Tafsir Ringkas Kemenag
Fir'aun ingin mendapat kejelasan tentang Allah, tuhan yang mahakuasa tersebut. Dia berkata, 'siapakah tuhanmu berdua yang mengutusmu untuk menyampaikan dakwah itu, wahai musa'' 50. Nabi musa menjawab, 'tuhan kita semua ialah tuhan yang telah menciptakan semua makhluk dan memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu di alam semesta ini, kemudian memberinya petunjuk dan potensi untuk dapat melakukan segala sesuatu sesuai fungsinya. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 49-52 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang Fir'aun, bahwa dia berkata kepada nabi Musa seraya mengingkari Pencipta, Tuhan, Penguasa, dan Pemilik segala sesuatu, (Fir'aun berkata,”Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?) yaitu, siapakah yang mengutusmu, karena sesungguhnya aku tidak mengenalNya. dan aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain diriku sendiri. (Musa berkata, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (50)) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna nya adalah Allah menciptakan bagi setiap sesuatu pasangannya. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah menyempurnakan penciptaan setiap sesuatu. Sebagian mufasir berkata tentang firmannNya (Allah memberikan pada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk) seperti firmanNya: (dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (3)) (Surah Al-A’la) yaitu menentukan kadar masing-masing dan memberikan petunjuk kepada makhlukNya untuk mengerjakannya. yaitu, Allah menetapkan semua amal, ajal, dan rezekinya, kemudian semua makhluk berjalan sesuai dengan itu; mereka tidak bisa menyimpang darinya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyimpang dari hal itu. Dia berkata,“Tuhan kami adalah Dzat yang menciptakan makhluk, menetapkan kadar, dan menciptakan wataknya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki (Berkata Fir'aun, "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" (51)) Pendapat yang paling benar terkait makna ayat itu adalah bahwa setelah nabi Musa memberitahunya bahwa Tuhannya yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, memberi rezeki, menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk. Yaitu berhujjah dengan umat-umat terdahulu, yaitu mereka tidak menyembah Allah. yaitu mengapa mereka begitu jika kenyataannya demikian yaitu tidak menyembah Tuhanmu, bahkan mereka menyembah selainNya? Nabi Musa berkata seraya memberikan jawaban atas hal itu,”Sekalipun mereka tidak menyembah Allah, sesungguhnya amal mereka dicatat di sisi Allah, dan Allah akan membalas mereka sesuai dengan amal mereka dalam catatan Allah, yaitu Lauhil Mahfuz dan catatan amal (Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa) yaitu tidak ada sesuatu yang menyimpang dari ketetapanNya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya, baik yang kecil maupun besar, dan Dia tidak lupa kepada sesuatu pun, Nabi Musa menggambarkan pengetahuan Allah, bahwa sesungguhnya pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, dan bahwa Dia tidak pernah lupa terhadap sesuatu pun, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah. Sesungguhnya pengetahuan makhluk itu memiliki dua kekurangan, salah satunya adalah tidak meliputi segala sesuatu, dan yang lain adalah lupa sesudah mengetahuinya. Maka Allah menyucikan DzatNya dari hal itu