Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 49-52 Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Ayat ini turun yaitu (Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?) terkait orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka berkata,"(Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya) (Surah Al-Ma'idah: 18). Ibnu Zaid berkata: Ayat ini turun terkait perkataan mereka,( Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani) (Surah Al-Baqarah: 111). Mujahid berkata yaitu mereka menghadapkan anak-anak kecil di depan mereka dalam doa dan shalat mereka dan mengklaim bahwa mereka tidak memiliki dosa. Demikian juga dikatakan oleh 'Ikrimah dan Abu Malik. Ibnu Jarir. Dikatakan ayat ini turun terkait orang-orang yang terlalu memuji diri sendiri. Disebutkan dala hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Al-Miqdad bin Al-Aswad, dia berkata:"Rasulullah SAW. memerintahkan kami untuk melempar pasir ke wajah orang yang memuji diri sendiri." Kemudian Allah SWT berfirman, (dan mereka tidak dianiaya sedikitpun). Yaitu bahwa tidak ada sedikitpun yang tertinggal dari pahala yang takarannya ditimbang. Ibnu Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, 'Atha', Al-Hasan, Qatadah, dan ulama’ salaf lainnya berkata bahwa kata "sedikitpun" itu dalam ayat ini mengacu pada biji kurma. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah sesuatu jarak antara dua jarimu. Kedua pendapat ini memiliki arti yang saling berdekatan. Firman Allah, (Perhatikanlah, bagaimana mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah). Yaitu mereka mensuikan diri sendiri dan megklaim bahwa mereka adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah, dengan ucapan mereka (Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani ) (Surah Al-Baqarah: 111) dan (Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung) (Surah Ali 'Imran: 24) Keperayaan mereka atas amal shalih nenek moyang mereka. Allah SWT telah menentukan bahwa amal perbuatan nenek moyang mereka itu tidak bisa menolong kepada anak-anaknya sedikitpun dalam firmanNya (Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan (141)) (Surah Al-Baqarah). Dia bersabda (Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata) yaitu cukuplah perbuatan mereka ini merupakan dusta, sesuatu yang dibuat-buat yang nyata. Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa dia berkata, “Al-Jibtu” adalah sihir, dan “Ath-Thagut” adalah setan. Firman Allah, (dan mengatakan kepada orang-orang Kafir bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman) yaitu mereka lebih memilih orang-orang kafir daripada orang-orang muslim karena kejahilan mereka, kelemahan agama mereka, dan kekufuran mereka terhadap kitab Allah yang ada pada mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ketika Ka'ab bin Al-Asyraf datang ke Makkah, kaum Quraisy berkata, “Apakah kamu tidak melihat orang ini, biji kurma yang terpisah dari kaumnya, mengklaim bahwa dia lebih baik dari kit. Padahal kita adalah orang-orang yang melakukan perjalanan haji, yang menjaga Ka'bah, dan yang bertugas memberi minuman” Ka'ab menjawab, “Kalian lebih baik.” Maka turunlah ayat, (Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (3)) (Surah Al-Kautsar), dan turunlah ayat (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab?) hingga (penolong baginya). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Mereka adalah orang-orang membentuk pasukan untuk perang Ahzab dari suku Quraisy, Ghatfan, Bani Quraizhah, Huyai bin Akhtab, Salam bin Abu Al-Huqaiq, Ar-Rabi’ bin Ar-Rabi’ bin Abu Al-Huqaiq, Abu ‘Ammar, Wahwah bin Ammar, dan Haudzah bin Qais. Adapun Wahwah bin Abu Ammar dan Haudzah berasal dari Wali Wail, dan kebanyakan mereka berasal dari Bani Nadhir. Lalu ketika mereka mendatangi suku Quraisy, lalu mereka berkata,”Mereka adalah para rahib Yahudi dan orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab yang pertama” Lalu mereka menanyai mereka,”Apakah agama kalian lebih baik ataukah agama Muhammad?” lalu mereka berkata,”Bahkan agama kalian lebih baik daripada agamanya, dan kalian lebih mendapatkan petunjuk daripada dia dan orang yang mengikutinya” Lalu Allah SWT menurunkan ayat (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (51) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya (52)) sampai firmanNya (dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar) (Surah An-Nisa’: 54) Ini adalah laknat bagi mereka dan pemberitahuan bahwa tidak ada penolong bagi mereka di dunia maupun di akhirat, karena mereka meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik. Mereka mengatakan hal itu kepada mereka agar mendapatkan dukungan mereka, tetapi mereka menjawab dan datang bersama mereka pada hari perang Al-Ahzab, sehingga Nabi SAW dan para sahabatnya membuat parit di sekitar Madinah. Maka cukuplah Allah yang membalas kejahat mereka, (Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (25)) (Surah Al-Ahzab).
Tafsir As-Sa'di
49. Ini merupakan keheranan dari Allah kepada hamba-hambaNya dan suatu celaan bagi orang-orang yang menyucikan diri mereka dari kaum Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang sejalan dengan mereka, yaitu setiap orang yang menyucikan dirinya sendiri dengan suatu perkara yang tidak ada padanya, yang demikian itu bahwa Yahudi dan Nasrani berkata, "“Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”" (Al-Maidah:18). Mereka juga berkata, "“Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”." (Al-Baaqarah:111) Ini merupakan pengakuan kosong belaka yang tidak memiliki landasan apa pun, dan yang ada landasannya adalah apa yang telah Allah tegaskan dalam al-Quran dalam FirmanNya, (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah:112). Mereka itulah orang-orang yang Allah sucikan, oleh karena itulah Allah berfirman dalam ayat ini, “Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya” yaitu dengan iman dana mal shalih, dengan berlepas diri dari akhlak yang tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang luhur. Adapun mereka itu walaupun telah menyucikan diri atas dasar sangkaan mereka bahwa mereka berada pada suatu (derajat) dan bahwa pahala itu hanya milik mereka sendiri, maka sesungguhnya mereka hanyalah para pendusta, dan mereka tidak mendapatkan bagian sedikit pun dari pahala orang-orang yang suci, hal itu disebabkan oleh kezhaliman dan kekufuran mereka, dan bukannya kezhaliman dari Allah terhadap mereka, oleh karena itu Allah berfirman, “Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun,” hal ini untuk menegaskan keumuman (suatu perkara), artinya, mereka sedikit pun tidak dizhalimi, meski hanya seukuran biji yang ada pada belahan atom atau sesuatu yang dibuang dari kotoran tangan dan selainnya.