Surah Al-Ankabut : Ayat 45
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Tafsir Ringkas Kemenag
-46. Pada ayat sebelumnya Allah memberi umat islam petunjuk dalam menghadapi kaum musyrik mekah atau para penyembah berhala. Allah lalu menyusulinya dengan ayat ini, yang mengajarkan cara berdakwah kepada kaum yahudi dan nasrani. Dan janganlah kamu, wahai umat islam, berdebat demi menunjukkan kebenaran ajaran islam dengan ahli kitab, yakni yahudi dan nasrani yang mengingkari kerasulan nabi Muhammad, melainkan dengan cara yang lebih baik dibanding caramu menghadapi orang-orang musyrik yang tidak percaya tuhan. Kaum yahudi dan nasrani sejatinya percaya kepada tuhan dan ajaran yang dibawa oleh nabi musa dan isa sehingga lebih mudah bagimu untuk mengajak mereka kepada agama islam. Berdebatlah dengan cara yang lebih baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, yaitu orang-orang yang tetap membantah, membangkang, bahkan memusuhimu setelah menerima penjelasan-penjelasan yang kamu sampaikan dengan cara terbaik. Kamu bisa menunjukkan cara dan sikap yang lebih tegas kepada mereka itu, dan katakanlah kepada mereka, 'kami telah beriman kepada kitab Al-Qur'an yang diturunkan kepada kami dan kitab-kitab yang diturunkan kepadamu, yakni taurat dan injil. Tuhan kami dan tuhan kamu sesungguhnya satu, yaitu Allah; dan hanya kepada-Nya kami senantiasa berserah diri. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 44-45 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang kekuasaanNya yang Maha Agung, bahwa Dia telah menciptakan langit dan bumi dengan benar, yaitu bukan sia-sia dan untuk main-main (supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan) (Surah Thaha: 15) dan (supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)) (Surah An-Najm: 31) Firman Allah SWT: (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mukmin) yaitu untuk bukti yang jelas bahwa hanya Allahlah yang menciptakan, mengatur dan menjadi Tuhan Kemudian Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kepada RasulNya dan orang-orang mukmin untuk membaca Al-Qur'an dan menyampaikannya kepada manusia (dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain)) yaitu bahwa shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu mencegah perbuatan keji dan perbuatan munkar. yaitu membuatnya gigih untuk menghindari hal itu. SHalat juga mengandung tindakan mengingat Allah yang merupakan rukun terbesar, Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar) yaitu lebih agung pahalanya daripada yang pertama (Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan) yaitu Allah mengetahui semua perbuatan dan ucapan kalian Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar) dia berkata bahwa maknanya adalah sungguh Allah mengingat para hambaNya itu lebih besar daripada mereka mengingatNya. Demikian juga diriwayatkan oleh Mujahid dan lainnya
Tafsir As-Sa'di
45 Allah memerintahkan untuk membaca wahyuNya atau kitabNya, yaitu kitab al-qur’an yang agung ini. Makna “membaca al-qur’an” adalah mengikutinya dengan cara mematuhi apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya, berpegang kepada petunjuknya, membenarkan apa-apa yang diinformasikannya, merenungkan makna-maknanya dan membaca lafazhnya. Jadi, membaca lafazh nya menjadi bagian dari maknanya dan termasuk dari bagian darinya. Apbila makna tilawah al-kitab itu demikian maknanya, maka diketahuilah bahwa penegakkan agama, semuanya masuk dalam (makna) “membaca al-qur’an’, Maka firmanNya,”dirikanlah shalat,” adalah termasuk dalam kategori menyambungkan (athaf) sesuatu yang bermakna khusus kepada yang bermakna umum, disebabkan keutamaan shalat, kemuliaan dan pengaruhnya yang sangat indah, yaitu, “sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”, perbuatan keji adalah segala dosa yang tergolong besar dan terhitung keji, berupa segala bentuk maksiat yang dikehendaki oleh nafsu. Sedangkan mungkar adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal sehat dan fitrah. Dan sisi “keberadaan shalat”, dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar adalah bahwa seorang hamba yang menegakkannya, menunaikan rukun-rukun, syarat-syarat dan kekhusyuannya, maka hatinya akan bersinar, jiwanya menjadi suci, imannya bertambah dan kemauannya pada kebaikan makin kuat, serta kemauannya pada keburukan berkurang atau habis. Secara pasti,”konsisten pada shalat,” dan memeliharanya akan mencegah perbuatan keji dan kemungkaran. Demikianlah di antara tujuan shalat dan buahnya. Dan di sisi lain, shalat juga mempunyai tujuan yang lebih besar daripada itu dan lebih agung, yaitu apa yang terkandung di dalam shalat itu sendiri, berupa dzikrullah dengan hati, lisan dan badan. Hal itu karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia agar beribadah kepadaNya, dan ibadah yang paling utama yang mereka kerjakan adalah shalat. Dan di dalamnya juga terdapat penghambaan seluruh anggota tubuh yang tidak terdapat dalam ibadah yang lain. Maka dari itu Dia berfirman, ”dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar,” ini bisa berarti bahwa ketika Dia memerintahkan shalat dan memujinya, Dia mengabarkan bahwa berdzikir mengingatNya di luar shalat itu lebih besar daripada shalat. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) para ahli tafsir. Akan tetapi pengertian yang lebih tepat. Sebab shalat merupakan dzikir yang lebih utama daripada dzikir di luar shalat; dan karena shalat itu sendiri, sebagaimana dijelaskan di muka, merupakan dzikir yang paling agung. “dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (berupa) kebaikan dan keburukan, lalu Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas semua itu dengan pembalasan yang paling sempurna.
Tafsir Al-Wajiz
45. Wahai Rasulallah, bacalah apa yang diwahyukan kepadamu berupa Al-Qur’an dengan merenung seraya berpikir tentang makna-maknanya dan dirikanlah shalat fardhu pada waktunya serta tetaplah menjaganya. Sesungguhnya shalat itu mencegah orang-orang mukmin dari setiap perbuatan buruk yang menyimpang dari syari’at. Dan sesungguhnya mengingat Allah, yaitu shalat merupakan ketaatan ter besar daripada segala ketaatan dan ibadah paling utama daripada setiap ibadah yang tidak mengandung dzikir, karena tidak ada yang paling sempurna kecuali orang yang mengingat Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian perbuat dalam hidup kalian baik itu kebaikan atau keburukan dan membalas kalian atas hal itu. Al-Fakhsya’ adalah perbuatan buruk yang sudah keterlaluan seperti zina. Dan Al-Munkar adalah setiap sesuatu yang menyimpang dari syariat dan akal sehat seperti pembunuhan dan pengerusakan.