Tafsir Ringkas Kemenag
Kami beri mereka anugerah, yaitu surga 'adn yang telah dijanjikan oleh tuhan yang maha pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan melaksanakan ajaran-Nya. Mereka mengimani eksistensinya, sekalipun surga itu tidak tampak dan tidak mereka lihat di dunia. Sungguh, mereka meyakini bahwa janji Allah itu pasti ditepati. Mereka tahu Allah tidak pernah mengingkari janji. 62. Surga yang kami janjikan itu penuh kesenangan. Di dalamnya mereka tidak pernah berbicara atau mendengar perkataan yang tidak berguna, kecuali ucapan salam yang menyejukkan dan mendamaikan. Banyak nikmat Allah di dalamnya, dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang, yang telah Allah tetapkan sebagai pahala atas kebaikan mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 61-63 Allah SWT berfirman bahwa surga yang akan dimasuki orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa mereka adalah surga 'Adn, yakni sebagai tempat tinggal (yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya) secara ghaib. yaitu termasuk perkara ghaib yang mereka imani keberadaannya, sekalipun mereka tidak melihatnya. Demikian itu karena kuatnya keyakinan dan keimanan mereka. Firman Allah: (Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati) penegasan bahwa hal itu pasti terjadi dan telah ditetapkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari dan tidak akan mengganti janjiNya. Sebagaimana firmanNya: (Adalah janji Allah itu pasti terlaksana) (Surah Al-Muzzammil: 18) yaitu pasti terjadi. Firman Allah di sini, (pasti akan ditepati) bahwa semua hamba akan kembali dan menghadap kepadaNya. Sebagian lainnya ada yang mengartikan bahwa maknannya adalah akan datang, karena setiap hal yang menimpamu maka akan datang kepadamu. Sebagaimana yang dikatakan orang-orang Arab,” "Atat 'alayya khamsuna sanah" dan “'Ataitu 'ala khamsiina sanah" (Aku telah berusia lima puluh tahun) keduanya bermakna sama. Firman Allah: (Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga) yaitu di dalam surga tidak terdapat kata-kata yang kotor dan tak berguna yang tidak mengandung makna apapun, sebagaimana yang ditemukan di dunia. Firman Allah: (kecuali ucapan salam) Istisna’ munqathi’ seperti firmanNya: (Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa (25) tetapi mereka mendengar ucapan salam (26)) (Surah Al-Waqi'ah) Firman Allah: (Bagi mereka rezekinya di surga tiap-tiap pagi dan petang) yaitu seperti dengan waktu pagi dan petang. Firman Allah: (Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (63)) yaitu surga yang Kami gambarkan dengan penggambaran yang agung itu adalah surga yang Kami anugerahkan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah SWT dalam suka dan duka, meredam amarahnya dan suka memaafkan orang lain. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mu’minun: (Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1) (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (2)) Sampai firmanNya: (Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (10) (yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11)) (Surah Al-Mu’minun)
Tafsir As-Sa'di
61. Kemudian Allah menyebutkan bahwa surga (taman) yang dijanjikan untuk dimasuki tidaklah seperti taman-taman yang lain. Akan tetapi, “Surga ‘And,” yaitu surga tempat hunian tetap, tidak akan pernah ditinggalkan, tidak akan pernah diganti dan tidak akan lenyap. Hal ini disebabkan oleh luasnya surga itu serta besarnya kuantitas kenikmatan padanya, berupa kebaikan-kebaikan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan, serta keceriaan, “yang telah dijanjikan oleh ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hambaNYa, dengan (cara) ghaib,” yaitu surga yang dijanjikan oleh ar-Rahman. Allah merangkaikan kata surga dengan namaNYa, ar-Rahman, karena di dalam Surga ‘And itu terdapat curahan rahmat dan kebaikan yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga dan tidak terlintas dalam benak manusia . Allah juga menamakan surga ini sebagai rahmatNYa. Allah berfirman, "Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya". (Ali Imran:107). Begitu pula, pada penggandengan kata surga dengan nama ar-Rahman, terdapat isyarat yang menunjukkan kontinuitas kebahagiaan di dalamnya, dan bahwa surga itu abadi dengan keabadian rahmat Allah yang merupakan pengaruh dan konsekuensi rahmatNya. Kata ‘al’ibaad’ dalam ayat ini maksudnya adalah hamba dari ketuhanannya (ilahiyah) Allah, yaittu para hamba yang senantaiasa beribadah kepada Allah dan konsisten melaksanakan syariatNya. Sehingga ‘al-ubuudiyyah’ (penghambaan diri kepada Allah) menjadi predikat mereka, sebagaimana Firman Allah, (Al-Furqan:63) dan ayat-ayat yang semisalnya. Berbeda dengan “para hamba Allah” dalam konteks kepemilikan semata, yang tidak pernah beribadah kepadaNya. Mereka ini meskipun sebagai hamba dari pengaturan (rububiyah) Allah karena Allah telah menciptakan mereka, memberi rizki dan megatur mereka, namun mereka ini tidak termasuk dalam golongan hamba al-uluhiyah al-ubudiyah al-ikhtiyariyah (hamba yang beribadah karena kemauan sendiri) yang pelakunya berhak mendapatkan ppujian. Mereka menghambakan diri karena terpaksa, mereka tidak berhak mendapat pujian sama sekali. Firman Allah, “dengan cara ghaib,” ada kemungkinan kata ini berhubungan dengan “yang dijanjikan oleh DZat Yang Maha Pemurah”. Berdasarkan ini, maka pengertiannya adalah bahwa janji Allah untuk meberikan surga kepada mereka itu merupakan janji ghaib yang belum pernah mereka saksikan dan lihat. Namun, mereka mengimaninya, meyakini ketidaktampakannya, dan mereka pun berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga, padahal mereka belum pernah melihatnya. Lalu, bagaimanakah seandainya mereka pernah melihatnya? Sudah pasti, mereka akan lebih antusias lagi untuk mendapatkannya, lebih termotivasi lagi dan akan lebih giat lagi berusaha. Sehingga ini merupakan pujian bagi mereka dengan sebab keimanan mereka terhadap perkara yang ghaib, yang merupakan keimanan yang bermanfaat. Ada kemungkinan juga, “dengan (cara) ghaib,” berkaitan dengan kata ‘ibaadah’ (para hambaNYa), yakni orang-orang yang beribadah kepadaNya secara ghaib (secara tidak langsung