Surah Az-Zariyat : Ayat 37
وَتَرَكْنَا فِيهَآ ءَايَةً لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلْعَذَابَ ٱلْأَلِيمَ

"Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih."

Tafsir Ringkas Kemenag
Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri nabi lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih. 38. Usai menceritakan azab yang Allah timpakan kepada kaum nabi lut yang ingkar, pada ayat-ayat berikut Allah menyebut kisah umat masa lalu yang mengingkari nabinya. Kisah-kisah itu menunjukkan betapa Allah mahakuasa, dan pada kisah nabi musa juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukti-bukti itu antara lain terlihat ketika kami mengutusnya kepada fira'un, yaitu penguasa mesir kuno, dengan membawa tanda kekuasaan kami, yaitu mukjizat yang nyata dan tidak terbantahkan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 31-37 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang nabi Ibrahim (Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth (74) Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah (75) Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak (76)) (Surah Hud) dan di sini Allah berfirman: (Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu, hai para utusan?” (31)) yaitu apakah urusan kalian? dan apakah yang menyebabkan kalian datang? (Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (32)) yang mereka maksud adalah kaum nabi Luth (agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras) (33) yang ditandai) yaitu diberi tanda (di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas”) yaitu dicatatkan pada setiap batu nama orang yang akan dikenainya. Allah berfirman dalam surah Al-'Ankabut: (Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya di kota itu ada Lut.” Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)" (32)) (Surah Al-'Ankabut) di sini Allah berfirman: (Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu (35)) Mereka adalah nabi Luth dan ahli baitnya kecuali istrinya (Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (36)) Firman Allah SWT: (Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih (37)) yaitu Kami menjadikannya sebagai pelajaran bagi yang lainnya tentang azab, pembalasan, dan batu dari tanah yang keras yang Kami timpakan kepada mereka, dan Kami menjadikan bekas tempat mereka danau yang berbau busuk dan kotor. Dalam hal itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang beriman (bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih)
Tafsir As-Sa'di
37. “Dan Kami tinggalkan pada negeri itu satu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih,” agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasulNya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan. PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim, kekasih Allah, di mana Allah memulai kisah kaum Nabi Luth dengan kisah Nabi Ibrahim, yang menunjukkan perhatian Allah terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim, kekasih Allah, di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan ummatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim. Kisah yang disebutkan Allah dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah menggambarkan tamu-tamu Ibrahim sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim. Allah menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim juga dimuliakan di sisi Allah. Kelima, rumah Nabi Ibrahim menjadi tempat persinggahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, “Kaum yang tidak dikenal,” tidak berkata, “Aku tidak mengenal kalian,” terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum datang tamu lalu disuguhkan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Allah sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemimpin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dan mengatakan, “Silahkan,” atau “Datangilah,” karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilakukan Ibrahim yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata, “Makanlah,” dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh menggunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, “Apakah kalian tidak makan?” “ apakah kalian tidak mempersilahkan diri kalian?” “Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…” atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa memberinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahannya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, “Jangan takut,” keemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim dan istri beliau berupa berita gembira akan lahirnya seorang putra yang alim.
Tafsir Al-Wajiz
37. Kami tinggalkan dalam negeri itu tanda-tanda dan dalil-dalil tentang kehancuran bagi orang-orang yang takut dengan azab yang pedih

Sumber tafsir dari tafsirweb.com