Surah Al-Fatihah : Ayat 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."
Tafsir Ringkas Kemenag
Atas dasar itu semua, hanya kepada engkaulah kami menyembah dan beribadah dengan penuh ketulusan, kekhusyukan, dan tawakal, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan dalam segala urusan dan keadaan kami, sambil kami berusaha keras. Kami memohon, tunjukilah kami jalan yang lurus, dan teguhkanlah kami di jalan itu, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat kami bahagia di dunia dan di akhirat, serta dapat mengantarkan kami menuju keridaan-Mu.
Tafsir Ibnu Katsir
Ulama’ Qiraah Sab’ah dan mayoritas ulama’ membaca “ya'” dengan tasydid (iyyaka) Maf’ul didahulukan, yaitu (iyyaka) dan diulang untuk memberikan perhatian dan pembatasan bahwa “Kami hanya menyembahMu, dan hanya bertawakkal kepadaMu. Ini adalah kelengkapan suatu ketaatan. Agama secara keseluruhan kembali kepada dua makna tersebut. Percakapan dari yang ghaib kepada yang menghadapnya berubah dengan memberi kecukupan kepada yang berbicara, dan hal tersebut sesuai, karena ketika mengungkapkan pujian kepada Allah, maka seolah-olah seseorang mendekat dan hadir di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman (Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan (5)) Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa awal surah merupakan berita dari Allah SWT dengan memuji DzatNya yang Maha Mulia dengan sifat-sifatNya yang indah, dan petunjuk bagi hamba-hambaNya untuk memujiNya dengan cara tersebut. Oleh karena itu, tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca ayat ini padahal dia mampu melakukannya, sebagaimana yang disebutkan dalam dua hadits shahih dari 'Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fātihah” Qatadah berkata, bahwa (dalam ayat) (iyyaka Na'budu wa iyyaka Nasta'īn) Allah memerintahkan kalian untuk ikhlahs menyembah hanya kepadaNya dan meminta pertolongan hanya kepadaNya atas urusan-urusan kalian. Adapun penyebutan (iyyaka Na'budu) didahulukan sebelum (iyyaka Nasta'īn) karena menyembah hanya kepada Allah adalah tujuannya, sedangkan permohonan pertolongan adalah sarana untuk mencapainya. Perhatian dan penegasan didahulukan itu dilakukan dengan mendahulukan sesuatu yang lebih penting lalu diikuti hal penting lainnya. Dan Hanya Allahlah yang lebih Mengetahui
Tafsir As-Sa'di
Lafaz iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya Kami memohon pertolongan) Maksudnya kami menghususkan ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada Engkau. dimaknai demikian mendahulukan suatu kata yang menjadi objek menunjukkan suatu pembatasan, yaitu menetapkan hal tersebut bagi yang disebutkan dan meniadakannya dari selainnya. maka seolah-olah berkata, “kami menyembahmu dan tidak menyembah selain dirimu, kami meminta pertolongan kepadamu tidak meminta pertolongan kepada selain diri-Mu”. Dan didahulukannya penyebutan ibadah daripada permintaan akan pertolongan adalah di antara bentuk mendahulukan penyebutan hal yang umum dari hal yang khusus. Serta perhatian dalam mendahulukan hak-hak Allah daripada hak hamba-nya. Ibadah adalah sebuah kata yang mencakup apa saja yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-nya berupa perbuatan maupun perkataan baik yang nampak atau yang tersembunyi. dan memohon pertolongan adalah Bersandar kepada Allah dalam mendapatkan kemaslahatan dan menolak kemadorotan diiringi dengan keyakinan yang kuat kepadanya dalam mewujudkan semua itu. Melaksanakan ibadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepadanya merupakan jalan bagi sebuah kebahagiaan yang abadi keselamatan dari segala kejahatan. maka tidak ada cara dalam mendapatkan keselamatan kecuali dengan melaksanakan kedua hal tersebut. Sesungguhnya sebuah ibadah itu dianggap sebagai ibadah apabila ibadah tersebut diambil dari contoh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dilaksanakan dengan tujuan mencari wajah Allah Semata. Dengan kedua faktor ini jadilah perbuatan tersebut menjadi sebuah ibadah. Disebutkannya “permohonan pertolongan” setelah “ibadah”, padahal sebenarnya memohon pertolongan itu adalah bagian dari ibadah tersebut hal ini karena kebutuhan hamba dalam seluruh ibadah-ibadah mereka kepada meminta pertolongan kepada Allah, sebab bila Allah tidak menolongnya maka tidak akan terwujud untuknya sesuatu yang dikehendakinya dari pelaksanaan perintah maupun menghindari larangan.
Tafsir Al-Wajiz
Kami khususkan kepadaMu, Ya Allah, ibadah dan permohonan pertolongan kami. Kami tidak akan menyembah dan meminta pertolongan kepada selain Engkau
Tafsir Al-Mishbahul
MAKNA IBADAH MENURUT BAHASA DAN ISTILAH SYARA’AT Menurut bahasa ibadah bermakna kehinaan. Dikatakan: “Thariqun mu’abbad wa ba’iirun mu’abbad (jalan yang diratakan dan unta yang dijinakkan), maksudnya ditundukkan. Adapun menurut istilah syar’i, ibadah adalah sebuah ibarat bagi terkumpulnya cinta, ketundukan dan rasa takut yang sempurna. FAEDAH DIHAHULUKAN DAN DIULANGI OBJEK SERTA FAEDAH ILTIFAAT (PERPINDAHAN DARI KATA GANTI KE-3 MENJADI KE-2) Didahulukannya objek yaitu kalimat dan setelah itu diulangi lagi, bertujuan untuk memberi perhatian dan pembatasan. Maksudnya: “Kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu.” Inilah puncak kesempurnaan dalam taat. Agama ini secara keseluruhan kembali kepada dua makna di atas. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf, bahwa surat al-Fatihah adalah rahasia al-Qur’an dan rahasia al-Fatihah terletak pada