Surah Al-A'raf : Ayat 86
وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ

"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan di samping jangan merusak di muka bumi, janganlah juga kamu duduk sengaja memotong di setiap jalan menuju nabi syuaib, dengan maksud menakut-nakuti orang-orang yang melewatinya dengan ancaman pembunuhan dan terus-menerus menghalang-halangi orangorang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya dari jalan yang lurus dengan mencari-cari dalih atau kelemahannya untuk menanamkan keraguan terhadap Allah. Ingatlah masa lalumu ketika kamu dahulunya berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu dengan mengembangbiakkan keturunanmu dan memberi rezeki yang banyak. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan dari umat dan suku sebelummu, seperti kaum 'ad dan samud, sebagai pelajaran agar kamu tidak mengalami nasib serupa. Sambil mengajak kaumnya beriman, nabi syuaib mengakhiri seruannya dengan kalimat diplomatis, jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada ajaran yang aku diutus menyampaikannya agar menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan zalim seperti mengurangi hak manusia dalam menimbang dan menakar, dan ada pula segolongan yang tidak beriman dengan apa yang aku sampaikan itu dengan masih tetap kufur dan berbuat zalim, maka bersabarlah, wahai dua golongan yang berbeda, sampai Allah menetapkan keputusan atas perkara itu dengan seadil-adilnya di antara kita. Dialah hakim yang terbaik pemberi keputusan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 86-87 Nabi Syu'aib melarang mereka untuk menghalang-halangi jalan, baik secara fisik maupun secara maknawi yaitu dengan firmanNya: (Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti) yaitu kalian menakut-nakuti akan membunuh orang jika dia tidak memberi hartanya kepada mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid dan lainnya tentang firmanNya: (Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti) yaitu kalian menakut-nakuti orang-orang mukmin yang datang kepada nabi Syu'aib untuk mengikutinya. (di tiap-tiap jalan) yaitu jalan. Sesuai firman Allah (dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok) yaitu kalian menginginkan agar jalan Allah bengkok dan menyimpang (Dan ingatlah di waktu dahulunya kalian berjumlah sedikit, kemudian Allah menjadikan kalian berjumlah banyak) yaitu kalian lemah karena jumlah kalian yang sedikit, lalu kalian menjadi kuat karena jumlah kalian telah banyak. Maka ingatlah nikmat Allah kepada kalian dalam hal itu. (lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan) yaitu di antara umat dan generasi terdahulu, serta azab dan hukuman yang menimpa mereka karena keberanian mereka berbuat durhaka terhadap Allah dan mendustakan para rasulNya. Firman Allah SWT: (Jika ada segolongan dari kalian beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman) yaitu sungguh kalian berselisih atas diriku (maka bersabarlah kalian) yaitu tunggulah (hingga Allah menetapkan hukum-Nya di antara kita) yaitu antara kalian, Dia akan memutuskannya (dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya) Sesungguhnya Dia akan menjadikan akhir yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kehancuran itu atas orang-orang kafir.
Tafsir As-Sa'di
86 “dan janganlah kamu duduk” menghadang orang ”di tiap-tiap jalan” yaitu jalan yang banyak dilalui oleh orang-orang kamu memperingatkan orang-orang darinya “dengan menakut-nakuti” orang-orang yang melewatinya “dan menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah” yakni orang yang ingin dijadikannya petunjuk. ”dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok” dan kamu membelokannnya hanya demi hawa nafsumu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan –jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hambaNya agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNYa yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan kepadanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang dari orang-orang darinya, karena ini adalah merupakan bentuk kekufuran nikmat Allah dan penentangan terhadap Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yag menitinya. ”dan ingatlah” nikmat Allah atas kalian, ”diwaktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlahmu” yakni menumbuhbiakkan dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu. bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penyakit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan. ”dan perhatikanlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan” kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meningggalkan nama baik, justru di dunia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada hari kiamat mereka lebih hina dan sengsara.
Tafsir Al-Wajiz
86. Dan janganlah kalian memotong jalan, dimana kalian mengancam menghukum orang yang ingin mendatangi kalian, menghalangi orang untuk beriman kepada agama Allah dan datang kepada Syu’aib, dan menginginkan agar syariat Allah itu menyimpang. Ingatlah ketika jumlah kalian sedikit, lalu Dia (Allah) memperbanyak kelompok kalian dengan memberikan keturunan, serta memperkuat dan memperkaya kalian, dan renungkanlah bagaimana takdir orang-orang dari umat-umat sebelumnya yang berbuat kerusakan lagi zalim, dimana Allah membinasakan mereka akibat kekufuran dan dosa-dosa mereka.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com