Surah Al-Qasas : Ayat 9
وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّى وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
"Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari."
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah musa dipungut dan dilihat oleh keluarga istana, istri fir'aun berkata, 'dia, yakni anak itu adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu wahai suamiku, fir'aun. Karena itu janganlah kamu wahai fir'aun dan jangan juga siapa pun yang engkau perintahkan membunuhnya seperti yang terjadi pada anak-anak lelaki bani israil mendidiknya dengan baik atau kita ambil dia menjadi anak angkat jika ternyata ia tidak ditemukan oleh orang tuanya'. Demikian ucapan istri fir'aun ketika ia bersama suaminya dan siapa yang ada di sekelilingnya, sedang mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi setelah fir'aun memeliharanya di istana. 10. Dan selanjutnya diuraikan keadaan ibu musa yang anaknya telah dipungut oleh keluarga istana, yaitu dikisahkan hati ibu musa menjadi kosong dari segala yang dirisaukannya, setelah Allah meneguhkan hatinya. Sungguh, akibat kekhawatirannya yang sangat mendalam hampir saja dia menyatakannya yakni rahasia yang dipendamnya tentang musa. Seandainya tidak kami teguhkan hatinya pastilah dia akan meng-akui bahwa anak yang dipungut fir'aun itu adalah anak kandungnya dan dia akan berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa musa adalah anaknya sendiri. Peneguhan itu kami lakukan agar dia termasuk orang-orang yang beriman yang percaya kepada janji Allah.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 7-10 Setelah hatinya merasa sempit karena keselamatan putranya, maka dia diberi ilham dalam hati, jiwa, dan pikirannya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa,"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul (7)) Maka dia mulai membuat peti, dan dia membuainya di peti itu, lalu menaruhnya di dalam peti itu, lalu dia menghanyutkannya ke Sungai Nil, lalu peti itu terbawa hanyut oleh air Sungai sehingga melewati istana Fir'aun. Lalu peti dipungut oleh para dayang, dan mereka membawanya kepada istri Fir'aun dan Allah meletakkan rasa cinta ke dalam hatinya terhadap nabiMusa saat memandangnya. Demikian itu karena kebahagiaan istri Fir’aun dan apa yang dikehendaki Allah yang karena kemuliaannya dan kecelakaan suaminya. Oleh karena itu Allah berfirman: (Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka) Muhammad bin Ishaq dan lainnya berkata bahwa huruf lam di sini adalah lam aqibah, bukan lam ta'lil karena mereka tidak berniat untuk mencari kesedihan dengan memungut bayi itu. Tidak diragukan lagi bahwa makna yang tampak menunjukkan apa yang mereka katakan itu. Tetapi jika ditinjau dari segi konteksnya, maka lam itu tetap merupakan lam ta’lil, karena maknannya adalah bahwa Allah SWT telah menetapkan mereka untuk memungutnya untuk menjadikannya sebagai musuh dan kesedihan bagi mereka, sehingga maknannya lebih kuat dalam membatalkan sikap hati-hati mereka terhadapnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah) Firman Allah SWT: (Dan istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah engkau membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari (9)) yaitu Ketika Fir'aun melihat bayi itu, hampir saja dia membunuhnya karena takut bahwa bayi itu dari kalangan kaum Bani Israil, lalu istrinya Asiah binti Muzahim menentangnya dan meminta kepada Fir’aun agar mengasihaninya. Lalu dia berkata: ((Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu) Lalu Fir'aun menjawab,"Itu adalah bagimu, tetapi bagiku tidak" Dan demikianlah kejadiannya, Allah memberinya petunjuk melalui nabi Musa, dan Allah membinasakan Fir’aun melalui tangan nabi Musa. Firman Allah: (mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita) Dan apa yang dia harapkan itu berhasil baginya, Allah memberinya petunjuk melalui nabi Musa dan menempatkannya di surga karena nabi Musa. Firman Allah: (atau kita ambil ia menjadi anak) yaitu dia ingin menjadikannya sebagai anak angkatnya karena dia tidak mempunyai anak dari Fir'aun. Firman Allah SWT: (sedangkan mereka tidak menyadari) yaitu mereka tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dari pemungutan mereka terhadap nabi Musa, padahal di dalamnya terdapat hikmah yang agung dan hujjah yang pasti
Tafsir As-Sa'di
9. Dan tatkala keluarga Firaun telah memungutnya, maka Allah menjadikan permaisuri Firaun yang mulia lagi beriman, yaitu Asiyah binti Muzahim jadi sangat menyayanginya, “dan berkata,” anak ini adalah “penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.” Janganlah kamu membunuhnya.” Maksudnya, biarkanlah dia hidup untuk kita agar hati menjadi sejuk dengannya dan kehidupan kita menjadi bahagia karenanya, “mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.” Maksudnya, tidak terlepas (dari dua pilihan) : bisa jadi dia menjadi selayaknya para pembantu yang selalu bekerja untuk kepentingan kita, atau kita mengangkatnya satu derajat lebih tinggi dari itu, yaitu kita menjadikannya sebagai anak kita, kita muliakan dan kita banggakan. Allah menakdirkan Musa bahwa dia memberikan manfaat bagi istri Fir a’un yang telah mengatakan ungkapan di atas. Sebab, ketika Musa telah menjadi penyejuk hatinya, dan dia pun sangat mencintainya, maka Musa terus menjadi seperti anak kandungnya sendiri sampai besar, kemudian Allah mengangkatnya sebagai nabi lalu sebagai seorang rasul, maka istri Fir’aun segera masuk Islam dan beriman kepadanya. Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha (memeluk Islam). Allah berfirman
Tafsir Al-Wajiz
9. Istri Fir´aun yaitu Asiyah seorang mukminah, dia adalah keturunan dari raja Mesir pada zaman nabi Yusuf. Ketika Ketika Fir’aun telah berniat membunuh nabi Musa, Asiyah berkata: "Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita. Dia memiliki tanda/sinyal kebaikan atau kita bisa menjadikannya sebagai anak angkat", sedang mereka tiada menyadari