Tafsir Ringkas Kemenag
Di surga Allah akan mempertemukan orang tua dengan keturunannya yang seiman. Dan orang-orang yang beriman dan mendapat balasan surga, beserta anak cucu mereka atau ibu bapak mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, walaupun derajat keimanannya tidak serupa, akan kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga sebagai anugerah atas ketakwaan mereka, dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan yang telah mereka perbuat di dunia. Setiap orang terikat dan akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya, dan dia tidak akan dihukum karena dosa orang lain. 22. Dan selain itu, kami berikan pula kepada mereka tambahan berupa aneka buah-buahan yang lezat dan daging dari segala jenis hewan yang mereka inginkan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 21-28 Allah SWT memberitahukan tentang karunia, kemurahan, kelembutan, dan kebaikanNya kepada makhlukNya bahwa orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka. Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka, sehingga mereka dapat bergabung bersama-sama dalam keadaan yang sebaik-baiknya dari segala sisi, yaitu Allah melenyapkan kekurangan dari amal dan menggantinya dengan amal yang sempurna, tanpa mengurangi amal dan kedudukan yang sempurna, mengingat adanya kesamaan di antara mereka.Oleh karena itu Allah berfirman: (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Allah benar-benar mengangkat anak cucu orang mukmin menjadi sederajat dengannya, sekalipun amal mereka berada di bawahnya agar hatinya menjadi senang. Kemudian Ibnu Abbas membaca firmanNya: (Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka) Firman Allah SWT: (Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya) Setelah memberitahukan tentang karunia yang telah dia berikan, yaitu derajat keturunan ditinggikan sampai mencapai derajat para bapak, tanpa amal kebaikan yang mengharuskannya. Maka Allah memberitahukan tentang keadilanNya, yaitu bahwa Dia tidak menghukum seseorang karena dosa orang lain. Jadi Allah SWT berfirman: (Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya) yaitu tergantung kepada amal perbuatannya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain, baik bapak atau anaknya sendiri. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (38) kecuali golongan kanan (39) berada di dalam surga, mereka tanya-menanya (40) tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa (41)) (Surah Al-Muddatstsir) Firman Allah: (Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan (22)) yaitu, Kami memberi mereka tambahan nikmat berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang enak dan disukai. Firman Allah: (Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas)) yaitu mereka saling memberi minuman khamr. Pendapat itu dikatakan Adh-Dhahhak. (yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa) Mereka tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna setelah meminumnya, yakni tidak mengigau, tidak pula berdosa, berkata kotor sebagaimana yang dikatakan oleh para peminum khamr di dunia. Ibnu Abbas berkata bahwa “al-laghwu” adalah kata-kata yang bathil, dan “At-Ta’tsim” adalah perkataan yang dusta. Mujahid berkata bahwa mereka tidak saling mencaci dan berbuat dosa. Qatadah berkata bahwa hal itu selalu disertai setan ketika di dunia, maka Allah SWT menyucikan khamr akhirat dari kekotoran khamr dunia dan penyakitnya sebagaimana yang telah disebutkan. Maka dibersihkan dari khamr akhirat kepala pusing, perut sakit, dan tertutupnya akal sehat. Allah SWT memberitahukan bahwa khamr akhirat tidak mendorong mereka untuk mengeluarkan kata-kata kotor, kata-kata yang tidak ada gunanya, dan keji. Allah SWT memberitahukan tentang kebaikan rupanya, keharuman aroma dan pengaruhnya. Jadi Allah SWT berfirman: ((Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum (46) Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya (47)) (Surah Ash-Shaffat) dan (mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (19)) (Surah Al-Waqi'ah) Allah berfirman di sini: (Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa (23)) Firman Allah SWT: (Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan (24)) pemberitahuan tentang pelayan dan pembantu-pembantu mereka di surga, bahwa rupa mereka bagaikan mutiara tua dan tersimpan dalam hal keindahan, wibawa, kebersihan dan keindahan pakaian mereka. Sebagaimana Allah berfirman: (Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda (17) dengan membawa gelas, cerek dan gelas besar (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir (18)) (Surah Al-Waqi’ah) Firman Allah SWT: (Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya (25)) yaitu, mereka saling berbicara dan bertanya tentang amal perbuatan dan keadaan mereka ketika di dunia. Hal ini sebagaimana percakapan para peminum kepada sebagian yang lain di dunia ini apabila minuman telah mempengaruhi mereka, (Mereka berkata, "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)" (26)) yaitu kami dahulu di dunia ketika hidup di tengah-tengah keluarga kami selalu dicekam oleh rasa takut kepada Tuhan kami, takut terhadap siksa dan azabNya (Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka (27)) yaitu kemudian Allah memberikan karuniaNya kepada kami dan menyelamatkan kami dari apa yang kami takutkan (Sesungguhnya kami dahulu menyembahNya) yaitu kami tunduk memohon kepadaNya. Maka Dia memperkenankan bagi kami dan memberi kami apa yang kami minta (Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang)
Tafsir As-Sa'di
21. Inilah di antara penyempurna kenikmatan penduduk surga yakni, Allah mempertemukan mereka dengan keturunan mereka yang seiman, mereka dipertemukan karena keimanan dari ayah-ayah mereka sehingga keturunan mereka menjadi pengikut ayah-ayah mereka karena keimanan. Lebih dari itu, karena keturunan mereka ikut serta karena keimanan mereka, maka keturunan mereka itu dipertemukan dengan ayah-ayah mereka di surga oleh Allah meski amalan mereka tidak setara dengan amalan orang tua mereka sebagai balasan baik untuk orang tua mereka dan sebagai tambahan atas pahala mereka. Meski demikian, Allah tidak mengurangi sama sekali amalan orang tua mereka. Dari sini mungkin saja orang yang salah memahami bahwa penduduk neraka akan dipertemukan Allah dengan keturunan mereka, Allah menyebutkan bahwa hukum kedua tempat (surga dan neraka) tidak sama. Neraka adalah tempat keadilan dan di antara keadilan Allah tidak menyiksa seorang pun kecuali karena dosa, karena itulah Allah berfirman, “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” artinya tergadai dengan amalannya. Orang tidak akan menanggung beban dosa orang lain. Paparan ini berguna untuk menghilangkan dugaan keliru di atas.
Tafsir Al-Wajiz
21. Sedangkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, serta pengikut-pengikut dan anak cucu mereka yang beriman, Kami sertakan mereka untuk masuk surga dan Kami berikan derajat (mulia). Jika mereka (anak-cucu mereka) belum sempat mengerjakan amal ibadah mereka, maka sebagai bentuk kemulian bagi leluhur mereka, Kami kumpulkan mereka bersama-sama, sehingga pandangan-pandangan dan jiwa mereka menjadi nyaman dan tenang. Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala dari amal ibadah para leluhur mereka, namun kami tambahkan (pahala) amal ibadah anak-cucu mereka sebagai pentuk pengistimewaan bagi mereka. Setiap orang saling terikat atau terkait dengan amal ibadahnya pada hari kiamat, baik amal kebaikan ataupun keburukan. Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lainnya.