Tafsir Ringkas Kemenag
Dan sifat 'ib'durrahm'n berikutnya adalah orang-orang yang berkata yakni memanjatkan doa, 'ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami yang menjadi pendamping kami dalam melaksanakan kehidupan ini dan anugerahkanlah juga kepada keturunan kami yang akan melanjutkan kehidupan diri kami sebagai penyenang hati kami, karena perbuatan mulia mereka, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin dan panutan bagi orang-orang lain yang bertakwa. '75. Mereka itu yakni orang-orang yang memiliki sifat di atas, akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi dalam surga, yang penuh dengan segala kenikmatan lahir maupun batin atas kesabaran mereka melaksanakan semua perintah Allah. Dan di sana mereka akan disambut oleh para malaikat penjaga surga dengan penghormatan yang agung layaknya pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang dan sebagi penghormatan kepada mereka, para malaikat mengucapkan salam, keselamatan akan selalu bersama kalian, selama-lamanya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 72-74 Ini juga merupakan sebagian dan sifat-sifat hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, yaitu bahwa mereka tidak pernah memberikan kesaksian palsu. Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah kemusyrikan dan menyembah berhala. Dikatakan juga berdusta, berbuat fasik, ingkar, bebuat sia-sia, dan berbuat bathil. Umar bin Qais berkata yaitu majelis =kejahatan dan kefasikan. Dikatakan bahwa makna firman Allah SWT: (yang tidak memberikan persaksian palsu) yaitu kesaksian palsu yaitu berdusta untuk mencelakakan orang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Bakrah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?”, sebanyak tiga kali. Lalu kami menjawab,"Iya, Wahai Rasulullah” Rasulullah SAW bersabda,"Menyekutukan Allah dan menyakiti kedua orang tua” Pada mulanya beliau bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda,"Ingatlah, ucapan dusta, ingatlah kesaksian palsu!" Rasulullah SAW mengulang-ulangnya, sehingga kami berkata bahwa seandainya beliau diam. Makna yang tampak dengan konteks ayat ini bahwa makna yang tidak memberikan kesaksian palsu adalah tidak melakukannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui dengan menjaga kehormatan dirinya) yaitu mereka tidak melakukannya, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang melakukannya , maka mereka melewatinya saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatupun dari hal itu. Oleh karena itu Allah berfirman: (mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya) Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta (73)) Ini merupakan salah satu dari sifat orang-orang mukmin (mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal) (Surah Al-Anfal: 2) Berbeda dengan orang kafir, karena sesungguhnya apabila dia mendengar kalam Allah, maka tidak akan ada pengaruh dalam dirinya dan tidak ada perubahan dari apa yang sebelumnya dia lakukan, bahkan dia tetap pada kekafiran, kesesatan, kebodohan, dan tindakan melampaui batas. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedangkan mereka merasa gembira. (124) Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada)) (Surah At-Taubah:124, 125) Firman Allah: (mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta) yaitu berbeda dengan orang kafir yang apabila mendengar ayat-ayat Allah, maka dirinya tidak terpengaruh, bahkan tetap dalam keadaannya, seakan-akan tidak mendengarnya karena tuli dan buta. Mujahid berkata tentang firmanNya: (mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta) yaitu, mereka tidak mendengarkannya, melihatnya, dan mengerti akan sesuatu pun darinya. Qatadah berkata tentang firmanNya: (Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta (73)) dia berkata yaitu mereka tidak tuli terhadap kebenaran dan tidak buta terhadapnya; mereka (demi Allah) adalah kaum yang memikirkan kebenaran dan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka dengar dari kitabNya. Firman Allah SWT: (Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai menyenangkan hati (kami)) yaitu mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari tulang sulbi mereka dari keturunan yang taat dan menyembah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Ibnu Abbas berkata bahwa mereka mengerjakan ketaatan kepada Allah sehingga hati mereka menjadi sejuk baik di dunia maupun akhirat. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa mereka memohon kepada Allah SWT agar Dia memberikan petunjuk kepada istri-istri dan keturunan mereka untuk memeluk agama Islam. Firman Allah SWT: (dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa) Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud adalah para pemimpin yang mengikuti kami dalam kebaikan.
Tafsir As-Sa'di
74 “dan orang-orang yang berkata ’Ya Rabb kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami,” maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para sahabat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, “dan keturunan kami sebagai penyenang hati,” maksudnya mata kami menjadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa diantara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka
Tafsir Al-Wajiz
74. Dan orang-orang yang berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, isteri-isteri dan anak-anak kami sebagai penyejuk mata kami karena bahagia, atau sebagai penggembira jiwa kami dengan menuntun mereka menuju ketaatan, kebaikan dan keutamaan. Dan jadikanlah kami sebagai teladan dalam kebaikan” Ini adalah dalil tentang hukum memohon kepemimpinan yang berlandaskan agama guna mendirikan kewajiban kepemimpinannya, bukan untuk menyombongkan diri dengan kepemimpinan itu