sebagai penolong. Sebagaimana yang dikatakan Muqotil Bin Hayyan dalam tafsirnya mengenai ayat ini : “Hendaklah kalian mengejar kehidupan dunia dan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajiban dan shalat sebagai penolong”. Menurut Mujahid yang dimaksud dengan sabar dalam ayat ini adalah shiyam (puasa). Al-Qurtubi dan ulama lainnya mengatakan, “oleh karena itu bulan Ramadhan disebut sebagai bulan kesabaran”. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabar pada ayat tersebut adalah menahan diri dari perbuatan maksiat, karena disebutkan bersama dengan pelaksanaan berbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah sholat. Ibnu Abi Hatim telah berkata, bahwa Umar Bin Khottob pernah berkata : “Sabar itu ada dua; sabar ketika mendapatkan musibah adalah baik, dan lebih baik lagi bersabar dalam menahan diri dari mengerjakan apa yang Allah haramkan”. Hal yang semakna juga telah diriwayatkan oleh Hasan Al-Bashri. Ibnul Mubarok meriwayatkan dari Said bin Jubair, katanya, “kesabaran itu adalah pengaduan hamba kepada Allah ta’ala atas apa yang menimpa dan mengharap keridhoan di sisi-Nya menghendaki pahala-Nya. Terkadang seseorang merasa cemas tetapi ia tetap tegar, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran”. Adapun sholat, ia merupakan pertolongan yang paling besar untuk bias tetap dan yakin dalam suatu urusan, sebagaimana firman Allah ta’ala : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut : 45) Imam Ahmad telah meriwayatkan dari hudaifah Ibnu Yaman bahwasanya ia berkata; “Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam jika ditimpa satu masalah, maka segera mengerjakan sholat” (HR. Abu Daud) Adapun firman-Nya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” Sunaid meriwayatkan dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, Ia mengatakan bahwa sabar dan sholat merupakan penolong untuk mendapatkan rahmat Allah ta’ala. Adapun dhomir yang digunakan dalam firman-Nya : Kembali kepada kalimat sholat. Demikian dinyatakan oleh Mujahid dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan bisa juga kembali pada kandungan ayat itu sendiri, yaitu perintah untuk melakukan sabar dan sholat sebagai cara meminta pertolongan. Artinya, bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup dan melaksanakan sholat itu adalah sesuatu yang berat, kecuali untuk orang-orang yang khusyu’. Mujahid mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar keimanan”. Ad-Dhohak mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang tunduk dalam ketaatan kepada-Nya, yang takut akan kekuasaan-Nya, serta yang yakin dengan janji dan ancaman-Nya. Ibnu jarir mengatakan, makna ayat ini adalah “wahai sekalian orang ‘alim dari kalangan ahlu kitab, mohonlah pertolongan dengan menahan diri kalian dalam ketaatan kepada Allah dan mendirikan sholat yang dapat mencegah kalian dari kekejian dan kemungkaran serta dapat mendekatkan diri kalian kepada keridhoan Allah. Hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu mereka yang patuh dan tunduk dalam ketaatan kepada-Nya serta merendahkan diri karena takut kepada-Nya”. Secara kontekstual, ayat ini ditujukan kepada Bani Isroil, namun yang dimaksud tentu bukanlah hanya mereka semata, akan tetapi ditunjukan secara umum baik kepada mereka maupun selain mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Allah SWT berfirman (dengan memberikan perintah) kepada hamba-hambaNya tentang apa yang mereka harapkan berupa kebaikan di dunia dan akhirat, dengan memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat. Seperti yang diungkapkan oleh Muqatil bin Hayyan tentang tafsir ayat ini: “Mintalah pertolongan untuk mencari akhirat dengan kesabaran dalam menjalankan kewajiban dan shalat." Terkait kesabaran, dikatakan bahwa itu adalah puasa, Hal itu dikatakan oleh Mujahid. Abu Al-'Aliyah berkata tentang firman Allah SWT: (Dan memohon pertolonganlah dengan kesabaran dan shalat), bahwa itu adalah untuk meraih keridhaan Allah, dan ketahuilah bahwa shalat adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Adapun firmanNya: (Dan shalat), maka sesungguhnya shalat adalah salah satu bentuk pertolongan terbesar untuk meneguhkan diri dalam segala urusan, sebagaimana Allah berfirman: (Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar)." (Surah Al-'Ankabut: 45) Imam Ahmad berkata bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,”Rasulullah SAW ketika ditimpa suatu masalah, beliau shalat" Kata ganti dalam firmanNya (Wa Innaha) merujuk kepada shalat, Hal ini diungkapkan oleh Mujahid. Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Hal ini kemungkinan merujuk kepada apa yang diindikasikan oleh kalam tersebut, yaitu nasehat untuk melaksanakan hal tersebut, sebagaimana firman Allah dalam kisah Qarun: (Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".(80)) (Surah Al-Qashas), dan Allah SWT berfirman, (Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (35)) (Surah Fushilat), yaitu bahwa nasehat yang disampaikan ayat ini kecuali orang-orang yang bersabar. Dan apa yang dianugerahkan (sesuatu yang diberikan dan diilhamkan) kecuali kepada orang yang memiliki keuntungan yang besar Pada setiap penafsiran, firman Allah SWT (Wa Innaha la labiiratun) yaitu penderitaan yang sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.' Ibnu Abi Thalhah mengutip dari Ibnu Abbas, maksudnya adalah orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah. Mujahid berkata orang-orang mukmin yang sesungguhnya. Abu Al-'Aliyah berkata,( kecuali bagi orang-orang yang khusyu') maknanya yaitu orang-orang yang takut (azab Allah). Ibnu Jarir berkata tentang makna ayat ini, “Memohonlah pertolongan “Wahai para pendeta Ahlul Kitab” dengan mendedikasikan diri kalian untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dan mendirikan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan mendekatkan kepada keridhaan Allah, dan yang sangat sangat besar (manfaatnya) bagi mereka yang merendahkan diri untuk melakukan ketaatan kepadaNya, yang tunduk karena takut kepadaNya.' Demikianlah pendapat yang disampaikan. Yang jelas bahwa ayat ini (jika berbicara dalam konteks peringatan kepada Bani Israil) menjelaskan bahwa ini dimaksudkan khusus hanya untuk mereka, melainkan bersifat umum yaitu untuk mereka dan selain mereka. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Terkait firman Allah SWT,((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya (46)) yaitu bahwa firmanNya ini adalah untuk melengkapi firman sebelumnya, yaitu bahwa shalat atau nasehat itu adalah sesuatu yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yang merakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, artinya mereka tahu bahwa mereka akan dikumpulkan untuk menghadap kepadaNya pada hari kiamat (bahwa mereka akan kembali kepadaNya) artinya segala urusan mereka kembali kepada kehendakNya, Dia akan menghakimi hal itu sesuai dengan keadilanNya. Oleh karena itu ketika mereka meyakini adanya hari kebangkitan dan pembalasan sehingga menjadi mudah bagi mereka untuk melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar. Adapun terkait firmanNya, "((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Ibnu Jarir berkata bahwa bangsa Arab terkadang menggunakan “zhanna”untuk menyebut “yakin” dan “ragu”, melihat mereka menyebut “sudfah” (kegelapan) untuk “kegelapan” dan “cahaya”, serta menyebut “Sharih” untuk “orang yang menolong“ dan untuk “orang yang meminta pertolongan”, dan 'orang yang meminta pertolongan' untuk 'penolong'. Dan berbagai kata-kata yang dipakai untuk menyebut sesuatu dan lawan katanya. Seperti yang dikatakan oleh Duraid bin As-Shimmah: 'Aku berkata kepada mereka, "Yakinlah pada ribuan hal yang terselubung" “yang meliputi mereka dengan kuda yang diselubungi baju besi” Maknanya yaitu Yakinlah kepada ribuan hal yang terselubung yang datang kepada kalian. Di antara penjelasan tentang hal itu adalah firman Allah SWT,(Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya) (Surah Al-Kahfi: 53). Mujahid berkata,"Setiap keyakinan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah ilmu" Terkait firman Allah SWT, ((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Abu Al-'Aliyah berkata bahwa (zhannu) di sini adalah keyakinan.
