Surah Ibrahim : Ayat 4
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."
Tafsir Ringkas Kemenag
Dan ketahuilah bahwa kami tidak pernah mengutus seorang rasul pun kepada umat manusia, melainkan dengan bahasa yang dipergunakan oleh kaumnya. Yang demikian itu bertujuan agar dia dapat memberi penjelasan tentang syariat Allah dengan baik kepada mereka. Maka setelah rasul itu memberi penjelasan, Allah menyesatkan'membiarkan sesat' siapa yang dia kehendaki dari hamba-Nya yang memang memilih jalan kesesatan, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki dari hamba-Nya yang memilih jalan yang lurus. Dia adalah tuhan yang mahaperkasa lagi mahabijaksana. Di antara para rasul yang kami utus itu adalah nabi musa. Dan sungguh, kami telah mengutus nabi musa kepada bani israil dengan membawa tanda-tanda kami, yakni berbagai mukjizat yang membuktikan kebenarannya, dan kami perintahkan kepadanya, wahai nabi musa, keluarkanlah kaummu dari kegelapan (penindasan firaun) kepada cahaya terang-benderang (pengesaan kepada Allah) dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari ketika Allah menurunkan nikmat dan azab-Nya kepada mereka. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang penyabar atas ketentuan Allah dan banyak bersyukur atas nikmat-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Hal ini merupakan kelembutan Allah SWT kepada makhlukNya, yaitu Dia mengutus kepada mereka para rasul dengan bahasa mereka, agar mereka memahami apa yang dikehendaki dan risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Firman Allah: (Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki) yaitu sesudah adanya penjelasan dan tegaknya hujjah terhadap mereka. Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dari jalan petunjuk, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan kebenaran (Dan Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa) apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi (lagi Maha Bijaksana) dalam perbuatanNya. Maka Dia menyesatkan orang yang layak disesatkan, dan memberi petunjuk kepada orang yang layak mendapat petunjuk atas hal itu. Demikianlah sunnatullah pada makhlukNya, yakni Allah tidak mengutus seorang nabi kepada suatu umat melainkan berbicara dengan bahasa mereka. Maka setiap nabi khusus menyampaikan risalahNya kepada umatnya saja, bukan umat lainnya. Dan nabi Muhammad bin Abdullah SAW mempunyai keistimewaan dengan keumuman risalahnya yang mencakup semua manusia. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim melalui Jabir, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Aku dianugerahi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun dari kalangan para nabi sebelumku… … … dan dahulu nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia”
Tafsir As-Sa'di
4. Ini adalah salah satu bentuk sifat kelembutan Allah kepada hamba-hambaNya, yaitu Allah tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, untuk menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang mereka butuhkan, dan membuat mereka mampu mempelajari risalah yang dia bawa. Berbeda halnya, bila datang bukan dengan bahasa (komunikasi) mereka, maka tentu mereka akan memerlukan proses pembelajaran bahasa yang dipakainya dalam berkomunikasi, baru kemudian bisa memahaminya. Jika rasul tersebut telah menjelaskan (bagi mereka) tentang perintah dan larangan yang terarah kepada mereka, dan sudah tegak hujjah Allah di hadapan mereka “maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki”, dari orang-orang yang Allah istimewakan dengan rahmatNya “dan Dia-lah Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” yang mana termasuk dari keperkasaan Allah, bahwa Dia-lah Dzat satu-satunya yang memiliki kekuasaan memberi hidayah dan menyesatkan serta membolak-balikkan hati kepada kondisi yang Dia kehendaki. Termasuk dari hikmahNya adalah, Dia tidak menempatkan hidayah dan ketetapan sesatNya kecuali pada tempat yang pantas. Ayat yang mulia ini bisa dijadikan sebagai dalil, bahwa (mempelajari)ilmu-ilmu bahasa Arab yang akan membantu menjelaskan Firman Allah dan ucapan RasulNYa merupakan tuntutan dan perkara yang disukai Allah. Sebab pengetahuan tentang wahyu yang Allah turunkan kepada RasulNya hanya tercapai dengannya, kecuali bila orang-orang dalam kondisi tidak membutuhkannya. Hal itu bisa diwujudkan apabila mereka telah terlatih dengan bahasa Arab, dan anak-anak mereka tumbuh dengannya serta sudah menjadi kebiasaan mereka. Saat itulah, mereka telah menuntaskan masalah dan layak bisa langsung menerima dari Allah dan RasulNya, sebagaimana yang dilakukan para sahabat.
Tafsir Al-Wajiz
4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun kepada umat terdahulu, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan ats syariat Allah dengan terang kepada kaumnya. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa dalam kerajaan-Nya lagi Maha Bijaksana dalam segala perbuatan-Nya. Tidak ada pemberian petunjuk maupun penyesatan kecuali di situ untuk tujuan hikmah, dan dua perlakuan itu bukan semata-mata sebuah hal ketetapan cuma-cuma, namun kesesatan disebabkan oleh perilaku kufur dan membangkang, adapun pemberian petunjuk adalah sebab taufik dan penjagaan