Surah Al-Mu'minun : Ayat 24
فَقَالَ ٱلْمَلَؤُا۟ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَوْمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِىٓ ءَابَآئِنَا ٱلْأَوَّلِينَ
"Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu."
Tafsir Ringkas Kemenag
Maka tanpa berpikir panjang, berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya kepada para pengikut mereka sebagai respons atas ajakan nabi nuh, 'orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu. Dia tidak punya keistimewaan apa pun untuk menjadi utusan tuhan. Dia hanyalah orang yang ingin menjadi lebih mulia daripada kamu dengan mencitrakan diri agar dapat menjadi pemimpin kamu dengan mengaku sebagai utusan tuhan. Dan seandainya Allah menghendaki mengutus seorang rasul, tentu dia mengutus malaikat, bukan manusia seperti nuh. Belum pernah kami mendengar seruan seperti ini pada masa nenek moyang kami dahulu. '25. Para pemuka orang kafir itu melanjutkan, 'dia, yakni nuh, ha-Nyalah seorang laki-laki yang gila sehingga dia ingin menonjolkan diri, maka tunggulah terhadapnya, yakni bersabarlah kamu, sampai waktu yang ditentukan di mana dia sembuh atau meninggal dunia. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 23-25 Allah SWT memberitahukan tentang nabi Nuh ketika Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk memberikan peringatan kepada mereka tentang azab dan pembalasan Allah yang keras terhadap orang-orang yang menyekutukanNya, menentang perintahNya, dan mendustakan para rasulNya. (lalu ia berkata, "Hai kaumku sembahlah Allah oleh kalian (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?”) yaitu apakah kalian tidak takut kepada Allah dalam tindakan kalian yang menyekutukanNya (Maka berkatalah para pemuka orang kafir) yaitu para pemimpin dan pembesar dari mereka (Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari pada kalian) mereka merasa lebih tinggi daripada kalian dan merasa lebih besar dengan mengaku sebagai seorang nabi, padahal dia adalah seorang manusia seperti kalian. Maka bagaimana bisa dia diberi wahyu, sedangkan kalian tidak? (Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat) yaitu sekiranya Allah berkehendak untuk mengutus seorang nabi, maka Dia mengutus malaikat dari sisiNya, bukan manusia (Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini) yaitu pengutusan manusia menjadi rasul (pada (masa) nenek moyang kami yang dahulu) yang mereka maksud adalah para pendahulu dan nenek moyang mereka di masa lalu. Firman Allah: (Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila) yaitu, orang gila dengan apa yang dia akui bahwa Allah mengutusnya kepada kalian, dan Dia mengkhususkannya dengan wahyu di antara kalian (maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu) yaitu tunggulah sampai kematian datang merenggutnya, dan bersabarlah terhadapnya selama beberapa saat, sehingga kalian akan terbebas darinya
Tafsir As-Sa'di
24. Beliau tetap melangsungkan dakwah, menyeru mereka dengan sembunyi-sembuni dan terang-terangan, di malam dan siang hari selama seribu tahun kurang lima puluh tahun lamanya (Sembilan ratus lima puluh tahun lamanya). Mereka tidaklah bertambah kecuali kesombongan dan antipati saja. “maka pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya menjawab,” yaitu dari kalangan pembesar danh para pimpinanya yang menjadi panutan untuk melawan Nabi mereka Nuh dan memperingatkan (para pengikut mereka) darinya, “orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang hendak bermaksud menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu,” maksudnya tidaklah dia melainkan manusia (biasa) seperti kalian juga. Obsesinya saat dia mengkliam sebagai seorang nabi adalah untuk menambah keutamaannya atas diri kalian supaya menjadi orang yang diikuti. Kalau tidak demikian maksudnya, lalu apakah yang menguggulkannya diatas kalian padahal dia berasal dari komunitas kalian?! Penolakan semacam ini senantiasa melekat pada orang-orang yang mendustakan para rasul. Allah telah menyanggah komentar itu dengan sanggahan yang tuntas melalui lisan para rasul. Sebagaimana firman-Nya : Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata. Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. (QS. Ibrahim :10-11) Maka, mereka (para rasul) memberitahukan bahwa risalah itu merupakan kemurahan dan karunia Allah. Kalian tidak berhak untuk membatasi dan menghalangiNya untuk mencurahkan keutamaanNya kepada kami. Mereka juga berkomentar, ”Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.” Ini juga bentuk penolakan yang batil terhadap kehendak Allah. Sekiranya Allah berkehendak, niscaya Allah mengutus beberapa malaikat. Sesungguhnya Dia MahaBijak lagi Mha Penyayang. Sifat hikmah dan rahmatNya (kepada manusia) menuntut supaya seorang rasul berasal dari jenis manusia. Karena (bila rasul berbentuk) malaikat, orang-orang itu tidak akan mampu menjalin komunikasi dengan mereka. Dan tidak mungkin berhasil kecuali dalam rupa manusia. Kemudian kekaburan kembali menyelimuti mereka sebagaimana semula. Mereka berkata,” belum pernah kami mendengar (seruan seperti) ini,” yaitu pengutusan seorang rasul “pada masa nenek moyang kami yang dahulu,” model alasan apakah ini (yang mendasarkan pada pengakuan mereka) tidak pernah mendengar pengiriman seorang rasul kepada nenek moyang mereka?! Karena pengetahuan mereka itu tidak meliputi seluruh kejadian lampau. Maka, janganlah ketidaktahuan mereka dijadikan sebagai alasan pembelaan diri! Anggap saja, Allah belum pernah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka. Kondisi mereka tidak lepas dari dua opsi; pertama, berada di atas petunjuk sehingga tidak membutuhkan pengutusan seorang rasul saat itu,. Kedua, mereka tidak berada di atas petunjuk, maka hendaklah mereka memuji dan mensyukuri Allah, lantaran telah mengistimewakan mereka dengan kenikmatan yang tidak datang kepada nenek moyang mereka, dan mereka tidak merasakannya. Dan janganlah mereka menjadikan sikap tidak baik mereka kepada orang lain sebagai penyebab pengingkaran mereka terhadap curahan kebaikan yang tertuju pada mereka.
Tafsir Al-Wajiz
24. Kemudian pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan untuk mengesakan Tuhan yang seperti ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu