Surah Al-Munafiqun : Ayat 8
يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى ٱلْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ ٱلْأَعَزُّ مِنْهَا ٱلْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
"Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui."
Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka berkata kepada sesama orang munafik, 'sungguh, jika kita kembali ke madinah seusai perang bani mustalik, yaitu perang yang diiikuti orang-orang munafik bersama kaum muslim, pastilah orang yang kuat, yaitu orang-orang munafik akan mengusir orang-orang yang lemah, yakni kaum muslim dari sana, madinah. ' padahal kekuatan itu hakikatnya hanyalah milik Allah, rasul-Nya, dan milik orang-orang mukmin, selama mereka bersatu dan memiliki mental kejuangan, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui bahwa yang lemah itu mereka dan yang kuat itu rasulullah bersama para sahabat. 9. Pada ayat ini Allah mengingatkan orang-orang beriman agar kesibukan mengurus harta dan memperhatikan urusan anak tidak menghalangi ibadah kepada Allah. Wahai orang-orang yang beriman di mana pun berada! janganlah harta bendamu yang kamu cari dan anak-anakmu yang kamu sayangi, melalaikan kamu dari mengingat Allah, yakni salat lima waktu dan aturan-aturan Allah tentang bekerja, bermasyarakat, dan bernegara. Dan barang siapa berbuat demikian, melalaikan ibadah dan aturan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang rugi, karena kebutuhan ruhaninya tidak terpenuhi dan hidupnya tidak seimbang.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 5-8 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang munafik, semoga laknat Allah menimpa mereka bahwa mereka itu: (apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," mereka membuang muka mereka) yaitu mereka menghalang-halangi dan berpaling dari apa yang dikatakan kepada mereka dengan sombong dan menghina. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombongkan diri) Kemudian Allah membalas mereka atas hal itu. Maka Allah SWT berfirman: (Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (6)) Sebagaimana yang disebutkan di dalam surah At-Taubah. Pembahasannya telah dijelaskan sebelumnya dan hadits-hadits yang diriwayatkan tentangnya. Ibnu Abu Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-’Adani yang berkata bahwa Sufyan berkata tentang firmanNya: (mereka membuang muka mereka) Ibnu Abu Umar berkata bahwa Sufyan memalingkan mukanya ke arah kanan seraya melirikkan pandangan matanya dengan pandangan yang sinis, lalu berkata bahwa seperti inilah sikap mereka. Telah disebutkan beberapa ulama salaf, bahwa konteks ayat ini diturunkan tentang dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana yang akan kami terangkan, jika Allah SWT menghendaki. Qatadah dan As-Suddi berkata bahwa ayat ini diturunkan terkait Abdullah bin Ubay bin Salul. Demikian itu karena ada seorang pemuda dari kerabatnya melapor kepada Rasulullah SAW dan menceritakan kepada beliau tentang Ibnu Salul. Maka Rasulullah SAW memanggilnya, tetapi ternyata dia bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa dirinya tidak mengatakannya dan berlepas diri dari hal itu. Maka orang-orang Anshar mendatangi pemuda itu dan mencacinya. Lalu Allah menurunkan firmanNya mengenai peristiwa ini, sebagaimana yang kalian dengar. Kemudian dikatakan kepada musuh Allah, "Sebaiknya kamu datang menghadap kepada Rasulullah SAW" tetapi dia memalingkan mukanya, yaitu aku tidak melakukannya. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata,"Ketika kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu peperangan, maka ada seorang lelaki dari kalangan Muhajirin mendorong seorang lelaki dari kalangan Anshar. Maka orang Anshar berkata,”Hai orang-orang Anshar!” Sedangkan orang Muhajirin berkata, “Hai orang-orang Muhajirin!”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa seruan jahiliah itu muncul lagi?Tinggalkanlah itu, karena sesungguhnya itu busuk" Abdullah bin Ubay bin Salul berkata,"Sungguh mereka melakukan itu. Demi Allah, sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya" Jabir berkata bahwa orang-orang Anshar di Madinah lebih banyak daripada orang-orang Muhajirin di saat Rasulullah SAW baru tiba di Madinah, kemudian setelah itu kaum Muhajirin bertambah banyak. Maka Umar berkata,"Biarkanlah aku memenggal batang leher orang munafik ini" Tetapi Rasulullah SAW bersabda: “Biarkanlah dia” agar orang-orang tidak membicarakan bahwa nabi Muhammad membunuh temannya sendiri”
Tafsir As-Sa'di
8. “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya’.” Ini terjadi pada saat perang al-Muraisi, ketika beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar terlibat adu mulut yang mengusik perasaan. Saat itu kemunafikan mereka nampak dan jelaslah apa yang tersembunyi di hati mereka. Pemimpin kaum munafik, Abdulllah bin Ubaibin Salul, berkata, “Perumpamaan kami dengan mereka –maksudnya kaum Muhajirin- tidak lain adalah seperti orang yang berkata, Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu.” Dan dia juga berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya,” karena mengira bahwa dia dan teman-temannya dari kalangan munafik adalah orang-orang kuat dan Rasulullah serta orang-orang yang bersamanya adalah kalangan lemah, padahal sebenarnya perkataan si munafik itu terbalik. Karena itu Allah itu berfirman, “Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik RasulNya, dan milik orang-orang Mukmin.” Merekalah yang kuat sedangkan orang-orang munafik serta teman-teman mereka adalah orang-orang lemah. “Tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” hal itu. Karena itu mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang kuat dengan kebatilan yang ada pada diri mereka.
Tafsir Al-Wajiz
8. Orang-orang munafik itu berkata: “Sungguh jika kami kembali ke Madinah dari perang melawan Bani Mushthaliq, sungguh orang kuat (maksudnya adalah diri mereka meskipun mereka adalah orang-orang munafik) akan mengeluarkan orang lemah dari kota itu dan mereka menganggap bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasulallah, dan orang-orang mukmin, bukan milik mereka. Maknanya adalah kekuatan dan kemenangan itu hanya milik Allah dan orang-orang yang Dia beri (kemuliaan) yaitu orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah dan orang-orang syang etia denganNya karena kebodohan dan kesombongan mereka yang sangat besar. Tirmidzi dari Zaid bin Arqam bahwa ada orang Baduwi yang berseteru dengan orang Anshar dalam memperebutkan air. Kemudian orang Baduwi itu memukul kepalanya menggunakan kayu dan mematahkannya, Lalu dia mengeluh kepadaku dengan berkata: “Kalian jangan menfkahkan (harta kalian) kepada orang di sisi Rasulallah sampai mereka membersihkan diri. Ketika kami kembali ke Madinah, maka orang kuat akan mengusir orang lemah, Orang kuat itu adalah aku dan orang lemah itu adalah Rasulallah SAW.”