Surah Az-Zumar : Ayat 49
فَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَٰهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍۭ ۚ بَلْ هِىَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui."
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah pada ayat-ayat yang lalu dilukiskan keadaan orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Allah, maka pada ayat-ayat berikut diungkap penyebab mengapa orang-orang tersebut melakukan pelanggaran itu. Maka apabila manusia ditimpa bahaya atau bencana dia akan menyeru kami meminta pertolongan, kemudian sebaliknya, apabila kami berikan nikmat kami kepadanya, dia akan berkata, 'sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena ilmu dan kepin-taranku sendiri. ' sebenarnya tidaklah seperti yang dia duga, nikmat itu sendiri adalah ujian dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. 50. Sikap yang tergambar di atas bukan hanya dimiliki oleh orang-orang musyrik mekah, tetapi juga oleh orang-orang yang jauh sebelum mereka. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka, yaitu qarun pada masa nabi musa, pun telah mengatakan hal itu juga (lihat: surah al-qa'a'/28: 78), maka oleh sebab itu, tidak berguna lagi bagi me-reka sedikit pun apa yang dahulu mereka kerjakan di kehidupan dunia.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 49-52 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang manusia, bahwa dalam keadaan susah manusia itu merendahkan diri, kembali dan memohon kepada Allah. Tetapi apabila dia mendapat nikmat dariNya, maka dia lupa kepada Allah, melampaui batas, lalu dia berkata: (Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku) yaitu karena Allah mengetahui bahwa diriku layak untuk menerimanya, seandainya aku tidak mempunyai kedudukan di sisi Allah, maka Dia tidak akan memberiku nikmat ini. Qatadah berkata bahwa makna ayat adalah,”Sesungguhnya aku diberi ini hanya karena kebaikan yang ada padaku” Maka Allah SWT berfirman: (Sebenarnya itu adalah ujian) yaitu keadaannya tidaklah seperti yang diduga, bahkan nikmat yang Kami berikan kepadanya hanya agar Kami mengujinya dalam nikmat yang Kami berikan itu, apakah dia menjadi orang yang taat atau menjadi durhaka, walaupun akibatnya sudah Kami ketahui, yaitu merupakan cobaan (tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui) Oleh karena itu mereka mengatakan apa yang mereka katakan dan mengakui apa yang mereka akui itu (Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula) yaitu ucapan dan pengakuan itu telah dikatakan juga oleh kebanyakan orang dari kalangan umat-umat terdahulu (maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan) yaitu perkataan mereka itu tidak benar, dan tidak dapat melindungi kesatuan mereka dan apa yang telah mereka usahakan (Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka) yaitu dari kalangan orang-orang yang diajak bicara (akan ditimpa akibat buruk dari usahanya) Sebagaimana yang telah menimpa mereka itu (dan mereka tidak dapat melepaskan diri) Sebagaimana Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Qarun saat kaumnya berkata kepadanya: ("Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (77) Qarun berkata, "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka (78)) (Surah Al-Qashash) dan firmanNya: (Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakinya?) yaitu meluaskan rezeki suatu kaum dan menyempitkan rezeki kaum lain (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman) yaitu benar-benar terdapat pelajaran dan hujjah-hujjah
Tafsir As-Sa'di
49. Allah mengabarkan tentang kondisi dan tabiat manusia, yaitu apabila ia ditimpa hal yang membahayakan, seperti penyakit, kesempitan atau kemiskinan dan kesusahan “ia menyeru Kami” dengan merengek-rengek (sangat serius) untuk membebaskan diri dari apa yang menimpanya, “kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami,” Kami mengangkat bahaya yang menimpanya dan Kami hilangkan kesulitannya, maka ia kembali kafir kepada Rabbnya dan mengingkari kebaikanNya dan malah “ia berkata, ‘SEsungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah berdasarkan pengetahuan’.” Maksudnya, pengetahuan Allah bahwasanya aku memang ahlinya dan aku berhak mendapatkannya, sebab aku sangat pemurah dengan harta tersebut; atau karena kepintaranku akan cara-cara memperolehhnya. Allah berfirman, “Sebenarnya itu adalah ujian,” yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya agar Dia melihat siapa yang beresyukur kepadaNya dan siapa pula yang mengingkariNya. “Tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui,” maka dari itu mereka menganggap ujian itu sebagai pemberian kebaikan yang murni, dan tidak jelas bagi mereka antara yang jelas baik dengan apa-apa yang kadang bisa menjadi sebab kebaikan dan bisa menjadi sebab keburukan..
Tafsir Al-Wajiz
49. Ketika manusia tertimpa musibah dan kesulitan, seperti sakit atau kemiskinan dan sebagainya, mereka meminta dan momohon kepada Kami agar menghilangkan musibah mereka. Namun setelah Kami mengabulkan permohonan mereka berupa kenikmatan dan menghilangkan kesulitan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya ini semua hanya karena ketangkasan, pengetahuan, dan kecerdasan kami untuk memperolehnya.” Bal berfungsi untuk menekankan kalimat akhir dari pada kalimat awal. Itu semua adalah ujian bagi mereka, apakah mereka bersyukur atau mengingkarinya? Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa nikmat-nikmat yang tetap diberikan namun mereka bermaksiat adalah suatu istidraj dan ujian bagi mereka