SI Qur'an

Indikator 47: Memeriksa

Ditemukan 5 rujukan ayat di dalam sistem.

QS. Al-A'raf (7): Ayat 185 Rujukan #1
أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ وَأَنْ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَىِّ حَدِيثٍۭ بَعْدَهُۥ يُؤْمِنُونَ
a wa lam yanẓurụ fī malakụtis-samāwāti wal-arḍi wa mā khalaqallāhu min syai`iw wa an ‘asā ay yakụna qadiqtaraba ajaluhum fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?"

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Mereka sungguh telah mendustakan nabi Muhammad yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah. Kini Allah mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya, dengan firman-Nya, dan apakah mereka juga buta sehingga tidak memperhatikan dan mengambil pelajaran dari apa yang terbentang pada kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, yang semuanya menunjuki keesaan, keagungan dan kekuasaan-Nya, dan apakah mereka juga tidak melihat dan memikirkan dengan rasa takut tentang kemungkinan telah dekatnya waktu kebinasaan mereka' mereka tidak berpikir bahwa ajal mereka sebenarnya sudah dekat, atau paling tidak, sudah semakin dekat, sehingga mereka cepat-cepat merenungi dan mencari kebenaran sebelum ajal mereka tiba. Jika Al-Qur'an tidak juga membuat mereka percaya, lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai' mereka enggan mengikuti Al-Qur'an dan keterangan yang disampaikan rasul, sehingga berlakulah keketapan Allah, yaitu barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, karena pilihan dan usahanya sendiri, atau karena kebejatan hati dan keengganannya memanfaatkan petunjuk, maka baginya tidak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk guna mengantarkannya kepada kebahagiaan dan memberinya kemampuan untuk melaksanakan petunjuk. Allah akan terus membiarkannya selalu terombang-ambing dalam kesesatan, sehingga tidak menemukan jalan kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Allah SWT berfirman,"Apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami itu tidak melihat kerajaan dan kekuasaan Allah di langit dan bumi serta pada semua yang diciptakan olehNya pada keduanya? lalu mereka merenungkan dan mengambil pelajaran darinya. Lalu mereka mengetahui bahwa itu milik Dzat yang tidak ada tandingan dan tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya. Itu merupakan perbuatan dari Dzat yang tidak ada yang layak untuk disembah dan memiliki agama murni kecuali Dia. Lalu mereka akan beriman dan membenarkan RasulNya, dan kembali kepada ketaatan kepadaNya, dan melepaskan sekutu-sekutu dan berhala, takut jika ajal mereka tiba dalam waktu yang dekat, dan mereka masih dalam kekafiran, sehingga mereka binasa, dan tempat kembali mereka adalah azab dan hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah SWT: (Maka kepada berita mana lagikah mereka akan beriman sesudah Al-Qur'an?) yaitu Allah berfirman,”Maka peringatan dan ancaman mana lagi setelah peringatan dan ancaman nabi Muhammad SAW yang dibawa kepada mereka berupa ayat-ayat dari sisi Allah yang mereka benarkan, jika mereka tidak membenarkan berita yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW kepada mereka dari sisi Allah?

Tafsir As-Sa'di
Buka

185 “dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi” sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya “dan” begitu pula hendaknya mereka melihat ”segala sesuatu yang diciptakan Allah” karena seluruh bagian alam raya ini menunjukan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan rahmatNya, kebaikanNya kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat sifat agung yang lainnya yang menunjukan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dialah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan firmanNya ”dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?” yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam keadaan berpaling dan lalai, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ”maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al quran itu?” yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? apakah kepada kitab-kitab kesesatan dan kebatilan? ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?

Tafsir Al-Wajiz
Buka

185 Sesungguhnya mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah berupa bintang, tumbuhan, hewan dan lainnya, sehingga dapat menuntun mereka kepada keimanan, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Yusuf (12): Ayat 59 Rujukan #2
وَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمْ قَالَ ٱئْتُونِى بِأَخٍ لَّكُم مِّنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّىٓ أُوفِى ٱلْكَيْلَ وَأَنَا۠ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ
wa lammā jahhazahum bijahāzihim qāla`tụnī bi`akhil lakum min abīkum, alā tarauna annī ụfil-kaila wa ana khairul-munzilīn
"Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?"

