Surah An-Nisa : Ayat 53
أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّنَ ٱلْمُلْكِ فَإِذًا لَّا يُؤْتُونَ ٱلنَّاسَ نَقِيرًا
"Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia."
Tafsir Ringkas Kemenag
Pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan bagaimana kaum yahudi dengan kesombongan mereka telah berbuat durhaka, maka pada ayat ini Allah menanyakan dasar apa yang mereka punya untuk melegalkan perbuatan demikian. Sebenarnya mereka tidak mempunyai dasar apa pun. Agar terbuka kedok mereka, ayat ini mempertanyakannya. Ataukah mereka mempunyai bagian dari kerajaan dan kekuasaan. Jelas ini tidak ada. Bahkan meskipun mereka mempunyainya, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kebajikan kepada manusia, bukan saja karena tidak memilikinya, tetapi mereka juga sangat kikir. Ataukah mereka dengki kepada manusia, yakni nabi Muhammad dan kaum muslim, karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Sungguh, kami telah memberikan kitab seperti taurat, zabur, dan injil, dan hikmah kepada keluarga ibrahim, dan kami telah memberikan kepada mereka yakni keluarga ibrahim kerajaan atau kekuasaan yang besar.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 53-55 Allah SWT berfirman, (Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?) Ini adalah istifham inkari (pertanyaan untuk menyangkal) yaitu tidak ada bagian bagi mereka berupa kekuasaan, kemudian Dia menggambarkan mereka dengan kebakhilan, lalu Allah berfirman, (kalaupun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia) yaitu karena mereka sekalipun memiliki bagian dalam kekuasaan dan hak untuk mengatur pada sesuatu yang diberikan kepada salah satu dari mereka, terutama kepada nabi Muhammad SAW, dan tidak pula sesuatu yang mengisi “An-Naqir” yaitu titik yang ada dalam biji kurma menurut pendapat Ibnu Abbas dan mayoritas ulama’. Ayat ini sebagaimana dengan firmanNya, (Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya") (Surah Al-Isra’: 100) yaitu takut bahwa apa yang kalian miliki akan habis, sekalipun kehilangannya itu tidak tampak, dan itu hilang akibat ketamakan dan kekikiran kalian. Oleh karena itu, Allah berfirman (Dan adalah manusia itu sangat kikir) (Al-Isra: 100) yaitu bakhil. Kemudian Allah berfirman (ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?) yaitu kedengkian mereka terhadap Nabi SAW atas apa yang diberikan oleh Allah berupa kenabian yang agung, dan keengganan mereka untuk membenarkan beliau karena kedengkian mereka, karena beliau berasal dari bangsa Arab dan bukan berasal dari Bani Israil. Mujahid berkata, (Maka di antara mereka, ada orang-orang yang beriman kepadanya) yaitu kepada nabi Muhammad SAW (dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya) Maka, orang-orang kafir di antara mereka adalah yang paling keras dalam mendustakanmu dan yang paling jauh dari petunjuk dan kebenaran yang nyata yang kamu bawa kepada mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman seraya mengancam mereka (Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya) yaitu cukuplah neraka sebagai balasan atas kekafiran, pembangkangan, dan pertentangan mereka terhadap kitab-kitab dan rasul-rasul Allah.
Tafsir As-Sa'di
53. “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?” maksudnya, mereka mengutamakan orang-orang yang mereka kehendaki (yaitu orang-orang musyrik Makkah) daripada orang-orang yang mereka kehendaki (yaitu orang-orang Mukmin) hanya bersandar kepada hawa nafsu mereka, lalu menjadikan mereka sekutu bagi Allah dalam mengurus kerajaan dan kekuasaan, seandainya mereka seperti itu halnya, niscaya mereka akan berlaku kikir dan sangat bakhil. Oleh karena itu Allah berfirman, “Kendatipun ada” yaitu seandainya mereka memiliki bagian dalam perkara kekuasaan itu, “mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia,” maksudnya (mereka tidak akan memberikan) sesuatu pun walaupun sedikit. Ini merupakan penyifatan bagi mereka dengan kebakhilan yang sangat, padahal itu dalam suatu perkiraan adanya kekuasaan mereka sebagai sekutu bagi Allah dalam kerajaanNya, kalimat ini diungkapkan dalam bentuk pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, yaitu sesuatu yang pasti diingkari oleh setiap orang.
Tafsir Al-Wajiz
53. “Am” disini bermakna “Bal” disertai dengan alif istifham inkariy, yaitu menjadi “Apakah mereka memiliki kekuasaan” yang maknanya mereka tidak memiliki suatu bagian dari kekuasaan. Kalaupun mereka mempunyai sedikit kekuasaan, maka mereka tidak akan memberi manusia bahkan seukuran naqir (yaitu lubang di permukaan biji kurma) karena kebakhilan dan kedengkian mereka yang sangat besar.