Surah Al-Mulk : Ayat 29
قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
"Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”."
Tafsir Ringkas Kemenag
Kaum musyrik itu tidak berkutik dengan pertanyaan itu. Katakanlah, wahai nabi, 'dialah saja bukan selain-Nya, yang maha pengasih, kami beriman kepada-Nya dan hanya kepada-Nya kami bertawakal dengan sepenuh hati. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata apakah golongan kami atau kamu. '30. Sebagai penutup surah ini, Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad agar mengingat aneka nikmat Allah, terutama nikmat air yang merupakan sumber utama kehidupan (lihat surah al-anbiy'/21:30). Katakanlah wahai nabi Muhammad, 'terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu dan sumber air lainnya menjadi kering. Maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir''. Pasti tidak ada kecuali Allah, tuhan pemelihara seluruh alam. Maka sudah sewajarnya kalau manusia hanya menyembah kepada-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 28-30 Allah SWT berfirman: (Katakanlah) wahai Muhammad, kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dan ingkar kepada nikmat-nikmatNya (Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari azab yang pedih?) yaitu, selamatkanlah diri kalian, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari azab Allah selain taubat dan kembali kepada agamaNya. Dan tidak ada manfaatnya lagi bagi kalian apa yang kalian angan-angankan bahwa azab dan pembalasan akan menimpa kami. Maka sama saja apakah Allah mengazab kami atau merahmati kami, maka tidak akan mengubah nasib kalian yang pasti akan tertimpa pembalasan dan azabNya yang pedih. Kemudian Allah berfirman: (Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakal) yaitu kami beriman kepada Tuhan alam semesta, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan hanya kepadaNyalah kami bertawakal dalam semua urusan kami. Sebagaimana Allah berfirman: (maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya) (Surah Hud: 123) Oleh karena itu Allah berfirman (Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata) yaitu apakah kami atau kalian, dan bagi siapakah akibatnya baik di dunia dan di akhirat? Kemudian Allah berfirman (Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering”) yaitu masuk ke dalam lapisan terbawah bumi, sehingga tidak dapat dicapai dengan cangkul dan besi, tidak pula dengan alat-alat yang kuat. Kata “Al-gha’ir” adalah kebalikan dari “An-nabi'” (memancar) Oleh karena itu Allah berfirman: (maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?) yaitu, yang memancar dan mengalir di permukaan bumi. yaitu tidak ada yang dapat melakukannya selain Allah SWT. Maka salah satu dari karunia dan kemurahanNya, Allah memancarkan air bagi kalian dan menjadikannya mengalir di berbagai kawasan di bumi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh hamba-hambaNya, ada yang sedikit dan ada yang banyak
Tafsir As-Sa'di
29. Di antara perkataan mereka menyatakan, bahwa mereka berada di atas petunjuk sedangkan Rasulullah berada di atas kesesatan. Mereka mengulang-ulang hal itu dan senantiasa seperti itu. Mereka pun berdebat dan berperang karena hal itu. Kemudian Allah memerintahkan NabiNya untuk memberitahukan tentang kondisinya dan kondisi para pengikutnya, dengan pemberitahuan itu, masing-masing orang akn terlihat jelas petunjuknya, yaitu mereka mengatakan, “Kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal.” Iman mencakup pembenaran batin dan amalan lahir batin. Mengingat kualitas dan kesempurnaan amalan tergantung pada tawakal, maka Allah mengistimewakan tawakal di antara berbagai amalan. Jika pun tidak demikian, tawakal tetap termasuk dalam keimanan dan termasuk salah satu konsekuensinya. Karena seperti inilah kondisi Rasulullah dan orang yang bersamanya, kondisi yang mengharuskan mereka mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sedangkan kondisi para musuh Rasulullah adalah sebaliknya. Mereka tidak memiliki keimanan dan tawakal. Dengan demikian dapat diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada di atas kesesatan yang nyata.
Tafsir Al-Wajiz
29. Katakanlah (Muhammad): “Dialah Allah yang Maha Pengasih. Kami membenarkanNya sebagai Tuhan yang Esa. Kami tidak akan menyekutukanNya. Hanya kepadanya (bukan selainNya) kami bersandar dan menyerahkan urusan-urusan kami. Kalian akan mengetahui wahai kaum musyrik, siapa yang jauh dari kebenaran, apakah kami atau kalian?”