Surah Al-Anfal : Ayat 35
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِندَ ٱلْبَيْتِ إِلَّا مُكَآءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
"Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
Tafsir Ringkas Kemenag
Salah satu bukti ketidaklayakan mereka mengelola masjidilharam adalah seperti diuraikan pada ayat ini. Dan apa yang mereka anggap sebagai salat mereka yang seharusnya dilakukan dengan dengan penuh khusyuk, ketulusan, dan penghormatan kepada Allah, apalagi itu dilakukan di sekitar baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka kelak ketika azab telah jatuh, dikatakan kepada mereka, rasakanlah azab disebabkan sejak dahulu hingga kini kamu terus-menerus melakukan kekufuran. Terimalah kematian kamu di medan perang, agar kesyirikan itu menjauh dari masjidilharam, dan kematian itu tidak lain akibat kekufuran kamu. Demikianlah, perbuatan buruk mereka akan sia-sia dan berbuah azab. Demikian pula harta mereka akan sia-sia seperti dijelaskan pada ayat ini. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, yang mengingkari ayatayat dan menyekutukan Allah, bertekad untuk terus-menerus menginfakkan harta mereka dengan tujuan untuk menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah. Mereka akan terus menginfakkan harta itu, kemudian setelah beberapa lama apa yang mereka lakukan itu menjadi sebab penyesalan bagi mereka, penyesalan yang sangat besar karena mereka hilang dan tujuan mereka tidak tercapai, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Harta itu akan musnah dan sia-sia, sebab mereka tidak akan mampu menghalangi orang dari jalan Allah, dan semua itu hanya akan melahirkan penyesalan dan rasa sakit. Mereka akan dikalahkan dalam perang dan kelak ke dalam neraka jahanamlah orang-orang kafir itu, yang tetap atau bertambah kekufurannya, akan dikumpulkan, selama mereka masih mempertahankan kekufuran.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 34-35 Allah SWT memberitahukan bahwa mereka adalah kaum yang layak Dia azab, Akan tetapi Dia tidak menimpakan hal itu kepada mereka karena keberadaan Rasulullah SAW di antara mereka. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW pergi dari mereka, Allah menimpakan azabNya kepada mereka dalam perang Badar, Dia membunuh para pemberani mereka dan menawan orang-orang kaya mereka. Allah membimbing mereka untuk memohon ampun dari dosa-dosa yang mereka lakukan, berupa kemusyrikan dan kerusakan. Qatadah, As-Suddi dan lainnya berkata bahwa kaum itu tidak memohon ampun. Seandainya mereka memohon ampun, maka mereka tidak akan disiksa. Pendapat ini dipilih Ibnu Jarir. Seandainya di antara mereka tidak ada kaum yang tertindas dari kalangan orang-orang mukmin yang memohon ampun, maka siksaan Allah akan menimpa mereka tanpa bisa dielakkan. Akan tetapi siksan itu ditahan karena keberadaan orang-orang mukmin yang tertindas itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman pada perjanjian Hudaibiyyah (Orang-orang yang kafir yang menghalang kalian dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kalian ketahui, bahwa kalian akan membunuh mereka yang menyebabkan kalian ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan kalian (tentulah Allah tidak akan menahan tangan kalian dari membinasakan mereka), supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendakinya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih (25)) (Surah Al-Fath) yaitu bagaimana bisa Allah tidak menyiksa mereka )sedangkan mereka menghalangi manusia untuk mendatangi Masjidil Haram?( yang ada di Makkah. Mereka menghalang-halangi orang-orang mukmin yang merupakan penduduk Makkah dari mengerjakan shalat dan thawaf di sekitarnya. Oleh karena itu Allah berfirman: (dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya, Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa) yaitu mereka itu bukanlah penghuni Masjidil Haram, sesungguhnya penghuni Masjidil Haram adalah Nabi SAW dan para sahabatnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka (17) Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah; maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (18) (Surah At-Taubah: 17-18) dan (tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah) (Surah Al-Baqarah: 217) Kemudian Allah SWT menyebutkan tentang yang biasa mereka lakukan dan amalkan di Masjidil Haram. Lalu Allah berfirman: (Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan) Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa maknanya adalah siulan. Mujahid menambahkan bahwa mereka memasukkan jari mereka ke dalam mulut mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang makna firmanNya: (Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan) orang-orang Quraisy melakukan thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang bulat dengan bersiul dan bertepuk tangan. “Al-muka’” adalah bersiul, dan mereka diserupakan dengan siulan burung. (tasdiyah) adalah bertepuk tangan. Firman Allah SWT: (Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu) Adh-Dhahhak berkata itu adalah sesuatu yang menimpa mereka di perang Badar, berupa kematian dan menjadi tawanan. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan tidak ada yang meriwayatkan hal ini selain dia.
Tafsir As-Sa'di
35 yakni bahwa Allah hanya menjadikan baitul haram agar agamaNya ditegakan padanya dan diikhlaskan ibadah untukNya di dalamnya. orang orang mukminlah yang dapat menegakkan perkara ini. adapun orang orang musyrik yang menghalang halangi manusia darinya, maka shalat mereka padanya yang merupakan ibadah terbesar “tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan” kelakuan orang orang bodoh lagi dungu, orang orang yang di dalam hati mereka tidak terdapat sedikitpun pengagungan kepada Rabbnya tidak pula mengetahui hak hakNya tidak pula penghormatan terhadap belahan bumi paling mulia dan paling utama. JIka shalat mereka padanya adalah demikian, lalu bagaimna dengan ibadah ibadah yang lain? Dengan alasan apa mereka merasa lebih berhak terhadap baitullah dari pada orang orang mukmin yang shalat mereka padanya adalah shalat yang khusyu orang orang yang berpaling dari perkara perkara yang tidak berguna dan sifat sifat terpuji lainnya serta perbuatan perbuatan baik yang dijelaskan oleh Allah, tidak aneh kalau Allah mewariskan baitullah al haram kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai penguasanya. Setelah Allah menjadikan mereka sebagai penguasanya, Dia berfirman kepada orang orang yang beriman ”hai orang orang yang beriman sesungguhnya orang orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil haram sesudah tahun ini ” dan di sini Dia berfirman ”maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”
Tafsir Al-Wajiz
35 Shalat yang mereka lakukan di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan, bukanlah sebuah ibadah yang benar untuk mengagungkan Allah sesuai syariat. Maka rasakanlah azab ini wahai orang musyrik berupa azab dunia sebagaimana yang sudah kalian rasakan di perang Badr, juga azab akhirat disebabkan kekafiran dan dustamu itu kepada Allah dan rasul-Nya. Ibnu Umar berkata: mereka tawaf di sekeliling Ka’bah dengan bersiul dan tepuk tangan, maka turunlah ayat ini.