Surah Al-Hujurat : Ayat 3
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَٰتَهُمْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمْتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar."

Tafsir Ringkas Kemenag
Ayat ini menguraikan dampak positif yang diraih oleh mereka yang merendahkan suaranya di hadapan nabi didorong oleh penghormatan kepada beliau. Allah menyatakan, sesungguhnya orang-orang yang senantiasa merendahkan suaranya di sisi rasulullah, didorong oleh motivasi penghormatan dan pengagungan kepada beliau mereka itulah orang-orang tinggi kedudukannya yang telah diuji hatinya yakni dibersihkan oleh Allah dengan bermacam-macam ujian dan cobaan untuk menjadi orang bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan atas kesalahannya dan pahala yang besar atas ketaatan yang dilakukannya. 4-5. Setelah ayat yang lalu memuji orang-orang yang berlaku sopan kepada nabi dengan merendahkan suaranya ketika berbicara dengan beliau, ayat ini mengecam orang-orang yang berlaku tidak sopan. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau dengan cara yang tidak sopan dari luar kamar kediamanmu dan kediaman istri-istrimu kebanyakan mereka tidak mengerti tata krama penghormatan dan peng-agungan yang seharusnya dilakukan kepadamu. Dan sekiranya mereka bersabar, yakni tidak memanggil-manggil namamu sampai engkau keluar dari kamarmu untuk menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka di sisi Allah. Dan itu tidak dilakukan oleh mereka, namun Allah tidak menyiksa mereka. Allah maha pengampun bagi siapa yang bertobat, maha penyayang kepada hamba-Nya yang taat. Berkaitan dengan ayat ini terdapat riwayat bahwa sekelompok rombongan bani tamim datang untuk menemui nabi dan mereka memanggil-manggil dari luar kamarnya, 'hai Muhammad, keluarlah untuk menemui kami'. Nabi dengan berat hati menemui mereka, padahal ketika itu beliau sedang beristirahat. Ayat ini mengecam sikap mereka yang berlaku tidak sopan kepada rasulullah.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-3 Melalui ayat-ayat ini Allah SWT mengajarkan etika kepada para hambaNya yang beriman dalam bermuamalah dengan Rasulullah SAW berupa menghormati, memuliakan, dan mengagungkan beliau SAW, maka Allah SWT berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya,1 dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (1)) yaitu, janganlah kalian tergesa-gesa dalam segala sesuatu di hadapannya, yakni sebelum beliau, bahkan hendaknya kalian mengikuti beliau dalam segala urusan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya) yaitu janganlah mengatakan hal yang bertentangan dengan kitab Allah dan sunnah. Mujahid berkata,"Janganlah meminta fatwa kepada Rasulullah SAW tentang suatu perkara, sebelum Allah SWT menyelesaikannya melalui lisannya" Firman Allah SWT: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi) Ini merupakan etika lainnya dimana Allah mendidik hamba-hambaNya yang beriman agar mereka tidak meninggikan suaranya di hadapan Nabi SAW lebih tinggi daripada suara beliau. Para ulama berkata bahwa makruh meninggikan suara di hadapan kuburan Nabi SAW sebagaimana hal itu dimakruhkan saat beliau SAW masih hidup. Karena sesungguhnya beliau SAW tetap dimuliakan, baik semasa hidup maupun sesudah wafatnya untuk selamanya. Kemudian Allah SWT melarang orang-orang mukmin berbicara kepada beliau dengan suara keras sebagaimana seseorang berbicara dengan temannya, bahkan dia harus bersikap tenang, menghormati, dan memuliakan beliau saat berbicara. Oleh karena itu Allah berfirman: (dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain) Sebagaimana Allah berfirman: (Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)) (Surah An-Nur: 63) Firman Allah: (supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari) yaitu sesungguhnya Kami melarang kalian meninggikan suara di hadapan Nabi SAW karena dikhawatirkan beliau akan marah, sehingga Allah juga marah karena kemarahan beliau. Sehingga amal baik orang yang membuatnya marah akan dihapus, dan dia tidak menyadarinya. Kemudian Allah SWT menganjurkan kepada orang-orang mukmin agar merendahkan suaranya di hadapan Nabi SAW dan Allah mendorong, membimbing, dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Jadi Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa) yaitu paling tulus dalam melakukannya dan menjadikannya sebagai ahli dan tempat untuk takwa (Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar)
Tafsir As-Sa'di
3. Kemudian Allah memuji orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah bahwasanya Allah menyebutkan bahwa orang seperti ini hatinya tengah diuji untuk ketakwaan sehingga hasilnya bisa terlihat dengan jelas, yaitu hati mereka menjadi layak untuk bertakwa. Selanjutnya Allah menjanjikan ampunan bagi dosanya yang mencakup lenyapnya keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan serta bisa mendatangkan pahala besar yang sifatnya tidak diketahui kecuali hanya Allah semata, yang mencakup didapatkannya semua hal yang diinginkan. Disini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah menguji hati dengan perintah, larangan dan ujian. Siapa pun yang terus menunaikan perintah Allah, mencari ridhaNya, menyegerakan hal itu serta mendahulukannya di atas keinginannya, maka ia akan terpilih untuk diberi ketakwaan sehingga hatinya layak untuk bertakwa, namun siapa pun yang tidak seperti itu, maka bisa diketahui bahwa orang itu tidak layak untuk bertakwa.
Tafsir Al-Wajiz
3. Sesungguhnya orang-orang yang memelankan suaranya saat berbicara dengan rasulallah itu sedang bersopan santun dengannya. Allah melatih hati mereka agar mampu memikul penderitaan dan beban sehingga mereka dapat ikhlas dalam bertakwa, yaitu berlaku taat dan menajauhi maksiat. Bagi mereka itu ampunan bagi dosa-dosa mereka dan pahala yang agung sebagai balasan atas ketaatan mereka. Ayat ini diturunkan untuk Tsabit bin Qais yang duduk menangi karena takut meninggikan suaranya di atas suara nabi, karena dia memiliki suara yang lantang. Kemudian Rasulallah SAW memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Apakah kamu ridha jika dirimu hidup terhormat, mati syahid dan masuk surga?” Dia menjawab: “Aku ridha dan aku tidak akan pernah meninggikan suaraku di atas suara rasulallah SAW” Kemudian Allah menurunkan ayat {Innalladziina yaghudhuuna}

Sumber tafsir dari tafsirweb.com