Surah Al-Anbiya : Ayat 50
وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَٰهُ ۚ أَفَأَنتُمْ لَهُۥ مُنكِرُونَ

"Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?"

Tafsir Ringkas Kemenag
Bani israil, umat nabi musa dan harun, sebagian besar mengingkari taurat yang berisi pembeda, penerangan dan pelajaran bagi yang bertakwa. Dan Al-Qur'an ini bagi kamu sekalian, umat nabi Muhammad adalah suatu peringatan yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan untuk umat akhir zaman. Maka apakah kamu mengingkarinya sebagaimana bani israil mengingkari taurat'51. Pada surah al-anbiy' ayat 48 dijelaskan bahwa Allah telah memberikan furq'n, yang membedakan hak dan batil, sebagai penerangan, dan pelajaran kepada musa dan harun. Sementara pada ayat ini, Allah menjelaskan ketokohan ibrahim, pejuang tauhid dan ayahanda para nabi dan rasul. Dan sungguh, sebelum dia, musa dan harun yang diutus menghadapi fir'aun guna membebaskan bani israil, telah kami berikan kepada ibrahim petunjuk, sejak remaja; dan kami telah mengetahui sifat, karakter, dan kegigihan dia, ibrahim, dalam menghapuskan penyem-bahan kepada patung dan berhala guna menegakkan ajaran tauhid.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 48-50 Telah disebutkan peringatan bahwa Allah SWT sering mengiringkan penyebutan nabi Musa AS dan nabi Muhammad SAW da antara kitabnya masing-masing. Oleh akrena itu Allah SWT berfirman: (Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat) Mujahid berkata bahwa yang dimaksud adalah Kitab. Qatadah berkata bahwa kitab Taurat kandungannya adalah tentang halal dan haram, serta sesuatu yang dibedakan oleh Allah antara kebenaran dan kebathilan. Ibnu Zaid berkata bahwa makna yang dimaksud adalah pertolongan. Kesimpulan semua pendapat ini adalah bahwa semua kitab samawi mengandung pemisah antara kebenaran dan kebathilan, petunjuk dan kesesatan, halal dan haram. Begitu juga mengandung cahaya dalam hati, petunjuk, ketakutan, dan taubat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa) yaitu peringatan dan nasehat untuk mereka. Kemudian Allah menggambarkan mereka dan berfirman: (orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka tidak melihat-Nya) sebagaimana firmanNya: ((Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (33)) (Surah Qaf) (dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat) yaitu takut dan gentar. Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan) yaitu Al-Qur'an yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun belakang, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (Maka mengapakah kalian mengingkarinya?) yaitu apakah kalian mengingkari kebenaran Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an begitu jelas dan terang?
Tafsir As-Sa'di
50. “Dan ini,” yaitu al-Quran “adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan.” Allah menyifatinya dengan dua sifat agung. (Pertama) sebagai pengingat, dengan itu semua tuntutan agama menjadi tidak terlupakan, seperti mengenal sifat-sifat para rasul, para wali, dan seluk-beluk tentang mereka, mengetahui hukum-hukum syariat, dalam bentuk peribadahan, muamalah dan lain sebagainya, mengetahui pula kepastian pembalasan amalan, surge dan neraka. Dengannya, (al-Quran), berbagai masalah, petunjuk-petunjuk logika, dan dalil-dalil naqli dapat diingat. Allah menamakannya sebagai dzikr (Pengingat) karena akan mengingatkan perkara-perkara yang telah Allah tanamkan pada akal-akal dan fitrah manusia berupa pembenaran terhadap berita-berita yang haq, perintah melakukan hal-hal baik, dan larangan dari perkara-perkara buruk menurut nalar manusia. (Kedua) bersifat penuh berkah. Sifat ini menuntut makna banyaknya kebaikannya dan pertumbuhan serta pertambahannya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar nilai keberkahannya dari pada al-Quran ini. Sesungguhnya setiap kebaikan, kenikmatan, dan tambahan nikmat agama, duniawi ataupun ukhrawi, berasal darinya dan efek dari pengamalannya. Jika ia bersifat sebagai pemberi peringatan yang mengandung berkah, maka wajib menerimanya dengan tulus, tunduk dan penyerahan diri, serta bersyukur kepada Allah atas karunia besar ini dan mengamalkannya, menggali keberkahannya, melalui mempelajari kata-kata dan makna-maknanya. Sementara sikap menyikapinya dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan keadaan ini, seperti berpaling darinya, mengabaikannya, mengingkarinya dan tidak mengimaninya merupakan bentuk kekufuran yang sangat besar, kebodohan dan tindakan aniaya yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Allah mengingkari orang-orang yang mengingkari al-Quran. Allah berfirman, “Maka mengapakah kamu mengingkarinya?”
Tafsir Al-Wajiz
50. Al-Qur’an ini merupakan pengingat, pelajaran, dan mengandung banyak kebaikan dan manfaat yang telah Kami turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mengapa kalian atau bagaimana bisa kalian mengingkari bahwa turunnya Al-Qur’an itu dari Allah, wahai penduduk Mekah, sedangkan dia itu memiliki tujuan yang jelas? Istifham ini bertujuan untuk mengolok-olok.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com