Tafsir Ringkas Kemenag
Ingatlah dan renungkanlah keadaan mereka ketika kami, melalui rasul kami, mengambil janji dari bani israil yaitu bahwa, janganlah kamu menyembah sesuatu pun dan dalam bentuk apa pun selain Allah yang maha esa, dan berbuat baiklah dalam kehidupan dunia ini kepada kedua orang tua dengan kebaikan yang sempurna, walaupun mereka kafir; demikian juga kepada kerabat, yaitu mereka yang mempunyai hubungan dengan kedua orang tua, serta kepada anak-anak yatim yakni mereka yang belum balig sedang ayahnya telah wafat, dan juga kepada orang-orang miskin, yaitu mereka yang membutuhkan uluran tangan. Dan bertuturkatalah yang baik kepa da manusia seluruhnya tanpa kecuali. Setelah memerintahkan hal-hal yang dapat memperkuat hubungan kekeluargaan dan hubungan sosial lainnya, Allah menyusulinya dengan sesuatu yang terpenting dalam hubungan dengan Allah, laksanakanlah salat sebaik mungkin dan secara istikamah, dan tunaikanlah zakat dengan sempurna. Itulah perjanjian yang kamu mereka sepakati dengan Allah, wahai bani israil, tetapi kemudian kamu berpaling dengan meng ingkari janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu masih menjadi pembangkang. Betapa objektif Al-Qur'an dalam menilai manusia; salah satu buktinya tampak pada ayat ini. Di sini dinyatakan bahwa tidak semua individu bani israil mengingkari perjanjian, seperti diisyaratkan dengan kalimat kecuali sebagian kecil dari kamu. Ini menunjukkan bahwa dalam setiap periode kehidupan bani israil atau bangsa-bangsa lain selalu saja ada sekelom pok kecil yang tetap berjalan lurus dengan mengikuti suara hati nuraninya untuk selalu berbuat baik, seperti dapat kita baca pada surah a'li imr a'n/3: 113. Bila ayat-ayat yang lalu berkaitan dengan hal-hal yang harus mereka kerjakan, maka ayat ini mengingatkan isi perjanjian menyangkut hal-hal yang harus mereka tinggalkan. Ayat ini memerintahkan lagi; dan ingatlah juga ketika kami, melalui nabi musa, mengambil janji dari leluhur kamu, wahai bani israil, janganlah kamu menumpahkan darahmu, yakni mem bunuh orang lain tanpa hak, dan jangan pula kamu mengusir dirimu, saudara sebangsa mu, dari kam pung halamanmu, apalagi kampung halaman mereka sendiri. Selanjutnya, mereka juga diingatkan, kemudian kamu berikrar di depan umum akan memenuhinya, wahai yang mendengar ayat Al-Qur'an ini dan yang hidup pada masa nabi Muhammad, dan bersaksi bahwa perjanjian itu memang pernah dilakukan oleh nenek moyang kalian. Ayat ini mengingatkan dan menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan antarmanusia. Isyarat ini diperoleh dari penggunaan kata darahmu, dirimu sendiri dan kampung hala manmu, padahal yang dimaksud adalah orang lain. Ini karena dalam pandang-an Allah seorang manusia pada hakikatnya merupakan saudara seketu runan manusia yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa jika seseorang berbuat buruk kepada orang lain maka pada hakikatnya ia berbuat buruk kepada diri sendiri, seperti dinyatakan dalam surah al-a'ujura't/49: 11.
[Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb]
Melalui ayat ini Allah mengingatkan kaum Bani Isroil terhadap apa yang telah Dia perintahkan kepada mereka dan pengambilan janji oleh-Nya atas hal tersebut dari mereka, tetapi mereka berpaling dari semuanya itu dan menentang secara disengaja dan direncanakan, sedangkan mereka mengetahui dan mengingat hal itu. Hal pertama yang Allah Subhanahu wa Ta'ala perintahkan kepada mereka adalah agar menyembah-Nya dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Hal yang sama diperintahkan kepada seluruh makhluk-Nya, dan untuk tujuan tersebutlah Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan mereka. Sebagaimana yang diseutkan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" (QS. Al-Anbiya :25) Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl :36) Hal ini merupakan hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu hak Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengharuskan agar Dia semata yang disembah, tiada sekutu baginya. Yang kedua yang diperintahkan setelah itu adalah memenuhi hak makhluk, dan yang paling dikuatkan untuk ditunaikan ialah hak kedua orang tua. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu membarengi hak kedua orang tua dengan hak-Nya, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman :14) Di dalam kitab shohihain disebutkan sebuah hadits dari ibnu Mas’ud RA seperti berikut : : : " " . : : " " . : : " " Aku bertanya “wahai Rosululloh, amalan apakah yang paling utama?”, beliau menjawab “sholat pada waktunya”, aku bertanya lagi “kemudian apa lagi?”, beliau menjawab, “berbakti kepada kedua ibu bapak.” Aku bertanya lagi, “kemudain apa lagi?”. Beliau menjawab, “jihad di jalan Allah”. Kerena itulah disebutkan juga dalam hadits shohih seperti berikut : : : " " . : : " " . : : " . " . Seorang laki-laki bertanya, “wahai Rosululloh, siapakah yang harus didahulukan aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab, “ibumu” lelaki itu bertanya lagi “kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab, “ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, “kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “ayahmu, kemudian orang yang paling dekat kekerabatannya denganmu.” Selanjutnya Allah menerangkan bahwa berbuat kebaikan sebagai penunaian hak makhluk bukan hanya kepada orang tua saja, akan tetapi juga mesti dilakukan kepada kaum kerabat, anak yatim, orang miskin, bahkan kepada seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena hakikatnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (kebaikan) dalam segala hal, bahkan termasuk kepada binatang sebagai mana hadits nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam berikut ini : : " , , " Dari Abu Ya'la, Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau telah bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya”. (HR Muslim no. 1955) Yang ketiga, perintah Allah dalam ayat ini adalah berkata baik sebagaimana firman-NYA : “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” Maksudnya, berkatalah kepada mereka dengan baik dan lemah lembut; termasuk dalam hal ini amr ma’ruf dan nahyi munkar Dengan cara uang makruf. Sebagaimana Hasan Al-Basri berkata sehubungan dengan ayat ini, bahwa perkataan yang baik ialah yang mengandung amr ma’ruf dan nahyi munkar, serta mengandung kesabaran, pamaafan, dan pengampunan serta berkata baik kepada manusia; seperti yang telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala., yaitu semua akhlak baik yang diridoi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Ahmad meriwayatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-kharraz, dari Abu Imran Al-Juni, dari Abdulloh ibnus Shomit, dari Abu Zar, dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda : “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu hal yang makruf (baik) walau sedikitpun; apabila kamu tidak mendapatkannya, maka sambutlah saudaramu dengan wajah berseri.” (HR : Muslim) Dengan demikian dalam ayat ini terkandung dua kebajikan (ihsan), yaitu ihsan dalam perbuatan dan ihsan dalam ucapan. Yang keempat dan kelima, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Firman-NYA : “Dirikanlah sholat dan tunaikalah zakat” Perintah melaksanakan sholat adalah bentuk keilhkasahan kepada Allah yang disembah sedangkan menunaikan zakat adalah bentuk kebaikan kepada sesame hamba. Perintah mendirikan sholat dan menunaikan zakat hampir selalu bersandingan dalam banyak ayat dalam Alquran. Demikianlah perintah yang Allah berikan kepada Bani Isroil yang terkandung dalam ayat ini, dan ternyata sebagian dari mereka berpaling dari semua perintah ini, mereka meninggalkan semuanya dan dengan sengaja berpaling sesudah mereka mengetahuinya, kecuali sedikit dari kalangan mereka yang mengerjakannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahakan dengan perinyah yang sama kepada umat ini, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa, yaitu firman-NYA: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS. An-Nisa: 36)