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Dan ketika dia (nabi yusuf ) menyiapkan bahan makanan bagi saudara-saudaranya untuk mereka bawa pulang, dia berkata kepada mereka, bila kalian datang kembali ke mesir, bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (bunyamin) agar aku bisa memberimu jatah bahan makanan lebih banyak lagi. Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran, bahkan melebihkannya untuk kalian, dan di samping itu, aku adalah seorang penerima tamu yang terbaik dengan menjamu kalian secara sempurna'sebelum saudara-saudaranya kembali ke palestina, nabi yusuf mengingatkan mereka, maka jika kamu tidak membawanya kepadaku pada saat kedatangan kalian nanti, maka kalian tidak akan mendapat jatah gandum lagi dariku, dan jangan pula kamu mendekatiku lagi sesudah itu!.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 58-62 Maksudnya adalah bahwa para saudara Yusuf termasuk di antara orang yang meminta jatah makanan karena perintah ayah mereka. Telah sampai kepada mereka berita bahwa Aziz negeri Mesir akan menjual makanan kepada semua orang. Lalu para saudara nabi Yusuf datang dengan membawa barang-barang yang akan mereka tukarkan dengan makanan. Mereka berangkat berjumlah sepuluh orang, dan nabi Ya'qub menahan anaknya untuk tinggal bersamanya, yaitu saudara sekandung nabi Yusuf. dia adalah anak yang pal­ing dicintai setelah nabi Yusuf. Ketika mereka masuk menemui nabi Yusuf yang sedang duduk di atas singgasana dan dengan pakaian kebesarannya, dia mengenal mereka ketika melihat mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya karena mereka karena sudah berpisah dengannya ketika nabi Yusuf masih kecil. Mereka menjual nabi Yusuf kepada kafilah yang lewat, dan mereka tidak mengetahui lagi ke mana nabi Yusuf dibawa. Mereka juga tidak curiga bahwa nabi Yusuf mendapatkan sesuatu yang sudah dia dapatkan itu. Oleh karena itu mereka tidak mengenalinya. Adapun nabi Yusuf, dia mengenali mereka. (Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya) yaitu memenuhi timbangan mereka dan hewan pengangkut mereka telah membawanya, nabi Yusuf berkata, "Bawalah kemari saudara kalian yang kalian ceritakan itu, agar aku bisa mengetahui kebenaran cerita kalian” (tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?) dia menarik perhatian mereka agar kembali kepadanya, kemudian dia mengancam mereka (Jika kalian tidak membawanya kepadaku, maka kalian tidak akan mendapat sukatan lagi dariku) yaitu, jika kalian tidak datang membawa saudara kalian di lain waktu, maka kalian tidak akan mendapat bagian makanan lagi dariku ("dan jangan kalian mendekatiku” (60) Mereka berkata, "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya” (61)) yaitu, kami akan berusaha untuk mendatangkannya kepadamu dengan segala kemampuan kami, agar engkau mengetahui kebenaran yang kami katakan. (Yusuf berkata kepada pemuda-pemudanya) yaitu kepada pelayan-pelayannya (Masukkanlah barang-barang mereka) yaitu yang mereka berikan untuk ditukarkan dengan jatah makanan (ke dalam karung-karung mereka) yaitu dalam peti barang-barang mereka tanpa mereka sadari (mudah-mudahan mereka kembali) yaitu dengan membawanya.

