Surah Al-Baqarah : Ayat 245
مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan."
Tafsir Ringkas Kemenag
Barang siapa mau meminjami atau menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan pinjaman yang baik berupa harta yang halal disertai niat yang ikhlas, maka Allah akan melipatgandakan ganti atau balasan kepadanya dengan balasan yang banyak dan berlipat sehingga kamu akan senantiasa terpacu untuk berinfak. Allah dengan segala kebijaksanaannya akan menahan atau menyempitkan dan melapangkan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan pada hari kebangkitan untuk mendapatkan balasan yang setimpal dan sesuai dengan apa yang diniatkan. Ketika para sahabat nabi begitu antusias melaksanakan perintah berjihad, ayat ini memperlihatkan kebalikan dari sikap tersebut yang ditunjukkan oleh bani israil. Tidakkah kamu, wahai nabi Muhammad, perhatikan, yakni mendengar kisah, para pemuka bani israil setelah musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, setelah mereka berselisih paham siapa yang berhak menjadi pemimpin, dengan mengatakan, angkatlah seorang raja, yakni pemimpin perang untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah besertanya. Nabi mereka menjawab, jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan menaatinya untuk berperang juga karena takut mati dan kecintaanmu terhadap dunia' mereka menjawab, mengapa atau bagaimana mungkin kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dipisahkan dari anak-anak kami, karena mereka ditahan' tetapi ketika perang itu benar-benar diwajibkan atas mereka karena permintaan mereka sendiri, justru mereka berpaling dengan segera karena merasa ngeri dan takut, kecuali sebagian kecil dari mereka yang masih konsisten. Dan Allah maha mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang zalim dengan meminta suatu kewajiban yang kemudian mereka sendiri melanggarnya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 243-245 Abu Shalih berkata: “Sembilan ribu orang”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Empat puluh ribu orang” Wahb bin Munabbih dan Abu Malik mengatakan: “Sekitar tiga puluh lima ribu orang.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait firmanNya (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati) Dia berkata: “Mereka ada empat ribu orang yang keluar melarikan diri dari wabah penyakit, mereka berkata: “Kami akan pergi ke suatu tanah yang tidak ada kematian di dalamnya”. Sampai ketika mereka berada di suatu tempat tertentu, Allah berfirman kepada mereka: (Matilah kamu) lalu mereka mati. Kemudian telah melewati mereka seorang nabi, dia berdoa kepada TuhanNya untuk menghidupkan mereka, maka Dia menghidupkan mereka. Inilah yang dimaksud dengan firmanNya: (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati) Dalam peristiwa menghidupkan mereka terdapat pelajaran dan bukti yang jelas tentang terjadinya kebangkitan secara jasmani pada hari kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman: (Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia), yaitu dengan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda yang nyata, bukti-bukti yang kuat, dan dalil-dalil yang jelas, (tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur), yaitu mereka tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah kepada mereka, baik dalam agama maupun dunia mereka. Dalam kisah ini terdapat pelajaran dan bukti bahwa takdir tidak akan dapat dihindari, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali hanya kepadaNya. Orang-orang ini keluar melarikan diri dari wabah penyakit, mencari kelangsungan hidup, namun mereka diperlakukan sebaliknya. Kematian datang kepada mereka dengan cepat dalam satu waktu. Firman Allah: (Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (244)) yaitu sebagaimana tidak akan bisa menghindar takdir, demikian pula menghindari dan melarikan diri dari jihad tidak akan memperpendek atau memperpanjang umur seseorang. Akan tetapi, waktu yang ditentukan untuk mati dan rezeki yang dibagikan itu telah ditetapkan tidak akan ditambah dan tidak akan dikurangi, sebagaimana Allah berfirman: (Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh". Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar" (168)) (Surah Ali Imran), dan (Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (77) Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh) (Surah An-Nisa'). Firman Allah: (Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak) Allah mendorong hamba-hambaNya untuk berinfak di jalanNya. Allah mengulang-ulang ayat ini dalam kitabNya di berbagai tempat. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: "Siapakah yang mau memberi Allah pinjaman yang tidak akan habis dan tidak akan dizalimi?” Diriwayatkan ari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: Ketika turun ayat (Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak), Abu Dahdah Al-Anshari berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Allah benar-benar membutuhkan pinjaman dari kita?" Rasulullah SAW menjawab, "Iyaa, wahai Abu Dahdah" Lalu Abu Dahdah berkata, "Tolong tunjukkan tanganmu kepada saya, wahai Rasulullah" Rasulullah SAW mengulurkan tangannya. Lalu Abu Dahdah berkata, "Sesungguhnya aku telah meminjamkan kepada Tuhanku sebuah tembok" dan melanjutkan,"Tembok yang di dalamnya terdapat enam ratus pohon kurma,” Ummu Dahdah dan keluarganya ada di dalam sana, Lalu Abu Dahdah memanggilnya seraya berkata, "Wahai Ummu Dahdah!" Dia menjawab, "Saya mendengar dan saya datang." Abu Dahdah berkata, "Keluarlah, sesungguhnya aku telah meminjamkannya kepada Tuhanku" Firman Allah: (pinjaman yang baik) telah diriwayatkan dari Umar dan ulama’ salaf lainnya bahwa ini adalah infak di jalan Allah. Dikatakan juga bahwa ini adalah memberi nafkah untuk keluarga Dikatakan bahwa ini adalah mensucikan Allah. Firman Allah: (maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak) sebagaimana Allah berfirman: (Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki)
Tafsir As-Sa'di
244-245. Allah menggabungkan antara perintah berperang dijalanNya dengan harta dan anggota badan (jiwa), karena jihad itu tidaklah akan tegak kecuali dengan kedua perkara tersebut. Lalu Allah menganjurkan untuk ikhlas dalam melakukannya yaitu seorang hamba berperang hanya untuk meninggikan kalimat Allah, karena sesungguhnya Allah “maha mendengar” segala perkataan walaupun tersembunyi, “lagi maha mengetahui” segala hal yang diliputi hati berupa niat yang baik ataupun lawannya. Dan juga bila seorang Mujahid di jalan Allah mengetahui bahwasanya Allah itu maha mendengar lagi Maha Mengetahui, pastilah perkara jihad itu akan ringan dalam pandangannya dan ia mengetahui bahwa dengan dirinya sendiri orang-orang yang tegar sekalipun sekalipun tidak dapat bersabar untuk jihad dan bahwa pastilah mereka harus dibantu dengan pertolonganNya dan kelembutanNya. Perhatikanlah anjuran yang lembut ini untuk memberi nafkah, dan bahwasanya orang yang menafkahkan hartanya sesungguhnya Dia memberi pinjaman kepada Allah yang Maha kaya lagi maha mulia, dan Allah menjadikan baginya balasan berlipat ganda yang melimpah sebagaimana Allah berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." QS al-baqarah ayat 261 Ketika penghalang terbesar untuk berinfak adalah takut kemiskinan, Allah mengabarkan bahwa kekayaan dan kemiskinan itu berada di tangan Allah, dan bahwa Dia menahan rezeki dari siapa yang dikehendakiNya dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Maka janganlah menunda-nunda wahai orang yang hendak berinfak karena takut akan kemiskinan, dan janganlah ia berpikir bahwa hartanya itu hilang begitu saja, namun tempat kembali seluruh hamba adalah kepada Allah, lalu orang-orang yang berinfak dan beramal akan mendapatkan pahala mereka tersimpan di sisiNya untuk suatu kebutuhan yang paling mereka butuhkan dan memiliki kepentingan begitu besar yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh kata-kata. Maksud dari pinjaman yang baik adalah perkara yang menyatukan dengan sifat dan ciri kebajikan dari niat yang shalih, kelapangan dada dalam berinfak, dan tepat sasarannya, dan orang yang berinfak itu tidak mengiringinya dengan mengungkit-ungkit nya dan tidak pula perkataan yang menyakitkan, tidak membatalkannya dan tidak pula menguranginya.
Tafsir Al-Wajiz
245. Jihad itu harus mengeluarkan infak, maka orang yang memberikan infak yang baik dari harta yang halal, maka Allah akan mengembangkan hartanya di dunia, dan akan memberinya pahala yang sangat banyak di akhirat. Dan Allah itu mempersempit dan meluaskan rejeki orang yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNyalah kalian akan di kembalikan pada hari kiamat, dan akan membalas kalian atas amal perbuatan yang telah kalian lakukan. Ibnu Umar berkata; “Ketika ayat {Matsalulladziina yunfiquuna } turun, Rasulullah SAW berdoa: “Wahai tuhan tambahkanlah sesuatu untuk umatku” Lalu turunlah ayat {Man Dzalladzi Yuqridhu …}”