Surah Fatir : Ayat 8
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَٰتٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
Tafsir Ringkas Kemenag
Allah membedakan dengan sangat nyata mereka yang menjadikan setan sebagai musuh dan mereka yang menjadikannya kawan. Maka, apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya karena berkawan dengan setan, lalu menganggap baik perbuatannya itu' tentu tidak pantas! sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki karena dia lebih memilih kesesatan daripada petunjuk Allah melalui rasul-Nya, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki karena dia memilih petunjuk atas izin Allah. Maka, jangan engkau, wahai nabi Muhammad, biarkan dirimu binasa karena kesedihan hatimu dan larut dalam penyesalan terhadap kesesatan dan keingkaran mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat dan akan memberi balasan yang sepadan. 9. Usai menjelaskan kepastian janji Allah, kedatangan hari kiamat, dan perbedaan antara orang yang taat dengan yang ingkar serta balasan yang akan mereka peroleh, pada ayat ini Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasan-Nya di alam semesta sekaligus menjadi perumpamaaan terjadinya hari kebangkitan. Dan Allah-lah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami arahkan awan yang mengan-dung air itu ke suatu negeri yang mati, yakni tandus, lalu turunlah hujan dan dengan hujan itu lalu kami hidupkan bumi setelah mati, yakni kering. Seperti itulah kebangkitan itu akan terjadi.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 7-8 Setelah menyebutkan tentang para pengikut iblis dan tempat kembali mereka di neraka yang menyala-nyala, Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang kafir itu bagi mereka azab yang keras karena mereka taat kepada setan dan durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, dan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya (dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan) yaitu terhadap dosa-dosa yang telah mereka lakukan (dan pahala yang besar) atas amal perbuatan yang mereka lakukan berupa kebaikan, kemudian Allah SWT berfirman: (Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk) yaitu seperti orang-orang kafir dan orang-orang durhaka, mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sedangkan mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan baik. yaitu, apakah orang yang telah disesatkan Allah seperti itu, tidak ada jalan bagimu untuk memberinya petunjuk (Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya) yaitu dengan kekuasaanNya, maka terjadilah hal itu (maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka) yaitu, janganlah merasa kecewa dengan hal itu, karena sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dalam menentukan takdirNya. Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang sesat dan memberi petunjuk orang yang mendapat petunjuk berdasarkan apa yang Dia ketahui dalam hal itu berupa hujjah jelas dan ilmu yang smpurna. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat)
Tafsir As-Sa'di
8. Allah berfirman, “Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik” pekerjaannya yang buruk lagi keji, yang dihiasi dan diperbagus oleh setan dalam pandangan matanya, “lalu ia meyakini pekerjaan itu baik.” Yakni, seperti orang yang diberi hidayah oleh Allah kepada jalan yang lurus dan Agama yang benar; apakah sama yang ini dengan yang itu?! Yang pertama melakukan amal keburukan dan memandang yang haq itu batil, sedangkan yang batil itu haq, dan orang yang kedua melakukan kebaikan dan melihat yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. Namun, pemberian hidayah dan penyesatan itu hanya ada di Tangan Allah, “maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya; maka janganlah dirimu binasa terhadap mereka,” yakni terhadap orang-orang yang sesat di mana perbuatan-perbuatan buruk mereka pandang baik dan mereka dihalang-halangi oleh setan dari yang haq, “karena kesedihan.” Hal itu karena kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan sedikit pun kamu tidak berwenang memberi petunjuk kepada mereka, dan Allah-lah yang akan memberikan pembalasan kepada mereka atas amal perbuatan mereka. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Tafsir Al-Wajiz
8. Apakah orang yang perbuatan buruknya dihiasi oleh setan (perbuatan jeleknya), maka dia akan melihatnya sebagai kebaikan, yaitu dia melihat suatu keburukan sebagai suatu kebaikan) sebagaimana orang beriman yang tidak dihiasi amalnya oleh setan? Tidak, sesungguhnya keduanya berbeda (hamzah tersebut adalah istifham inkary yang memberikan fungsi nafi). Maka sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang dikehendaki dengan memberinya kesesatan, jadi dia mengutamakan amal jelek dan perbuatan buruknya. Dia (Allah) juga menunjukkan orang yang dikehendaki dengan memberinya petunjuk sehingga dia mendahulukan amal (baik)nya dengan petunjuk tersebut dan pertolongan menuju jalan petunjuk dan keimanan. Maka janganlah kalian menghancurkan diri kalian dengan bersedih atas kekufuran dan kesesatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan dan tidak ada yang luput dariNya. Dia juga membalas setiap orang dengan apa yang layak baginya. Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini diturunkan {Afaman Zuyyina …} saat nabi SAW berdoa: “Ya Allah Muliakanlah agamaMu dengan Umar bin Khattab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam” lalu Allah memberi hidayah kepada Umar dan menyesatkan Abu Jahal. Untuk keduanyalah ayat ini diturunkan”