Surah Al-Hadid : Ayat 29
لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَأَنَّ ٱلْفَضْلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
"(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
Tafsir Ringkas Kemenag
Semua peringatan itu disampaikan agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah jika mereka tidak beriman kepada nabi Muhammad dan mengikuti sunahnya, dan agar mereka mengetahui bahwa karunia itu ada di tangan Allah; dia memberikannya kepada siapa yang dia kehendaki, yaitu mereka yang beriman dan berbuat kebajikan. Dan Allah mempunyai karunia yang besar bagi siapa saja yang mematuhi ajaran-Nya. 1. Pada akhir surah al-had'd Allah menyeru orang-orang beriman agar taat kepada rasul-Nya, niscaya Allah akan memberikan cahaya dan mengampuni mereka. Pada ayat ini dijelaskan, sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, yang telah menzihar dirinya, yaitu menganggap dirinya sama dengan ibu kandungnya sehingga haram digauli, dan dia pun mengadukan keadaan itu kepada Allah agar Allah memberikan kepastian hukum tentang kasus zihar tersebut dan Allah mendengar percakapan di antara kamu berdua bersama perempuan yang bernama khaulah binti 'a'labah yang dizihar suaminya tersebut. Sesungguhnya Allah maha mendengar semua jenis percakapan yang terbuka maupun tertutup, maha melihat yang tampak maupun yang tersembunyi.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 28-29 Dalam riwayat Nasa’i dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Ibnu Abbas menakwilkan ayat ini bahwa orang-orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka akan mendapat pahala dua kali, sebagaimana yang disebutkan di dalam surah Al-Qashash, dan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Musa Al-Asy'ari yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”tiga macam orang yang mereka diberi pahala dua kali, yaitu seseorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya, lalu beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala. seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak majikannya, maka baginya dua pahala. Dan seorang lelaki yang mendidik budak perempuannya dengan baik, kemudian dia memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua pahala” Ayat ini sebagaimana firman Allah SWT: (Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mw. Dan Allah memiliki karunia yang besar (29)) (Surah Al-Anfal) Ibnu Jarir berkata tentang firmanNya: (Supaya Ahli Kitab mengetahui) yakni agar mengetahui. Telah disebutkan dari Ibnu Mas'ud bahwa dia membaca ayat ini dengan bacaan “li kai ya'lama”, karena orang-orang Arab biasa menjadikan huruf “la” sebagai “penghubung” pada setiap kalimat yang di permulaan atau di akhirnya dimasuki kalimat ingkar atau sanggahan yang tidak disebutkan dengan jelas. Sebagaimana firmanNya: (Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam)) (Surah Al-A'raf: 12) dan (Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman) (Surah Al-An'am: 109) yaitu kepada Allah (Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami) (95)) (Surah Al-Anbiya)
Tafsir As-Sa'di
29. “(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikit pun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad).” Maksudnya, karunia dan kebaikan Kami yang Kami jelaskan kepada kalian ini adalah untuk orang yang beriman secara umum dan bertakwa kepada Allah serta beriman kepada RasulNya, agar orang-orang ahli kitab mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mampu menguasai karunia Allah sedikit pun. Maksudnya, mereka tidak bisa menahan Allah karena keinginan dan akal mereka yang rusak. Mereka berkata, ““Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani” -albaqarah:111- Mereka juga berangan-angan terhadap Allah secara tidak benar. Kemudian Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman terhadap Rasulullah dan bertakwa kepada Allah akan mendapatkan dua bagian rahmat Allah dan juga mendapakan cahaya serta ampunan, meski ahli kitab memandang rendah, supaya mereka mengetahui “bahwasanya karunia itu adalah di Tangan Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendakiNya,” berdasarkan kebijakan hikmahNya untuk memberikan karuniaNya. “Dan Allah mempunyai karunia yang besar,” yang ukurannya tidak diketahui.
Tafsir Al-Wajiz
29. Agar ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW itu mengetahui bahwa mereka tidak akan mendapatkan sesuatu yang telah disebutkan yaitu keutamaan dan rahmat Allah. Sesungguhnya keutamaan itu ada di sisi Allah berupa nubuwwah, ilmu dan ketakwaan. Dia memberikannya kepada hamba yang dikehendakiNya. Allah adalah pemilik keutamaan yang Maha Agung. Qatadah berkata: “Telah sampai kepada kami yaitu saat ayat {Yu’tikum kiflaini min rahmatihi}