Tafsir As-Sa'di
Buka

59. “Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya”, maksudnya dia menakar jumlah makanan bagi mereka seperti yang dia lakukan untuk orang lain. Termasuk dari kebijakannya, tidak memberi takaran makanan bagi setiap orang melebihi beban yang diangkut seekor unta. Sebelumnya, dia telah menanyakan kondisi mereka. Maka, mereka itu (saudara-saudaranya) memberitahukan kepadanya bahwa mereka memiliki seorang saudara lagi bersama ayahnya, yaitu Bunyamin. Maka dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)”, lalu dia membujuk mereka untuk membawanya. Dia berkata, “tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan, dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu”, dalam masalah perjamuan tamu dan pemuliaan baginya.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

59. Ketika Yusuf sudah memberi apa yang mereka butuhkan yaitu pertukaran makanan dan memenuhi mereka dengan gandum, Dia berkata kepada mereka: “Bawalah kepadaku saudara kalian, yaitu Benyamin, saudara Yusuf di waktu mendatang supaya aku mengetahui kebenaran ucapan kalian, tidakkah kalian melihat bahwa aku memenuhi kalian (dengan makanan) dan aku adalah sebaik-baik tuan rumah di negeri ini”

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Hajj (22): Ayat 46 Rujukan #3
أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ
a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa takụna lahum qulụbuy ya’qilụna bihā au āżānuy yasma’ụna bihā, fa innahā lā ta’mal-abṣāru wa lākin ta’mal-qulụbullatī fiṣ-ṣudụr
"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Allah lalu bertanya kepada orang-orang yang menolak ajaran Allah yang dibawa rasulullah, "maka apakah mereka tidak pernah berjalan di bumi menyaksikan peninggalan umat terdahulu atau mengkajinya secara mendalam sehingga kalbu, kecerdasan emosi, dan spiritual mereka dapat memahami atau merenungkan ajaran Al-Qur'an atau telinga mereka dapat mendengar ajakan rasul untuk beriman kepada Allah'" mata, telinga, dan pikiran mereka tertutup. Oleh sebab itu, sejatinya bukan mata lahiriah mereka itu yang buta sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti kebenaran ajaran rasulullah, tetapi yang buta adalah mata hati mereka yang ada di dalam dada mereka. 47. Karena mata hati mereka buta dan telinga mereka tertutup, dan mereka dengan sombong dan menantang meminta kepadamu, Muhammad, agar azab yang dijanjikan kepada orang-orang kafir itu disegerakan di dunia ini. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya bahwa azab yang pedih bagi orang-orang kafir itu akan diberikan di akhirat. Dan sungguh, jika mereka menyadari bahwa sehari di sisi tuhanmu di akhirat seperti seribu tahun menurut perhitunganmu di dunia sehingga merasakan azab sehari saja di dalam neraka sebanding dengan seribu tahun di dunia. Betapa dah-syatnya azab Allah, mengapa mereka menantang'.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 42-46 Allah SWT berfirman seraya menghibur nabi Muhammad SAW dari pendustaan dari orang yang menentangnya dari kaum beliau: (Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum kaum Nuh), hingga allah berfirman (dan Musa juga didustakan) yaitu dengan semua yantg dia bawa berupa mukjizat yang jelas dan dalil yang terang. (lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir) yaitu maka Kami menangguhkan mereka (kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu)) yaitu, bagaimana bisa kebencian dan azabKu terhadap mereka. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Musa, dari Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya Allah benar-benar memberi tangguh kepada orang yang zalim, hingga ketika Dia mengazabnya, maka dia tidak dapat luput dariNya” Kemudian Nabi SAW membaca firmanNya: (Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras (102)) (Surah Hud) Kemudian Allah SWT berfirman: (Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya) yaitu, berapa banyak penduduk kota-kota yang telah Aku binasakan (yang penduduknya dalam keadaan zalim) yaitu mendustakan para rasulNya (maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya) Adh-Dhahhak berkata maknannya adalah atap, yaitu tempat tinggal mereka hancur berantakan dan seluruh bangunan kota dan keramaiannya telah musnah. (dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan) yaitu airnya tidak bisa digunakan untuk mengairi dan dan tidak ada seorang pun yang datang kepadanya, padahal sebelumnya banyak orang datang kepadanya (dan istana yang tinggi) Ikrimah berkata bahwa yang dimaksud adalah gedung dengan batu putih. Diriwayatkan dari Mujahid, ‘Atha’ dan Sa'id bin Jubair hal yang serupa. Dan yang lainnya berkata bahwa Al-masyid artinya bangunan yang dibangun tinggi. Lainnya berkata bahwa Al-masyid adalah benteng. Semua pendapat ini saling berdekatan dan tidak bertentangan, karena pengertiannya menunjukkan bahwa bangunan-bangunan yang kokoh, tinggi dan kuat itu tidak dapat melindungi para penghuninya dari azab Allah yang datang menimpa mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh) (Surah An-Nisa: 78) Firman Allah: (maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi) yaitu, dengan tubuh dan pikiran mereka juga. Demikian itu merupakan sesuatu yang cukup, (lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?) yaitu mengambil pelajaran darinya (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada) yaitu bukan buta mata, melainkan buta pandangan hati. Sekalipun pandangan matanya sehat dan tajam, tetapi tidak dapat memanfaatkan dan menyadari informasi itu.

