Surah Ar-Rum : Ayat 27
وَهُوَ ٱلَّذِى يَبْدَؤُا۟ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
"Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Tafsir Ringkas Kemenag
Hari kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah, sebab dialah yang memulai penciptaan manusia dari tidak ada kemudian mengulanginya dengan membangkitkan kembali menjadi makhluk yang baru, dan yang demikian itu menurut akalmu, wahai orang-orang kafir, mestinya lebih mudah bagi-Nya. Hanya bagi-Nya sifat yang mahatinggi di langit dan di bumi sebagai tuhan yang maha esa, tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan penyandang segala kesempurnaan. Dan dia yang mahaperkasa tanpa tandingan, mahabijaksana dalam penciptaan dan pengurusan-Nya. 28. Usai menjelaskan keesaan dan kekuasaan-Nya melalui bukti-bukti nyata yang bisa dilihat oleh mata manusia, kemudian pada ayat ini Allah menguatkan bukti-bukti itu dengan menampilkan contoh konkret yang menyentuh logika manusia. Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri agar kamu hanya mengabdi kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Apakah kamu rela jika ada di antara hamba sahaya yang kamu miliki menjadi sekutu bagimu dalam memiliki rezeki yang telah kami berikan kepadamu, sehingga kamu menjadi setara dengan mereka dalam hal kepemilikan ini, padahal sejatinya posisi hamba sahaya itu bagimu sama dengan harta lain yang kamu miliki, lalu kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada sesamamu' tentu tidak. Adalah tidak tepat menyamakan dua hal yang sejatinya sangat berbeda, yaitu antara budak dengan orang merdeka, apalagi antara Allah dengan hamba-Nya. Demikianlah kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengerti, yaitu mereka yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 26-27 Allah SWT berfirman: (Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi) yaitu milikNya dan hamba-hambaNya (Semuanya hanya kepadaNya tunduk) yaitu tunduk dan patuh, baik dengan taat maupun terpaksa Firman Allah: (Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya) Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa maknanya adalah lebih mudah bagiNya. Mujahid berkata bahwa mengembalikan hidup itu lebih mudah daripada menciptakannya dari awal. Sedangkan menciptakan dari awal itu juga mudah bagiNya Bisa jadi bahwa dhamir dalam firmanNya: (dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya) merujuk kepada makhluk, yaitu lebih mudah bagi makhluk. Firman Allah: (Dan bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya seperti firmanNya: (tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Dia) (Surah Asy-Syura: 11) Qatadah berkata bahwa serupa dengan ayat ini yaitu kalimat "tidak ada Tuhan dan Rabb selain Dia" Ibnu Jarir juga mengemukakan pendapat yang serupa dengan ini Dia Maha Perkasa yang tidak terkalahkan dan tertandingi, bahkan Dia mengalahkan dan menundukkan segala sesuatu dengan kekuasaan dan pengaruhNya. Dzat yang Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatanNya secara syariat maupun takdir. Diriwayatkan dari Malik dalam tafsirannya yang diriwayatkan darinya dari Muhammad bin Al-Munkadir tentang firmanNya: (Dan bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi) dia berkata yaitu semakna dengan kalimat "Tidak ada Tuhan selain Allah"
Tafsir As-Sa'di
27. “dan Dia-lah yang menciptakann manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan ia,” maksudnya, dan Dia menghidupkannya kembali sesudah kematian mereka “adalah lebih mudah bagiNya,” daripada memulai penciptaan mereka. Ini bila dilihat dari kacamata akal dan pikiran. Maka apabila Dia kuasa memulai penciptaan yang kalian akui itu, maka kekuasaanNya untuk mengulangi (menghidupkan kembali) yang lebih mudah itu adalah tentu lebih mudah dan lebih mudah lagi! Setelah Allah menjelaskan tanda-tandaNYa yang sangat luar biasa yang bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang yang mengambil pelajaran, diingat oleh orang-orang Mukmin dan diambil analisa oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, maka Allah menjelaskan perkara yang sangat besar dan tuntutan yang sangat agung, seraya berfirman, ”dan bagiNyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi,” maksudnya, al-matsal al-A’la adalah segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan (secara maksimal) dari sifat tersebut, kecintaan dan inabah yang penuh lagi sempurna di dalam hati hamba-hambaNya yang tulus, dzikir yang mulia dan ibadah dari mereka. Jadi, al-matsal ala’la adalah sifatNya yang tertinggi dan apa yang menjadi konsekuensinya. Maka dari itu para ahli ilmu menggunakan qiyasul-aula (analogi lebih berhak) dalam hak Allah sang pencipta, maka mereka mengatakan ”semua sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk, maka penciptanya lebih berhak memiliki sifat tersebut dengan catatan: tidak adan seorangpun yang menyekutuiNya. Dan setiap sifat kelemahan (kekurangan) yang ada pada makhluk, maka Allah suci darinya” karena kesucian Sang Khaliq dari sifat lemah tersebut adalah lebih utama dan lebih pantas. “dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” maksudnya, kepunyaanNyalah keperkasaan yang sempurna, kebijaksanaan yang Mahaluas. Dia menampakkan apa saja yang diperintahkanNya, dan dengan hikmahNya Dia menciptakan dengan rapi, teliti dan sempurna apa yang diciptakanNya, dan benar-benar sangat baik apa yang disyariatkanNya.
Tafsir Al-Wajiz
27. Allah SWT adalah Dzat yang memulai penciptaan makhluk sebelum ada apa-apa, kemudian mengembalikan dalam keadaan hidup setelah mati untuk dihisab dan dibalas. BagiNya, proses mengembalikan hidup itu lebih mudah daripada proses penciptaan awal sesuai penggambaran manusia yang berakal. Adapun di sisi Allah SWT, keduanya itu sama. Baginya itu sifat yang luar biasa tingginya yang tidak mungkin bisa disamai oleh siapapun, seperti kekuasaanNya yang menakjubkan dan hikmahNya yang berlaku di langit dan bumi. Dia Dzat yang Maha kuat, Maha Perkasa, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam firman, tindakan dan pengaturanNya terhadap makhlukNya. Ikrimah berkata: “Orang-orang kafir heran dengan proses penghidupan Allah terhadap orang-orang mati, kemudian turunlah ayat ini.”