Surah Al-Baqarah : Ayat 24
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ
"Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir."
Tafsir Ringkas Kemenag
Jika kamu tidak mampu membuat surah yang serupa dengan-Nya, dan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya, sebab hal itu berada di luar kemampuanmu sebagai manusia, maka takutlah kamu akan api neraka dengan memelihara diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kamu ke dalamnya yang bahan bakarnya manusia yang ingkar/kufur dan batu yang berasal dari patung-patung sembahan dan lainnya, yang disediakan bagi orang-orang kafir dan setiap orang yang bersikap seperti mereka, yaitu menutupi kebenaran tanda kekuasaan Allah. Dan jika demikian balasan yang akan diterima oleh orang-orang kafir, maka tidak demikian halnya dengan orang-orang yang beriman. Surga yang nyaman dan indah adalah tempat bagi mereka. Sampaikanlah kabar gembira yang menenteramkan jiwa kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, rasul, dan kitab-Nya tanpa keraguan sedikit pun, dan berbuat amal-amal kebajikan, bahwa untuk mereka Allah menyediakan di sisi-Nya surga-surga dengan kebun-kebun yang rindang dan berbuah, serta istana-istana yang menjulang tinggi, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki oleh Allah berupa buah-buahan dari surga, mereka berkata, inilah rezeki yang serupa dengan yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi buah-buahan yang serupa dari segi nama, bentuk, dan jenisnya, meski rasa dan kelezatannya jauh berbeda. Dan di sana mereka juga memperoleh pasangan-pasangan yang suci, tanpa cacat dan kekurangan sedikit pun. Mereka kekal hidup di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak akan pernah mati, dan tidak akan pernah keluar darinya.
Tafsir Ibnu Katsir
Kemudian Allah menetapkan tentang nubuwwah setelah menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Dia berfirman kepada orang-orang kafir, (Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami) yaitu Muhammad SAW, maka bawalah satu surah yang setara dengan apa yang telah dibawa olehnya, jika kalian beranggapan bahwa hal itu datang dari selain Allah. Maka tantanglah dengan sesuatu yang serupa dia bawa, dan minta tolonglah kepada siapapun yang kalian kehendaki selain Allah, maka sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukannya. As-Suddi mengutip dari Abu Malik bahwa “Syuhada’ukum” maknanya adalah sekutu-sekutu kalian. Maknanya adalah minta tolonglah kepada tuhan-tuhan kalian atas hal itu, mereka akan mendukung dan membantu kalian. Mujahid berkata: (dan ajaklah penolong-penolongmu) maknanya adalah orang-orang yang memberikan kesaksian; maksudnya yaitu para pemimpin yang berbicara dengan fasih Sungguh Allah SWT menantang mereka untuk melakukan hal ini di beberapa ayat Al-Qur’an. Dia berfirman dalam surah Al-Qashash (Katakanlah: "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar" (49)) (Surah Al-Qashash) Dia berfirman dalam surah Subhan (Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain" (88)) (Surah Al-Isra’) Dia berfirman dalam surah Hud (Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar"(13)) (Surah Hud) Dia juga berfirman dalam surah Yunus (Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam (37) Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar" (38)) (Surah Yunus) Semua ayat ini adalah Makiyyahh. Kemudian, Allah juga menantang mereka untuk melakukan hal itu di Madinah. Dia berfirman dalam ayat ini (Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan), yaitu ragu (tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami) yaitu Muhammad, (buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu) maknanya yaitu mirip seperti Al-Quran. Ini diungkapkan oleh Mujahid dan Qatadah. Ungkapan ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Az-Zamakhshari, dan Fakhruddin Ar-Razi, dan dinukil dari Umar, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan Hasan Al-Bashri, serta mayoritas pentashiq. Pendapat ini mendominasi di banyak aspek, karena menantang semua orang musyrik baik secara terpisah maupun kelompok, baik yang buta huruf maupun yang pandai menulis, dan itu merupakan tantangan yang paling sempurna. Ini lebih lengkap daripada hanya menantang orang-orang yang buta huruf di antara mereka, yaitu orang yang tidak bisa menulis dan memahami ilmu apapun, Hal itu ditunjukkan denga firman Allah SWT: (maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya) (Surah Hud: 13) dan firmanNya (niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia)
Tafsir As-Sa'di
24. Ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya dinamakan dengan ayat tantangan. Maksudnya adalah membuktikan kelemahan makhluk dalam hal menghadirkan sesuatu yang semisal dengan al-Qur’an, atau karena mengkritiknya dari suatiu sisi. Allah berfirman : "Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Isro : 88) Bagaimana mungkin makhluk yang berasal dari tanah mampu agar perkataanya sama seperti perkataan Rabb segala makhluk, atau bagaimana mungkin seorang yang miskin lagi papa dalam segala bentuknya dapat menghadirkan sebuah perkataan yang sama dengan perkataan Dzat yang sempurna, yang memiliki kesempurnaan mutlak, Dzat yang mahakaya lagi luas dalam segala bentuknya? Hal ini tidaklah mungkin dan diluar kemampuan manusia, dan setiap orang yang memiliki sekecil-kecilnya rasa dan pengetahuan terhadap corak dan bentuk perkataan. Apabila seseorang membanding-bandingkan al-Qur’an yang agung ini dengan selainnya dari perkataan-perkataan para ahli sastra, niscaya nampaklah baginya suatu perbedaan yang luarbiasa besarnya. Dan dalam firmanNya, “dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar, ” terkandung sebuah dalil yang menunjukkan bahwasanya orang yang diharapkan hidayah baginya dari kesesatan adalah seorang yang ragu dan bingung, yang belum mengetahui kebenaran dari kesesatan, maka orang seperti ini bila dijelaskan kebenaran baginya, niscaya ia segera mengikutinya jika ia memang benar-benar mencari kebenaran. Adapun orang yang keras kepala yang mengetahui kebenaran namun ia meninggalkannya, maka yang seperti ini tidaklah mungkin kembali, karena ia telah meninggalkan kebenaran setelah jelas baginya kebenaran itu, di mana ia tidak meninggalkannya karena sebuah kebodohan, maka tidak ada alasan lain untuknya. Demikian juga orang yang ragu dan tidak benar-benar mencari kebenaran, bahkan ia berleha-leha dan tidak bersungguh-sungguh dalam mencarinya, maka yang seperti ini secara garis besar tidaklah di bimbing kesana. Dalam penjelasan tentang Rosululloh SHOLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM sebagai hamba Allah dalam konteks yang agung ini adalah sebuah dalil bahwasanya sifat beliau yang paling besar adalah realisasi beliau dalam penghambvaan yang tidak dapat disaingi oleh siapapun dari orang-orang terdahulu maupun yang akan datang. Sebagaimana beliau disifati sebagai hamaba di saat peristiwa isro, firman Allah : " Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam" (QS. Al_isro : 1) Dan pada saat turunnya Al-quran sebagaimana firman-Nya : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam," (QS. Al-Furqon : 1) Dan dalam firman Allah, “yang disediakan bagi orang-orang kafir” dan ayat-ayat yang semacamnya adalah sebuah dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya surga dan neraka itu telah diciptakan berbeda dengan al-Mu’tazilah. Ayat ini juga mengandung isyarat bahwasanya orang-orang yang bertauhid walaupun mereka terkadang melakukan beberapa dosa besar, namun tidak akan kekal dalam neraka, karena Allah berfirman, ” yang di sediakan bagi orang-orang kafir, ” sekiranya orang-orang yang melakukan maksiat dari ahli tauhid itu kekal dalam neraka, maka neraka tidaklah di siapkan hanya untuk orang-orang kafir semata. Ini berbeda dengan faham al-Khawarij dan al-Mu’tazilah . demikian juga isyarat lain tentang suatu dalil bahwa siksaan itu di peroleh dengan adanya sebab-sebabnya yaitu kekufuran dan segala corak kemaksiatan yang berbeda-beda.
Tafsir Al-Wajiz
Dan apabila kalian tidak bisa dan tidak kuasa mendatangkan surah yang serupa, maka takutlah terhadap neraka jahanam dengan beriman dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan. Neraka yang bahan bakarnya orang-orang kafir dan bebatuan berhala yang disembah itu disiapkan untuk orang-orang yang ingkar