Tafsir As-Sa'di
Buka

46. Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNYa untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,” dengan fisik dan hati yang dengan itu mereka dapat memahami,” ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya “atau mempunyai tellinga yang dengan itu mereka mendengar,” berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak bermanfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada,” maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati terhadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya sebagaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Mereka sangat buruk dalam menggunakan akal, karena mereka menuruti hawa nafsu mereka. Dada disebutkan sebagai penekanan.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. An-Naml (27): Ayat 27 Rujukan #4
۞ قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ
qāla sananẓuru a ṣadaqta am kunta minal-kāżibīn
"Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Mendengar laporan dari burung hudhud, dia, sulaiman, berkata, dengan nada memperingatkan, 'akan kami lihat, apa kamu benar terhadap apa yang engkau katakan, atau termasuk yang berdusta. "28. Untuk melacak kebenaran pengakuan burung hudhud, nabi sulaiman memerintahkannya untuk pergi ke negeri saba' dan berkata, "pergilah engkau ke negeri ratu itu, dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, ratu balqis dan pembesarnya, kemudian berpalinglah dan menghindarlah dari mereka, lalu perhatikanlah reaksi mereka terhadap isi surat itu dan perhatikan apa yang mereka bicarakan. '.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 27-31 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang apa yang dikatakan nabi Sulaiman kepada hud-hud setelah dia memberitahukan tentang penduduk negeri Saba’ dan ratu mereka (Sulaiman berkata, "Akan kami lihat, apakah kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” (27)) yaitu apakah berita darimu ini benar (ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta) yaitu dalam ucapanmu untuk menyelamat­kan dirimu dari siksaan yang telah akku ancamkan kepadamu ("Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” (28)) Nabi Sulaiman menulis surat kepada Balqis dan kaumnya, lalu menyerahkannya kepada hud-hud untuk membawanya. Hud-hud terbang menuju ke negeri mereka, dan hinggap di istana Balqis, lalu hud-hud melemparkan surat itu melalui celah yang ada di istananya, tepat berada di hadapan Balqis, kemudian hud-hud menjauh sebagai sopan santun dan berjaga-jaga. Balqis kebingungan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu sehingga membuatnya terpana sejenak. Kemudian dia menuju ke tempat surat itu dijatuhkan, lalu mengambilnya dan membuka capnya serta membacanya. Di dalamnya terkandung: (Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (30) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (31)) Lalu Balqis mengumpulkan semua pemimpin, menteri, dan pembesar kerajaannya, lalu berkata kepada mereka (Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia) yaitu mulia karena dia melihat keajaiban surat itu, karena burunglah yang mengantarkan surat itu kepadanya, lalu burung itu berpaling darinya darinya sebagai etika terhadap raja. Demikian itu tidak akan mampu dilakukan oleh seorang rajapun, dan mereka tidak bisa melakukan itu. Kemudian Balqis membacakan surat itu kepada mereka (Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (30) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (31)) Maka mereka mengetahui bahwa surat itu dari nabi Allah Sulaiman dan bahwa mereka belum pernah menerima hal itu. Tulisan itu menggunakan gaya bersastra tinggi, ringkas, dan fasih; karena maknannya dapat ditangkap hanya dengan sedikit kalimat, tetapi indah. Firman Allah SWT: (Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku) Qatadah berkata, bahwa maknannya adalah Janganlah kamu sombong terhadapku (dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa maknannya adalah janganlah kalian membangkang dan bersikap sombong terhadap­ku, tetapi datanglah kepadaku dengan berserah diri. Ibnu Abbas berkata yaitu dalam keadaan mengesakan Allah, Ulama’ lainnya berkata yaitu dalam keadaan ikhlas. Sufyan Ibnu Uyaynah berkata bahwa maknannya adalah dalam keadaan taat