Tafsir As-Sa'di
Buka
45. Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi taqdir-taqdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada, dan barangsiapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyu’an, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisiNya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyu’ adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
Saling tolong-menolonglah kalian dengan bersabar dalam ketaatan dan menahan nafsu syahwat; dan melakukan shalat pada waktunya dengan khusyu’ karena dalam keduanya ada sesuatu yang dapat mengendalikan diri kalian, menahan ketidaknyamanan kalian, menghentikan kalian untuk berbuat buruk dan (mendorong) melakukan kebaikan. Shalat itu amat sangat berat kecuali bagi mereka yang menundukkan diri untuk mengagungkan Allah dan takut dengan siksaNya
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Setelah memberi kaum mukmin tuntunan secara umum, Allah lalu memberi tuntunan secara khusus dengan menyebutkan karunianya kepada nabi Muhammad. Maka berkat rahmat yang besar dari Allah, engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka yang melakukan pelanggaran dalam perang uhud. Sekiranya engkau bersikap keras, buruk perangai, dan berhati kasar, tidak toleran dan tidak peka terhadap kondisi dan situasi orang lain, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah, hapuslah kesalahan-kesalahan mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, yakni urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah, maka bertawakAllah kepada Allah, dan akuilah kelemahan dirimu di hadapan Allah setelah melakukan usaha secara maksimal. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal ayat sebelumnya diakhiri dengan perintah bertawakal kepada Allah, satu-satunya penentu keberhasilan dan kegagalan. Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada siapa pun dan apa pun yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu, tidak memberi pertolongan, maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu' pasti tidak ada. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal, mengakui kelemahan diri di hadapan Allah setelah melakukan usaha secara maksimal.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 159-164 Allah SWT berfirman seraya berbicara kepada RasulNya dan menambahkan atas dirinya dan orang-orang yang mukmin dalam apa yang telah mengendap dalam hatinya terhadap umatnya yang mengikuti perintahnya, yang meninggalkan larangannya, dan Dia memberikan kata-kata yang lembut kepada mereka: (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu hal apa yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka, kalau bukan karena rahmat Allah terhadapmu dan mereka. Qatadah berkata terkait firmanNya (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu bahwa karena rahmat Allahlah yang membuat kamu bersikap lembut kepada mereka. Huruf “maa” adalah “shilah”. Bangsa Arab menghubungkannya dengan isim ma’rifah, sebagaimana firman Allah: (Fa bimaa naqdhihim miitsaaqahum) (Surah An-Nisa, 155), dan dengan isim nakirah sebagaimana dalam firmanNya (‘amma qaliil) Demikian juga Allah berfirman di sini (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) yaitu disebabkan rahmat dari Allah Hasan Al-Bashri berkata: “Ini adalah akhlak nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Allah dengan hal itu” Kemudian Allah SWT berfirman: (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu) Maksud dari kata bersikap keras di sini adalah kata-kata yang kasar, sesuai dengan firmaan setelahNya (lagi berhati kasar) yaitu jika ucapanmu kasar, maka hatimu akan keras keras terhadap mereka dan mereka akan menjauh darimu dan meninggalkanmu. Akan tetapi Allah telah mengumpulkan mereka di sekitarmu, dan menjadikanmu lembut terhadap mereka untuk meneguhkan hati mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Amr bahwa dia melihat sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu: bahwa dia bukanlah orang yang kasar, keras, berbuat gaduh di pasar-pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dia akan memaafkan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu) Demikian juga Rasulallah SAW biasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam suatu urusan, ketika beliau berbicara dengan lembut untuk memberi ketenangan hati mereka, sehingga mereka lebih tekun dalam melakukan apa yang akan mereka lakukan. