Surah Al-Anfal : Ayat 54
كَدَأْبِ ءَالِ فِرْعَوْنَ ۙ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَٰهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَآ ءَالَ فِرْعَوْنَ ۚ وَكُلٌّ كَانُوا۟ ظَٰلِمِينَ
"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim."
Tafsir Ringkas Kemenag
Keadaan mereka serupa dengan keadaan pengikut fir'aun terhadap nabi musa dan orang-orang yang sebelum mereka, seperti kaum nabi nuh, kaum 'ad, kaum samud, kaum sodom, dan lain-lain. Mereka men-dustakan ayat-ayat tuhannya melalui sikap dan perilakunya, maka kami menurunkan azab yang membinasakan mereka dengan bentuk yang bermacam-macam (lihat : surah al-'ankabut/29: 40), disebabkan oleh dosa-dosanya. Dosa-dosa yang mereka lakukan bukan sematamata terkait dengan akidah atau keyakinan, akan tetapi kejahatan sosial yang dapat mengancam kehidupan kemanusiaan secara umum, seperti membudayanya kejahatan ekonomi (madyan, kaum nabi syuaib), penyimpangan seksual (sodom, kaum nabi lut), dan lain-lain, dan karena itulah kami juga menenggelamkan fir'aun dan pengikut-pengikutnya; sebab mereka adalah orang-orang yang zalim yaitu dengan menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk menindas orangorang lemah dan bahkan memperbudak mereka. Perilaku fir'aun ini esensinya sama dengan perilaku umat-umat terdahulu. Inilah hukum Allah (sunatullah) yang bersifat pasti dan universal dalam perjalanan kehidupan manusia sepanjang masa, bahwa siapa pun yang memiliki sifat dan perilaku yang sama dengan mereka pasti akan mendapat hukuman atau azab dari Allah dengan bentuknya yang berbeda-beda, tanpa memandang kebenaran akidahnya. Setelah ayat sebelumnya menjelaskan sikap orang-orang kafir mekah pada perang badar dan menyifatinya sebagai orang-orang yang zalim, maka ayat ini menjelaskan kelompok lain yang juga memusuhi nabi Muhammad, yakni yahudi bani quraidhah, yang disifati sebagai makhluk terburuk. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, yakni mereka terus-menerus melakukan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah dan merusak perjanjian yang sudah dikuatkan dengan sumpah, sebagaimana yang dilakukan oleh yahudi bani quraidha.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 53-54 Allah SWT memberitahukan tentang kesmpurnaan keadilanNya dan kebijaksanaan hukumNya bahwa Dia tidak akan mengubah nikmat yang telah Dia berikan kepada seseorang kecuali disebabkan dosa yang dia kerjakan, sebagaiman firman Allah SWT: (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia) (Surah Ar-Ra'd: 11). Firman Allah SWT: (serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya) yaitu seperti perbuatan Fir'aun dan para pengikutnya serta orang-orang yang serupa dengan mereka, ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka Dia membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan mencabut nikmat yang Dia berikan kepada mereka berupa taman-taman, mata air, tanaman-tanaman, harta, kedudukan yang mulia, dan nikmat yang mereka nikmati. Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka dalam hal itu, melainkan mereka menzalimi diri mereka sendiri.
Tafsir As-Sa'di
54. “(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firaun dengan pengikut-pengikutnya”, yakni Firaun dan kaumnya. “Serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka”, ketika ia datang kepada mereka. “Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka”, semua sesuai dengan kejahatannya. “Dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikut-pengikutnya, dan kesemuanya”, yakni orang-orang yang diazab dan dibinasakan “adalah orang-orang yang zhalim”, kepada diri mereka sendiri dengan berusaha membinasakannya. Allah tidak menzhalimi dan tidak menyiksa mereka tanpa dosa yang mereka lakukan maka hendaknya orang-orang yang ucapan ini ditujukan kepadanya tidak menyerupai mereka dalam kezhaliman, karena Allah akan menurunkan azabNya kepadanya seperti kepada orang-orang fasik itu.
Tafsir Al-Wajiz
54 Keadaan mereka orang-orang kafir Qurays sehingga menyebabkan mereka mendapat azab Allah sebab kufur, dholim dan dusta atas ayat Allah dan rasul-Nya adalah serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang kafir sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya Yang telah memelihara mereka dengan berbagai kenikmatan dan anugerah-Nya. Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya bersamanya. Setiap umat yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang zalim atas diri mereka sendiri Kalimat ini diulang sebagai tanda bahwa ayat yang pertama menunjukkan kufur akidah dan pengesaan, yang kedua menunjukkan ingkar atas nikmat dan pemeliharaan, sehingga kata rabba di sini menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Pemelihara dan Maha Pemberi Nikmat. Pada yang pertama dengan lafadz Allah