Tafsir As-Sa'di
Buka

27-28 maka selamatlah hud-hud itu setelah ia menyampaikan berita yang sangat besar itu, dan sulaiman pun merasa sangat heran, bagaimana bisa berita ini luput dari pengetahuannya, kemudian dia berkata seraya meneguhkan kesempurnaan dan kematangan akalnya, “akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusat. Pergilah dengan (membawa) suratku ini,” nashnya akan disebutkan pada ayat berikutnya, “lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka,” maksudnya, mundur dengan tidak terlalu jauh. “lalu perhatikanlah apa yang mereka kembalikan,” kepadamu, dan apa yang mereka bicarakan tentang isi surat ini.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

27. Berkata Sulaiman kepada Hud hud: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” Ini menunjukkan bahwa dianjurkan melakukan tabayun kepada berita dengan melihat kebenaran asli.

Tafsir Al-Mishbah
Buka

QS. Al-Hujurat (49): Ayat 6 Rujukan #5
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Eksplorasi Komparatif 5 Tafsir Riwayah & Dirayah

Tafsir Ringkas Kemenag
Buka

Setelah kelompok ayat-ayat yang lalu menguraikan tuntunan bagai-mana bertatakrama dengan rasullah, kelompok ayat ini menguraikan bagaimana berlaku dengan sesama manusia, termasuk kepada orang fasik. Diawali dengan tuntunan bagaimana menghadapi orang fasik, Allah berfirman, wahai orang-orang yang beriman! jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita yang penting, maka ja-nganlah kamu tergesa-gesa menerima berita itu, tetapi telitilah terlebih dahulu kebenarannya. Hal ini penting dilakukan agar kamu tidak mence-lakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan kamu mengikuti berita itu yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu yang terlanjur kamu lakukan. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum muslim agar berhati-hati dalam menerima berita terutama jika bersumber dari orang yang fasik. Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat tindakan yang diakibatkan oleh berita yang belum diteliti kebenarannya. 7-8. Selanjutnya ayat ini memberi nasihat kepada orang yang beriman untuk mengikuti rasulullah dalam semua petunjuknya. Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada rasulullah, yang sepatutnya dihormati dan dipatuhi semua petunjuknya karena beliau senantiasa dalam bimbingan wahyu ilahi. Kalau dia menuruti kemauan kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi dengan bimbingan rasulullah, Allah menjadikan kamu, wahai para sahabat yang setia, cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu sehingga kamu mudah menjaga diri dari dosa serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sehingga mudah bagi kamu melakukan ketaatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti secara mantap jalan yang lurus. Hal yang demikian itu adalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah maha mengetahui siapa yang pantas mendapat anugerah-Nya, mahabijaksana dalam mengatur se-gala urusan.

