Surah As-Saff : Ayat 8
يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”."

Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka, orang-orang yang mengada-adakan kebohongan tentang Allah, hendak memadamkan cahaya agama Allah yang menekankan prinsip tauhid, prinsip tidak ada tuhan selain Allah, prinsip tidak dibenarkan beribadah kecuali kepada-Nya dan prinsip tidak ada manusia yang mempertuhankan manusia dengan mulut, ucapan-ucapan mereka, bahkan dengan sikap dan tindakan mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya, agama-Nya dengan menurunkan wahyu, mengutus rasul dan memerintahkan rasul, mengajak umat meyakininya, meskipun orang-orang kafir membencinya dan merintanginya dengan berbagai cara. 9. Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, prinsip tauhid yang lurus untuk memenangkannya di atas segala agama yang bertentangan dengan prinsip tauhid, mempertuhankan manusia dan tidak memanusiakan manusia, meskipun orang-orang musyrik membencinya, bahkan merintanginya dengan berbagai cara.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 7-9 Firman Allah SWT: (Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia diajak kepada agama Islam?) yaitu tidak ada seorangpun yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan membuat tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu bagiNya, padahal dia diajak kepada agama tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim) Kemudian Allah SWT berfirman: (Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka) yaitu, mereka berusaha menolak kebenaran dengan kebathilan. Perumpamaan mereka dalam hal itu seperti seseorang yang ingin memadamkan sinar matahari dengan mulutnya. Maka sebagaimana hal ini mustahil, begitu juga hal itu. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir benci (8) Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci (9)) Mengenai kedua ayat ini, telah disebutkan dalam surah At-Taubah dengan keterangan yang cukup. Segala puji bagi Allah
Tafsir As-Sa'di
8. Karena itu Allah berfirman tentang mereka, “Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka,” maksudnya dengan berbagai perkataan busuk yang mereka kemukakan yang menolak kebenaran yang sebenarnya tidak ada wujudnya, namun semakin membuat orang yang tahu lebih memahami bahwa ia berada di atas kebatilan. “Dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci.” Maksudnya, Allah menjamin akan memenangkan AgamaNya, menyempurnakan kebenaran yang dibawa oleh para rasulNya, dan menampakkan cahayaNya di berbagai penjuru, meski orang-orang kafir membencinya. Karena kebencian, mereka mencurahkan segala daya upaya agar bisa memadamkan cahaya Allah, tapi mereka pasti kalah. Mereka tidak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan matahari dengan cara meniup dengan mulutnya. Tujuan mereka tidak tercapai dan akal mereka terbebas dari kekurangan dan celaan.
Tafsir Al-Wajiz
8. Orang-orang kafir itu ingin berbuat bathil terhadap syariat Allah dengan kebohongan mereka kepada para Rasul melalui ucapan-ucapan mereka yang mereka-reka bahwa Al-Qur’an itu adalah sihir, syair atau ilmu perdukunan. Allah adalah Dzat yang menampakkan agamaNya dan menebarkanNya di cakrawala dunia, meskipun orang-orang kafir yang menyimpang itu membencinya. Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW pernah terlambat menerima wahyu selama 40 hari. Sungguh Allah telah meredupkan cahaya Muhammad dalam menurunkan wahyu kepadanya, sedangkan perintahNya belumlah sempurna. Kemudian Rasulallah SAW bersedih, lalu Allah SWT menurunkan ayat ini dan wahyu-wahyu selanjutnya pun berlanjut.”

Sumber tafsir dari tafsirweb.com