Surah Qaf : Ayat 5
بَلْ كَذَّبُوا۟ بِٱلْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمْ فَهُمْ فِىٓ أَمْرٍ مَّرِيجٍ

"Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau."

Tafsir Ringkas Kemenag
Akan tetapi mereka tetap saja mengingkari kebangkitan itu, meskipun bukti-bukti telah dijelaskan. Bahkan mereka telah mendustakan kebenaran, yakni kebenaran Al-Qur'an dan kenabian nabi Muhammad, ketika kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. Mereka sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi mengingkarinya. 6. Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir itu menganggap tidak mungkin terjadinya kebangkitan setelah mati, maka dilanjutkan pada ayat ini dengan menyebutkan dalil-dalil yang membantah perkataan mereka. Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara kami membangunnya, menciptakan dan meninggikannya, dan menghiasinya dengan bintang-bintang, dan tidak terdapat pada langit itu retak-retak sedikit pun yang menjadikannya cacat'.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-5 (Qaf) salah satu dari huruf Hijaiyah yang telah disebutkan pada permulaan surah-surah Al-Qur'an, sebagaimana firmanNya (Shad), (Nun), (Alif Lam Mim), (Ha Mim), (Tha Sin), dan lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lainnya Pembahasannya telah kami jelaskan dalam permulaan surah Al-Baqarah sehingga tidak perlu diulangi lagi. Firman Allah SWT: (Demi Al-Qur'an yang sangat mulia) yaitu sangat mulia dan agung (yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (42)) (Surah Fushshilat) Para ulama berbeda pendapat tentang dengan jawab dari qasam itu, apakah itu?. Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ulama Nahwu bahwa jawab qasamnya adalah firman Allah SWT: (Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (4)) Pendapat ini perlu ditinjau, bahkan sebenarnya jawab qasamnya terkandung di dalam kalimat setelahnya, yaitu menetapkan kenabian dan hari kiamat, yaitu mengukuhkan dan meyakinkan keberadaannya, sekalipun hal itu tidak disebutkan secara lafazh. Hal ini banyak dalam qasam-qasam yang ada dalam Al-Qur'an, seperti dalam firmanNya: (Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan (1) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit (2)) (Surah Shad) Demikian juga di sini Allah berfirman: (Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia (1) (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib” (2)) yaitu mereka merasa heran dengan adanya seorang rasul dari kalangan manusia yang diutus kepada mereka. sebagaimana firmanNya: (Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia”) (Surah Yunus: 2) yaitu hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena sesungguhnya Allah memilih dari kalangan malaikat dan manusia menjadi utusanNya. Kemudian Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang keheranan mereka tentang adanya hari kebangkitan yang mereka anggap mustahil keberadaannya (Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin) (3)) yaitu Mereka mengatakan, "Apakah jika kita telah mati dan menjadi tulang belulang serta semua tulang-tulang kita tercerai-berai, dan kita menjadi tanah, apakah mungkin setelah itu kita akan dihidupkan kembali seperti semua alam bentuk dan susunan yang sekarang ini?" (Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin) yaitu mustahil terjadi. Makna yang dimaksud adalah mereka tidak meyakini adanya hari kebangkitan dan beranggapan bahwa itu mustahil. Maka Allah SWT menjawab mereka: (Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka) yaitu, Kami mengetahui apa yang dimakan bumi dari tubuh-tubuh mereka yang telah hancur. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Kami dimanakah tubuh mereka dan menjadi apakah tubuh mereka (dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)) yaitu yang mencatat semua itu. Ilmu Allah meliputi semuanya. Segala sesuatu telah dicatat dalam kitab di sisiNya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka) yaitu memakan daging, kulit, tulang, dan rambut mereka. Demikian juga dikatakan Mujahid, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan lainnya. Kemudian Allah SWT menjelaskan penyebab kekafiran, keingkaran dan anggapan mustahil mereka terhadap hal yang tidak mustahil. Maka Allah SWT berfirman: (Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau (5)) Demikianlah keadaan setiap orang yang menyimpang dari kebenaran, bagaimanapun alasan yang dia katakan adalah kebathilan setelah itu. Kata “Al-marij” adalah pertentangan, kekacauan, kepalsuan, dan kemungkaran, sebagaimana firmanNya: (sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat (8) dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur'an) orang yang dipalingkan (9)) (Surah Adz-Dzariyat)
Tafsir As-Sa'di
5. Maksudnya, “sebenarnya,” perkataan yang mereka ucapkan itu hanyalah merupakan (bentuk) pembangkangan serta pendustaan mereka terhadap kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran yang paling tinggi, “tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau,” yakni, kacau dan campur aduk. Mereka tidak menetapkan atas sesuatu pun dan tidak ada ketetapan sama sekali, terkadang mereka berkata kepadamu, “Sesungguhnya engkau adalah tukang sihir,” terkadang “Engkau adalah orang gila,” terkadang “Engkau adalah penyair.” Dan mereka juga menjadikan al-Quran sebagai bahan olok-olokkan. Masing-masing yang dikatakan itu berdasarkan pandangannya yang rusak. Dan memang seperti itulah kondisi semua orang yang mendustakan kebenaran, ia berada dalam kekacauan, tidak mengetahui sisi yang tepat. Sehingga engkau akan bisa melihat semua sikapnya saling kontradiksi dan dusta. Sebagaimana orang yang mengikuti kebenaran serta membenarkannya memiliki keteguhan dan lurus jalannya. Perbuatannya membenarkan perkataannya.
Tafsir Al-Wajiz
5. Namun kenyataannya mereka tetap mendustakan Al-Qur’an dan risalah kenabian yang diteguhkan dengan mukjizat yang telah sampai kepada mereka dan telinga mereka. Mereka terganggu dengan isi Al-Qur’an, apakah itu sihir, ilmu perdukunan, ataukah syair?!

Sumber tafsir dari tafsirweb.com