Tafsir Ringkas Kemenag
Usai menjelaskan keagungan Al-Qur'an dan tugas berat yang diamanahkan kepada rasulullah, pada ayat-ayat berikut Allah menguraikan kisah nabi musa yang juga diberi amanah berat, yaitu berdakwah kepada fir'aun yang sangat ingkar. Kisah ini dimaksudkan untuk menguatkan nabi Muhammad dalam berdakwah. Dan apakah telah sampai kepadamu, wahai nabi Muhammad, kisah musa saat akan menerima tugas kerasulan'10. Ketika dalam perjalanan menuju mesir, dia melihat api yang menyala terang, lalu dia berkata kepada keluarganya yang menyertainya dalam perjalanan itu, 'tinggAllah kamu di sini sampai aku kembali. Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-Mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu agar kita dapat menghangatkan badan pada malam yang dingin ini, atau aku akan mendapat petunjuk dari seseorang yang ada di sekitar tempat api itu. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 9-10 Dari sini Allah SWT menceritakan tentang kisah nabi Musa, bagaimana awalnya dia menerima wahyu dan diajak bicara langsung oleh Allah. Demikian itu setelah nabi Musa menyelesaikan masa perjanjianjnya dengan mertuanya dalam menggembalakan ternak. Lalu nabi Musa berjalan dengan keluarganya yang dikatakan bahwa tujuannya adalah negeri Mesir setelah dalam waktu yang lama dia meninggalkannya. Lalu sebagaimana keadaannya ketika melihat api dari arah bukit Thur. yaitu ketika tampak baginya api dari arah bukit Thur, yang ada di sebelah kanannya. Lalu nabi Musa berkata kepada keluarganya seraya menyenangkan hati mereka: (Sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepada kalian) yaitu sebuah obor api. Di dalam ayat lain yaitu: (atau (membawa) suluh api) (Surah Al-Qashash: 29) yaitu obor api yang menyala (agar kalian dapat menghangatkan badan) (Surah An-Naml: 7) menunjukkan keadaan dingin. Firman Allah, (Biqabasin) menunjukkan keadaan gelap. Firman Allah (atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu) yaitu seseorang yang menunjukkan jalan kepadaku. Hal ini menunjukkan bahwa dia tersesat dari jalan.
Tafsir As-Sa'di
9-10. Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad dalam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini “Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?” mengenai keadaannya yang merupakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya aku melihat,” aku menyaksikan “api.” Peristiwa ini terjadi di bagian kanan gunung Thur. “Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu,” untuk menghangatkan diri dengannya “atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu,” maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya maknawi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na’im. Terjadilah peristiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
Tafsir Al-Wajiz
9. Apakah telah sampai kepadamu kabar dan kisah tentang Musa dengan Fir’aun dan pengikutnya?