Surah Al-Jasiyah : Ayat 23
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"
Tafsir Ringkas Kemenag
Maka pernahkah kamu, wahai nabi Muhammad, melihat dan menyaksikan orang yang menyimpang dari fitrahnya dengan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dengan mengikuti dan menurutinya dan Allah membiarkannya sesat dan larut dalam kesesatannya itu dengan sepengetahuan-Nya, yakni ilmu Allah yang mahaluas, dan Allah telah mengunci pendengaran sehingga mereka tidak dapat mendengar kebenaran dan mengunci hatinya sehingga dia enggan meyakini kebenaran serta meletakkan tutup atas penglihatannya sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti ke-esaan Allah di muka bumi ini' maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah berpaling dan membiarkannya sesat' mengapa kamu, wahai kaum musyrik atau siapa pun juga, tidak meng-ambil pelajaran dari apa yang terjadi pada orang-orang yang sesat itu'24. Dan mereka, orang-orang musyrik dan yang mengingkari kebangkitan, berkata, 'ia, yakni kehidupan ini, tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja, tidak ada kehidupan akhirat, sebahagian kita mati karena sampai ajalnya dan sebahagian kita hidup, yakni lahir lagi dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa, yakni akhir dari kehidupan kita. ' tetapi mereka tidak mempunyai ilmu, yakni pengetahuan yang pasti, tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 21-23 Allah SWT berfirman, bahwa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20)) (Surah Al-Hasyr) Allah SWT berfirman: (Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka) yaitu orang-orang yang berbuat dan mengusahakan kejahatan (bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?) yaitu Kami samakan di antara sesama mereka di dunia dan akhirat? (Amat buruklah apa yang mereka sangka itu) yaitu, betapa buruknya sangkaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan antara orang-orang yang berbuat baik dengan orang-orang yang durhaka di akhirat dan di dunia ini. (Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar) yaitu dengan adil (dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan) Kemudian Allah SWT berfirman (Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) yaitu sesungguhnya dia hanya diperintahkan hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik hawa nafsunya, maka dia mengerjakannya, dan apa saja yang dipandang buruk hawa nafsunya, maka dia meninggalkannya. Ini dapat dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu'tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan akal mereka. Diriwayatkan dari Malik tentang dengan tafsir ayat ini, bahwa orang itu sekali-kali tidak menyukai sesuatu melainkan dia mengabdi kepadanya. Firman Allah SWT: (dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya) Makna ayat ini mengandung dua penafsiran. Pertama adalah Allah menyesatkan orang itu karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk itu. Kedua adalah Allah menyesatkannya setelah sampai kepadanya pengetahuan dan hujjah. Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak sebaliknya. (dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya?) maka dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat baginya dan tidak memahami apapun yang bisa memberikan petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang bisa dijadikan sebagai penerang. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?) sebagaimana firmanNya: (Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (186)) (Surah Al-A'raf)
Tafsir As-Sa'di
23. Allah berfirman, “maka pernahkah kamu melihat,” orang tersesat, “yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?” semua yang diinginkan dilakukan tanpa peduli apakah bisa mendatangkan keridaahn Allah ataukah kemurkaanNYa. “dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” Yakni, dari Allah dan orang tersebut tidak pantas mendapatkan hidayah dan tidak bisa dibersihkan hatinya di atas hidayah, “dan Allah telah mengunci mati pendengarannya,” sehingga tidak bisa mendengar hal-hal yang berguna,”dan hatinya,” sehingga tidak bisa mencerna kebaikan, “dan meletakkan tutupan atas penglihatannya,” yang menghalanginya untuk melihat kebenaran. “maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).” Artinya, tidak ada seorangpun yang memberinya petunjuk, karena Allah telah menutup baginya semua pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Allah tidak menzhaliminya, tapi dia sendirilah yang menzhalimi dirinya dan yang melakukan berbagai hal yang mencegah rahmat Allah. “maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran,” yang berguna bagimu sehingga bisa kalian kerjakan dan pelajaran yang membahayakan kalian sehingga bisa kalian hindari.
Tafsir Al-Wajiz
23. Kabarkanlah kepadaku tentang jawaban dari pertanyaan berikut: “Siapa orang kafir yang menyembah sesuatu sesuai hawa nafsunya dan tidak menyembah tuhan yang sebenarnya?” Allah menelantarkannya, tidak membimbingnya menuju pengetahuan yang benar dan memilihkan kesesatan untuknya serta mengunci pendengaran dan hatinya sehingga dia tidak mendengar bimbingan yang bermanfaat baginya, tidak dapat berpikir dan memahami petunjuk. Dia juga menjadikan penglihatannya tertutup sehingga tidak dapat melihat suatu tuntunan. Lalu siapa yang akan menunjukkan dan membimbingnya setelah Allah menyesatkannya? Apakah kalian tidak mengambil pelajaran? {Man} adalah isim istifham yang berfungsi sebagai nafi. Maknanya adalah tidak ada satupun yang menunjukkannya. Maka sebaiknya kita merenung sampai kita benar-benar mengetahui hakikat suatu keadaan. Maqatil berkata: “Ayat ini diturunkan untuk Harits bin Qays As-Sahmiy yang merupakan salah satu orang yang mengolok-olok, karena dia menyembah sesuatu sesuai hawa nafsunya”. Sa’id bin Jabir berkata: ”Ayat ini diturunkan untuk kaum Quraisy yang terkadang menyembah batu. Jika mereka menemukan sesuatu yang lebih baik, mereka mengabaikan sesuatu yang pertama dan menyembah yang akhir. Adapun orang yang dikunci pendengaran dan hatinya adalah Abu Jahal”