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW bermusyawarah dengan mereka terkait pergi ke suatu tempat Mereka berkata, “Ya Rasulullah, Seandainya engkau menghadapkan kami ke lautan ini, kami akan mengikutimu. Jika engkau berjalan dengan kami menuju telaga yang dalam, maka kami akan mengikutimu, Kami tidak akan mengatakan sesuatu yang dikatakan oleh kaum nabi Musa kepadanya: “Pergilah kamu dan Tuhanmu, lalu berperanglah. Kami akan menunggu di sini.” Tetapi kami akan berkata, “Pergilah, kami akan bersamamu, dan berada di sebelah depan, kanan, dan kirimu”. Rasulullah SAW juga bermusyawarah dengan mereka terkait tempat untuk tinggal, sehingga dia menyarankan kepada Mundzir bin Amr Al-Mu’taq untuk mati dengan maju menghadang musuh. Rasulullah SAW juga bermusyawarah dengan mereka terkait perang Uhud apakah mereka akan menunggu di Madinah atau keluar melawan musuh. Mayoritas mereka menyarankan untuk keluar menghadapi musuh, dan Rasulullah SAW bermusyawarah dengan mereka terkait peperangan dan urusan lainnya. Firman Allah SWT: (Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah) yaitu ketika kamu bermusyawarah dalam suatu perkara dan membulatkan tekad atas perkara itu, maka bertawakallah kepada Allah dalam hal itu. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya) Firman Allah (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (160)) Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dari firmanNya: (Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) (Surah Ali Imran: 126). Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk bertawakkal kepadaNya, lalu Dia berfirman: (hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal) Firman Allah SWT: (Tidak mungkin seorang nabi berkhianat) Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan, dan yang lainnya berkata: “Tidak patut bagi seorang nabi berkhianat” Ini adalah pembebasan bagi beliau SAW dari segala bentuk khianat dalam menjalankan amanah, pembagian harta rampasan, dan lain sebagainya. Kemudian Allah SWT berfirman: (Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya) Ini adalah ancaman yang sangat keras dan peringatan yang tegas, dan telah disebutkan dalam hadits yang tentang larangan melakukan hal tersebut. Dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Sa'id bin Zaid, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berbuat zalim (dengan mengambil) sejengkal tanah, maka Allah akan mengalungkan di lehernya tujuh lapis bumi pada hari kiamat” Firman Allah: (Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (162)) yaitu tidaklah sama orang yang mengikuti keridhaan Allah dalam apa yang telah Dia syariatkan, maka dia pantas mendapatkan keridhaanNya yang agung dan pahala yang melimpah, serta dijauhkan dari siksaanNya yang berat. Adapun orang yang pantas mendapat murka Allah dan dihukum olehNya, maka tidak ada tempat menghindar dariNya, dan tempat kembali baginya pada hari kiamat adalah neraka Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali. Terkait hal ini terdapat dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an, sebagaimana firmanNya: (Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?) (Surah Ar-Ra'd: 19), dan (Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (61)) (Surah Al-Qashash). Kemudian Allah SWT berfirman: ((Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah) Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq berkata,”Maknanya adalah beberapa derajat bagi orang yang melakukan kebaikan dan orang yang melakukan keburukan. Abu 'Ubaidah dan Al-Kisa'i berkata bahwa maknanya adalah beberapa tempat, yaitu mereka dipisah-pisah dalam tingkatan dan kedudukan (tinggi) di surga dan kedudukan (rendah) di neraka, sebagaimana firman Allah SWT: (Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya…) (Surah Al-An’am: 132). Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: (dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan) yaitu Dia akan membalas mereka dengan adil, sehingga Dia tidak akan menganiaya mereka dengan kebaikan dan tidak menambahkan kepada mereka dengan kejahatan, melainkan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya. Firman Allah SWT (Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri) yaitu dari kalangan mereka sendiri agar mereka dapat berbicara dengannya, duduk dengannya, dan mengambul manfaat darinya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri) (Surah Ar-Rum: 21) yaitu dari kalangan kalian, dan Allah SWT berfirman: (Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa") (Surah Al-Kahfi: 110). Ini adalah bukti yang jelas atas pemberian Allah bahwa RasulNya yang diutus untuk mereka berasal dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka bisa berbicara dengannya, merenungkan ajaran-ajarannya, Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah) yaitu Al-Qur’an (membersihkan (jiwa) mereka) yaitu memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan yang munkar. untuk membersihkan jiwa mereka dan membersihkan mereka dari kotoran yang mereka lakukan ketika mereka masih dalam keadaan musyrik dan jahiliyyah. (dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah) yaitu AL-Qur’an dan Sunnah (Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu) yaitu sebelum adanya rasul ini (mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) yaitu dalam kesesatan dan kebodohan yang nyata dan jelas bagi setiap orang
Tafsir As-Sa'di
Buka
159. Maksudnya, disebabkan rahmat Allah kepadamu dan kepada para saahabatmu, maka Allah telah memberikan karuniaNya atasmu agar engkau berlaku lemah lembut dan bersikap sopan santun kepada mereka, mengasihi mereka, berakhlak baik pada mereka, hingga mereka berkumpul di sekelilingmu, mencintaimu, dan menaati perintahmu. “Sekiranya kamu bersikap keras, ” maksudnya, berahklak buruk, ”lagi berhati keras, ”tentulah mereka menjauh dari diri dari sekelilingmu, ” karena sikap seperti ini membuat mereka lari dan benci kepada orang orang yang memiliki akhlak yang jelek. Ahklak yang baik merupakan pokok ajaran dalam agama yang akan menarik menusia kepada agama Allah dan membuat mereka senang kepadanya, disamping ada yang diadapatkan oleh pelakunya berupa pujian dan pahala yang khusus. Dan sebaliknya, akhlak yang bruk merupakan masalah yang pokok dalam agama yang menjauh kan manusia dalam agama dan membuat mereka benci kepadanya di samping oleh apa yang di peroleh para pelakuanya celaan dan hukuman yang khusus. Maka Rasul yang ma'sum ini Allah telah firmankan kepadanya seperti itu lalu bagaimana dengan selainya? Bukankah menjadi sesuatu yang wajib dan paling penting dalan mencontoh akhlak-akhlak beliau yang mulia, dan bermuamalah dengan menusia sebagaimana Rasululloh bermuamalah dengan mereka dengan cara yang lembut, dengan akhlak yang yang baik dan penyatuan hati, sebagai suatu sikap taat kepada perintah Allah dan daya tarik bagi hamba-hamba Allah kepada agama Allah? Kemudian Allah memerintahkan NabiNya untuk memaafkan mereka dari kelalaian yang terjadi pada mereka terhadap hak-hak beliau dan agar beliau memohonkan ampunan bagi mereka atas kelalaian merreka kepada hak-hak Allah, hingga Nabi menyatukan para pemberi maaf dan berbuat baik. “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, ” yaitu perkara-perkara yang membutukan bermusayawarah, tukar pikiran dan pendapat. Karena di dalam musyawarah itu terdapat faidah yang banyak dalam maslahat agama maupun dunia yang tidak mungkin di batasi, di antaranya; 1. Bahwasanya musyawarah itu termasuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. 2. Bahwasanya di dalam permusyawarahan itu terdapat toleransi untuk mencurahkan ide mereka dan menghilangkan ketidak enakan yang ada dalam hati mereka terjadi berbagai peristiwa. orang-orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain apabila mengumpulkan para cendikiawan dan tokoh masyarakat, niscaya hati mereka akan tenang dan mereka akan mencintainya dan kemudian mereka mengetahui bahwa dia tidak berbuat sewenang-wenang kepada mereka, akan tetapi dia memandang kepada kemaslahatan umum bagi seluruh masyarakat. 3. Dalam bermusyawarah terdapat pencerahan pikiran, di sebabkan pengaktipan akal pada objek peruntukannya hingga menjadi suatu tambahan bagi objek akal. 4. Apa yang diahasilkan dari musyawarah adalah dari pikiran yang matang, karena seorang yang bermusyawarah hampir-hampir tidak membuat salah dalam pelaksanaanya, dan apabila terjadi kesalahan atau tidak sempurna sebagaimana yang di inginkan, maka ia tidak akan dicela. Maka apabila Allah memerintahkan kepada rosul (padahal rosul adalah orang yang paling sempurna akalanya) dengan perintah "dan bermusyawarahla dalam segala urusan", maka bagaimana dengan selain rosul? Kemudian Allah berfirman, ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, ” yaitu suatu perkara atas bermusyawarah padanya, apabila di butuhkan, ”maka bertakwalah kepada Allah, ” maksudnya bersandar kepada upaya Allah dan keutamaanya, dan berlepas dirilah dari memampuan dan kekuatan dirimu.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