Tafsir As-Sa'di
83. Syariat-syariat ini adalah diantara dasar-dasar agama yang diperintahkan oleh Allah pada setiap syariat yang diturunkan, karena meliputi maslahat-maslahat yang umum dalam setiap masa dan tempat, yang tidak disentuh oleh hokum naskh, sebagai dasar agama. Karenanya Allah memerintahkan kepada kita untuk itu dalam firman-Nya : "dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan_nya dengan sesuatupun" sampai akhir ayat. firmanNya “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil.” Ini merupakan bagian dari kekerasan hati mereka, bahwa setiap perintah yang ditunjukkan kepada mereka, niscaya mereka melanggarnya, dan mereka tidaklah menerimanya, kecuali dengan sumpah-sumpah yang kuat dan janji-janji yang kokoh. Dan perjanjian tersebut adalah “janganlah kamu menyembah selain Allah.” Ini merupakan perintah untuk menyembah kepada Allah semata dan larangan dari mempersekutukanNya. Ini adalah dasar agama, dimana segala perbuatan tidak akan diterima bila tidak berdasar diatasnya, dan hal itu adalah hak Allah atas hamba-hambaNya. Kemudian Allah berfirman, ”dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, ” yakni berbaktilah kalian kepada kedua orang tua ini. Bersifat umum mencakup segala kebajikan, baik perkataan maupun tindakan yang merupakan perbuatan baik kepada mereka. Ayat ini menunjukkan larangan dari berbuat buruk kepada kedua orang tua atau larangan tidak berbuat baik dan berbuat jelek, karena yang wajib adalah berbuat baik, dan perintah kepada sesuatu adalah larangan dari hal yang bertentangan dengannya. Dan kebalikan dari berbuat kebaikan ada dua, berbuat buruk yang merupakan kejahatan yang paling besar, dan meninggalkan berbuat baik sekalipun tidak berbuat buruk, juga merupakan hal yang diharamkan, akan tetapi tidak mesti di samakan dengan yang pertama . Dan seperti ini juga hukumnya dalam hal silaturahim kepada kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Adapun perincian masalah berbuat baik tidaklah terbatas oleh bilangan, akan tetapi dengan definisi sebagaimana yang telah berlalu. Kemudian Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik secara umum dengan firmanNya, “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,” dan diantara perkataan yang baik adalah memerintah mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar, serta mengajarkan ilmu kepada mereka, menyebarkan salam dan wajah berseri, dan lain sebagainya dari perkataan-perkataan yang baik. Dan ketika tidak semua manusia mampu berbuat baik dengan hartanya, maka mereka diperintahkan dengan suatu hal yang mereka mampu melakukannya untuk berbuat baik kepada setiap makhluk, yaitu berbuat baik dengan perkataan. Dengan demikian termasuk dalam kandungan hal itu juga adalah larangan dari perkataan yang buruk kepada manusia hingga kepada kaum kafir. Oleh karena itu Allah berfirman : "dan janganlah mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang baik" Dan di antara tata krama seorang manusia yang telah Allah didikkan kepada hamba-hambaNya adalah agar manusia itu mulia dalam perkataan maupun tindakannya, tidak berlaku keji dan tidak pula jorok, tidak mencela dan tidak juga bertengkar, akan tetapi berakhlak yang baik, luas keramahannya, pandai bergaul dengan setiap orang, bersabar atas segala yang diterima dari gangguan makhlukNya sebagai tindakan menaati perintah Allah dan peengharapan atas ganjaranNya. Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat, karena seperti yang telah dijelaskan bahwa shalat itu mengandung sikap keikhlasan kepada dzat yang disembah, sedangkan zakat mengandung tindakan berbuat baik kepada hamba. Kemudian setelah perintah ini, kalian pasti mendapatkan kebaikan-kebaikan dan justru dengan adanya perintah –perintah yang baik tersebut, yang mana bila seorang yang sangat jeli dan paham melihat hal-hal itu niscaya dia akan mengetahui kebaikan Allah ta’ala terhadap hamba-hambaNya yang memerintahkan hal-hal tersebut kepada mereka dan memuliakan mereka dengannya, yang telah mengambil janji-janji atas kalian, ” kamu tidak memenuhi janji itu, ” dengan cara berpaling, karena orang byang berbalik pergi itu kadang masih memiliki niat untuk kembali lagi kepada hal yang dia tinggalkan, namun mereka ini sama sekali tidak memiliki keinginan dan tidak pula punya niat untuk kembali. Maka mari kita berlindung kepada Allah dari keterhinaan. Dan firmanNya, “Kecuali sebagian kecil dari kamu, ” ini adalah pengecualian, agar tidak timbul asumsi bahwasanya mereka berpaling semuanya, maka Allah mengabarkan bahwa ada sedikit diantara mereka yang dilindungi oleh Allah dan dikukuhkan dalam hal tersebut.