Tafsir Ringkas Kemenag
Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan penuh sabar, dengan memelihara keteguhan hati dan menjaga ketabahan, serta menahan diri dari godaan dalam menghadapi hal-hal yang berat, dan juga dengan melaksanakan salat. Dan salat itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk dan tunduk hatinya kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Pada ayat ini, Allah kembali mengingatkan bani israil tentang nikmat-Nya agar lebih mendorong mereka untuk bersyukur. Wahai bani israil! ingatlah nikmat-ku yang telah aku berikan kepadamu dan nenek moyang kamu, dan aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini yang memiliki peradaban maju seperti bangsa mesir atau penduduk palestina pada masa itu. Allah memanggil mereka dengan panggilan bani israil untuk mengingatkan bahwa pada masa nenek moyang merekalah terdapat kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada bangsa ini. Allah mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat itu antara lain dengan mempercayai datangnya nabi yang telah diberitakan di dalam kitab sucinya.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT berfirman (dengan memberikan perintah) kepada hamba-hambaNya tentang apa yang mereka harapkan berupa kebaikan di dunia dan akhirat, dengan memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat. Seperti yang diungkapkan oleh Muqatil bin Hayyan tentang tafsir ayat ini: “Mintalah pertolongan untuk mencari akhirat dengan kesabaran dalam menjalankan kewajiban dan shalat." Terkait kesabaran, dikatakan bahwa itu adalah puasa, Hal itu dikatakan oleh Mujahid. Abu Al-'Aliyah berkata tentang firman Allah SWT: (Dan memohon pertolonganlah dengan kesabaran dan shalat), bahwa itu adalah untuk meraih keridhaan Allah, dan ketahuilah bahwa shalat adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Adapun firmanNya: (Dan shalat), maka sesungguhnya shalat adalah salah satu bentuk pertolongan terbesar untuk meneguhkan diri dalam segala urusan, sebagaimana Allah berfirman: (Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar)." (Surah Al-'Ankabut: 45) Imam Ahmad berkata bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,”Rasulullah SAW ketika ditimpa suatu masalah, beliau shalat" Kata ganti dalam firmanNya (Wa Innaha) merujuk kepada shalat, Hal ini diungkapkan oleh Mujahid. Ibnu Jarir memilih pendapat ini. Hal ini kemungkinan merujuk kepada apa yang diindikasikan oleh kalam tersebut, yaitu nasehat untuk melaksanakan hal tersebut, sebagaimana firman Allah dalam kisah Qarun: (Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".(80)) (Surah Al-Qashas), dan Allah SWT berfirman, (Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (35)) (Surah Fushilat), yaitu bahwa nasehat yang disampaikan ayat ini kecuali orang-orang yang bersabar. Dan apa yang dianugerahkan (sesuatu yang diberikan dan diilhamkan) kecuali kepada orang yang memiliki keuntungan yang besar Pada setiap penafsiran, firman Allah SWT (Wa Innaha la labiiratun) yaitu penderitaan yang sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.' Ibnu Abi Thalhah mengutip dari Ibnu Abbas, maksudnya adalah orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah. Mujahid berkata orang-orang mukmin yang sesungguhnya. Abu Al-'Aliyah berkata,( kecuali bagi orang-orang yang khusyu') maknanya yaitu orang-orang yang takut (azab Allah). Ibnu Jarir berkata tentang makna ayat ini, “Memohonlah pertolongan “Wahai para pendeta Ahlul Kitab” dengan mendedikasikan diri kalian untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dan mendirikan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan mendekatkan kepada keridhaan Allah, dan yang sangat sangat besar (manfaatnya) bagi mereka yang merendahkan diri untuk melakukan ketaatan kepadaNya, yang tunduk karena takut kepadaNya.' Demikianlah pendapat yang disampaikan. Yang jelas bahwa ayat ini (jika berbicara dalam konteks peringatan kepada Bani Israil) menjelaskan bahwa ini dimaksudkan khusus hanya untuk mereka, melainkan bersifat umum yaitu untuk mereka dan selain mereka. Hanya Allah yang lebih Mengetahui. Terkait firman Allah SWT,((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya (46)) yaitu bahwa firmanNya ini adalah untuk melengkapi firman sebelumnya, yaitu bahwa shalat atau nasehat itu adalah sesuatu yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yang merakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, artinya mereka tahu bahwa mereka akan dikumpulkan untuk menghadap kepadaNya pada hari kiamat (bahwa mereka akan kembali kepadaNya) artinya segala urusan mereka kembali kepada kehendakNya, Dia akan menghakimi hal itu sesuai dengan keadilanNya. Oleh karena itu ketika mereka meyakini adanya hari kebangkitan dan pembalasan sehingga menjadi mudah bagi mereka untuk melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar. Adapun terkait firmanNya, "((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Ibnu Jarir berkata bahwa bangsa Arab terkadang menggunakan “zhanna”untuk menyebut “yakin” dan “ragu”, melihat mereka menyebut “sudfah” (kegelapan) untuk “kegelapan” dan “cahaya”, serta menyebut “Sharih” untuk “orang yang menolong“ dan untuk “orang yang meminta pertolongan”, dan 'orang yang meminta pertolongan' untuk 'penolong'. Dan berbagai kata-kata yang dipakai untuk menyebut sesuatu dan lawan katanya. Seperti yang dikatakan oleh Duraid bin As-Shimmah: 'Aku berkata kepada mereka, "Yakinlah pada ribuan hal yang terselubung" “yang meliputi mereka dengan kuda yang diselubungi baju besi” Maknanya yaitu Yakinlah kepada ribuan hal yang terselubung yang datang kepada kalian. Di antara penjelasan tentang hal itu adalah firman Allah SWT,(Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya) (Surah Al-Kahfi: 53). Mujahid berkata,"Setiap keyakinan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah ilmu" Terkait firman Allah SWT, ((yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya) Abu Al-'Aliyah berkata bahwa (zhannu) di sini adalah keyakinan.
Tafsir As-Sa'di
46. “Yaitu orang-orang yang meyakini, ” yakni yang yakin serta percaya, ”bahwa mereka akan menemui Rabbnya, ” lalu Dia akan membalas perbuatan-perbuatan mereka, ”dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” Inilah yang meringankan mereka dalam beribadah, yang mewajibkan bagi mereka untuk berhibur diri dalam segala musibah, berlapang dada dalam segala kesulitan, dan mencegah mereka dari berbuat keburukan. Maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkkan kenikmatan yang abadi dalam ruangan-ruangan yang tinggi. Adapun orang yang tidak beriman kepada pertemuan dengan Rabbnya, maka shalat dan ibadah-ibadah lainnya adalah suatu hal yang paling sulit bagi mereka.