159 Wahai rasul, sesungguhnya kemudahan dan kelapangan dada dalam berinteraksi dengan kaummu tidak lain disebabkan rahmat dari Allah yang ditanamkan dalam hatimu. Agar kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka dalam menyebarkan agama. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar atau buruk perangai, keras hati, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan agama dan dunia tentang segala yang tidak bertentangan dengan syariat atau yang belum diturunkan dalam wahyu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad setelah bermusyawarah, maka bertawakkallah dengan menyerahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal dan menyerahkan urusannya kepada-Nya. Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Ayat selanjutnya memberikan tuntunan agar umat islam berlaku adil, tidak hanya kepada sesama umat islam, tetapi juga kepada siapa saja walaupun kepada orang-orang yang tidak disukai. Wahai orangorang yang beriman! jadilah kamu sebagai penegak keadilan, yakni orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran, karena Allah, ketika kalian menjadi saksi maka bersaksilah dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, yakni kepada orang-orang kafir dan kepada siapa pun, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil terhadap mereka. Berlaku adillah kepada siapa pun, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, sungguh, Allah mahateliti, maha mengetahui apa yang kamu kerjakan, baik yang kamu lahirkan maupun yang kamu sembunyikan pada ayat ini Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang sesuai dengan isi hati mereka dan membuktikannya dengan beramal saleh bahwa mereka akan mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala yang besar berupa surga.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 7-11 Allah SWT berfirman seraya mengingatkan hamba-hambaNya yang mukmin akan nikmatNya atas mereka dalam apa yang disyariatkan olehNya kepada mereka dalam agama yang agung ini, serta mengutus kepada mereka, rasul yang mulia ini, dan perjanjian yang diambil atas mereka lakukan dalam melakukan bai’at dengan beliau untuk mengikuti, mendukung, dan membelanya, serta melaksanakan agamanya, menyampaikan ajaran darinya, dan menerima ketentuan-ketentuannya. Lalu Allah berfirman, (Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami patuh") Inilah bai'at yang mereka lakukan kepada Rasulallah SAW ketika mereka masuk Islam, sebagaimana mereka berkataa,"Kami berbai'at kepada Rasulallah untuk mendengar dan patuh, baik dalam keadaan senang, terpaksa, dan keadaan egois kami. dan kami tidak akan memperdebatkan perkara itu" Allah berfirman, (Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman (8)) (Surah Al-Hadid). Dikatakan bahwa ini adalah pengingat bagi orang-orang Yahudi tentang perjanjian dan kesepakatan yang di ambil dari mereka untuk mengikuti nabi Muhammad SAW dan mengikuti hukum-hukumnya. Hal ini dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Dikatakan juga bahwa itu adalah peringatan terhadap perjanjian yang diambil oleh Allah SWT atas anak cucu nabi Adam ketika Dia mengeluarkan mereka dari tulang sulbinya dan membuat meraka bersaksi atas diri mereka ("Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi") (Surah Al-A’raf: 172) Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan Muqatil bin Hayyan. Pendapat pertamalah yang lebih jelas dan pendapat itu diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan As-Suddi, dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Kemudian Allah berfirman, (Dan bertakwalah kepada Allah) sebagai penegasan dan dorongan untuk bertakwa kepadaNya dalam segala keadaan. Kemudian Dia memberitahu mereka bahwa Dia mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka, berupa rahasia dan pikiran-pikiran, Allah berfirman, (sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)) Firman Allah, (Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah) yaitu Tegakkanlah kebenaran karena Allah SWT, bukan karena manusia atau ingin pamer, dan jadilah (menjadi saksi dengan adil), dengan adil bukan dengan kezaliman. Telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim tentang Nu’man bin Basyir, dia berkata,"Ayahku memberikan sebuah pemberian kepadaku, lalu Ibuku, Amrah binti Rawaqah berkata, “Tidak ada tanah kecuali disaksikan oleh Rasulullah SAW” Lalu, dia pergi kepada Rasulullah untuk meminta kesaksian beliau tentang kebenaranku, dan beliau bertanya, “Apakah setiap anakmu telah kamu beri juga?” Ayahku menjawab, “Tidak” Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan berlakulah adil kepada setiap anakmu” beliau bersabda lagi,”Aku tidak mau menjadi saksi atas pemberian yang kurang adil” Kemudian ayahku kemudian kembali dan membatalkan pemberian itu. Firman Allah,( Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil) yaitu janganlah perasaan benci kalian pada suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil terhadap mereka. Sebaliknya, terapkanlah keadilan untuk setiap orang, baik dia teman atau musuh. Oleh karena itu, Allah berfirman, (Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa) yaitu keadilan kalian itu lebih mendekatkan kalian kepada takwa daripada meninggalkannya. Kata kerja "berlaku adil" di sini menunjukkan pada bentuk mashdarnya yang dhamirnya kembali kepada mashdar tersebut, sebagaimana yang sering digunakan dalam Al-Quran dan lainnya, sebagaimana dalam firman Allah, (Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu) (Surah An-Nur: 28). Firman Allah: (karena adil itu lebih dekat kepada takwa) ini merupakan penggunaan af’al at-tafdhil yang tidak memiliki kata berlawanan di sisi lainnya, sebagaimaana dalam firmanNya: (Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya (24))
