Tafsir Ringkas Kemenag
Beralih dari uraian tentang pendustaan kaum kafir kepada nabi Muhammad, Allah melalui ayat ini menjelaskan keniscayaan hari kebangkitan. Ayat ini turun untuk menjawab kelancangan al-''' bin w'il yang menantang rasulullah untuk membuktikan kemampuan Allah membangkitkan kembali tulang lapuk yang dibawanya. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setetes mani, kemudian setelah melalui berbagai proses ia lahir ke dunia dan tumbuh menjadi manusia sempurna, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata! mereka berubah menjadi musuh dengan mengingkari hari kebangkitan. Sungguh, sikap ini tidak sejalan dengan akal sehat. 78. Demikianlah keingkaran manusia kepada kami. Dan dia membuat perumpamaan bagi kami dan melupakan asal kejadiannya dari setetes air mani yang hina. Dia berkata, 'siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh'' jika menyadari asal kejadiannya, tentu manusia akan percaya bahwa Allah mahakuasa menghidupkannya kembali sesudah mati.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 77-80 Mujahid, Ikrimah, Urwah bin Az-Zubair, As-Suddi, dan Qatadah berkata bahwa Ubay bin Khalaf semoga dilaknat oleh Allah datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa sebuah tulang yang rapuh, lalu dia meremasnya hingga hancur dan menebarkannya ke udara seraya berkata, "Wahai Muhammad, apakah kamu mengira bahwa Allah akan menghidupkan kembali tulang ini?" Rasulullah SAW menjawab: “Benar, Allah akan mematikanmu, kemudian membangkitkanmu hidup kembali, lalu menggiringmu ke neraka” Lalu turunlah ayat-ayat ini sampai akhir surah Yasin: (Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani)), hingga akhir surah Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa sesungguhnya Al-Ash bin Wa'il memungut sepotong tulang dari sungai yang lebar, lalu menghancurkannya dengan tangannya, kemudian dia berkata kepada Rasulullah SAW, "Apakah Allah akan menghidupkan kembali hewan ini sesudah apa yang aku lihat sekarang?" Rasulullah SAW menjawab: “Benar, Allah akan mematikanmu, lalu menghidupkanmu, kemudian memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam” Ibnu Abbas berkata bahwa setelah itu turunlah ayat-ayat yang terakhir surah Yasin. Akan tetapi, bahwa sama saja apakah ayat-ayat ini diturunkan tentang dengan Ubay bin Khalaf, atau Al-Ash bin Wa'il, atau tentang keduanya, ayat ini mengandung makna umum mencakup semua orang yang mengingkari hari kebangkitan. Huruf alif dan lam yang ada di dalam firmanNya: (Dan apakah manusia tidak memperhatikan) untuk menunjukkan jenis yang mencakup semua orang yang mengingkari hari kebangkitan (bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata) yaitu apakah orang yang mengingkari hari kebangkitan tidak menyimpulkan dari permulaan penciptaan dirinya yang menunjukkan kepada kembalinya dia? Karena sesungguhnya Allah memulai penciptaan manusia dari sari pati air yang hina. Dia menciptakannya dari sesuatu yang hina, lemah, dan kecil, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (20) Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (Rahim) (21) Sampai waktu yang ditentukan (22)) (Surah Al Mursalat) dan (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur) (Surah Al-Insan: 2) yaitu dari air mani yang bercampur, dan Dzat yang menciptakan manusia dari air mani yang lemah ini pasti mampu menghidupkannya kembali setelah mati. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?" (78)) yaitu dia menganggap mustahil bahwa Allah yang mempunyai kekuasaan yang agung yang telah menciptakan langit dan bumi ini dapat mengembalikan jasad dan tulang-belulang yang telah hancur. Dia melupakan dirinya, bahwa Allah telah menciptakannya dari ketiadaan menjadi ada, padahal kalau dia merenungkan kejadian dirinya, tentulah dia dapat mengetahui apa yang lebih agung daripada yang dia anggap mustahil, dia ingkari, dan dia tentang. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk (79)) yaitu mengetahui tulang-belulang yang berserakan di penjuru bumi, kemana perginya dan ke mana tercerai-berai. Firman Allah SWT: (yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu (80)) yaitu Dzat yang menciptakan pohon ini dari air shingga menjadi pohon yang hijau dan segar yang berbuah dan dapat dipanen buahnya, kemudian Dia mengembalikannya hingga menjadi kayu yang kering dan dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Demikianlah Dia Maha berbuat sesuai dengan yang Dia kehendaki, dan Maha Kuasa terhadap apa yang Dia inginkan, tidak ada sesuatupun yang dapat mencegahNya. Qatadah berkata tentang firmanNya: (yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu (80)) dia berkata bahwa Dzat yang mengeluarkan api dari pohon itu mampu mengembalikannya hidup kembali.
Tafsir As-Sa'di
77. maka Allah berfirman, ”dan apakah manusia tidak memperhatikan,” yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya “dari setitik air,” kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnyapun menjadi sempurna dan dewasa, “lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata,” setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh!