Surah Al-Ankabut : Ayat 64
وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

Tafsir Ringkas Kemenag
Salah satu faktor yang menjadikan orang-orang kafir enggan menyembah Allah, meski bukti wujud dan keesaan-Nya begitu jelas, adalah motivasi duniawi. Karena itu, ayat ini menginformasikan hakikat kehidupan dunia dan perbandingannya dengan kehidupan akhirat. Dan kehidupan dunia ini hina, tidak bernilai, dan tidak pula kekal. Dunia ini hanya senda-gurau yang akan melenakan orang kafir dari tugas hidup yang sebenarnya, dan dunia ini juga layaknya permainan yang hanya memberi kesenangan sesaat, sebelum kelelahan datang. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya bagi manusia. Itulah kehidupan yang kekal dan abadi. Di sana manusia akan merasakan kebahagiaan dan kesengsaraan yang hakiki, sekiranya mereka mengetahui dan memahami kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Namun, banyak dari mereka tidak berusaha memahami hal itu. 65. Padahal, saat menghadapi situasi mencekam di dunia ini, bahkan orang kafir pun akan menaruh harapan kepada tuhan yang selama ini mereka ingkari. Ayat ini memberi gambaran tentang sikap buruk mereka tersebut. Maka apabila mereka naik kapal lalu badai datang menerjang, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian kepada-Nya agar bisa selamat. Akan tetapi, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka kembali mempersekutukan Allah. Inilah karakter orang kafir dan munafik, berbeda sama sekali dari karakter orang mukmin.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 64-66 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang kehinaan, kefanaan dan berakhirnya dunia, bahwa dunia itu tidak kekal, dan kehidupan dunia itu tidak lain hanya senda gurau dan main-main (Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan) yaitu kehidupan abadi yang sebenarnya yang tidak ada kefanaan, bahkan kehidupan akhirat terus berlangsung selamanya. Firman Allah SWT: (kalau mereka mengetahui) yaitu sungguh mereka lebih memilih sesuatu yang kekal daripada sesuatu yang fana. Kemudian Allah SWT memberitahukan tentang keadaan orang-orang musyrik ketika mereka terjepit, maka mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagiNya, kenapa hal ini tidak mereka lakukan selamanya? (Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya) sebagaimana firmanNya SWT: (Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia me­nyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling) (Surah Al-Isra’: 67). Di sini Allah berfirman: (maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah)) Firman Allah SWT: (agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran)) Lam ini menurut mayoritas ulama bahasa Arab, ulama tafsir dan ulama ushul fiqh sebagai lam al-'aqibah, karena mereka tidak bermaksud demikian, dan tidak diragukan lagi makna ini memang demikian menurut mereka. Tetapi jika sesuai dengan takdir dan ketentuan Allah atas mereka untuk itu, maka itu adalah lam ta'lil. Telah kami sebutkan pembahasan hal ini dalam firman Allah SWT. (yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka) (Surah Al-Qashshash: 8)
Tafsir As-Sa'di
64. Allah memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ”dan tiadalah kehidupan dunia ini,” pada yang sebenarnya, “melainkan senda gurau dan main-main,” dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi memalingkan, yang sedap di pandang mata nan lalai, yang menyenangkan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri “kehidupan,” maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazimannya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan kekuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala sesuatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. “kalau mereka mengetahui,” tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menunjukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
Tafsir Al-Wajiz
64. Kehidupan dunia ini tidak lain kecuali seperti hiburan dan permainan anak-anak. Mereka bertemu dengan kiamat kemudian mereka terpisah-pisah. Sesungguhnya kehidupan rumah akhirat adalah kehidupan hakiki yang abadi, tidak akan hilang, karena tidak ada kematian setelahnya. Jika mereka mengetahui hal itu, sungguh mereka tidak akan mengunggulkan dunia atas akhirat.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com