Tafsir As-Sa'di
Buka
8. “Hai orang-orang yang beriman,” yaitu kepada apa yang mereka diperintahkan untuk beriman kepadanya. Tegakkan konsekuensi imanmu dengan “menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil.” Hendaknya gerak-gerikmu, lahir dan batin, terus bersemangat dalam penegakkan keadilan dan hendaknya pelaksanaannya itu hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan dunia. Dan hendaknya sasaranmu tegak dan seimbang (qisth) yaitu adil, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan; dalam ucapan dan perbuatanmu. Tegakkan itu kepada kerabat, orang jauh, kawan maupun musuh. “Dan janganlah sekali-kali kamu terdorong oleh kebencian kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil,” seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki rasa kedailan. Akan tetapi sebagaimana kamu bersaksi untuk membela temanmu maka kamu pun harus mau bersaksi untuk melawannya, sebagaimana kamu bersaksi melawan musuhmu, maka kamu pun harus bersaksi membelanya walaupun dia adalah orang kafir atau pelaku bid’ah. Dalam hal ini wajib berlaku adil dan menerima kebenaran yang dibawanya (karena ia adalah kebenaran), bukan karena dia yang mengucapkannya, dan kebenaran tidak ditolak hanya karena dia yang mengucapkannya, karena itu kezhaliman terhadap kebenaran. “Berlaku adillah, karena berlaku adil itu lebih dengan takwa,” yakni semakin kamu berusaha untuk bersikap adil dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, maka hal itu lebih dekat kepada ketakwaan hatimu. Jika keadilannya sempurna, maka takwanya juga sempurna. “SEsungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” maka Dia akan membalasmu sesuai dengan amal perbuatanmu, yang baik, yang buruk, yang kecil, dan yang besar; dengan balasan di dunia dan akhirat.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
8 Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran sebagaimana yang kalian janjikan kepada Allah. Seraya mengagungkan dan ikhlas hanya karena Allah. Dan jadilah saksi dengan penuh kadilan tanpa bermaksud menguntungkan seseorang. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil dan menyembunyikan persaksian yang bermanfaat untuk mereka. Berlaku adillah kepada siapapun, karena adil itu lebih dekat kepada takwa Allah, atau karena takut kepada neraka. Dan bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan syariat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan dan Maha memberi balasan atas itu.
Tafsir Al-Mishbah
Buka
Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah
Tafsir Ringkas Kemenag
Buka
Ayat yang lalu menjelaskan kenikmatan ukhrawi yang diperoleh oleh orang-orang yang menghindarkan diri dari perbuatan dosa besar. Ayat ini juga menerangkan bahwa kenikmatan ukhrawi yang lebih baik dan lebih kekal itu juga akan diperoleh oleh orang-orang yang menerima seruan tuhan mereka. Dan kenikmatan ukhrawi itu akan di anugerahkan pula kepada orang-orang yang menerima dan mematuhi seruan tuhan melalui para rasul dan wahyu-wahyu yang di sampaikan kepada mereka dan orang-orang yang melaksanakan salat, sebagai salah satu kewajiban yang diwajibkan kepada mereka, sedang urusan mereka yang berkaitan dengan persoalan dunia dan kemaslahatan kehidupan mereka, diputuskan dengan musyawarah antara mereka. Dan yang juga menerima kenikmatan ukhrawi itu adalah mereka yang menginfakkan di jalan Allah dengan tulus dan ikhlas sebagian dari rezeki mereka, baik dalam bentuk harta maupun lainnya yang kami berikan kepada mereka. 39. Ayat-ayat yang lalu menjelaskan beberapa golongan yang akan mendapatkan kenikmatan ukhrawi dari Allah. Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan untuk membela diri kepada orang-orang yang di zalimi. Dan orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim, yaitu tindakan yang melampaui batas oleh orang lain, mereka sendiri dengan segala kekuatan dan kemampuannya membela diri sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi.
