Surah Taha : Ayat 52
قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى فِى كِتَٰبٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى

"Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa;"

Tafsir Ringkas Kemenag
Nabi musa menjawab pertanyaan fir'aun, 'pengetahuan tentang itu secara rinci hanya ada pada tuhanku. Hanya dia yang mengetahuinya. Semua hal yang berkaitan dengan makhluk tercatat di dalam sebuah kitab, yaitu lauh mahfuz. Tuhanku tidak akan pernah salah ataupun lupa pada apa pun yang terjadi di alam semesta ini. 53. Wahai fir'aun, Allah adalah tuhan yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, juga bagi seluruh manusia, dan menjadikan jalanjalan yang rata dan lebar di atasnya bagimu agar kamu mudah bepergian, dan dia pula yang menurunkan air hujan dari langit untuk menyuburkan tanah di sekitarmu. ' Allah beralih menggunakan kalimat langsung dari- nya, 'kemudian, kami tumbuhkan dengannya, yakni dengan air hujan itu, berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan dengan beragam bentuk, rasa, dan kegunaan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 49-52 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Fir'aun, bahwa dia berkata kepada nabi Musa seraya mengingkari Pencipta, Tuhan, Penguasa, dan Pemilik segala sesuatu, (Fir'aun berkata,”Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?) yaitu, siapakah yang mengutusmu, karena sesungguhnya aku tidak mengenalNya. dan aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain diriku sendiri. (Musa berkata, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (50)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna nya adalah Allah menciptakan bagi setiap sesuatu pasangannya. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah me­nyempurnakan penciptaan setiap sesuatu. Sebagian mufasir berkata tentang firmannNya (Allah memberikan pada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk) seperti firmanNya: (dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3)) (Surah Al-A’la) yaitu menentukan kadar masing-masing dan memberikan petunjuk kepada makhlukNya untuk mengerjakannya. yaitu, Allah menetapkan semua amal, ajal, dan rezekinya, kemudian semua makhluk berjalan sesuai dengan itu; mereka tidak bisa menyimpang darinya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyimpang dari hal itu. Dia berkata,“Tuhan kami adalah Dzat yang menciptakan makhluk, menetapkan kadar, dan menciptakan wataknya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki (Berkata Fir'aun, "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" (51)) Pendapat yang paling benar terkait makna ayat itu adalah bahwa setelah nabi Musa memberitahunya bahwa Tuhannya yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, memberi rezeki, menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk. Yaitu berhujjah dengan umat-umat terdahulu, yaitu mereka tidak menyembah Allah. yaitu mengapa mereka begitu jika kenyataannya demikian yaitu tidak menyembah Tuhanmu, bahkan mereka menyembah selainNya? Nabi Musa berkata seraya memberikan jawaban atas hal itu,”Sekalipun mereka tidak menyembah Allah, sesungguhnya amal mereka dicatat di sisi Allah, dan Allah akan membalas mereka sesuai dengan amal mereka dalam catatan Allah, yaitu Lauhil Mahfuz dan catatan amal (Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa) yaitu tidak ada sesuatu yang menyimpang dari ketetapanNya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya, baik yang kecil maupun besar, dan Dia tidak lupa kepada sesuatu pun, Nabi Musa menggambarkan pengetahuan Allah, bahwa sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, dan bahwa Dia tidak pernah lupa terhadap sesuatu pun, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah. Sesungguhnya pengetahuan makhluk itu memiliki dua kekurangan, salah satunya adalah tidak meliputi segala sesuatu, dan yang lain adalah lupa sesudah mengetahuinya. Maka Allah menyucikan DzatNya dari hal itu
Tafsir As-Sa'di
52. Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa,” maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukannya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari semua itu, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang mereka, wahai Fir’aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepadamu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezhaliman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk menelitinya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, petunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara itu, selama siang dan malam (masih sislih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan tentangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, "Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka)" (An-Naml:14). Musa berkata, ""Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata" (Al-Isra:102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
Tafsir Al-Wajiz
52. Musa berkata: “Dia mengatahui kondisi-kondisi umat-umat terdahulu dan amal-amal mereka yang dicatat oleh Tuhanku di Lauhil Mahfudz. Tuhanku tidak mungkin salah dalam mengetahui sesuatu dan tidak akan melupakan apa yang diketahui olehNya.” Maksudnya adalah untuk meneguhkan kesempurnaan ilmu Allah SWT.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com