Tafsir Ringkas Kemenag
Allah adalah pemberi cahaya, karenanya dia menurunkan Al-Qur'an untuk menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. Allah adalah pemberi cahaya pada langit dan bumi, baik cahaya material yang kasat mata maupun cahaya immaterial seperti keimanan, pengetahuan, dan lainnya. Perumpamaan kecerlangan cahaya-Nya yang menerangi hati orang-orang mukmin seperti sebuah lubang yang tidak tembus sehingga tidak diterpa angin yang dapat memadamkan cahaya, dan membantu mengumpulkan cahaya lalu memantulkannya; yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, sehingga pohon itu selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari. Kejernihan minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis; pelita adalah cahaya, demikian pula kaca dan minyak yang begitu jernih, sehingga sempurnalah sinarnya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, yaitu siapa saja yang mengikuti petunjuk Al-Qur'an, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mudah memahami kandungannya dan mengambil pela-jaran darinya hingga akhirnya mau beriman. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu; tidak ada sedikit pun yang tersembunyi dari-Nya. 36. Cahaya itu Allah pancarkan di langit dan bumi, seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya. Namun, tidak semua orang dapat meraih cahaya itu. Cahaya itu di rumah-rumah ibadah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya; di sana bertasbih-lah orang-orang yang menyucikan nama-Nya melalui berbagai ibadah, seperti azan, salat, dan tilawah Al-Qur'an, pada waktu pagi dan petang, .
Tafsir Ibnu Katsir
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi) yaitu Pemberi petunjuk kepada penduduk langit dan bumi. dia adalah orang mukmin menanamkan keimanan dan Al-Qur'an di dalam dadanya. Demikian juga dikatakan oleh Sa'id bin Jubair dan Qais bin Sa'd, dari Ibnu Abbas, bahwa dia membacanya dengan bacaan ini, yaitu: "Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada Allah" Firman Allah: (Perumpamaan cahaya Allah) Terkait rujukan dhamir ini ada dua pendapat. Pendapat pertama bahwa itu kembali kepada Allah SWT. yaitu perumpamaan petunjukNya di dalam hati orang mukmin. Demikianlah pendapat Ibnu Abbas tentang firmanNya (seperti sebuah lubang yang tak tembus). Pendapat kedua bahwa dhamir itu kembali kepada orang mukmin yang ditunjukkan oleh konteks ayat. Bentuknya adalah,"Perumpamaan cahaya orang mukmin yang ada di dalam hatinya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus” Maka hati orang mukmin dan apa yang telah difitrahkan kepadanya berupa petunjuk serta apa yang diterimanya berupa Al-Qur'an yang sesuai dengan fitrahnya itu menyerupai hal itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah) (Surah Hud: 17) Hati orang mukmin diserupakan dalam hal kejernihannya dengan lentera yang terbuat dari kaca yang tembus pandang dan berkilauan. Sedangkan petunjuk yang diterima dari Al-Qur'an dan syariat agama diserupakan dengan minyaknya yang baik, jernih, bercahaya, dan sesuai, yang tidak ada kekeruhan dan penyimpangan padanya. Firman Allah: (seperti sebuah lubang yang tak tembus) Ibnu Abbas, Mujahid, Muhammad bin Ka'b, dan lainnya berkata bahwa itu adalah tempat lentera dan adalah pendapat yang terkenal. Oleh karena itu Allah berfirman sesudahnya: (yang di dalamnya ada pelita besar) yaitu pelita yang menyala. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa “Al-misykat” adalah besi gantungan lampu besar. Tetapi pendapat pertama adalah yang paling utama, yaitu yang bahwa “Al-misykat” adalah tempat lampu. Oleh karena itu Allah berfirman: (yang di dalamnya ada pelita besar) yaitu cahaya yang ada dalam lampu itu. Ubay bin Ka'b berkata bahwa “Al-mishbah” adalah cahaya dan ini adalah Al-Qur'an dan keiimanan yang ada di dalam dadanya. As-Suddi berkata bahwa itu adalah lentera. (Pelita itu di dalam kaca) yaitu cahaya itu terpancarkan dari kaca yang jernih. Ubay bin Ka'b dan lainnya berkata bahwa ini merupakan perumpamaan bagi hati orang mukmi ((dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)) Sebagian ulama membacanya dengan didhammah huruf dalnya tanpa memakai hamzah, dari kata “ad-durr” yaitu seakan-akan kaca itu adalah bintang permata yang bercahaya. Sedangkan ulama lainnya membacanya dir'un dan dur'un, dengan dikasrah dan didahmmah dengan memakai hamzah dari “ad-dur'u” yaitu dorongan. Demikian itu karena bintang jika terlempar, maka cahayanya sangat terang melebihi semua keadaannya. Dan orang-orang Arab menamakan bintang yang tidak dikenal dengan sebutan “darariy” Ubay bin Ka'b berkata, makna yang dimaksud adalah bintang yang bercahaya terang. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah bintang yang terang jelas dan besar. (yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya) yaitu bahan bakarnya dari minyak zaitun, yang merupakan pohon yang banyak berkahnya ((yaitu) pohon zaitun) yang menjadi badal atau ‘athaf bayan (yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya)) yaitu bukan di bagian timurnya sehingga sinar matahari pagi tidak bisa sampai kepadanya, dan tidak pula di bagian baratnya yang tidak terkena sinar matahari di saat condong sebelum tenggelam. melainkan, tumbuh di bagaian pertengahan yang selalu terkena sinar matahari sejak pagi hari sampai petang, sehingga minyaknya jernih, baik dan berkilau. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: ((yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya)) yaitu pohon yang ada di padang pasir dalam keadaan tidak tertutupi pohon lainnya, gunung, dan tidak pula di dalam gua, serta tidak tertutupi oleh sesuatu apapun. Jadi pohon ini menghasilkan minyak paling baik. Sa'id bin Jubair berkata tentang firmanNya: ((yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat (nya), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi) yaitu minyak terbaik. Dia berkata bahwa apabila matahari terbit, maka sinarnya mengenai pohon itu dari arah timur, dan apabila akan tenggelam, maka sinar matahari juga mengenainya. Matahari selalu mengenainya, baik di pagi hari maupun petang. Demikian itu maka pohon ini bukan di sebelah timur, dan bukan di sebelah barat. Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' bin Anas, dari Abu Al-’Aliyah, dari Ubay bin Ka'b tentang firmanNya SWT: ((yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat (nya)) dia berkata yaitu, pohon itu hijau dan lembut karena tidak terkena sinar matahari sama sekali, baik di saat terbit maupun tenggelam. Demikian juga keadaan orang mukmin yang sesungguhnya, dia dilindungi dari fitnah apa pun. Terkadang dia diuji dengan fitnah, tetapi Allah meneguhkan hatinya sehingga tidak tergoda, jadi dia adalah seorang mukmin yang memiliki empat perangai, yaitu; Ketika berbicara, dia jujur, ketika memutuskan hukum, dia adil, ketika dicoba, dia bersabar, dan ketika diberi, dia bersyukur. Dia di antara manusia lainnya seperti seorang lelaki hidup yang berjalan di antara orang-orang yang mati. Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair tentang firmanNya: ((yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya)) bahwa pohon itu ada ditengah pepohonan sehingga tidak terkena sinar matahari, baik dari arah timur maupun dari arah barat. Pendapat yang paling utama di antara semua pendapat yang ada adalah pendapat pertama. yaitu bahwa pohon tersebut tumbuh di tempat yang luas dan tampak, selalu terkena sinar mentari sejak pagi sampai petang, agar menghasilkan minyak yang paling jernih dan lembut, sebagaimana yang dikatakan oleh banyak ulama’ terdahulu. Oleh karena itu Allah berfirman: (yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa maknanya adalah karena jernih dan cemerlang. Mujahid dan As-Suddi berkata bahwa makna yang dimaksud adalah cahaya api dan cahaya minyak zaitun. Ubay bin Ka'b berkata tentang firmanNya: (Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)) yaitu dia bergelimang di dalam lima cahaya. Perkataannya adalah cahaya, amal perbuatannya adalah cahaya, tempat masuknya adalah cahaya, tempat keluarnya adalah cahaya, dan tempat kembalinya adalah kepada cahaya pada hari kiamat menuju surga. As-Suddi berkata tentang firmanNya: (Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)) dia berkata yaitu cahaya api dan cahaya minyak, saat bertemu kedua-duanya menerangi, masing-masing tidak dapat menerangi tanpa yang lainnya. Demikian juga cahaya Al-Qur'an dan cahaya keimanan ketika keduanya bertemu, maka masing-masing dari keduanya tidak akan ada kecuali dengan yang lainnya. Firman Allah: (Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki) yaitu Allah membimbing menuju jalan petunjuk kepada siapa saja yang Dia pilih, Firman Allah SWT: (dan Allah memperbuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) Setelah menyebutkan hal itu sebagai perumpamaan bagi cahaya petunjukNya di dalam hati orang mukmin, maka Allah SWT menutupnya dengan firmanNya: (dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) yaitu Dia Maha Mengetahui tentang siapa saja yang layak mendapat petunjuk dan siapa saja yang layak mendapat kesesatan.