Surah Ali Imran : Ayat 92
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."
Tafsir Ringkas Kemenag
Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa orang yang meninggal dalam kekufuran, maka sebesar apa pun harta dan infak yang mereka keluarkan, tidak akan bisa dijadikan tebusan agar mereka bebas dari azab Allah. Pada ayat ini dijelaskan tentang harta dan infak yang bermanfaat hendaknya harta yang dicintai, karena kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang paling utama dan sempurna sebelum kamu menginfakkan, dengan cara yang baik dan tujuan yang benar, sebagian harta yang kamu cintai, yang paling bagus dari apa yang kamu miliki. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah maha mengetahui niat dan tujuan kamu berinfak, apakah karena ingin dipuji atau dilihat orang (riya'), ingin dipuji orang yang mendengar (sum'ah), atau semata-mata karena Allah. Jika infak dilaksanakan hanya karena Allah maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan di dunia maupun akhirat. Setelah ayat sebelumnya Allah menjelaskan harta dan infak yang bermanfaat, maka pada ayat ini Allah menjelaskan makanan yang halal atau haram bagi bani israil. Semua makanan itu pada dasarnya halal bagi bani israil sebagaimana halal juga bagi selain mereka, kecuali makanan yang diharamkan oleh israil (yakub) atas dirinya sendiri sebelum taurat diturunkan dalam rangka meraih kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Makanan tersebut adalah daging dan susu unta. Ada satu riwayat menyebutkan bahwa nabi yakub pernah sakit dan bernazar kalau Allah memberinya kesembuhan, maka dia tidak akan makan daging unta dan tidak minum susunya, meskipun kedua makanan tersebut sangat disukainya. Pengharaman nabi yakub atas kedua jenis makanan tersebut lalu diikuti oleh keturunannya. Setelah taurat diturunkan ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan (lihat: surah an-nisa''/4: 160 dan al-ana'm/6: 146), tetapi kaum yahudi membuat kebohongan dengan mengatakan bahwa ada makanan yang diharamkan Allah untuk mereka sebelum kitab taurat diturunkan. Oleh karena itu Allah menjawab, katakanlah, wahai nabi Muhammad, jika kamu berkata demikian, maka bawalah taurat lalu bacalah, dan tunjukkan kepada kami keterangan taurat tentang pengharaman makanan itu jika kamu orang-orang yang benar. Ternyata tidak seorang pun di antara mereka mampu menunjukkkan ayat taurat yang mendukung kebohongan mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Diriwayatkan ari Amr bin Maimun, tentang (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, "Kebajikan itu adalah surga" Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah mendengar Anas bin Malik, dia berkata, "Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.” Aku telah mendengar “Aku melihat kamu memberikannya kepada kerabat” Lalu Abu Thalhah berkata “Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah” Lalu Abu Thalhah membaginya kepada kerabatnya dan sepupunya.
Tafsir As-Sa'di
92. Maksudnya, “Kamu sekali-kali tidak sampai” dan tidak akan mendapatkan “kebajikan”, yang artinya adalah sebuah kata yang menyeluruh tentang kebajikan, yaitu jalan yang menyampaikan kepada surga, “sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” dari harta kalian yang terbaik dan paling istimewa. Hal itu karena berinfak dengan apa-apa yang baik lagi disayangi oleh jiwa merupakan tanda yang paling besar dari kelapangan jiwa dan sifatnya yang mulia, kasih sayangnya dan kelembutannya, dan juga merupakan tanda yang paling jelas tentang kecintaannya kepada Allah dan sikap mendahulukan Allah atas kecintaan terhadap harta yang sangat dicintai oleh jiwa. Karena itu, barangsiapa yang mendahulukan kecintaan kepada Allah atas kecintaan terhadap dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia telah mencapai puncak kesempurnaan, demikian pula bagi seseorang yang menginfakkan hal-hal yang baik dan berbuat kebajikan kepada hamba-hamba Allah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya dan membimbingnya kepada perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak mungkin dapat diperoleh dengan selain kondisi seperti ini. Demikian juga, barangsiapa yang menunaikan infak dengan bentuk yang seperti ini, niscaya pelaksanaannya terhadap amalan-amalan shalih lainnya dan akhlak-akhlak yang mulia adalah lebih baik dan lebih patut. Di samping berinfak dengan hal-hal yang baik merupakan bentuk yang paling sempurna, maka seberapa pun seorang hamba berinfak, baik sedikit maupun banyak dari yang baik atau lainnya, “maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Allah akan memberikan ganjaran kepada setiap orang yang berinfak sesuai dengan amalannya, dan Allah akan membalasnya di dunia dengan segera memberikan gantinya dan di akhirat dengan kenikmatan yang tertunda.
Tafsir Al-Wajiz
92 Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada pahala kebajikan yang sempurna yaitu surga, sebelum kamu menyedekahkan sebagian harta yang kamu cintai. Sedekah paling baik adalah sedekah kepada keluarga dan kerabat. Dan apa saja yang kamu sedekahkankan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan akan memberi balasan atas itu