Surah An-Nur : Ayat 5
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Tafsir Ringkas Kemenag
4-5. Usai menjelaskan hukuman bagi pezina dan hukum menikahinya, Allah lalu menguraikan sanksi hukum terhadap orang yang menuduh orang lain berbuat zina. Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik telah berbuat zina, dan mereka tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang menjadi saksi atas kebenaran tuduhannya di hadapan pengadilan, maka deralah mereka, wahai kaum mukmin melalui penguasa kamu, sebanyak delapan puluh kali. Hukuman ini berlaku jika penuduh adalah orang merdeka. Jika ia adalah seorang hamba sahaya maka deralah ia empat puluh kali (lihat juga: an-nis'/4: 25). Dan ja-nganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Ketentuan ini berlaku atas semua orang yang berbuat demikian, kecuali mereka yang bertobat, menyesali perbuatannya, dan bertekad tidak akan mengulanginya setelah itu, yaitu setelah menerima hukuman itu, dan mereka membuktikan tobat mereka de-ngan memperbaiki diri dan beramal saleh. Jika mereka melakukannya maka sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang. 6-7. Setelah menjelaskan ketentuan hukum terhadap penuduh zina secara umum, Allah lalu menguraikan hukum apabila seorang suami menuduh istrinya berzina. Dan orang-orang yang menuduh istrinya berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi yang menguatkan tu-duhan itu selain diri mereka sendiri, maka kesaksian masing-masing orang itu, yaitu suami, ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang yang berkata benar. Dan sumpah yang kelima adalah bahwa laknat Allah akan menimpanya jika dia termasuk orang yang berdusta dalam tuduhan yang dialamatkan kepada istrinya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 4-5 Di dalam ayat ini diterangkan hukum cambuk bagi orang yang menuduh wanita yang baik-baik berbuat zina. yaitu wanita merdeka yang baligh dan memelihara kehormatannya. Jika yang dituduh adalah seorang lelaki yang terpelihara kehormatannya, maka orang yang menuduh juga dicambuk. Tidak ada seorangpun dari kalangan ulama yang berbeda pendapat tentang hal ini. Jika orang yang menuduh bisa membuktikan kebenaran dari apa yang dia katakam, maka dia terhindar dari hukuman had. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kalian terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik) Wajib dilakukan hukuman kepada orang yang menuduh, ketika dia tidak bisa memberikan bukti atas kebenaran dari apa yang dia katakan. Ada tiga hukuman, yaitu: Pertama, dicambuk sebanyak delapan puluh kali. Kedua, kesaksiannya ditolak selamanya. Ketiga, dicap sebagai orang fasik dan bukan orang adil, baik di sisi Allah maupun manusia. Kemudian Allah SWT berfirman: (kecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (5)) Para ulama berbeda pendapat tentang pengecualian ini, apakah merujuk kepada kalimat terakhirnya saja, sehingga taubatnya bisa menghapuskan predikat fasiknya saja, sedangkan kesaksiannya tetap ditolak untuk selamanya, sekalipun dia telah bertaubat? Ataukah merujuk kepada kalimat kedua dan ketiganya? Adapun mengenai hukuman cambuk, jika telah dijalani, maka hal itu telah selesai, baik dia bertaubat atau masih menjalankan perbuatannya, tidak ada ketentuan lagi setelah itu, tanpa ada perselisihan. Hal ini diputuskankan oleh Sa'id bin Al-Musayyib, pemimpin para tabi’in dan mayoritas ulama Salaf. Imam Abu Hanifah berkata bahwa sesungguhnya istisna’ itu hanya merujuk kepada kalimat yang terakhir saja. Oleh karena itu predikat fasik terhapus dengan taubat, dan kesaksiannya tetap ditolak untuk selamanya. Asy-Sya'bi dan Adh-Dhahhak berkata bahwa kesaksiannya tetap ditolak, sekalipun telah bertaubat, kecuali jika dia mengakui bahwa tuduhannya itu tanpa bukti, maka saat itu dapat diterima kesaksiannya . Hanya Allah yang lebih Mengetahui.
Tafsir As-Sa'di
5. FirmanNya, “kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya),” bertaubat dalam tema ini, dalam bentuk qadzif (penuduh) menyatakan dusta dirinya sendiri, dan menungkapkan pengakuan bahwa dirinya (dahulu) telah berkata dusta tentang apa yang pernah disampaikan. Dia wajib menyatakan kedustaan dirinya, meskipun dia yakin kebenaran peristiwanya. Lantaran dia tidak berkutik untuk menghadap empat orang saksi. Jika qadzhif (penuduh) bertaubat dan mengoreksi amalannya serta merubah perbuatan buruknya dengan kebaikan, maka predikat kefasikan lepas darinya. Begitu pula, persaksiannya diterima (kembali) menurut pendapat yang paling shahih. “maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” Mengampuni dosa secara keseluruhan bagi orang yang bertaubat dan kembali (kejalan yang benar). Qadzif (pelaku tuduhan) dikenai hukuman dera bila tidak sanggup mendatangkan empat orang saksi dan ia bukan suami (wanita tertuduh). Tetapi bia si penuduh adalah suaminya,
Tafsir Al-Wajiz
5. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Inilah batasan dari itu