Tafsir Ibnu Katsir
Buka

Ayat 6-8 Allah SWT memerintahkan untuk memeriksa berita orang fasik, dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dan tidak menerima ucapannya, bisa saja dalam hal itu dia berdusta dan salah. Jadi orang yang menerima begitu saja berita darinya, maka sungguh dia mengikuti jejaknya. Sedangkan Allah SWT melarang mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan. Firman Allah SWT: (Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah) yaitu ketahuilah bahwa di antara kalian terdapat Rasulullah SAW, maka hormatilah, muliakanlah, dan bersopan santunlah saat berhadapan dengan beliau, dan turutilah perintah beliau, karena sesungguhnya beliau lebih mengetahui kemaslahatan kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada kalian sendiri. Dan pendapat beliau untuk kalian lebih sempurna daripada pendapat kalian untuk diri kalian sendiri. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri) (Surah Al-Ahzab: 6) Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa pendapat mereka sia-sia jika ditinjau dari kemaslahatan mereka. Maka Allah SWT berfirman: (Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan) yaitu sekiranya beliau menuruti kalian dalam semua apa yang kalian pilih, maka hal itu akan mengakibatkan kalian mengalami kesusahan dan merasa berdosa. Sebagaimana Allah SWT berfirman (Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan (71)) (Surah Al-Mu’minun) Firman Allah: (tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu) yaitu menjadikan iman itu dicintai hati kalian dan memperindahnya (serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan) yaitu Allah menjadikan hatimu membenci kekafiran dan kefasikan yaitu dosa-dosa besar dan kemaksiatan yaitu semua perbuatan maksiat, ini merupakan kesempurnaan nikmat yang bertingkat-tingkat. Firman Allah SWT: (Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus) yaitu, orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat ini adalah orang-orang yang diberi petunjuk dimana Allah telah menganugerahkan hal ini kepada mereka. Kemudian Allah berfirman: (sebagai karunia dan nikmat dari Allah) yaitu pemberian yang telah diberikan kepada kalian ini merupakan karunia dan nikmat dariNya (Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) yaitu Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan, dan Maha Bijaksana dalam semua firman, perbuatan, syariat, dan takdirNya

Tafsir As-Sa'di
Buka

6. Ini juga merupakan adab dan sopan santun yang harus diteladani dan dilakukan oleh orang-orang yang berakal, yaitu ketika ada orang yang fasik membawa suatu berita, hendaklah berita itu dicek dan tidak diterima begitu saja, karena hal itu bisa menimbulkan bahaya yang besar serta menjerumuskan dalam lembah dosa. Karena berita yang dibawa orang fasik itu jika disamakan dengan berita yang dibawa orang terpercaya dan lurus serta hukumnya dilakukan berdasarkan berita tersebut, maka hal itu akan membahayakan jiwa dan harta tanpa haknya disebabkan oleh berita itu yang menimbulkan penyesalan. Yang harus dilakukan ketika ada berita yang dibawa orang fasik adalah dicek dan diperjelas, jika terdapat berbagai bukti serta indikasi atas kebenaran berita itu, maka diamalkan dan dipercayai, namun jika berbagai bukti serta indikasi menunjukkan kebohongan berita itu, maka tidak boleh dilaksanakan dan harus didustakan. Di sini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berita orang jujur itu bisa diterima, berita pendusta ditolak, sedangkan berita orang fasik harus ditahan terlebih dahulu sebagaimana yang telah dijelasan di atas. Karena itulah banyak ulama salaf yang menerima riwayat orang-orang Khawarij yang dikenal sebagai orang-orang jujur meski mereka adalah orang-orang fasik.

Tafsir Al-Wajiz
Buka

6. Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mendapatkan berita penting dari orang fasik yang telah menyimpang dari batas-batas agama maka jangan tergesa-gesa untuk percaya, namun carilah penjelasan sebenarnya dan pastikanlah kebenaran berita itu sebelum terpengaruh olehnya. Dikhawatirkan kalian yang merupakan kaum tidak bersalah ikut tertimpa keburukan dan hal-hal yang makruh sehingga kalian menyesal dan bersedih atas kesalahan yang kalian perbuat dan berharap hal itu tidak pernah terjadi. Ayat ini diturunkan untuk Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith yang diutus Rasulallah SAW kepada Bani Mushthaliq sebagai orang kepercayaan (untuk mengambil zakat kambing). Saat mereka mendengar hal itu, mereka mendekatinya, lalu ‘Uqbah takut dengan mereka dan kembali. Dia berkata: “Sesungguhnya kaum itu ingin membunuhku dan mencegah sedekah mereka”, Lalu Rasulallah SAW ingin menyerang mereka, kemudian datanglah utusan mereka dan berkata: “Wahai Rasulallah, kami mendengar utusanmu, lalu kami mendekatinya untuk memuliakannya dan mau melaksanakan apa yang dia sampaikan, yaitu sedekah.”

Tafsir Al-Mishbah
Buka