Surah Al-Baqarah : Ayat 218
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Tafsir Ringkas Kemenag
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, dan orang-orang yang berhijrah meninggalkan negeri dan keluarganya untuk menegakkan agama Allah dan berjihad di jalan Allah dengan memerangi orang-orang musyrik, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat dan ganjaran Allah. Allah maha pengampun kepada orang-orang yang beriman, lagi maha penyayang. Mereka menanyakan kepadamu, wahai nabi, tentang khamar, yaitu semua minuman yang memabukkan, dan berjudi. Pertanyaan itu muncul antara lain karena di antara rampasan perang yang diperoleh pasukan pimpinan abdulla'h bin jahsy seperti disinggung pada ayat 217 terdapat minuman keras. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa, yakni mudarat yang besar. Keduanya menimbulkan permusuhan dan menyebabkan kaum muslim melupakan Allah dan enggan menunaikan salat. Dan keduanya juga mengandung beberapa manfaat bagi manusia, seperti keuntungan dari perdagangan khamar, kehangatan badan bagi peminumnya, memperoleh harta tanpa susah payah bagi pemenang dalam perjudian, dan beberapa manfaat yang diperoleh fakir miskin dari perjudian pada zaman jahiliah. Tetapi dosanya, yakni mudarat yang ditimbulkan oleh khamar dan judi, lebih besar daripada manfaatnya. Khamar diharamkan dalam islam secara berangsur. Ayat ini menyatakan bahwa minum khamar dan berjudi adalah dosa dengan penjelasan bahwa pada keduanya terdapat manfaat, tetapi mudaratnya lebih besar daripada manfaat itu. Surah an-nisa''/4: 43 dengan tegas melarang minum khamar, tetapi terbatas pada waktu menjelang salat. Surah al-ma''idah/5: 90 dengan tegas mengharamkan khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dan menyatakan bahwa semuanya adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan yang harus dijauhi selamanya oleh orang-orang beriman. Bagian akhir ayat ini menjelaskan ketentuan menafkahkan harta di jalan Allah. Dan mereka menanyakan kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan di jalan Allah. Katakanlah, kelebihan dari apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan diri dan kebutuhan keluarga. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 217-218 "Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW mengutus sekelompok pasukan, dan dia mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah atau Abu Ubaidah bin Al-Harits untuk memimpin mereka. Ketika pasukan tersebut berangkat, dia menangis dengan sedih menuju Rasulullah SAW lalu duduk. Lalu Rasulullah mengutus Abdullah bin Jahsh untuk menggantikan posisinya dan memberinya sebuah surat, serta memerintahkan agar surat tersebut tidak dibacakan sampai dia mencapai lokasi tertentu. Rasulullah bersabda, “Janganlah memaksa siapapun dari para sahabat untuk berjalan bersamamu“ Ketika dia membaca surat tersebut, Abdullah bin Jahsh pun kembali berkata,”Saya mendengar dan taat kepada Allah dan RasulNya” dan memberitahu dan membacakan surat tersebut kepada mereka. Kemudian dua orang pria berangkat, sementara yang lain tetap tinggal. Mereka bertemu dengan Ibnu Al-Hadrami dan membunuhnya. Mereka tidak mengetahui bahwa hari itu adalah bulan Rajab atau bulan Jumadal Ula atau Tsaniyah, lalu orang-orang musyrik berkata kepada orang-orang muslim, “Kalian membunuh di dalam bulan haram.” Lalu Allah menurunkan firmanNya, (Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar) Firman Allah (Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh) yaitu jika kalian membunuh pada bulan haram, maka sungguh mereka telah menghalangi kalian dari jalan Allah dengan kekufuran mereka dan menghalangi dari Masjidil Haram, serta mengusir kalian dari negeri kalian padahal kalian adalah penduduk negeri itu, itu (lebih besar (dosanya) di sisi Allah) daripada penyerangan kalian terdadap orang-orang yang memerangi kalian dari golongan mereka (Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh) yaitu mereka telah memfitnah orang muslim tentang agamanya, sampai dia kembali kepada kekufuran setelah mereka beriman, dan itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan. (Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup) kemudian mereka tetap melakukan perilaku yang paling buruk itu dan lebih parahnya mereka tidak bertaubat dan tidak mau meninggalkan hal itu. Ibnu Hisyam berkata, yaitu harta rampasan pertama yang didapatkan orang-orang muslim, dan Amr bin Al-Hadrami adalah orang pertama yang dibunuh oleh orang muslim. Sedangkan Usman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan adalah orang pertama yang ditawan oleh orang-orang muslim."
