Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 93-95 Ketika nabi Allah, nabi Syu'aib merasa putus asa tentang sambutan mereka kepadanya, maka dia berkata: wahai kaumku (berbuatlah menurut kemampuan kalian) yaitu cara kalian. Ini adalah ancaman yang keras (sesungguhnya aku pun berbuat (pula)) yaitu caraku sendiri (Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan kedatangan azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta) yaitu dari aku dan kalian (Dan tunggulah azab (Tuhan)) yaitu tunggulah (Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian) Allah SWT berfirman: (Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya (94)). Firman Allah: (bergelimpangan) yaitu bergelimpangan mati tanpa bergerak. Di sini disebutkan bahwa mereka ditimpa azab teriakan. Di dalam surah Al-A'raf adalah gempa, dan dalam surah Asy-Syu'ara’ adalah azab pada hari mereka dinaungi. Mereka adalah umat yang berkumpul di hari mereka diazab, sehingga semuanya diberi pembalasan. Ssesungguhnya pada setiap konteks disebutkan hal yang sesuai dengannya. Maka dalam surah Al-A'raf, yaitu ketika mereka berkata: (Sesungguhnya kami akan mengusir kamu, hai Syu’aib, dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami) (Surah Al-A'raf: 88) yang sesuai bahwa yang disebutkan adalah gempa, sehingga bumi mengguncang mereka yang membinasakan orang-orang yang berbuat zalim di sana, dan mereka bermaksud akan mengusir nabi mereka dari sana. Di sini ketika mereka berbuat buruk dalam ucapan mereka kepada nabi mereka, maka dikeluarkanlah teriakan yang mendiamkan dan mematikan mereka. Dalam surah Asy-Syu'ara’ bahwa ketika mereka berkata, (Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar (187)) (Surah Asy-Syu'ara’) dan (lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar (188)) (Surah Asy-Syu'ara’) Ini merupakan rahasia yang rinci, dan hanya kepada Aliahlah kami memuji dan bersyukur selamanya. Firman Allah: (Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu) yaitu mereka belum pernah hidup di rumah mereka sebelum itu (Ingatlah, kebiasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa) dan tetangga mereka itu dekat dengan kota itu dan serupa dengan mereka dalam kekufuran dan menghalang-halangi jalan dan mereka adalah bangsa Arab
Tafsir As-Sa'di
95 “seolah olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu” maksudnya seakan akan mereka tidak pernah tinggal dikampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran didalamnya ketika azab datang kepada mereka. ”sebagaimana kaum tsamud telah binasa” kedua kabilah ini sama sama berserikat dalam kemurkaan, laknat dan kebinasaan. Syuaib terkenal dengan julukan, khatibul anbiya karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. diantaranya; kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang akidah islam, demikian pula syariat dan cabang cabang islam, karena syuaib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan syuaib menyatakan bahwa ancaman Allah berkaitan dengan kedua hal tersebut. Diantaranya; mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melaukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang orang jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang terngan adalah lebih mengundang dan lebih layak mendapat azab. Diantaranya; balasan itu berasal dari jenis perbuatan, barangsiapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. hal ini sesuai dengan ucapan syuaib. “sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan”, maksudnya maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Diantaranya; hendaknya seorang hamba merasa cukup dengan rizki Allah merasa cukup dengan halal tanpa haram. cukup dengan usha usaha yang halal tanpa usaha usaha yang haram. hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan syuaib ”sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu”. hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atau usaha usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki Diantaranya; bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman Karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini menunjukan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Diantaranya; shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sampai sampai orang orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya diatas amal amal yang lain. shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. ia adalah timbangan bagi iman dan syariat syariatnya. dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Diantaranya; harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu dengan menunaikan kewajiban kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha usaha yang dilarang oleh Allah dan rasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang orang kafir dan yang seperti mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menyelisihinya. Diantaranya; termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang dai adalah hendaknya dia mejadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larangannya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagaimana syuaib berkata, ”dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang” dan karena firma Allah ta'ala : "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." Diantaranya; tugas rosul, agama dan sunnah mereka adalah berkehendak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujudkannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Diantaranya; barangsiapa melakukan perbaikan sebatas kemampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Diantaranya; hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah ia senantiasa meminta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana syuaib berkata ”dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNyalah aku kembali” Diantaranya; mewaspadai azab-azab yang menimpa umat umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang orang yang bertakwa disampaikan untuk memacu dan mendorong kepada ketakwaan. Diantaranya; orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disukai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, ”bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan” masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah berfirman ”dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha penyayang lagi maha pengasih” Diantaranya; Allah membela orang orang mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab darinya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikitpun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya kafir, sebagimana Allah menjaga syuaib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pembelaan kepada islam bisa diwujudkan boleh boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum muslimin yang berada dibawah kepemimpinan orang orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republic yang dengannya pribadi dan masyarakat muslimin bisa mendapatkan hak hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada Negara yang membunuh hak hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika memungkinkan Negara itu dipegang oleh kaum muslimin dan kaum musliminlah yang menjadi pemimpinya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan dibawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahulukan. wallahua’lam.