Surah Al-Baqarah : Ayat 273
لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

"(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui."

Tafsir Ringkas Kemenag
Petunjuk yang membuat mereka melaksanakan tuntunan Allah secara benar. Engkau hanyalah sekadar penyampai risalah secara lisan dan dengan keteladanan melalui cara-cara yang terbaik, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, atau keluarkan, maka kebaikannya akan kembali untuk dirimu sendiri selama kamu berusaha keras dan melakukannya secara ikhlas untuk mendapatkan keridaan-Nya. Dan janganlah kamu berinfak mengeluarkan harta melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi balasan secara penuh bahkan akan dilipatgandakan balasannya dan kamu tidak akan dizalimi atau dirugikan, bahkan diuntungkan, sebab seperti dinyatakan dalam surah an-nahl/16: 96, harta yang ada pada seseorang akan habis dan punah, sedangkan yang disedekahkan untuk mencari keridaan Allah akan kekal ganjarannya hingga hari kiamat. Orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam berbagai situasi dan kondisi, di malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, banyak atau sedikit, mereka akan mendapat pahala di sisi tuhannya selama mereka mengeluarkannya secara ikhlas dan dengan cara-cara yang baik. Tidak ada kekhawatiran atas mereka bahwa nanti mereka akan mendapat siksa, sebab mereka aman dari siksa karena amal saleh yang mereka persembahkan, dan mereka tidak pula bersedih hati, risau dan gelisah, sebab hati mereka selalu dalam keadaan tenang.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 272-274 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Mereka dulu tidak suka mengalah kepada keturunan mereka dari golongan orang-orang musyrik, maka mereka meminta izin, lalu diizinkan untuk mereka. Maka turunlah ayat ini: (Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan) (272)) Akan datang penjelasan di sisi Allah: (Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…) (Surah Al-Mumtahanah: 8), yaitu hadits Asma' binti Abu Bakar tentang hal tersebut. Firman Allah: (Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah), ‘Atha’ Al-Khurasani berkata: yaitu jika kamu memberi karena Allah, maka kamu tidak ada tanggungan atas apa yang telah dikerjakanNya. Ini adalah makna yang baik. Kesimpulannya adalah bahwa orang yang bersedekah karena Allah, maka pahalanya ada di sisi Allah, dan tidak ada tanggungan atas dirinya dalam hal tersebut, baik dia melakukan kebaikan atau maksiat, berhak atau tidak berhak, dan dia diberi pahala sesuai dengan niatnya. Dasar dari hal ini adalah keseluruhan ayat: (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dizalimi ….) Firman Allah: (kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah) yaitu: orang-orang muhajirin yang hijrah sepenuhnya kepada Allah dan kepada RasulNya dan menetap di Madinah, dan mereka tidak memiliki cara untuk memenuhi dan memperkaya mereka (mereka tidak dapat (berusaha) di bumi) yaitu: melakukan perjalanan untuk mencari nafkah. Berusaha di bumi adalah melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman: (Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)) (Surah An-Nisa': 101), dan (Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah…) (Surah Al-Muzzammil: 20) Firman Allah: (orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta) yaitu orang-orang yang tidak mengetahui tentang urusan dan keadaan mereka akan mengira bahwa mereka kaya karena kesederhanaan dalam pakaian, keadaan, dan perkataan mereka. Dalam hal ini, terdapat hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma." Para sahabat bertanya, "Kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?" Beliau menjawab: "Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya, dan tidak pula meminta-minta ke sana ke mari” Hal itu diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud juga. Firman Allah: (Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya) yaitu, dengan ciri-ciri yang jelas bagi orang-orang berakal tentang sifat-sifat mereka, sebagaimana Allah SWT berfirman: (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka) (Surah Al-Fath: 29), dan (Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka) (Surah Muhammad: 30), serta dalam hadits yang terdapat dalam kitab sunan: “Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian dia membaca ayat: (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (75))(Surah Al-Hijr) Firman Allah: (mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak) yaitu mereka tidak mendesak dalam meminta-minta dan tidak memberatkan orang lain dengan hal-hal yang tidak diperlukan. Jika meminta dan yang dimintai sesuatu memiliki sesuatu yang membuatnya tidak meminta-minta, maka dia telah mendesak dalam meminta, Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, dia bersabda: “Yang disebut orang miskin itu bukanlah seorang peminta-minta yang diberi orang satu atau dua biji kurma atau sesuap dua suap makanan. Tetapi orang miskin sesungguhnya, ialah orang yang tahu menjaga diri (dari meminta-minta). Jika kamu mau, maka bacalah firman Allah: “Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…” Firman Allah: (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) yaitu tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya, dan Dia akan memberi balasan yang berlimpah dan sempurna pada hari kiamat, sesuatu yang paling mereka butuhkan Firman Allah: (Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (274)) Ini adalah pujian dari Allah SWT kepada orang-orang yang berinfak di jalanNya dan mencari ridhaNya di semua waktu, baik malam maupun siang hari, serta keadaan rahasia maupun terbuka, sehingga termasuk memberi nafkah untuk keluarga juga, sebagaimana yang tercantum dalam hadits shahih Bukhari Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqas ketika dia sakit pada tahun Fathu Makkah, dan dalam suatu riwayat, pada tahun Haji Wada', "Sesungguhnya kamu tidak akan berinfak karena Allah melainkan kamu akan bertambah tinggi derajat dan kedudukannya, bahkan sampai apa yang kamu nafkahkan untuk istrimu" diriwayatkan dari hadits Syu’bah. Firman Allah: (maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya) yaitu pada hari kiamat, karena apa yang mereka lakukan, berupa infak karena ketaatan (Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati) dimana penafsirannya telah disebutkan sebelumnya
Tafsir As-Sa'di
273. Maksudnya adalah bahwa seyogyanya kalian berusaha dalam memberikan sedekah-sedekah kalian kepada orang-orang yang fakir yang menahan diri mereka pada jalan Allah dan pada ketaatan kepadaNya, dan mereka tidak memiliki (jalan untuk mewujudkan) kehendak mencari nafkah atau malah mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mereka menahan diri dari meminta-minta, yang bila mereka dilihat oleh orang-orang bodoh, pastilah mereka akan menduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. “Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”; mereka tidak meminta secara umum, dan bila mereka harus meminta pun karena darurat, mereka tidak akan memintanya dengan memaksa. Kelompok orang-orang fakir yang satu ini adalah lebih utama untuk diberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menolong mereka dalam menyampaikan mereka kepada tujuan mereka dan kepada jalan yang baik, dan sebagai ucapan terima kasih buat mereka karena kesabaran yang mereka lakukan dan orientasi mereka kepada Allah Yang Maha Mencipta dan bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, berinfak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi segala kebutuhan di mana pun didapatkan maka semua itu adalah kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di sisi Allah. Oleh karena itu Allah berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
273. Berikanlah sedekah untuk orang-orang fakir yang tidak bisa bekerja dan mengabdikan diri untuk taat kepada Allah dengan berjihad atau mencari ilmu, dan orang-orang fakir yang tidak bisa bekerja dengan berdagang atau bertani karena membaktikan dirinya untuk berjihad dan mencari ilmu. Orang yang tidak tahu akan menganggap mereka sebagai orang kaya yang sejahtera dengan melihat keadaan mereka, dan sesuatu yang mereka tampakkan berupa tidak mau meminta-minta, menunjukkan kemiskinan, dan menerima apa adanya. Kamu akan mengenal mereka sebagai orang-orang fakir yang sangat membutuhkan, melalui tanda-tanda dan apa yang tampak pada diri mereka berupa kebutuhan dan kefakiran, namun mereka tidak mau meminta bantuan dengan memaksa seperti yang lainnya, bahkan sebenarnya mereka itu tidak meminta-minta kepada orang-orang. Dan harta yang kalian infakkan, maka Allah itu Maha Mengetahuinya dan akan membalas kalian atas harta tersebut. Ayat ini turun terkait Ahlu Shuffah (orang-orang yang hidup di suffah masjid) Mereka itu adalah 400 kaum Muhajirin. Mereka membaktikan diri untuk mempelajari Al-Qur’an. Dan biasa keluar bersama pasukan kecil

Sumber tafsir dari tafsirweb.com