Tafsir As-Sa'di
218. Amalan-amalan yang 3 tersebut merupakan tanda-tanda kebahagiaan dan poros utama penghambaan. Dengan semua itu dapat diketahui keuntungan dan kerugian yang diderita seorang manusia. Adapun tentang keimanan, maka tidaklah perlu Anda bertanya lagi tentang keutamaannya, dan bagaimana menanyakan suatu hal yang merupakan pembeda antara orang-orang yang bahagia dari orang-orang yang sengsara? demikian juga pembeda antara penghuni surga dan penghuni neraka. Dan iman itulah yang apabila ada pada seorang hamba, niscaya amalan kebaikannya diterima, dan bila tidak ada, niscaya tidak akan diterima dari tindakan, keadilan, kewajiban, dan Sunnah. Hijrah adalah meninggalkan orang-orang yang dicintai dan disayangi hanya untuk mencari ridho Allah. Maka seorang yang berhijrah meninggalkan negeri, harta, keluarga, dan teman sejawatnya sebagai suatu pendekatan diri kepada Allah dan pembelaan terhadap agamaNya. Jihad adalah mengerahkan upaya dalam memerangi musuh, dan usaha yang maksimal dalam membela agama Allah dan memberantas ajaran setan. Jihad itu adalah puncak dari segala amal sholeh dan balasannya adalah balasan yang paling utama, dan sebab paling dominan untuk memperluas negeri Islam, menghinakan hamba-hamba berhala, menciptakan keamanan bagi kaum muslimin pada diri, harta, dan anak-anak mereka. Barangsiapa yang menegakkan 3 perbuatan tersebut dengan menghadapi segala kesulitan dan rintangannya, maka perbuatan-perbuatan selainnya akan lebih ditegakkan dan disempurnakan. Karena itu pantaslah bagi mereka untuk menjadi orang-orang yang mengharap rahmat Allah, karena mereka telah melakukan sebab yang mengharuskan adanya rahmat bagi mereka. Disini terdapat dalil bahwasanya harapan itu tidaklah dilakukan kecuali setelah melakukan sebab-sebab kebahagiaan. Sedangkan harapan yang diiringi dengan sifat malas dan tidak melakukan sebab-sebabnya adalah merupakan kelemahan, angan-angan kosong dan bualan, dan itu menunjukkan lemahnya cita-cita pelakunya, kurangnya akal, sama seperti orang yang menghendaki seorang anak tanpa menikah, dan mengharapkan hasil panen tanpa menanam biji dan tidak menyiramnya, dan semacamnya. Dalam firman Allah, “mereka itu mengharapkan rahmat Allah,” terkandung sebuah isyarat bahwa seorang hamba itu walaupun telah banyak melakukan amal, tidaklah baik baginya hanya bersandar pada amal-amal tersebut dan hanya berpatokan padanya, namun seharusnya ia juga mengharap rahmat Allah, diterimanya amal amal tersebut, ampunan bagi dosa-dosanya, dan ditutupi aib dan kekurangannya. Karena Allah itu berfirman, “Dan Allah maha pengampun,” artinya, bagi yang bertaubat secara benar benar, “lagi maha penyayang.” RahmatNya luas melingkupi segala sesuatu, kedermawanan dan kebajikanNya menyeluruh kepada setiap makhluk hidup. Disini terdapat dalil bahwa orang yang mengerjakan amalan amalan tersebut akan memperoleh ampunan Allah. Karena kebaikan itu akan menghapus dosa-dosa dan ia mendapatkan rahmat dari Allah. Apabila ia telah mendapat ampunan, niscaya ia akan terhindar dari hukuman dunia dan akhirat yang merupakan manifestasi dari dosa-dosa yang telah diampuni, dan bekas-bekasnya tidak lenyap. Apabila ia memperoleh rahmat, maka ia telah memperoleh segala kebaikan di dunia maupun di akhirat, Bahkan amalan-amalan mereka tersebut juga merupakan rahmat Allah terhadap mereka. Karena kalau bukan karena Taufik Allah bagi malaikat dalam hal itu, niscaya mereka tidak akan menginginkannya, dan sekiranya bukan karena kemampuan dan diberikan Allah untuk mereka dalam melakukannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, dan kalau bukan karena kebajikanNya, niscaya Dia tidak menyempurnakannya dan tidak menerimanya dari mereka. Karena itu, bagiNya segala keutamaan yang pertama dan yang terakhir, dan Dialah yang mengaruniakan sebab dan akibat Allah kemudian berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepaa Allah dan rasulullah, dan berhijrah dari kekufuran menuju Islam, serta berjihad untuk meninggikan kalimat Allah maka bagi mereka itu rahmat Allah yang diberikan sebagai suatu kemuliaan dan keutamaan. Dan Allah itu Maha Pengampun, dan Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya. Ayat ini turun untuk pasukan Abdullah bin Jahsh yang membunuh Al-Hadramiy di bulan Rajab sebelum perang badar. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah kami bisa mendambakan pahala orang-orang yang berjihad melalui peperangan ini?” Lalu Allah SWT memberitahu mereka bahwa mereka itu sangat mendambakan pahala itu karena keimanan, hijrah dan jihad mereka

Sumber tafsir dari tafsirweb.com