Surah Al-Jasiyah : Ayat 21
أَمْ حَسِبَ ٱلَّذِينَ ٱجْتَرَحُوا۟ ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَوَآءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ

"Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu."

Tafsir Ringkas Kemenag
Allah kemudian mempertanyakan sikap orang-orang kafir apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu di dunia ini mengira bahwa kami akan memperlakukan mereka di akhirat kelak sama seperti orang-orang yang ber iman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka' tentulah tidak sama. Alangkah buruknya penilaian mereka itu. 22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, yakni penuh hikmah dan aturan untuk menunjukkan ke-esaan dan kekuasaan-Nya, dan agar setiap jiwa, yakni manusia, diberi balasan sesuai dengan apa, yakni amal yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan di rugikan dalam menerima balasan amalnya itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 21-23 Allah SWT berfirman, bahwa tidak sama antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20)) (Surah Al-Hasyr) Allah SWT berfirman: (Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka) yaitu orang-orang yang berbuat dan mengusahakan kejahatan (bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?) yaitu Kami samakan di antara sesama mereka di dunia dan akhirat? (Amat buruklah apa yang mereka sangka itu) yaitu, betapa buruknya sangkaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan antara orang-orang yang berbuat baik dengan orang-orang yang durhaka di akhirat dan di dunia ini. (Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar) yaitu dengan adil (dan agar dibatasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan) Kemudian Allah SWT berfirman (Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) yaitu sesungguhnya dia hanya diperintahkan hawa nafsunya. Maka apa saja yang dipandang baik hawa nafsunya, maka dia mengerjakannya, dan apa saja yang dipandang buruk hawa nafsunya, maka dia meninggalkannya. Ini dapat dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu'tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan akal mereka. Diriwayatkan dari Malik tentang dengan tafsir ayat ini, bahwa orang itu sekali-kali tidak menyukai sesuatu melainkan dia mengabdi kepadanya. Firman Allah SWT: (dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya) Makna ayat ini mengandung dua penafsiran. Pertama adalah Allah menyesatkan orang itu karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk itu. Kedua adalah Allah menyesatkannya setelah sampai kepadanya pengetahuan dan hujjah. Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak sebaliknya. (dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya?) maka dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat baginya dan tidak memahami apapun yang bisa memberikan petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang bisa dijadikan sebagai penerang. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?) sebagaimana firmanNya: (Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (186)) (Surah Al-A'raf)
Tafsir As-Sa'di
21. maksudnya, apakah orang-orang yang bergelimang dalam dosa dan malas dalam menunaikan hak-hak Rabb mereka mengira, “kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih,” seperti orang-orang yang menunaikan hak-hak Rabb mereka dan menjauhi larangan-laranganNYa. Orang-orang yang berbuat dosa itu tetap saja mengedepankan hawa nafsu diri mereka. Dengan kata lain, apakah mereka mengira kedua golongan tersebut sama saja, baik di dunia maupun di akhirat? Termasuk buruk perkiraan dan dugaan mereka dana mat buruk keputusan mereka. Hukum tersebut bertentangan dengan hukum yang dibuat oleh hakim yang paling adil dan juga bersebrangan dengan akal dan fitrah sehat. Bertentangan dengan berbagai kitab yang diberitakan oleh para rasul. Hukum pasti menyebutkan, bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan akan mendapatkan pertolongan, kebahagiaan, dan pahala, baik di dunia maupun di akhirat berdasarkan kebaikan dan mereka lakukan, sedangkan orang-orang yang bergelimang dosa akan mendapatkan azab, murka, penghinaan, dan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat.
Tafsir Al-Wajiz
21. Ataukah orang-orang yang melakukan kekufuran dan kemaksiatan itu beranggapan bahwa Kami akan menjadikan mereka di akhirat layaknya orang-orang yang beriman kepada Allah, rasulNya, kitab-kitabNya dan hari kiamat, serta mengerjakan amal ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Mereka beranggapan bahwa kami akan menyamakan orang-orang yang berbuat keburukan dengan orang-orang yang berbuat kebaikan, atau kami menjadikan mereka sama dalam penghisaban di kehidupan setelah mati. Ini adalah seburuk-buruk ketentuan yang mereka tentukan dengan menyamakan dua golongan. {Am} berfungsi untuk pengingkaran dan memutus kalimat sebelumnya. Maknanya adalah pengingkaran terhadap asumsi atau anggapan itu, maknanya adalah Ataukah. Ayat ini diturunkan untuk tiga orang musyrik yaitu Utbah, Syaibah dan Walid bin Utbah. Mereka berkata kepada tiga orang mukmin: “Kondisi kami di akhirat lebih baik daripada kondisi kalian, sebagaimana sesungguhnya keadaan kami lebih baik daripada kalian di dunia”

Sumber tafsir dari tafsirweb.com