Tafsir Ringkas Kemenag
Sebenarnya beriman kepada Allah dan hari kemudian serta menginfakkan sebagian dari karunia yang diberikan oleh Allah yang sangat banyak itu, tidaklah berat. Dan apa sebenarnya keberatan bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan apa kesulitannya jika mereka menginfakkan sebagian, bukan seluruhnya, dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya' sungguh tidak ada kesulitan sedikit pun untuk melakukan hal itu. Dan ingatlah bahwa Allah sesungguhnya maha mengetahui segala sesuatu tentang keadaan mereka ayat yang lalu ditutup dengan sebuah pernyataan bahwa Allah maha mengetahui segala sesuatu tentang keadaan orang-orang sombong dan membanggakan diri itu. Untuk mengikis kesan Allah menimpakan siksa yang melebihi batas kedurhakaan orang-orang yang sombong dan membanggakan diri itu, ayat ini memberi penegasan bahwa Allah tidak akan berlaku aniaya. Sungguh, ketahuilah bahwa Allah tidak akan menzalimi ketika menjatuhkan sanksi kepada seseorang, walaupun sebesar dzarrah yakni sesuatu yang terkecil dan teringan, dan demikian pula jika ada kebajikan, walaupun kebajikan itu hanya sekecil dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan kebajikannya itu dan memberikan pahala yang besar dengan berlipat ganda dari sisi-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 37-39 Allah SWT berfirman seraya mencela orang-orang yang bakhil terhadap harta mereka untuk menafkahkannya dalam sesuatu yang diperintahkan Allah, berupa berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejalan, dan orang-orang yang dalam perjalanan, dan kepada budak. Mereka tidak menunaikan hak Allah yang ada pada harta itu, dan menyuruh orang lain untuk berbuat bakhil juga. Rasulullah SAW bersabda, “Penyakit mana yang melebihi bakhil” beliau juga bersabda, “Jauhilah sifat pelit, karena itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Mereka memerintahkan orang lain untuk memutuskan hubungan, lalu mereka memutus hubungan, dan mereka memerintahkan orang lain untuk durhaka lalu mereka durhaka" Firman Allah (dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka) orang yang bakhil mengingkari nikmat Allah, sehingga nikmat itu tidak tampak dan tidak jelas baginya, tidak dalam makanan, pakaian, pemberian, dan pengorbanannya, sebagaimana firman Allah SWT (sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya (6) dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya (7)) (Surah Al-‘Adiyat) dengan keadaan dan kecukupannya (dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (8)) (Surah Al-‘Adiyat) dan disini Allah berfirman (dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka). Oleh karena itu Allah mengancam mereka dengan firmanNya (Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan) “Al-Kufru” adalah penutup dan penghalang. Maka orang bakhil itu menutup nikmat Allah yang diberikan kepadanya dan menyembunyikan serta mengingkarinya, sehingga dia kufur atas nikmat Allah kepadanya. Disebutkan dalam hadits “Sesungguhnya Allah ketika memberikan nikmat kepada hamba, Dia menyukai jika hambanya memperlihatkan nikmat yang diberikan Allah kepadanya.” Dalam doa Nabi "Jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur atas nikmatMu, dan orang-orang memujiMu dengan nikmat itu sebagai orang yang menerimanya, dan sempurnakanlah nikmatMu kepada kami” Beberapa ulama’ salaf berpendapat bahwa ayat ini terkait dengan kebakhilan orang Yahudi untuk menampakkan pengetahuan yang ada pada mereka berupa sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, dan mereka menyembunyikannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan) Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas. Hal itu juga diungkapkan oleh Mujahid dan lainnya. Tidak diragukan bahwa ayat ini mengandung makna demikian, Konteks yang tampak adalah tentang kebakhilan harta. Apabila yang dimaksud adalah kebakhilan terkait pengetahuan maka hal itu masuk pada pandangan pertama. Sesungguhnya konteksnya adalah tentang infak untuk kerabat dan orang-orang yang lemah, sebagaimana juga ayat setelahnya yang mengatakan, (Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia) Dia menyebutkan orang-orang yang menahan (untuk berinfak) yang dicela, dan mereka adalah orang-orang bakhil. Kemudian Dia menyebutkan orang-orang yang memberikan sesuatu kepada orang-orang dengan maksud agar dipuji oleh orang lain dengan pemberiannya yang diperdengarkan dan bukan karena Allah. Disebutkan dalam hadits bahwa ada tiga orang yang pertama kali digunakan sebagai bahan bakar neraka, mereka adalah orang alim, orang yang berperang dan orang yang berinfak yang memamerkan amalnya, orang memiliki harta itu berkata,"Aku tidak pernah meninggalkan infak pada jalan yang Engkau sukai” Lalu Allah menjawab, "Kamu berdusta, sesungguhnya kamu hanya ingin dikatakan,”Orang yang dermawan, sehingga hal itu dikatakan untukmu”, yaitu kamu telah mengambil balasanmu di dunia, yaitu sesuatu yang kamu inginkan dari perbuatanmu. Kemudian Allah SWT berfirman, (Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka (39)) yaitu hal mana yang memberikan mudharat kepada mereka yang beriman kepada Allah dan berjalan di jalan yang terpuji, menjauhkan diri dari perbuatan riya’, ikhlas dan beriman Allah serta mengharapkan apa yang dijanjikan olehNya di rumah akhirat bagi orang yang berbuat kebaikan, dan menafkahkan apa yang telah diberikan Allah kepadaNya dalam hal-hal yang disukai dan diridhai olehNya. Firman Allah (Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka) yaitu Dia Maha Mengetahui niat mereka, yang baik maupun yang buruk. Maha Mengetahui orang yang pantas mendapatkan taufikNya sehingga Dia memberikan taufik kepadanya, dan memberikan petunjuk kepadanya, serta menetapkannya agar melakukan amal shalih yang diridhai olehNya. Maha Mengetahui orang yang diabaikan dan ditolak dari sisi Tuhan yang Maha Agung dimana dia ditolak dari pintunya sehingga dia merugi di dunia dan akhirat. Semoga Allah melindungi dari hal tersebut.