Tafsir Ibnu Katsir
Buka
Ayat 36-39 Allah SWT berfirman seraya menggambarkan kecilnya perkara dunia, perhiasannya, dan segala sesuatu yang ada padanya berupa perhiasan dan kenikmatam yang fana, dengan firmanNya SWT: (Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kesenangan hidup di dunia) yaitu, bagaimanapun kalian menghasilkan dan mengumpulkan sesuatu, janganlah teperdaya olehnya, karena sesungguhnya itu adalah kesenangan hidup di dunia, sedangkan dunia adalah negeri yang fana dan pasti akan lenyap (dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal) yaitu pahala Allah SWT lebih baik daripada dunia, karena itu kekal. Maka janganlah mendahulukan yang fana atas sesuatu yang kekal. Oleh karena itu Allah berfirman: (bagi orang-orang yang beriman) yaitu bagi orang-orang yang bersabar dalam meninggalkan kesenangan dunia (dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal) yaitu untuk membantu mereka bersabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Kemudian Allah SWT berfirman (dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji) Pembahasan tentang dosa-dosa besar dan perbuatan keji telah dijelaskan di surah Al-A'raf. (dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf) yaitu watak mereka adalah pemaaf dan penyantun terhadap orang lain, dan bukan termasuk watak mereka adalah pendendam. Firman Allah: (Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya) yaitu mereka mengikuti para rasul Allah dan taat kepada perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya (dan mendirikan shalat) yaitu shalat itu ibadah yang paling agung (sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka) yaitu, mereka tidak pernah memutuskan sesuatu melainkan sampai mereka bermusywarah di antara mereka agar mereka mengemukakan pendapat mereka, seperti dalam menghadapi perang dan hal lainnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah) (Surah Ali Imran: 159). Oleh karena itu Rasulullah SAW selalu bermusyawarah dengan mereka dalam menghadapi peperangan dan perkara yang serupa, agar hati mereka senang dengan itu. Demikian juga ketika Umar bin Khattab menjelang wafatnya karena tertusuk, dia menjadikan urusan kekhalifahan setelahnya agar dimusyawarahkan di antara enam orang berikut, yaitu Usman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa'd, dan Abdurrahman bin Auf. Maka pendapat semua sahabat sepakat menunjuk Usman bin Affan sebagai khalifah mereka (dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka) demikian itu dengan berbuat kebaikan kepada makhluk Allah yang paling dekat dengan mereka dari kalangan kerabat. Firman Allah: (Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri (39)) yaitu mereka mempunyai kekuatan untuk membela diri dari orang-orang yang berbuat zalim dan memusuhi mereka. Mereka bukanlah orang-orang yang lemah, bukan pula orang-orang yang hina, melainkan mempunyai kemampuan untuk membalas perbuatan orang-orang yang berlaku melampaui batas terhadap mereka. Sekalipun sifat mereka demikian yaitu mampu untuk membalas, mereka selalu memberi maaf. Sebagaimana yang dikatakan nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya: (Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu)) (Surah Yusuf: 92) Padahal nabi Yusuf mampu menghukum mereka dan membalas perbuatan mereka terhadap dirinya. Sebagaimana Rasulullah SAW memaafkan delapan puluh orang yang berniat akan membunuhnya pada tahun perjanjian Hudaibiyyah. Mereka turun dari Bukit Tan'im; dan setelah mereka dapat dikuasai, maka ketika Rasulullah SAW menguasai mereka, beliau memaafkan mereka, meskipun beliau SAW mampu menghukum mereka.
Tafsir As-Sa'di
Buka
38 “dan orang-orang yang menerima seruan RRabbnya, ” maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNYa, memenuhi seruanNYa dan tujuan mereka pun adalah keridaanNYa dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNYa. termasuk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai athful am alal khash (pengikutan pada yang umum kepada yang khusus) yang menunjukan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman ”dan mendirikan shalat, ” yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ” dan mereka menginfakan sebagain dari izki yang kami berikan kepada mereka, ” infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang Sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ”sedang urusan mereka, ” yang bersikap religi dan yang besifat duniawi” adalah musyawarah antara mereka, ”maksudnya, tidak seorangpun dai mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama diantara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari kebesamaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang menyayangi diantara mereka, dan meupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengarahan pikian dan pendapat, maka mereka berkumpul, bemusyarah, serta melakukan pembahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera nmengambilnya. ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. melakukan pembahasan bersama. melakukan pembahasn terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.
Tafsir Al-Wajiz
Buka
38. Dan bagi orang-orang yang menerima anjuran Tuhan untuk mereka berupa bertauhid, ibadah, dan menaati rasul. Mereka melaksanakan shalat hanya dengan sempurna dan mengkhususkannya untuk berdzikir, karena shalat adalah ibadah paling tinggi. Mereka bermusyawarah dalam urusan-urusan yang umum dan yang khusus tanpa mementingkan dan memaksakan pendapat individu, seperti urusan kepemimpinan, wilayah, masalah hukum, dan perkara-perkara yang khusus. Mereka menafkahkan rejeki yang diberikan oleh Allah dalam jalan yang baik. Maknanya adalah bahwa musyawarah adalah sesuatu yang sudah lazim dalam menyelesaikan masalah mereka. Ayat ini diturunkan untuk kaum Anshar yang diajak rasulallah SAW untuk beriman, kemudian mereka menerimanya dan mendirikan shalat
Tafsir Al-Mishbah
Buka