Tafsir Ringkas Kemenag
Nabi nuh memperingatkan akan beratnya siksaan yang akan menimpa orang-orang kafir, seraya menyarankan agar kamu tidak menyembah selain Allah tuhan yang maha esa dan mahakuasa. Aku benar-benar khawatir jika kalian tetap dalam kekafiran dan kemusyrikan itu kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat pedih, yaitu hari di mana Allah menurunkan azab-Nya di dunia maupun kelak di akhirat. Ketika azab itu datang, kalian tidak mampu menghindar dari azab itu dan tidak ada pula seorang penolong pun. Mendengar ajakan nabi nuh untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya, maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya seraya mengemukakan beberapa alasan, kami tidak melihat engkau sebagai seorang utusan Allah, melainkan hanyalah seorang manusia biasa yang tidak punya kelebihan dan keistimewaan seperti kami yang memiliki kedudukan tinggi dan status sosial di masyarakat. Dan kami pun tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang kedudukannya hina dina di antara kami yang tidak memiliki harta kekayaan dan kedudukan di masyarakat sehingga mudah dibujuk dan lekas percaya menerima ajakanmu. Kami juga tidak melihat engkau memiliki suatu kelebihan apa pun baik ilmu pengetahuan, kekayaan, atau keistimewaan yang luar biasa yang dapat kamu banggakan atas kami sehingga dapat memikat dan mendorong kami mengikuti seruanmu. Bahkan atas alasan itu semua, kami menganggap engkau adalah orang pendusta.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 25-27 Allah SWT memberitahukan tentang nabi Nuh. Dia adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi dari kalangan orang-orang musyrik yang menyembah berhala. dia berkata kepada kaumnya (Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian) yaitu peringatan yang nyata kepada kalian berupa azab Allah jika kalian menyembah berhala selain Allah. oleh karena itu dia berkata lagi (agar kalian tidak menyembah selain Allah) Firman Allah: (Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan) yaitu, jika kalian terus atas apa yang kalian kerjakan itu maka Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang sangat pedih, menyakitkan dan sangat berat di akhirat (Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya) “Al-Mala’” adalah para pemimpin dan pembesar dari kalangan orang-orang kafir (Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami) yaitu kamu bukanlah seorang malaikat, tetapi manusia biasa. Maka bagaimana bisa diturunkan wahyu kepadamu, bukan kepada kami? Kemudian kami melihat bahwa tidak ada yang mengikutimu kecuali orang-orang rendahan dari kalangan kami, seperti para pedagang, penjahit, dan orang lain semacamnya dan tidak ada yang mengikutimu dari kalangan orang-orang terhormat, dan para pemimpin kami. Kemudian mereka yang mengikutimu itu tidak mempunyai pendapat, pikiran, dan pandangan, melainkan hanya karena seruanmu, mereka mengikutimu dan menerima seruanmu. Oleh karena itu mereka berkata: (dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja) yaitu mudah percaya (dan kami tidak melihat kalian memiliki kelebihan apapun atas kami) Mereka berkata,”Kami tidak memandang kalian melebihi kami baik penampilan, sikap, kekayaan, dan keadaan lalu kenapa kami memasuki agama kalian ini? (bahkan kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang berdusta) yaitu dalam seruan kalian kepada kami berupa kebaikan, perbaikan, penyembahan dan kebahagiaan di akhirat jika kalian sampai disana. Ini merupakan bantahan orang-orang kafir terhadap nabi Nuh dan para pengikutnya. Ini merupakan dalil atas kebodohan, kurangnya keilmuan dan akal mereka. Sesungguhnya bukanlah kehinaan bagi kebenaran, jika orang yang mengikutinya adalah orang-orang rendahan; karena kebenaran itu merupakan suatu kebenaran, baik yang mengikutinya orang terhormat maupun orang rendahan. Bahkan kebenaran yang tidak ada keraguan tentangnya itu bahwa orang-orang yang mengikutinya adalah orang yang terhormat, sekalipun mereka miskin; dan orang-orang yang menolak kebenaran adalah orang-orang rendahan, merkipun mereka kaya. Kemudian kenyataannya, seringkali orang yang mengikuti kebenaran itu dari kalangan orang-orang yang lemah, dan seringkali orang-orang terhormat dan besar menentangnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan demikianlah Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka” (23)) (Surah Az-Zukhruf) Ucapan mereka (mudah percaya) bukanlah suatu celaan atau aib, karena sesungguhnya kebenaran itu jika sudah jelas, maka tidak ada yang tersisa bagi pendapat dan pemikiran itu kesempatan. Bahkan kebenaran itu harus diikuti oleh orang yang memiliki kebersihan dan akal, bahkan tidak ada pemikiran dalam hal ini kecuali orang yang bodoh dan ragu-ragu. Semua rasul itu membawa sesuatu yang jelas dan terang Firman Allah: (dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami) Mereka tidak melihat demikian karena mereka buta dari kebenaran, dan tidak bisa mendengar dan melihatnya, melainkan mereka berada dalam keraguan dan bingung dalam kegelapan kebodohan. Mereka adalah orang-orang yang membuat-buat kebohongan, pendusta, kecil, dan hina. Mereka di akhirat adalah orang-orang yang merugi.