Surah Al-Hajj : Ayat 31
حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِۦ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ
"dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh."
Tafsir Ringkas Kemenag
Menunaikan ibadah haji ke baitullah hendaklah dengan landasan tauhid yang lurus, niat beribadah dengan ikhlas kepada Allah, semata-mata mengharapkan keridaan-Nya, tanpa mempersekutukan-Nya de-ngan sesuatu apa pun. Barang siapa mempersekutukan Allah, kapan dan di mana pun, selama menunaikan ibadah haji maupun sebelumnya, maka seakan-akan dia jatuh dari langit, karena terputus dari tali Allah hingga ibadahnya tidak diterima, lalu disambar oleh burung hingga dirinya makin jauh dari Allah, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh seperti layang-layang putus. 32. Demikianlah perintah Allah agar seorang muslim menunaikan ibadah haji dengan landasan tauhid yang lurus. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah dengan menyempurnakan manasik haji yang dilakukan pada tempat-tempat mengerjakannya dengan hati yang bersih, semata-mata mengharap keridaan-Nya, maka sesungguhnya hal itu, hanya akan terlaksana bila menunaikan ibadah haji timbul dari ketakwaan hati.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 30-31 Allah SWT berfirman,"Ini adalah apa yang Kami perintahkan berupa amal ketaatan dalam menunaikan manasik dan pahala yang melimpah bagi orang yang melakukannya" (Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah) yaitu barangsiapa yang menjauhi perbuatan maksiat dan apa yang diharamkan Allah yang jika dilanggar maka pelakunya melakukan dosa besar (maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya) yaitu maka baginya, berdasarkan hal itu, kebaikan yang banyak dan pahala yang melimpah. Sebagaimana mengerjakan amal ketaatan, dai mendapatkan pahala yang banyak dan balasan yang melimpah. Demikian juga meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Mujahid berkata tentang firmanNya: (Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah) dia berkata bahwa Al-Hurumah adalah Makkah, ibadah haji dan umrah, serta sesuatu yang dilarang Allah, berupa semua perbuatan maksiat terhadapNya. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. Firman Allah: (Dan telah dihalalkan bagi kalian semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepada kalian keharamannya) yaitu Kami halalkan bagi kalian semua binatang ternak, dan Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, washilah, dan ham. Firman Allah: (kecuali yang diterangkan kepada kalian keharamannya) yaitu sesuatu yang diharamkan (bangkai, darah,1 daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas) (Surah Al-Maidah: 3). Pendapat itu dikatakan Ibnu Jarir, yang diriwayatkan dari Qatadah. Firman Allah: (maka jauhilah berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta) Huruf min di sini untuk menjelaskan jenis, yaitu jauhilah hal yang kotor itu, yaitu berhala-berhala itu. Mengiringkan tindakan menyekutukan Allah dengan perkataan dusta, sebagaimana firmanNya: (Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui” (33)) (Surah Al-A'raf) dari hal itu terdapat kesaksian terkait dusta. Firman Allah: (dengan ikhlas kepada Allah) yaitu dengan mengikhlaskan niat dalam beragama karena Allah, menyimpang dari kebathilan menuju kepada kebenaran. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia) Kemudian Allah SWT membuatkan perumpamaan tentang orang musyrik dalam kesesatannya, kebinasaannya dan kejauhannya dari petunjuk. Jadi Allah SWT berfirman: (Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit) yaitu jatuh dari langit (lalu disambar oleh burung) yaitu disambar oleh burung saat di udara (atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh) yaitu jauh dan membinasakan setiap orang yang terjatuh padanya.
Tafsir As-Sa'di
31. Dia menetapkan perintah kepada mereka agar menjadi “orang-orang yang ikhlas kepada Allah,” maksudnya orang-orang yang berorientasi kepadaNya dan kepada beribadah untukNYa, berpaling dari selainNya. “Tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNYa, dan barangsiapa mempersekutukan Allah,” perumpamaannya “maka dia seolah-olah jatuh dari langit,” maksudnya terjatuh darinya, “lalu disambar oleh burung,” dengan cepat, “atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh,” maksudnya nan jauh. Begitu pula kondisi kaum musyrikin. Keimanan itu kedudukannya bagaikan langit, terpelihara dan berada di ketinggian. Orang yang mencampakkan keimanan keimanan bak orang yang terjerembab dari langit, menjadi sasaran berbagai macam gangguan dan bencana. Atau akan tersambar oleh seekor burung yang akan mengoyak anggota tubuhnya. Demikian halnya orang musyrik, jika mengesampingkan berpegang teguh kepada keimanan. Setan akan menyambarnya dari segala sisi, mencabik-cabiknya dan membawa pergi agama dan kehidupan dunianya.
Tafsir Al-Wajiz
31. Dengan ikhlas kepada Allah, jauh dari kebatilan, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Ini adalah penekanan terhadap ayat sebelumnya. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh